Pertikaian Anak Membuat Babak Belur Bapak, Kisah Devayani- Sharmistha Leluhur Pandawa

devayani dan Sharmistha di kolam sumber ajitvadakayil blogspot com

Ilustrasi Devayani dan Sharmistha di kolam sumber ajitvadakayil blogspot com

Keterikatan terhadap Maya

“Tantangan terberat bagi Kaum Perempuan adalah keterikatannya pada Maya. Maya berarti ‘ilusi’. Sebelum melanjutkan pendapat Paramhansa Yogananda, saya mesti menegaskan bahwa virus penyakit ini tidak hanya menyerang kaum perempuan saja. Kaum pria pun diserangnya. Kita semua, tanpa kecuali, terpengaruh oleh maya. Ada yang cepat tersadarkan, ada yang lamban, dan ada yang seumur hidup tidak pernah tersadarkan.Pengaruh maya menciptakan ilusi seolah materi itu langgeng. Kemudian ilusi tersebut menciptakan keterikatan. Paramhansa berbicara tentang ‘keterikatan pada maya’. Berarti semacam penolakan atau keengganan untuk menarik diri dari pengaruh maya, dari ilusi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam kisah ini baik Putri Shukracharya maupun Putri Raja Asura Vrishaparva sangat terikat dengan ilusi keduniaiwian. Ego mereka mereka tersinggung manakala mereka direndahkan. Ini adalah kesalahan manusia yang mengajarkan sejak kecil kata “aku”, “milikku”, atau “kami”, “milik kami”. Karena dengan adanya “aku” atau “kami” muncullah “kamu” atau “kalian” dan persatuan dalam bidang apa pun sulit terjadi. Bagaimana pun kita hidup di mayapada, di dunia ilusi yang nampak nyata. Dan kisah-kisah Mahabharata terjadi di mayapada yang berkaitan sejak masa leluhurnya sampai masa depan. Ilusi pun berasal dari Dia.

“Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari ‘aku’ yang terbatas menuju ‘kita’ yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari ‘kita’ menuju ‘Dia’ Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Belajar pada Guru Sejati

Devayani adalah putri seorang Acharya, akan tetapi bagi ayahandanya Devayani harus mengalami sendiri resiko-resiko pilihannya. Tindakan-tindakan Devayani membawa akibat pada kehidupannya lebih lanjut. Shukracharya selalu memberi nasehat kepada putrinya, akan tetapi putrinya sendiri yang harus melaksanakan segala tindakan dengan penuh kesadaran. Shukracharya sadar bahwa akan ada waktunya Devayani, Yayati, Sarmishta sadar.

“Seorang Sadguru atau Guru Sejati hanya menunjukkan jalan pengendalian nafsu, itu saja. Kita mesti berjalan sendiri. Maka, sekali lagi, seorang Guru Spiritual, Guru Sejati, atau Sadguru, apa pun sebutannya, tidaklah sama seperti guru di sekolah atau dosen di universitas. Para Sadguru tidak mengajar seperti mereka. Para Sadguru hanya berbagi pengalaman dan kesadaran. Mau diterima silakan, ditolak pun tidak apa-apa. Berguru pada Seorang Guru Sejati bukan untuk meraih gelar tertentu atau memperoleh penghargaan. Berguru pada seorang Guru Sejati berarti belajar sendiri dari pengalamannya, dari hidupnya, dari gerak-geriknya. Sebab itu, berguru pada seorang Guru Sejati tidak mudah. Kita mesti kerja sendiri, belajar sendiri, tidak dibimbing seperti di sekolah atau universitas. (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagi masyarakat awam, nampaknya Shukracharya begitu terikat dengan putrinya sehingga sang acharya rela mati asal Kacha, muridnya hidup dan berbahagia bersama putrinya. Bahkan Beliau dianggap siap meninggalkan jabatannya sebagai Guru Besar Para Asura karena sang putri tidak berkenan dengan putri raja asura. Kemudian masyarakat menganggap bahwa Shukracharya mengutuk menantunya karena telah melukai hati putrinya. Apakah memang demikian?

Devayani dan Sharmistha

Dengan berlalunya sang kala, Devayani telah dapat melupakan Kacha putra Brihaspati yang telah meramalkannya bahwa dia tidak akan memperoleh jodoh putra resi. Pada zaman itu pernikahan anuloma, antara brahmana pria dengan ksatria putri bisa diterima masyarakat. Sedangkan pratiloma pernikahan antara ksatria pria dengan putri brahmana belum diterima masyarakat.

Pada suatu ketika Devayani putri Shukra sedang bermain dengan Sharmistha putri Vrishaparva, raja asura. Keduanya mandi di kolam di tepian hutan. Adalah Dewa Indra yang menguji kesabaran kedua putri tersebut. Permusuhan keduanya bisa meretakkan hubungan antara Guru Shukracharya dengan Raja Asura Vrishaparva dan para dewa akan mempunyai peluang mengalahkan para asura. Indra kemudian membuat angin bertiup kencang sehingga pakaian mereka tertukar. Kala mereka selesai mandi, Devayani salah memakai pakaian Sharmistha. Dan meledaklah pertikaian di antara keduanya. Sharmistha mengatakan tidak layak Devayani memakai pakaian Sharmistha. Sharmistha mengatakan bahwa ayah Devayani adalah seorang pengemis yang menunggu upah yang diberikan ayahandanya. Devayani tidak terima dan mengatakan bahwa keberhasilan ayah Sharmistha adalah berkat bantuan ayahnya, bila tidak sang raja dan pasukannya sudah dikalahkan para dewa. Adalah sifat bawaan manusia untuk bangkit egonya kala dimaki manusia lainnya.

“Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: ‘setiap kali jatuh satu tingkat’. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong. Pusat Ego adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Akibat pertengkaran tersebut Sarmishtha mendorong Devayani hingga masuk ke dalam sumur yang airnya dangkal di dekat kolam tersebut. Dalam ketidaksadaran Sarmishtha tidak akan pernah mengira bahwa tindakannya akan menentukan nasib masa depannya.

Raja Yayati

Hari mulai gelap dan Devayani mulai takut, karena dia tidak dapat keluar dari sumur tersebut. Raja Yayati putra Nahusa yang masih lajang berburu ke hutan dan jauh dari para pengawalnya. Karena kehausan dia mencari air di tepi hutan tersebut dan sampailah dia di sumur tempat Devayani terjatuh. Sang raja lajang bertanya mengapa seorang putri cantik sampai terjatuh dalam sumur. Devayani kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya. Sang Raja memberikan tangannya agar dipegang Devayani, dan Devayani ditarik sang raja keluar dari sumur. Sang Raja segera memberikan pakaian atasnya untuk menutupi tubuh Devayani. Seorang raja muda tampan dan seorang gadis cantik bertemu dan kimia tubuh mereka tergerak.

Sesuai tradisi di masa tersebut, Devayani berkata, bahwa sang raja telah memegang tangan seorang perawan, dan sudah seharusnya sang raja mengambilnya sebagai istrinya. Sang Raja kaget karena hal tersebut adalah tidak lazim seorang ksatria kawin dengan putri brahmana. Dalam hati sang raja terpikat dengan Devayani, akan tetapi takut menerima kutukan Resi Shukracharya. Sang Raja kemudian berkata bahwa apabila Resi Shukracharya berkenan dia bersedia kawin dengan Devayani. Setelah beberapa lama , kemudian sang raja kembali ke istana.

Pengorbanan Sharmistha

Ada dua hal yang memenuhi hati Devayani, cinta terhadap Raja Yayati dan dendam terhadap Sarmishtha. Devayani kemudian menceritakan apa yang dialaminya kepada ayahandanya. Shukracharya sadar bahwa pertengkaran antara anaknya dengan anak sang raja bisa membahayakan rakyat asura. Selama ini Shukracharya selalu menghidupkan kembali para asura yang mati kala berperang melawan dewa dengan mantra Sanjivani. Dan karena asura menjadi kuat maka untuk sementara tidak terjadi perang antara asura dan dewa.

Shukracharya juga merasa bahwa mengajar asura itu tidak mudah. Sharmistha, putri raja asura Vrishaparva pun ternyata emosional. Akan tetapi putrinya sendiri juga demikian. Beberapa bulan yang lalu bahkan para asura berani mencampur minuman anggurnya dengan abu Kacha, muridnya yang juga putra Bhrihaspati guru para dewa. Dengan memberikan mantra Sanjivani, Kacha hidup kembali dan dia pun juga tidak jadi mati sehingga peperangan antara dewa melawan asura tidak terjadi. Dengan kejadian itu untuk beberapa minggu Shukracharya tidak bertandang ke istana.

Raja Vrishaparva gundah dengan ketidakhadiran Sang Guru, apalagi setelah mendengar kisah Sharmishtha yang bertengkar dengan Devayani, putri sang Guru.  Dalam bahasa leluhur kejadian tersebut dinamai “Anak polah, bapa kepradah”, tingkah anak membuat babak-belur Bapak. Raja Vrishaparva kemudian mengajak Sharmistha menemui Shukracharya untuk meminta maaf. Shukracharya menghormati kedatangan Vrishaparva bersama putrinya. Shukracharya tidak mengambil hati ucapan Sharmistha yang mengatakan Shukracharya adalah seorang pengemis yang menunggu upah dari ayahandanya. Akan tetapi karena yang bermasalah adalah Devayani maka mereka diminta menemui Devayani. Shukracharya membiarkan Devayani mengambil keputusan sendiri yang di masa depan akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Devayani bersikeras akan memaafkan asal Sharmistha beserta 100 dayang perempuannya menjadi pelayan Devayani. Semua orang kaget. Shukracharya menyesal mengapa dia belum dapat meningkatkan kesadaran Devayani. Akan tetapi Shukracharya juga tahu bahwa hal demikian diperlukan bagi pelajaran umat manusia yang akan membaca kisah mereka di masa depan. Shukracharya yakin akan datang waktunya Devayani sadar dan itu memerlukan lika-liku kehidupan tersendiri. Kemudian Shukracharya memperhatikan apa yang akan diputuskan oleh Sarmishtha dan Vrishaparva.

Sharmistha berkata pada ayahnya, bahwa itu adalah kesalahannya dan dia tidak mau kaum asura menderita hanya karena ulahnya yang terburu nafsu. Raja Vrishaparva menitikkan air mata mendengar pengorbanan putrinya. Akan tetapi bagi sang raja, dengan putrinya berada dalam rumah sang acharya, maka dia yakin kesadaran sang putri akan meningkat pesat. Shukracharya nampak berbahagia melihat ada putri asura yang sudah sadar. Putri asura seperti inilah yang akan membawa perubahan kesadaran dunia di masa mendatang.

Demikianlah yang terjadi, karena Sharmistha menghina seorang Master, maka kini justru dialah yang menjadi pelayan dari putri Sang Master. Kisah masih panjang, bagaimana kaitan Sharmistha, Devayani dan Raja Yayati? Dan bagaimana anak keturunan dinasti Chandra lewat Raja Yayati menyebar ke tetangga Jambudvipa? Silakan ikuti kisah kelanjutannya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: