Kisah Bodhisattva: Kekuatan Dahsyat Rasa Bersahabat

borobudur maitribala jpg sumber www himalayanart org

Ilustrasi Raja Maitribala dan 5 Yaksha sumber www himalayanart org

Rasa Bersahabat

“Dalam bahasa Sanskerta, Maitri berarti ‘persahabatan’. Bahkan mungkin lebih dari sekadar persahabatan, tetapi sense of frienship. Dan bila ‘persahabatan’ menjadi sifat seseorang, orang itu disebut Maitreya. Seorang Bhakta adalah seorang Maitreya. Dia bersahabat dengan setiap orang dengan setiap makhluk. Dengan pepohonan dan bebatuan. Dengan sungai dan angin. Dengan  bumi dan langit. Dengan dunia dan akhirat. Itu sebabnya dia tidak pernah mencemari lingkungan, tidak akan merampas hak orang. Tidak percaya pada aksi teror, intimidasi, dan anarki. Seorang Maitreya siap berkorban demi keselamatan orang lain, karena baginya yang lain itu tidak ada. Dia melihat Tuhan di mana-mana.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai Maitribala, yang mempunyai kekuatan berdasar rasa persahabatan. Sang raja merasakan penderitaan semua rakyatnya dan memahami keinginan rakyatnya. Negara lain juga menghormatinya karena sang raja bersikap sebagai sahabat. Para pelaku kejahatan ditahan agar tidak mengganggu masyarakat dan dibina agar mempunyai karakter yang baik dan bisa kembali bermasyarakat.

Lima Yaksha Bertemu Penggembala

“Karma berarti ‘karya, tindakan’, dan setiap tindakan akan membawa hasil. Setiap aksi ada reaksinya. Itulah Hukum Karma. Hukum Karma ini yang menentukan pola hidup kita. Kita menanam biji buah asem, jangan harapkan pohon apel. Apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda peroleh sebagai hasil akhirnya. Oleh karena itu, bertindaklah dengan bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu ketika, lima yaksha jahat, makhluk yang suka mengganggu manusia, diusir oleh Dewa Kubera dan masuk ke kerajaan yang dipimpin oleh Raja Maitribala. Mereka bertekad mengganggu masyarakat, akan tetapi mereka heran karena kekuatan mereka pudar di negeri tersebut. Dengan menyamar sebagai brahmana, mereka menanyakan kepada seorang penggembala mengapa dia sendirian berani menggembala hewan. Apakah dia tidak takut terhadap raksasa dan yaksha yang suka makan daging manusia? Sang penggembala dengan bangga menyampaikan bahwa negeri tersebut dilindungi oleh kekuatan pelindung yang memancar dari raja yang saleh yang bersahabat dengan semua makhluk.

Sang penggembala berkata bahwa dia hanya mendengar kisah yaksha atau raksasa yang membunuh dan makan manusia, karena dia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Sang pengembala balik bertanya kepada para brahmana, apakah para yaksha dan raksasa belum tahu hukum karma bahwa yang membunuh akan dibunuh? Sang penggembala berkata bahwa dia makan daging dalam kondisi tak ada pilihan makanan lainnya, karena apa yang dimakan akan menjadi tubuh, darah dan otak? Kalau hewan atau manusia yang dibunuh yaksha merasakan cemas sebelum mati dibunuh, maka kecemasan itu juga akan masuk ke dalam diri bersama daging yang dimakannya.

Penasaran dengan Pemahaman Sang Penggembala,

Para brahmana tersebut mendebat, bukankah banyak orang makan daging? Apakah orang tersebut akan dibunuh berkali-kali oleh hewan-hewan yang dimakannya? Kalau orang tersebut tidak dibunuh berkali-kali bukankah alam ini tidak adil? Sang penggembala menjawab, karena orang tersebut makan daging atau membunuh secara tidak langsung, maka orang itu pun akan dibunuh secara tidak langsung melalui penyakit.

“Sia-sialah harapanmu, bila kau mendambakan keadilan bagi setiap kasus dalam hidup. Kau harus melihat hidup secara utuh, sebagai satu kesatuan dan kalau begitu sungguh adil hidup ini. Karena kita telah membunuh 6000 ekor ayam semasa hidup kita, ditambah lagi dengan sekian kerbau, sapi, kambing, udang, kepiting, dan ikan, tidak berarti setiap hewan akan menyerang kita kembali, dan kita harus mati sekian kali. Tidak demikian. Yang menjadi persoalan adalah ‘pembunuhan’ itu sendiri. Hewan-hewan yang kita sembelih itu tak akan membunuh kita satu persatu. Mereka menyerang kita lewat sekian banyak virus, kuman yang kemudian menyebabkan kematian kita. Alam sungguh adil. Kita membunuh, kita terbunuh. Kematian yang kita anggap alami sesungguhnya tidak alami. Kita mendapatkan hukuman atas serangkaian pembunuhan yang kita lakukan semasa hidup. Ini baru ‘satu’ contoh. Masih banyak contoh-contoh lain.” (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Para brahmana bertanya apakah pengetahuan yang disampaikan sang penggembala tersebut juga berasal dari sang raja? Dan sang penggembala mengiyakan, sang penggembala mengatakan bahwa sang raja sering berbicara di depan umum dan dia ikut mendengarkan.

Lima Yaksha Menuju Istana Raja

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelima yaksha jahat tersebut semakin penasaran dan segera berangkat ke istana untuk membuat masalah. Mereka memilih membuat masalah demi kesenangan diri mereka sendiri, dan ingin menjatuhkan kewibawaan sang raja. Mereka semua menyamar sebagai brahmana lagi dan datang ke istana mendekati sang raja yang tengah menemui pemuka masyarakat. Mereka bilang pada sang raja bahwa mereka sangat lapar dan haus serta mohon disediakan makanan dan minuman. Sang raja segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi kelima brahmana tersebut.

Ketika hidangan telah disajikan, para yaksha tersebut berseru bahwa mereka tidak bisa makan hidangan yang disajikan. Ketika sang raja menanyakan hidangan apa yang mereka inginkan. Para yaksha tersebut segera mengubah kembali ke wujud aslinya dan berkata bahwa mereka perlu makan daging mentah manusia dan darah segar. Mereka berkata bahwa mereka telah memegang kata-kata sang raja yang akan melayani makanan dan minuman mereka.

Sang raja berpikir keras, dia mempunyai rasa bersahabat dengan semua makhluk. Dia tidak dapat menolak permintaan para tamu yang kelaparan, tidak elok menarik kata-kata yang telah diucapkan kepada para sahabat. Akan tetapi dia juga tidak dapat mengorbankan rakyatnya menjadi santapan para yaksha, dia tidak mungkin pula mengorbankan para sahabatnya sebagai makanan para yaksha.

Sang raja sampai pada kesimpulan untuk memberikan darah dan daging dari tubuhnya sediri. Para tabib dipanggil dan para tabib mohon kepada sang raja untuk tidak mengabulkan permohonan para yaksha karena akan membahayakan nyawa sang raja sendiri. Bumi mulai bergetar karena kesedihan menyaksikan raja yang rela mengorbankan dirinya.

Memberikan Darah dan Dagingnya Sendiri kepada Para Yaksha

“Dharma selalu mempersatukan. Sesuatu yang menjadi alasan bagi perpecahan, sesuatu yang memisahkan manusia dari sesama manusia – bukanlah Dharma. Dharma, sekali lagi, bukanlah sesuatu yang ‘baik’ dalam pengertian sederhana kita. Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau ‘Shreya’. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Sang raja berkata kepada para tabibnya, “Mereka telah datang kepadaku dalam keadaan lapar dan haus, dan sebagai sahabat aku telah berjanji mempersiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Ternyata mereka minta minum darah segar dan makanan daging segar manusia. Tidak mungkin aku mengorbankan warga masyarakat karena mereka semua adalah sahabatku juga. Darah dan daging pada tubuhku pun adalah sahabatku juga. Akan tetapi aku dapat mengambil sebagian daging dari pahaku yang cukup besar, demikian pula sebagian darahku akan kusajikan kepada mereka. Jika aku mengingkari janji karena cinta pada diriku sendiri, maka aku tidak akan punya kekuatan lagi untuk melindungi rakyatku. Aku tidak bisa membiarkan tamuku sebagai sahabatku meninggal karena kelaparan dan kehausan di rumahku. Pengemis dan orang yang memohon bantuan dapat ditemukan setiap hari, akan tetapi yang seperti mereka tidak dapat ditemukan setiap hari. Aku perintahkan untuk memotong beberapa urat darahku untuk disajikan sebagai minuman para tamuku!”

Para yaksha kaget mendengar titah sang raja kepada tabib istana. Tiba-tiba rasa haus dan lapar mereka lenyap. Nafsu makan daging dan minum darah manusia yang telah menjadi kebiasaan mereka, luntur. Rasa terdalam yang ada di dalam diri mereka muncul, rasa kemanusiaan dalam diri mereka berkembang begitu cepat mendengar titah sang raja.

Dan mereka berkata, “Sudah cukup raja, kami mohon maaf atas tingkah laku kami!”

Tabib istana telah memotong beberapa urat darah dan mulai mengerat paha sang raja. Dan para yaksha sudah tidak tahan lagi dan berkata, “Kami berlima sangat menyesal, mohon Paduka Raja berkenan menghentikan tindakan ini, kami semua berjanji untuk melaksanakan dharma dan tidak akan makan daging manusia lagi!”

Sakra, Sang penguasa dewa memperhatikan kesedihan bumi dan seluruh alam semesta yang menangis melihat luka sang raja. Sakra kemudian mengumpulkan rempah-rempah dari langit dan mengusapkannya pada luka sang raja. Dalam waktu singkat luka sang raja sembuh dan kembali sehat.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: