Dia yang Membuat Semua Pria Tergila-gila, Sebuah Kisah Boddhisattva

jelita 5 sumber nhstella blogspot com

Ilustrasi Lukisan Gadis India Jelita sumber: nhstella blogspot com

Daya Tarik Si Jelita

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap. Sebab itu ada juga ashram yang mengharuskan setiap sanyasi untuk memandang ke bawah ketika berhadapan dengan lawan jenis, walau sama-sama sanyasi. Swami Kriyananda berkesimpulan bahwa cara ini tidak efektif. Saya setuju.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita telah membaca Kisah Raja Sibi yang menghibahkan kedua matanya, silakan baca  http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/28/kisah-bodhisattva-menghibahkan-kedua-mata-menjadi-buta-sampai-akhir-hayatnya-605422.html

Dan jauh sebelum peristiwa tersebut, semasa masih lajang, sang raja bertemu dengan wanita yang dikenal dengan sebutan “dia yang membuat semua pria tergila-gila”. Daya tariknya melebihi kemampuan bertahan setiap pria terhadap godaan dunia. Magnetnya begitu kuat dan pria yang memandangnya lupa status dirinya.

Tawaran untuk Meminang Si Jelita

“Janganlah menganggap remeh, Ketika Anda melihat sebuah gadget baru, kemudian timbul ketertarikan, padahal Anda tidak membutuhkannya. Ketertarikan seperti itu sering diremehkan, karena dianggap harmless, tidak menyusahkan atau menyakiti orang lain, ‘kan cuma gadget, bukan seks.’ Hari ini gadget, besok musik, lusa teater, kemudian seks lagi. Berhati-hatilah wahai Sadhu! ‘Internalize it!’ Ketika melihat sesuatu yang indah, seseorang yang tampan, cantik, atau apa saja yang menimbulkan ketertarikan, pindahkan fokus Anda dari luar ke dalam diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah seorang warga kota memiliki seorang putri dengan kecantikan yang luar biasa. Begitu kuat daya tariknya, sehingga setiap orang yang berpapasan selalu berpaling kepadanya. Tidak mungkin tidak. Masyarakat menjulukinya Unmadayanti yang bermakna ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila’. Sang ayah kemudian menghadap sang raja dan bertanya apakah sang raja bersedia menerima putrinya sebagai istri raja?

Sang raja segera memerintahkan sekelompok brahmana untuk mengunjungi sang gadis dan melihat apakah sang gadis mempunyai tanda keberuntungan sehingga bisa dipilih sebagai istri sang raja. Ayah Unmadayanti kemudian mengajak para brahmana datang ke rumahnya. Para brahmana dijamu makanan oleh si jelita. Beberapa brahmana sudah terbiasa diundang ke rumah yang sangat indah, dan kadang melihat lukisan wanita yang sangat elok dan mereka tidak menyadari bahwa ketertarikan itu bersumber di dalam diri. Di dalam diri beberapa brahmana tersebut masih ada potensi ketertarikan terhadap keindahan di luar diri. Memperhatikan Unmadayanti, tak membutuhkan waktu lama, para brahmana kehilangan kontrol atas diri mereka, seluruh mata dan pikiran para brahmana terfokus pada diri si jelita.

Setelah selesai acara makan malam para brahmana berdiskusi bahwa pesona sang jelita seperti sihir yang sangat kuat. Sang raja sebaiknya tidak mengawininya, karena akan membuatnya tergila-gila dan lupa melakukan tugasnya sebagai seorang raja. Pada akhirnya nanti rakyatnya yang akan menderita. Para brahmana kemudian melapor kepada sang raja bahwa si jelita memang sangat cantik, akan tetapi tidak memiliki tanda keberuntungan. Sang raja tidak perlu melihat si jelita, apalagi mengawininya. Sang raja percaya pada para brahmana dan kehilangan selera untuk melihat Unmadayanti.

Sang Raja Bertemu Mata dengan Si Jelita

“Ketika berpapasan dengan lawan jenis di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, ‘Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!’ Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi. Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, Subhanallah! Maha Suci Allah.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Segera setelah itu ayah Unmadayanti menikahkan putrinya dengan Abhiparaga, seorang pejabat dari kantor pengadilan kerajaan. Beberapa waktu kemudian sang raja naik kereta sepulang menghadiri upacara keagamaan. Sewaktu mendekati rumah Abhiparaga, Unmadayanti yang ditolak oleh sang raja berdiri di atas atap rumah yang dikelilingi dengan pagar putih dan bertanya-tanya di dalam hati, apakah sang raja tetap berteguh hati kala melihat dirinya. Sang raja punya rasa malu untuk melihat wanita, apalagi bila dia istri dari orang lain. Sang raja biasa berlatih menundukkan panca indera. Akan tetapi sang raja akhirnya memperhatikan Unmadayanti. Memperhatikan sangat lama. Sang raja berpikir, apakah dia seorang bidadari? Sang raja kembali ke istana seperti linglung, keteguhan pikirannya mulai rusak. Setelah beberapa hari sang raja bertanya kepada kusir kereta, rumah siapakah yang dikelilingi oleh pagar putih? Dan siapakah wanita cantik yang tinggal di rumah tersebut? Sang kusir menjawab bahwa rumah itu adalah milik Abhiparaga dan wanita itu adalah istrinya yang disebut Unmadayanti, ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila.

Sang raja nampak menghela napas setelah mendengar bahwa dia adalah istri orang lain. Sang raja berupaya menghilangkan si jelita dari pikirannya, akan tetapi nampaknya tidak bisa. Setiap saat yang terpikir hanyalah si jelita.

Tawaran Abhiparaga, Suami Unmadayanti

“Pikiran tentang seks bisa muncul kapan saja, di mana saja, setiap saat. Ada interaksi dengan lawan jenis atau tidak, tak jadi soal. Saat Anda sedang sendirian pun, tetap bisa terganggu oleh seks. Janganlah sekali-kali melayani pikiran seperti itu. Sekarang masih berupa pikiran, sesaat lagi berubah menjadi fantasi. Saat itu gangguan yang Anda hadapi jauh lebih berat lagi. Sebab itu, seperti yang selalu dikatakan oleh Paramhansa Yogananda, setiap kali Anda mendeteksi seks dalam pikiran Anda, cepat alihkan pikiran Anda pada sesuatu yang lain. Dalam hal ini eksperimen yang dilakukan oleh leluhur kita adalah sangat tepat. Yaitu dengan menciptakan candi-candi yang indah penuh dengan patung para dewa dan dewi yang tidak hanya cantik, tetapi juga mewakili nilai-nilai spiritual yang sangat tinggi. Misalnya, ketika kita melihat patung Dewi Sri yang cantik, kita juga terinspirasi oleh keberlimpahannya, dengan kesiap-sediaannya untuk berbagi. Lingga dan Yoni mewakili kebersamaan, kesetaraan, nilai kekuatan sekaligus kelembutan. Durga Mahishasumardini mengingatkan kita betapa pentingnya ketegasan ketika menghadapi ketidakadilan, kekejaman, dan kezaliman.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Abhiparaga segera melihat perubahan yang dialami sang raja dan akhirnya menemukan penyebabnya. Apabila sang raja tidak disembuhkan maka hal-hal buruk akan menimpa kerajaan. Karena mencintai sang raja, Abhiparaga memberanikan diri menghadap sang raja secara pribadi. Abhiparaga berkata, “Paduka apakah kami boleh membawa Unmadayanti kepada Paduka?”

Sang raja bingung karena malu berkata, “Tidak, itu tidak bisa! Pertama, kebaikan saya akan musnah. Kedua tindakan jahat saya akan diketahui semua orang. Ketiga, apakah kau tidak akan sedih dan menyesal seumur hidup?”

Abhiparaga meyakinkan sang raja, “Paduka jangan takut! Paduka tidak melanggar dharma. Bukankah dharma memperbolehkan kita untuk menerima pemberian? Dengan menolak pemberian hamba berarti paduka menghalangi kebaikan hati hamba. Hal ini tidak akan merusak reputasi paduka, ini murni pengaturan kita berdua. Tidak ada yang tahu kami membawa Unmadayanti kepada paduka. Kepuasan terbesar saya adalah melayani raja, kesedihan karena kehilangan istri masih kalah jauh dibanding kebahagiaan menyenangkan paduka.”

Sang raja berkata, “Stop Abhiparaga, itu penalaran yang jahat, yang membuat keterikatan saya pada hal yang tidak benar. Setiap hadiah tidak perlu diterima. Orang yang memberikan hal yang berharga kepada saya adalah sahabat sejati saya. Demikian pula istrinya. Saya harus menghormati istri sahabat saya. Jika Anda berupaya agar saya bercinta dengan istri Anda secara rahasia dan menganggap saya menemukan kebahagiaan, itu adalah seperti minum racun yang tidak terlihat tapi berharap hidup sehat. Siapa yang percaya bahwa Anda tidak mencintai istri Anda dan tidak putus asa setelah Anda memberikan tubuhnya kepada saya.”

Abhiparaga terus berupaya, “Paduka adalah Master hamba, bersama istri dan anak-anak, hamba adalah budak paduka. Sesama budak bisa saling berhubungan, akan tetapi hubungan utama adalah dengan majikan. Sebagai budak dia juga akan memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk diterima. Bila paduka tetap menolak, hamba akan minta istri saya untuk menjadi pelacur. Yang tersedia bagi siapa saja yang haus dan paduka bisa menikmatinya. Apa pun demi kebahagiaan paduka!”

Sang raja berkata, “Anda gila, meninggalkan istri adalah kesalahan dan akan memulai rantai kehidupan penuh duka bagi banyak orang. Adalah kasih sayang Anda untuk membahagiakan saya tanpa memperhatikan benar atau salah. Tapi cinta kasih mendorong saya untuk mencegah semua keinginan Anda. Saya bertanggung jawab atas tindakan saya sendiri. Saya berharap tidak menyusahkan orang lain. Wahai Abhiparaga saya sudah merenungkan bagaimana kecantikan istri Anda 60 tahun yang akan datang! Tujuan hidup itu apa? Kalau tujuan hidup itu adalah memperoleh kebahagiaan, mungkinkah memperoleh kebahagiaan abadi dari hal yang tidak abadi?”

Abhiparaga menangis dan bersujud di depan sang raja, “Semoga Bunda Alam Semesta selalu memberkati paduka.”

Mengatasi Ketertarikan terhadap Keindahan

Seks itu tampaknya menjanjikan, akan tetapi kita sudah melihat bukti nyata di semua media bahwa para pejabat yang mempunyai istri kedua karena ketertarikan seks banyak menimbulkan permasalahan. Hoki/keberuntungan seorang pria juga dipengaruhi oleh kombinasi keselarasan hoki/keberuntungan sang istri, intervensi dari orang ketiga akan mengacaukan hoki/keberuntungan yang sudah selaras. Kita bisa belajar dari hidup nyata apa yang terjadi di sekeliling kita. Bagaimana cara melampaui ketertarikan alami terhadap “si jelita”?

“Ketertarikan, rasa senang, bahagia, semuanya berasal dari dalam diri Anda sendiri. Sesuatu yang indah telah membuat Anda senang, baik. Sekarang persembahkanlah rasa senang itu kepada Tuhan. Dan energi Anda akan langsung mengalir ke atas. Bagaimana caranya? Bagaimana mempersembahkan rasa senang itu kepada Tuhan? Salah satu cara adalah dengan menyanyikan pujian, dari tradisi mana pun juga. Adalah sangat baik jika setiap ashram menjadwalkan setengah atau satu jam setiap hari untuk menyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu pujian yang biasa disebut bhajan atau kirtan. Dengan cara itu setiap penggiat ashram bisa menginternalisasikan pengalamannya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: