Dia yang Menginginkan Permaisuri Indra, Kisah Nahusha Leluhur Pandawa

Nahusa jatuh dari Tandu sumber id.wikipedia

Ilustrasi Nahusha jatuh dari tandu sumber id.wikipedia

Menginginkan Saci Permaisuri Dewa Indra

“Manusia sudah terbiasa melihat ‘ke luar’. Dia lupa melihat ke dalam diri. Padahal apa yang dilihatnya itu, apa yang ada di luar itu, tidak pernah memuaskan dirinya. Selalu mengecewakan. Walau demikian, kesadarannya masih tetap mengalir ke luar terus. Dia berharap pada suatu ketika akan menemukan sesuatu yang tidak mengecewakannya. Yang memuaskannya. Kita lahir dan mati, lahir kembali dan mati lagi, dengan kesadaran kita mengalir ke luar terus. Bahkan kita tidak menyadari hal itu. Kita tidak sadar bahwa kesadaran kita sedang mengalir ke luar terus. Seorang Narada menyadari kesalahan diri. Dia sadar bahwa kesadarannya mengalir ke luar terus. Dan dengan penuh kesadaran, dia mengalihkan alirannya ke dalam diri. ‘Kesadaran untuk mengalihkan aliran kesadaran ke dalam diri’ inilah langkah awal dalam meditasi. (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kala Indra bertapa di danau Mamasa selama 1000 tahun karena membunuh brahmana Vritra, pemimpin dewa dipegang oleh Nahusha, seorang raja yang banyak melakukan persembahan yajna dan sudah melakukan upacara Asvamedha, persembahan 100 ekor kuda serta sudah dianggap setara dengan Indra. Nahusha adalah seorang raja yang baik dan bijaksana dan kaya raya. Bagaimana pun wewenang yang sangat besar sering membuat lupa diri. Power tends to corrupts, absolute power corrupts absolutely. Harta berlimpah, kesaktian luar biasa, wewenang sangat besar, apalagi yang masih kurang? Wanita jelita yang berbeda dengan wanita di kerajaannya yang selalu memimpikan dia, itu yang menjadi obsesi Sang Raja yang telah memperoleh segalanya. Nahusha menginginkan Saci yang berada dalam kemurungan karena kehilangan Indra. Saci minta tolong kepada Bhrihaspati agar dilindungi dari Nahusha, akan tetapi Bhrihaspati telah diancam oleh Sang Raja. Saci kemudian minta waktu kepada Nahusha untuk mencari keberadaan Indra terlebih dahulu, untuk meyakinkan bahwa Indra sudah tidak balik lagi. Saci menemukan Indra di danau Manasa akan tetapi tidak bisa ke luar dari sana. Indra kemudian memberi jalan keluar kepada Saci.

 

Dikutuk Resi Agastya

“Keterikatan dengan dunia benda dan keserakahan, dwitunggal inilah penghalang utama. Seorang pencari tak akan pernah menemukan apa yang dicarinya, selama belum bebas dari keduanya. Keserakahan dan kesadaran tidak pernah bertemu. Keterikatan dengan dunia benda berarti kesadaran mengalir keluar. Pencarian jatidiri berarti kesadaran mengalir ke dalam. Beda aliran. Seorang ilmuwan, sepintar, dan secerdas apa pun dia, jika masih serakah tetap tidak mengenal dirinya. Jika kau masih terikat dengan hasil perbuatanmu, masih mengharapkan imbalan, pujian dan penghargaan, maka pencapaian jatidiri bukanlah untukmu. Sia-sia pula bertemu dengan seorang guru, bila kau masih angkuh dan belum mampu mengendalikan kelima indera. Maka janganlah mencari sesuatu yang belum waktunya kau cari, Ikutilah tahapan-tahapan yang mesti kau lalui. Biarlah pikiranmu tenang dulu, biarlah hatimu bersih dan suci dulu setelah itu baru Brahma-Gyaan, barulah mencari pengetahuan sejati tentang jatidiri, tentang Tuhan.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Saci kemudian berkata kepada Nahusha bahwa seorang perempuan itu sangat terhormat bila dipinang oleh raja yang naik tandu yang dipanggul oleh para resi. Salah seorang resi yang diminta menjadi pemikul tandu adalah Resi Agastya, salah seorang dari Saptarishi yang di Nusantara dikenal sebagai Semar. Pada suatu hari Nahusha minta para resi untuk memanggul tandu menuju tempat tinggal Saci. Nahusha tak sabar dengan jalannya para resi dan berkata. “Lebih cepat, lebih cepat, sarpa, sarpa!”

Sebagai seorang resi, Agastya sudah bisa membaca pikiran Nahusha. Pikiran Nahusha sudah tidak benar, tindakannya menyuruh para resi memanggul tandu menuju tempat tinggal Saci sudah tidak benar, kini kata-katanya menyakiti hati para resi. Seseorang yang kesadarannya mengalir ke luar dengan keserakahan berlebih-lebihan perlu melakukan meditasi, mengubah fokus kesadaran yang terbiasa ke luar menjadi ke dalam diri. Resi Agastya kemudian menghentikan tandu dan berkata, “Wahai Raja, Anda mengatakan kepada para resi sarpa, sarpa maka Anda akan menjadi mahasarpa (ular sangat besar) dan jatuh ke dunia. Bukan sarpa yang dapat bergerak untuk memperoleh makanannya. Akan tetapi, Anda akan menjadi ular sanca raksasa yang harus menunggu makanannya datang kepada Anda. Anda akan berada di Hutan Dwaitavana, hutan dualitas selama ribuan tahun sebagai yaksha penunggu hutan!”

Kesadaran Nahusha datang terlambat. Ketika dikutuk Resi Agastya, Nahusha dibersihkan dari keangkuhannya dan kemudian dengan kerendahan hati Nahusha berkata, “Saya layak mendapat hukuman yang lebih buruk. Mohon berkahi diri saya!” Resi Agastya sadar bahwa semuanya harus terjadi, dia hanyalah “alat” dari Dia Yang Maha Kuasa. Resi Agastya berkata, “Kutukan tidak dapat ditarik. Anda akan lepas dari kutukan pada zaman Dwapara Yuga. Dalam garis keturunan Anda akan ada ksatria agung bernama Yudisthira. Ia merupakan “amsa”, salah satu perwujudan dari Dharma. Ia akan melepaskanmu dari kutukan dan pikiranmu menjadi jernih kembali. Dan, kamu akan kembali ke surga.

 

Pertemuan Yudisthira dengan Yaksha Penunggu Hutan di Himalaya

Nahusha mempunyai putra Yayati, salah satu putra Yayati adalah Puru dan berturut-turut silsilahnya adalah Raibya, Dusyanta yang kawin dengan Shakuntala, Bharata, Bharatvaja, Bharmyasa, Divodasa, Pratipa, kemudian Santanu yang merupakan kakek buyut Yudisthira.

Berada dalam pengasingan, pada suatu hari Pandawa merasa sangat haus. Sadewa diminta mencari air di telaga di hutan tersebut. Ketika Sadewa tidak kembali, Nakula diminta mencari air sambil mencari jejak Sadewa. Kemudian karena Nakula tidak kembali juga, maka berturut-turut Arjuna dan kemudian Bhima pun pergi juga. Akhirnya Yudisthira mengikuti jejak keempat saudaranya dan menemukan keempat-empatnya tergeletak tewas ditepi telaga. Yudisthira segera akan mengambil air tatkala mendengar suara Yaksha penunggu hutan memperingatkan agar tidak mengambil air sebelum menjawab pertanyaannya. Keempat saudaranya tewas karena tidak mau menjawab pertanyaan Sang Yaksha.

Dan, Yudisthira setuju menjawab pertanyaan Sang Yaksha. Yudisthira paham bahwa pertanyaan Sang Yaksha adalah pertanyaan mendasar tentang kehidupan yang hanya dipahami oleh seseorang yang hidup meditatif. Yudisthira menduga Sang Yaksha telah bermeditasi sangat lama sehingga mengerti rahasia kehidupan.

Di antara beberapa pertanyaan tersebut adalah apa yang membuat matahari bersinar setiap hari yang dijawab Yudisthira kekuatan Brahman. Apakah mempelajari ilmu pengetahuan membuat manusia menjadi bijak? Dijawab bahwa seorang manusia tidak memperoleh kebijaksanaan hanya dari mempelajari ilmu kebijaksanaan, akan tetapi harus bergaul dengan orang bijak. Jawaban Yudisthira lainnya adalah para ibu yang melahirkan dan merawat anak-anaknya lebih mulia dari bumi. Ayah lebih tinggi dari langit. Pikiran lebih cepat dari angin. Hati yang sedih lebih menderita dibanding jerami kering. Belajar adalah teman perjalanan. Yang menyertai seseorang setelah kematian adalah dharma. Kebahagiaan adalah buah perilaku yang baik. Yang setelah dibuang membuat manusia dicintai oleh semua orang adalah kebanggaan pada diri. Yang membuat seseorang bersukacita kala kehilangan adalah kemarahan. Kehilangan yang membuat seseorang menjadi kaya adalah kehilangan keinginan. Baik kelahiran maupun pembelajaran tidak membuat seseorang menjadi brahmana, hanya perilaku yang baik yang membuatnya menjadi brahmana. Keajaiban terbesar di dunia adalah bahwa meskipun manusia setiap saat melihat makhluk hidup mati, mereka masih memiliki anggapan untuk hidup selamanya.

Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudisthira, namun ia hanya sanggup menghidupkan salah seorang saudara Yudisthira saja dan Yudisthira diminta memilih siapa yang akan dihidupkan kembali. Sang Yaksha heran kala Yudisthira memilih agar Nakula dihidupkan kembali. Yudisthira menjelaskan bahwa Pandu, ayahnya memiliki dua istri, karena Yudisthira lahir dari Kunti, maka dia meminta Nakula putra Madri untuk dihidupkan kembali. Sang Yaksha terkesan dengan jawaban Yudisthira, maka dia menghidupkan semua keempat saudara Yudisthira. Pada saat itu terjadi keajaiban, Sang Yaksha berubah kembali menjadi Nahusha, leluhur Yudisthira sendiri. Nahusha puas, tidak menyesal atas tapanya ribuan tahun menjadi Yaksha, karena melihat dengan mata kepala sendiri kebijaksaan anak keturunannya.

 

Insting Hewani Nahusha Dalam Diri

“Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin. Mereka semua sama-sama jatuh. Tidak perlu membeda-bedakan antara kulit pisang, kulit mangga, dan lantai yang licin. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dua-duanya sama lemah. Untuk itu, dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat menjadi umpan dan memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Nahusha mengingatkan kita bahwa masih ada “insting hewani Nahusha” dalam diri kita semua. Jangan sampai “insting hewani Nahusha” dalam diri kita bangkit karena keberlimpahan materi.

 

“Film-film tayangan teve tetap juga menyajikan adegan-adegan seks. Banyak orang masih beranggapan bahwa seks merupakan kebutuhan biologis yang tak terelakkan. Mereka masih belum bisa menerima kalau energi seks dapat diubah sifatnya menjadi energi Kasih. Interaksi dengan mereka ini rupanya menjadi stimulus bagi ‘insting hewani’ yang bagaimana pun masih tetap ada dalam dirinya dan diri setiap orang. Insting hewani itu memang sudah sekarat, tetapi tidak pernah mati sepenuhnya. Lalu, karena memperoleh makanan berupa stimulus dari luar, kendati dalam porsi yang amat sangat minim, dia bertahan hidup terus.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: