Mengorbanan Harta dan Jabatan demi Kebenaran, Kisah Vibhisana Menyeberang ke Pihak Rama

Vibhisana menghadap Rama sumber oppanna com

Ilustrasi Vibhisana menghadap Sri Rama sumber oppanna com

“Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel dimana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke ‘negeri asalnya’. Kiranya inilah arti ayat 11 dalam surat al-Fath, ‘harta dan keluarga kami merintangi’. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu ‘berjuang’ dalam, dan dengan kesadaran ilahi. Ayat ini adalah pelajaran bagi mukmin, bereka yang beriman. Ayat ini dimaksudkan bagi hamba Allah, dan bukan bagi budak dunia. Jika kita puas dengan perbudakan, maka itu adalah pilihan kita. Dan, konsekuensinya adalah resiko kita sendiri.” Kutipan dari Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Tindakan Vibhisana tidak masuk akal dalam dunia materi seperti yang kita lihat setiap hari di negeri kita saat ini. Vibhisana mempunyai harta berlimpah, mempunyai wewenang sangat besar sebagai adik seorang raja yang sangat berkuasa. Vibhisana mempunyai keluarga yang hidup sejahtera di negeri Alengka. Akan tetapi demi kebenaran dia rela menukar itu semua dengan menyeberang ke pihak Sri Rama yang kekuatannya belum diketahui apakah bisa mengalahkan pasukan Alengka. Sebuah pilihan yang penuh resiko terhadap diri dan keluarganya, terutama apabila pasukan Sri Rama kalah perang melawan pasukan Rahwana.

 

Genetik Keraksasaan dalam Diri

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orang tua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para raksasa Alengka sudah memperoleh warisan gen raksasa yang mau menang sendiri, tidak peduli bila tindakannya merugikan pihak lain, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang yang tidak sama pandangan dengan mereka, asalkan mereka memperoleh imbalan yang besar. Hanya Vibhisana dan beberapa raksasa sepuh di Alengka yang mulai sadar dan mau memperbaiki karakter lama mereka. Hanuman sebagai Rama Duta yang membakar Alengka memicu mereka yang sadar agar memperbaiki kesalahan mereka, akan tetapi jumlah mereka kalah banyak dan menjadi tersisihkan di negeri Alengka.

Kesaktian Hanuman memberi pengaruh besar kepada para raksasa. Terbersit rasa keraguan di hati mereka apabila Rahwana tidak mengembalikan Sita, maka akan terjadi perang dengan pasukan Sri Rama. Apakah kesaktian para panglima Sri Rama seperti Hanuman? Sanggupkah para panglima Alengka bertempur melawan mereka. Rahwana segera mengumpulkan para panglima untuk membahas kemungkinan perang melawan pasukan Sri Rama yang akan menyerang Alengka.

Para panglima tidak ada yang berani bicara, dan Kumbakarna yang baru saja bangun tidur selama berbulan-bulan yang tidak menyaksikan Hanuman membakar Alengka berkata bahwa apabila menghadapi seekor wanara saja Alengka dibuat kacau-balau, sebaiknya tidak usah melakukan perang melawan Rama. Demi kesejahteraan rakyat Alengka sebaiknya dikembalikan saja Sita dan Alengka akan damai. Bagaimana pun para panglima raksasa mempunyai genetik mau menang sendiri. Jenderal Atikaya berkata bahwa dia  patuh terhadap perintah Rahwana dan bila harus terjadi perang dia bersama pasukannya siap menghancurkan pasukan wanara. Meganandha putra Rahwana yang juga dikenal sebagai Indrajit berkata bahwa Rahwana dapat menaklukkan para dewa, mengapa takut melawan pasukan Rama? Kumbha dan Nikumbha putra Kumbhakarna juga berpendapat seperti Megananda. Demikian pula para panglima yang lain.

 

Kebiasaan Buruk Merugikan Orang Lain

“Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita bagaikan semak berduri. Sekali tertanam, akan tumbuh pesat. Satu kebiasaan akan mengundang kebiasaan lain. Sering kali, Si Penanam pun terluka oleh karenanya, tetapi dia tetap tidak sadar. Dia masih mempertahankan ‘semak berduri kebiasaan-kebiasaan buruk’ di dalam dirinya. Karena tidak sadar, kita juga tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Mungkin, tahu pun tidak kalau banyak orang ikut menderita karena kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Misalnya: Kebiasaan merokok di tempat umum. Merusak toilet umum. Mencuri perlengkapan dari kendaraan umum. Menyalip orang seenaknya di jalan raya. Masih banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang bisa mencelakakan diri, sekaligus mencelakakan orang lain. Selagi masih bertenaga, masih muda, bebaskan dirimu dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Semakin tua, semakin tidak bertenaga, semakin sulit membebaskan diri dari kebiasaan, karena untuk membebaskan diri dari satu kebiasaan dibutuhkan tenaga yang luar biasa. Dibutuhkan nyali yang terbuat dari baja pilihan. Dibutuhkan keberanian seribu ekor singa untuk membebaskan diri dari kebiasaan.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Vibhisana yang bukan hanya berpikiran tentang negeri Alengka tetapi berpikir tentang kebenaran, tentang dharma, tentang mengubah kebiasaan buruk para raksasa. Vibhisana yang baru saja masuk persidangan berkata bahwa hidup mereka hanya sementara, Rahwana harus berhenti mengagumi wanita yang menjadi milik orang lain. Nafsu keserakahan adalah gerbang kehancuran. Sebuah kesalahan akan dibersihkan dengan tobat dan tidak mengulangi kesalahan. Vibhisana meminta Rahwana mengembalikan Sita kepada Sri Rama. Malyavanta, seorang menteri sepuh yang dihormati para panglima menambahkan bahwa apa yang dikatakan Vibhisana adalah besar. Banyak sekali wanita cantik yang mau dijadikan istri sang raja, mengapa harus memilih istri orang lain?

Nuansa keangkuhan para raksasa memang satu frekuensi dengan Rahwana. Para raksasa tidak biasa menoleh ke dalam diri, mereka tidak seperti Vibhisana yang terbiasa meditasi. Mereka bertindak sesuai karakter bawaan mereka yang tidak mereka ubah.

Rahwana itu sangat marah atas saran yang diberikan oleh mereka berdua. Dia menegur mereka dengan keras. Rahwana berkata, “Kamu berdua bodoh! Apakah kalian tahu apa yang telah kalian lakukan? Kalian membenarkan musuhku. Kalian seharusnya tidak hadir di persidangan ini!”

Malyavanta turun dari kursinya dan bergegas pulang, Vibhishana segera membungkuk hormat kepada Rahwana yang sedang marah. Rahwana berkata bahwa Vibhisana makan dari pemberiannya, tinggal di daerahnya tetapi membenarkan sikap musuh. Rahwana berkata bahwa mereka masih hidup hanya karena karunia dia. Rahwana berkata demikian sambil menendang Vibhisana. Malam itu juga Vibhisana menyeberang lautan menuju perkemahan Rama.

 

Melepaskan Harta dan Kekuasaan demi Kebenaran, tapi diberi tugas Mengelola Kekuasaan?

“Arjuna: Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.”

“Krishna: Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu. Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu. Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan. Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri? Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.” Dikutip dari Artikel Bapak  Anand Krishna di http://www.aumkar.org/ind/?p=19

Vibhisana disuruh menunggu oleh para pengawal Sri Rama dan Sugriwa lapor ke Sri Rama. Sugriwa mengatakan bahwa Vibhisana adik Rahwana ingin darshan, bertemu dengan Sri Rama. Sugriva meminta Sri Rama tidak percaya terhadap Vibhisana karena jangan-jangan dia adalah mata-mata Alengka. Akan tetapi Sri Rama berkenan menemui Vibhisana dan mendengarkan penuturannya.

Vibhisana berkata, “Hamba lahir sebagai ras raksasa atas dosa-dosa masa lalu akibat ketidakpedulian dan kebodohan dalam tindakan hamba. Sekarang hamba pasrah kepada Paduka.”

Sri Rama berkata, “Darshan yang kau temui telah menghapuskan keraksasaan dalam dirimu. Yang penting adalah memelihara apa yang sudah berubah pada dirimu! Kamu segera mandi air suci samudera dan kembali kemari!”

Rama kemudian mengutus Hanuman mengambil air suci. Dan ketika Vibhisana selesai mandi air samudera serta duduk kembali di perkemahan, Sri Rama memercikkan air suci dan berkata, “Dengan ritual ini kau diangkat sebagai penguasa Alengka!”

Vibhisana berkata, “Hamba tidak butuh kerajaan, hamba hanya ingin mengabdi kepada Paduka!

Sri Rama berkata, “Ingin mengabdi kepada-Ku? Kau harus berkarya sesuai kodratmu.  Ini adalah tugasmu. Jangan melarikan diri dari tugasmu!”

Vibhisana berkata, “Hamba mengikut perintah Paduka!”

Dan Hanuman beserta semua wanara merasakan nuansa kemuliaan memenuhi perkemahan tersebut.

Bagaimana cara pasukan Sri Rama menyeberangi samudera menuju Alengka? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: