Mengapa Harus Vegetarian? Kisah Agastya Sang Pertapa sebagai Boddhisattva

 

Agastya relief kisah jataka candi borobudur sumber see about indonesia blogspot com

Ilustrasi Relief Kisah-Kisah Boddhisattva di Borobudur sumber: see about indonesia blogspot com

Kebahagiaan bersifat Rohani

“Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah ‘benda’. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam roh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu ketika Boddhisattva lahir sebagai anak saleh yang bernama Agastya. Sejak kecil ia sudah mempelajari Veda. Setelah seseorang menjadi dewasa, dia harus menentukan pilihan, untuk menjadi Grahasthya, perumah tangga atau menjadi Sanyasi, yang terfokus pada Kesadaran Murni. Bagaimana pun setelah menjadi perumahtangga, akan tiba saatnya untuk melakukan Vanaprastha, meninggalkan keterikatan terhadap keluarga keterikatan terhadap duniawi lainnya dan akhirnya akan menempuh jalan Sanyasi seperti yang dijelaskan dengan kitab-kitab suci. Agastya paham bahwa berumah tangga mempunyai potensi halangan yang lebih besar daripada menjadi sanyasi. Keterikatan terhadap istri dan anak, kemudian mencari kesejahteraan keluarga, bisa melupakan diri dari tujuan utama hidup menuju Kesadaran Murni. Kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai dengan mencari keluarga, harta dan kekuasaan yang bersifat sementara. Agastya memilih menjadi Sanyasi, hidup terfokus pada Kesadaran Murni. Dan, sesuai dengan kondisi zaman itu maka dia melakukan tapa untuk mencapai tujuan hidupnya.

Bertapa dengan Mengkonsumsi Makanan dari Tumbuh-Tumbuhan

“Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri bagi perwujudan Kundalini, adalah makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya menyendiri bertapa di Pulau Kara di Laut Selatan. Pulau tersebut penuh dengan pohon buah-buahan dan terdapat sebuah danau dengan air yang jernih. Binatang liar dan burung-burung hutan mengenali Agastya sebagai seorang pertapa yang saleh. Meskipun tinggal sendirian akan tetapi Agastya menghormati setiap orang yang kebetulan datang ke tempatnya. Para tamu selalu dijamu dengan buah-buahan dan dia hanya makan dari sisa yang tidak dimakan tamunya. Agastya makan hanya untuk mempertahankan hidupnya.

Kemuliaan tapa Agastya menyebar ke mana-mana, bahkan mencapai telinga Shakra, pemimpin para dewa yang sangat berbahagia mendengar kesalehan Agastya. Shakra kemudian ingin menguji keteguhan Agastya. Shakra yang juga dikenal sebagai Dewa Indra bertugas mengurus bumi termasuk tubuh manusia. Shakra kemudian membuat sebagian besar umbi-umbian dan buah-buahan menghilang di hutan tersebut. Agastya, sang boddhisattva karena terserap ke dalam meditasi , maka dia tidak peka terhadap rasa lapar. Karena segala umbi dan buah-buahan menghilang, maka dia kemudian merebus beberapa lembar daun, dan kebutuhannya sudah memadai. Shakra kemudian merontokkan setiap daun dari semua pohon dan semak. Dan, Agastya hanya memilih daun yang jatuh di tanah  dan kemudian merebusnya sebagai makanannya. Dan sang boddhisattva tetap terserap ke dalam meditasi.

Melayani Tamu dengan Sepenuh Hati

“Pedoman Kedua pembangkitan energi Kundalini. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil, dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, Doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. … Tidak cukup berdoa pada hari-hari tertentu, pada jam-jam tertentu. Seluruh hidupmu harus berubah menjadi sebuah Doa.”

“Pengendalian Diri – inilah Pedoman Ketiga. Rasa bahagia yang diperoleh dari penundaan ejakulasi dan orgasme, bisa bertahan hingga berhari-hari, kadang berbulan-bulan. … Karena kenikmatan yang Anda peroleh dari semua itu, tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengendalian diri.”

“Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa bebas. … Kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Inilah Pedoman Keempat: Keceriaan, Rayakan Hidupmu! Berada pada lapisan ini, sesungguhnya kau sudah  memasuki wilayah ruh… wilayah kesadaran…” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya selalu berdoa sebelum makan, mensyukuri apa yang telah dikaruniakan, walaupun hanya beberapa daun rebus. Agastya juga selalu berlatih pengendalian diri, selalu mendahulukan tetamu daripada dirinya sendiri. Dan Agastya selalu ceria dalam kondisi apa pun juga.

Keteguhan Agastya menakjubkan Shakra. Dia mewujud sebagai brahmana yang kelaparan dan kehausan. Sang brahmana selalu muncul pada saat doa sebelum makan yang dilakukan oleh Agastya. Sang boddhisattva gembira menyambut tamunya dan dengan kata-kata lembut yang menenangkan pikiran. Dan kemudian menawarkan makanan kepada tamunya. Dia rela memberikan makanan yang diperolehnya dengan susah payah, dengan cara mengumpulkan daun-daun yang belum kering. Dan ia merasa bersukacita dapat menjamu tamunya. Kemudian dia masuk ke dalam pondok dan melanjutkan meditasinya.

Meditasi Dan Melakukan Japa Mantra

“Bahasa Sansekerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebutnya sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi. Ketika berbicara dengan bahasa Sansekerta, setiap huruf dalam bahasa Sansekerta terhubung dengan ke beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sansekerta, cukup membaca mantra dasar seperti Gayatri Mantra.” Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker. Bapak Anand Krishna tidak memiliki kesempatan mendalami mantra dalam bahasa lain. Kembali semuanya terserah kita.

Sang brahmana melakukan hal yang sama dalam beberapa hari, dan Boddhisatva merasa bahagia dapat melayani tamu dan kemudian kembali terserap dalam meditasi. Shakra tahu dengan cara demikian frekuensi kesadaran Agastya bisa meningkat dengan cepat bahkan bisa mengalahkan para dewa, mereka yang memiliki frekuensi tinggi.

Shakra kemudian mewujud dalam bentuk makhluk surgawi  dan bertanya, “Apa yang Anda harapkan dengan melakukan hal ini! Mengapa meninggalkan kebahagiaan berumah tangga, menjauhkan diri dari harta dan keluarga?

Agastya menjawab, “Kelahiran yang berulang kali menyebabkan kesengsaraan yang berulang kali. Takut usia tua adalah wabah yang mengerikan bagi manusia. Kepastian kematian mencemaskan manusia. Saya melakukan hal ini agar pada suatu kali dapat menjadi tempat perlindungan bagi semua makhluk!”

Shakra berbahagia mendengar jawaban Agastya dan berkata, “Untuk pernyataan Anda saya akan memberikan anugrah apa pun yang anda minta!”

Boddhisattva berkata, “Saya betul-betul tidak meminta, karena meminta berarti tidak puas dengan keadaan yang ada. Akan tetapi jika Tuan ingin memberikan apa yang menyenangkan saya, maka saya minta agar api ketidakpuasan yang telah membakar seluruh orang di dunia, walaupun mereka telah memperoleh pasangan, anak-anak dan kekuasaan serta kekayaan, agar api ketidakpuasan tersebut tidak pernah masuk ke pada diri saya.”

Shakra kemudina mendesak Agastya untuk menerima anugrah berikutnya. Agastya berkata, “Semoga kebencian  yang seperti tentara menaklukkan musuh, menghancurkan kekayaan, kedudukan dan reputasi selalu jauh dari saya.”

Shakra semakin gembira dan mendesak Agastya menerima satu anugerah lagi darinya. Agastya berkata, “Semoga saya tidak pernah mendengar orang yang bodoh, melihat orang yang bodoh, berbicara dengan orang yang bodoh atau menanggung rasa sakit berada dalam teman-teman yang bodoh.”

Shakra bertanya, “Siapa pun yang berada dalam kesulita pasti layak memperoleh bantuan dari dia yang berbudi luhur. Kebodohan adalah akar segala penderitaan. Bagaimana Anda yang penuh kasih tidak suka melihat orang yang bodoh. Yang membutuhkan kasih sayang?” Agastya menjawab, “Karena tidak ada bantuan bagi orang yang bodoh. Jika orang bodoh bisa dibantu, apakah saya akan menahan sesuatu yang baik untuknya? Si bodoh tidak bisa  menerima keuntungan apa pun dari saya. Dia yang bodoh menyalakan api kesombongan. Berpikir bahwa dia bijaksana. Berperilaku seolah-olah dia itu benar. Dan mendesak orang lain untuk bertindak seperti dia. Dia yang bodoh tidak terbiasa berperilaku lurus, bermoral yang rendah. Ia bahkan marah saat diperingatkan untuk kepentingan dia sendiri. Aku berharap tidak pernah ketemu orang bodoh. Dia adalah obyek bantuan yang tidak layak bagi saya.”

Semakin banyak jawaban dari Agastya yang mencerahkan jiwa semakin pula Shakra menawarkan tambahan anugrah terhadapnya.

Akhirnya saaat Shakra menawarkan anugrah, Agastya minta agar Shakra tidak lagi mengunjungi dia dalam segala kemegahannya. Shakra bingung dan bertanya, setiap ritual, setiap tapa, setiap agnihotra, orang selalu mencari Shakra, mengapa Agastya menolaknya? Agastya menjawab, “Kedatangan Tuan dalam wujud makhluk surgawi dengan segala kecemerlangannya bisa membuat saya melupakantugas-tugas spiritual yang harus saya lakukan!”

Shakra membungkuk hormat kepada sang boddhisattva melakukan pradaksina, mengelilingi sang pertapa dan menghilang. Di saat fajar Agastya menerima jamuan makanan ilahi dari Shakra yang kemudian mengundang ratusan Pratyekabuddha dan ribuan Dewa pesta bersama.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: