Archive for December, 2013

Bhagavatam: Ramalan Baik dan Buruk Saat Kelahiran Parikshit Cucu Pandawa

Posted in Bhagavatam on December 28, 2013 by triwidodo

PARIKSIT_PROTECTED_FROM_BRAHMAASITHIRAM sumber thoughtsonsanathanadharma blogspot com

Ilustrasi Janin Parikshit dilindungi Sri Krishna dari senjata Ashvattama sumber: thoughtsonsanathanadharma blogspot com

Apa yang Perlu Dilakukan Menjelang Kematian

“Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Bhagavatam adalah dialog antara seseorang yang tahu hari kematiannya sudah dekat dengan seorang suci yang memandunya menghadapi kematian dengan damai. Raja Parikshit tahu waktunya hanya tinggal seminggu, pada saat itu masih segar-bugar akan tetapi seminggu kemudian dia akan mengalami kematian. Resi Suka putra Vyasa adalah Guru Suci yang membimbing Raja Parikshit mempersiapkan diri menghadapi kematian. Kita semua juga sedang menghadapi kematian. Persiapan apakah yang sudah kita lakukan?

Raja Parikshit adalah raja yang agung dan bijaksana dan sudah melakukan kebaikan yang tak terhitung jumlahnya. Sang Raja juga sudah memahami makna kehidupan. Selama 7 hari terakhir dia mendengarkan dan meresapi kisah-kisah keilahian, di antaranya tentang kemuliaan dan keagungan Bhagavanta, Tuhan; Kisah-kisah para Bhagavata, para Bhakta, Panembah Tuhan yang telah sepenuhnya memasrahkan diri mereka terhadap Tuhan; dan Hubungan kasih antara Tuhan, Bhagavanta dengan para Bhakta, Bhagavata.

Kisah ini diceritakan oleh Resi Vyasa, Kakek Pandawa yang juga penulis Mahabharata. Dikisahkan bahwa walau sudah menulis kisah Mahabharata yang tak lekang oleh zaman,yang memandu banyak manusia ke jalan yang benar, Resi Vyasa belum juga merasa puas, masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Adalah Resi Narada yang mengingatkan Resi Vyasa untuk menulis tentang bhakti. Para pembaca kisah yang sudah dalam jalur yang benar perlu memperoleh pemahaman tentang bhakti.  Resi Vyasa mengikuti nasehat Resi Narada dan dengan kemampuannya beliau “melihat” kisah-kisah tentang keilahian dan jadilah Kitab Srimad Bhagavatam.

Pengantar Artikel Kisah-Kisah Bhagavatam

Dalam blog Renungan Triwidodo http://triwidodo.wordpress.com/ ada beberapa artikel tentang Srimad Bhagavatam yang ditulis pada tahun 2009 dan 2011. Kisahnya tetap sama, karena memang dari dulu kisahnya memang demikian, sebuah kisah yang tak lekang zaman. Perbedaannya adalah bahwa artikel-artikel yang akan datang ini ditulis dengan sudut pandang yang berbeda. Referensi buku-buku Bapak Anand Krishna sudah lebih banyak dengan banyaknya tambahan buku tulisan Bapak Anand Krishna yang ditulis sejak tahun 2011. Paling tidak ada 9 buku tebal tulisan berharga Beliau sebagai tambahan referensi. Bhagavata Vahini dan Sandeha Nivarini dari Sai Baba juga dijadikan referensi. Artikel-artikel dari dunia maya juga melengkapi tulisan ini.

Beberapa artikel yang terkait dengan leluhur Pandawa sudah dimasukkan dalam kategori Mahabharata https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/category/mahabharata/

Ramalan Tentang Parikshit di Saat Kelahirannya

“Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. (Catatan: ‘Sifat dasar’ di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan yang kita lakukan-a.k). Lewat buku ini, saya hendak menyampaikan bahwa pengetahuan tentang sifat dasar membantu kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan menghindari apa yang tidak menguntungkan. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Subadra, ibu Abhimanyu menyampaikan berita kepada Yudisthira bahwa anak Abhimanyu telah lahir. Pandawa merasa bersukacita, mereka memerintahkan genderang ditabuh, petasan dibunyikan untuk merayakan kelahiran penerus tahta Pandawa. Masyarakat bergembira dan beramai-ramai menuju Indraprastha. Dalam beberapa menit, jalanan kota berubah menjadi pesta yang meriah. Yudhistira membagikan manisan untuk masyarakat, dan beberapa sapi untuk para brahmana.

Hari berikutnya, Yudhistira memanggil pendeta keluarga, Resi Kripacharya untuk melaksanakan ritual Jatha-karma (pembersihan pertama) kepada sang bayi. Pada hari ketiga Yudhistira memanggil para ahli astrologi ternama untuk mengetahui apakah kerajaan dan kebudayaan bangsa akan aman di tangan pangeran yang akan memikul tanggung jawab kerajaan. Para astrolog membicarakan dan mendiskusikan posisi planet dengan sangat hati-hati. Mereka mulai menarik kesimpulan dengan rasa sukacita bahwa mereka tidak bisa memperoleh kalimat untuk mengungkapkan kekaguman mereka.

Sesepuh astrolog akhirnya bangkit dan menyampaikan hasil kepada Yudhistira, “Paduka Maharaja, kami telah memeriksa ribuan posisi planet dan kami harus mengakui bahwa kami belum pernah menemukan konstelasi planet yang lebih bagus dari pada saat kelahiran cucu Paduka ini. Tanda-tanda menunjukkan bahwa Manu yang Agung, leluhur manusia telah lahir pada dinasti Paduka.”

Sesepuh Astrolog tersebut menambahkan, “Pangeran ini akan menghormati dan melayani para dewa dan brahmana dengan sangat baik. Dia akan melakukan banyak persembahan, Yajna dan Yaga seperti tertulis dalam shastra suci. Dia akan memperoleh keluhuran Bharata, leluhur Pandawa. Dia akan merayakan Asvamedha seperti yang telah Paduka jalankan dengan cara melakukan 3 upacara Asvamedha sekaligus.”

Maharaja Yudhistira masih belum puas, dia ingin mendengarkan lebih banyak keunggulan karakter sang pangeran dan juga menanyakan apakah selama dia memerintah akan terjadi perang besar, apakah dia menang melawan para musuh kerajaannya. Sesepuh astrolog tersebut menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak akan ada perang besar, tidak ada musuh yang merecoki kerajaannya. Dia teguh memerintah dengan adil dan bijaksana.

Ramalan tentang Kematian Sang Pangeran

“Kehidupan abadi tidak berarti seseorang dapat menghindari kematian. Karena kelahiran dan kematian merupakan dua sisi kehidupan. Ia akan sadar bahwa yang mati adalah raga, bahwasanya jiwa tidak mati. Begitu ia mengidentitaskan dirinya dengan jiwa, kematian raga tidak akan membuatnya gelisah lagi. Dalam kesadaran jiwa, kita semua hidup abadi. Hanya saja, ada yang sadar akan hal itu, ada yang belum sadar.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Beberapa saat kemudian, semua orang  terfokus pada Yudhistira yang cemas kala menanyakan pertanyaan terakhir, bagaimana akhir kematian sang pangeran nanti.

Sesepuh Astrolog tersebut menjawab, “Paduka Maharaja mengapa mengkhawatirkan hal ini? Kematian adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Sesuatu akan menyebabkan kematiannya. Tidakkah sebaiknya kita tidak perlu menyelidiki lebih lanjut. Tidakkah lebih baik kita serahkan hal tersebut kepada Dia Yang Maha Kuasa? Bukankah bagi orang saleh kematian hanya menyentuh raganya, sedangkan dia paham bahwa jiwanya tetap abadi?”

Akan tetapi karena desakan Maharaja Yudhistira, para astrolog kembali mempelajari konstelasi planet dengan lebih cermat untuk memperoleh gambaran bagaimana cara kematian sang pangeran.

Sesepuh Astrolog akhirnya berkata pelan, “Sang Pangeran akan menyerahkan kerajaannya, sebagai akibat dari kutukan seorang resi. Perhitungan kami menunjukkan dia akan meninggal dunia digigit ular.”

Dan Yudhistira bersama seluruh Pandawa serta para sesepuh yang hadir tenggelam dalam kesedihan, suasana berubah menjadi muram. Mereka sedih dengan ramalan kematian sang pangeran karena masih terpatri dalam benak mereka bahwa mati digigit ular termasuk mati yang tidak baik, apalagi bagi seorang maharaja yang saleh dan agung seperti sang pangeran.

Sesepuh Astrolog menghibur Yudhistira, “Paduka Maharaja, tidak ada hal yang perlu disedihkan. Dalam konstelasi planet kami melihat bahwa kebahagiaan menyertai akhir hayatnya. Segera setelah belajar tentang kutukan resi, sang pangeran akan menyerahkan kerajaannya kepada putranya. Dia akan menyepi ke sungai suci Bhagirathi. Resi Suka putra Vyasa yang masih terhitung pamanda Paduka, akan memandu sang pangeran dengan pengetahuan tentang Atma,kemudian menyelesaikan pelajaran terakhir manusia saleh melalui Bhakti Yoga. Sang Pangeran akan mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

Sinar kebahagiaan mengusir awan kemurungan Maharaja Yudhistira, “Jika demikian maka ini bukan kutukan akan tetapi karunia khusus, yang perlu disyukuri bersama!”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Kisah Boddhisattva Sebagai Shakra: Biarlah Kehendak-Nya yang Terjadi

Posted in Relief Candi with tags , , on December 24, 2013 by triwidodo

Shakra 1 sang pemberani sumber www himalayanart org

Ilustrasi Shakra Sang Pemberani sumber www himalayanart org

Keyakinan dan Kehendak

Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shakra, Dewa Indra tidak mau kereta perangnya menabrak sarang burung elang, karena dia pun tidak mau dirinya ditabrak kereta yang dikendarai orang lain hingga mati. Lebih baik mati di medan pertempuran daripada melarikan diri dan membunuh nyawa anak-anak elang. Keretanya berputar kembali menuju medan pertempuran dan akhir pertempuran yang terjadi berbeda jauh dari logika para Dewa dan Asura.

 

Boddhisattva sebagai Shakra

“Dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebut sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi.” Cuplikan dan terjemahan bebas dari Diskusi Anand Krishna dengan Kali Ma di Spreaker

Kesadaran seseorang itu bisa sempit atau meluas, seperti sifat sempit dan meluasnya berbagai elemen alami. Tanah atau bumi itu padat, merupakan simbol kesadaran yang kaku, sempit. Kemudian kesadaran berikutnya meluas seperti air yang bisa meresap dan mengalir kemana-mana. Setelah itu kesadaran meningkat seperti api yang bukan hanya meluas tetapi juga naik ke atas dan dan bentuknya sudah tidak padat atau cair lagi. Selanjutnya seperti udara, kesadaran yang lebih cepat meluas dengan sangat cepat. Dan, akhirnya seperti ruang, sebuah kesadaran yang meliputi segala sesuatu. Bila ruang bisa ditengarai dengan bunyi,shabda; udara ditengarai dengan raba, touch, sparsha; api sudah mulai bisa kelihatan bentuknya, rupa; sedangkan air selain sudah mempunyai rupa sudah bisa di ‘rasa’ kan, tasted, dikecap: bumi sudah punya rupa, rasa dan bisa ditengarai dari bau, gandha.

Seseorang yang kesadarannya meluas, sesuai tingkat keluasan kesadarannya, maka dia sudah tidak membedakan gandha, rasa, rupa, ataupun sparsha-raba. Dia sudah tidak membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya, semua makhluk adalah percikan dari Gusti Pangeran. Kita perlu merenungkan, apabila kita masih membeda-bedakan kolom agama dalam ktp, apakah kesadaran kita sudah meluas atau masih begitu sempit dan kaku? Dalam kisah ini Boddhisattva sudah mencapai kesadaran Shakra atau Dewa Indra, rajanya para dewa.  Dalam berbagai kehidupan sebelumnya dia sudah melakukan tindakan mulia dan kesadarannya sudah meluas sehingga diangkat menjadi Shakra.

 

Bertempur dengan Para Asura

Para Asura merasa iri dan dengki dengan tingkat kesadaran Shakra, jika hal ini dibiarkan dunia akan dipengaruhi Shakra dan kejahatan dan kegelapan akan terlempar dari dunia. Para Asura menyatakan perang melawan Shakra. Mereka mengumpulkan ribuan prajurit dilengkapi dengan banyak gajah, kuda dan kereta perang. Shakra pun memimpin para dewa dan melengkapinya dengan ratusan gajah, kuda dan kereta perang. Shakra sendiri guna membangkitkan semangat anak buahnya naik kereta emas yang ditarik dengan seribu kuda dengan perlengkapan senjata yang indah menyilaukan kala diterpa sinar matahari.

Pertempuran besar meletus dengan teriakan penuh kemarahan para perajurit dan genderang perang pemberi semangat untuk mengalahkan musuh. Membaui anyir darah, gajah dan kuda mengamuk, panah-panah berseliweran. Akhirnya, kewalahan oleh senjata para Asura, perajurit Shakra melarikan diri.

Hanya Shakra, pemimpin para dewa yang tetap berada di medan pertempuran dengan sais Matali yang menjalankan kereta perangnya. Matali melihat gegap gempita para perajurit Asura yang sedang menang dan maju mengejar para dewa, memutar kereta dan akan mundur. Pada saat itu Shakra melihat kereta perangnya akan menabrak ranting pohon tempat sarang burung elang yang berisi anak-anak elang yang tidak berdaya.

Shakra segera berkata kepada Matali agar jangan menabrak sarang elang. Matali menjawab, bahwa dengan menghindari sarang tersebut, para Asura bisa menyusul kereta mereka. Matali sangat cemas, mengapa hanya demi sarang elang, Shakra justru membahayakan nyawanya sendiri. Padahal kematian Shakra sangat ditunggu-tunggu oleh para Asura dan bila mereka berhasil membunuh Shakra lengkaplah sudah kemenangan para Asura dalaam pertempuran kali ini.

 

Biarlah kehendakNya yang terjadi!

“Hendaknya kekuatan kehendak tidak diterjemahkan sebagai kekeraskepalaan. Tujuan Anda  berkehendak kuat bukanlah untuk memenuhi keinginan Anda dan melayani kemauan ego Anda. Tidak. Tujuan Anda berkehendak kuat adalah untuk meleburkannya dalam Kehendak Gusti Pangeran. Untuk memuliakanNya, untuk mengagungkanNya. Biarlah kehendakNya yang terjadi!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shakra tetap meminta Matali membelokkan kereta menghindari sarang elang. Shakra trust, yakin terhadap Kebenaran Sejati dan tunduk terhadap Kehendak-Nya, bukan kehendak pribadinya. Dalam diri Shakra sudah terpatri keyakinan, lebih baik mati dalam pertempuran daripada melarikan diri dan membunuh nyawa anak-anak elang. Shakra tidak mau seperti orang awam yang menggampangkan perkara melenyapkan nyawa makhluk dan masih menepuk dada dan berkata lantang bahwa “dirinya mengasihi semua makhluk seperti dia mengasihi dirinya sendiri”.

“Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Langkah berikutnya adalah: Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan yakin, Shakra meminta Matali memutar kereta perangnya menghindari sarang elang. Shakra sudah melepaskan logika. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Shakra memakai keyakinan yang berasal dari jiwa. “Biarlah Kehendak-Nya yang terjadi!”

 

Membuat Porak Poranda Pasukan Asura

Kereta perang Shakra yang memutar kembali ke arah musuh membuat pasukan Asura kebingungan. Mereka ternganga dan cemas dengan keberanian Shakra. Mereka bertanya-tanya ada kekuatan besar apa yang membuat Shakra menyerang kembali. Para Asura cemas, jangan-jangan mereka dijebak pasukan para Dewa. Alih-alih menghalangi kereta Shakra dan menyerangnya, pasukan para Asura menyibak penuh ketakutan dan melarikan diri dari jalur kereta Shakra. Melihat barisan Asura yang menyibak dan rusak, para dewa muncul semangatnya kembali dan dengan genderang perang, pasukan gajah, kuda dan kereta mereka masuk kembali ke medan pertempuran. Hal ini tambah mengejutkan pasukan para Asura dan meruntuhkan nyali mereka. Para Asura serempak melarikan diri terbirit-birit dari serangan para Dewa. Para dewa bersorak gembira atas kemenangan pertempuran.

Dalam keadaan kritis, Shakra menyerahkan diri pada Kehendak-Nya, yang akan terjadi adalah Kehendak-nya bukan kehendak pribadinya.

 

Menyerahkan Diri pada Kehendak-Nya, Melampaui Maya

“Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau bersabda : ‘Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Kecenderungan Manusia dan Hikmah Ramayana dalam Kehidupan Kita

Posted in Ramayana with tags , , , on December 19, 2013 by triwidodo

ramayana-Trail

Ilustrasi Ramayana sumber: www ramdas org

Sifat Tenang-Satvika, Rajas-Agresif, Tamas-Malas-malasan

“Alam ini memiliki tiga sifat utama: sifat tenang, sifat agresif, dan sifat malas-malasan. Ketiga sifat inilah yang mengikat manusia dengan badannya. Di antara ketiga sifat tersebut, sifat pertama membawakan ketenangan, namun tetap mengikat manusia dengan cara menimbulkan keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan pengetahuan. Sifat kedua menimbulkan nafsu dan mengikat manusia dengan menimbulkan keinginan untuk bekerja. Sifat ketiga terciptakan oleh kebodohan dan membelenggu diri manusia dengan cara menimbulkan keterikatan pada tidur berkelebihan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Sifat pertama mengikat manusia dengan kebahagiaan; sifat kedua dengan pekerjaan; dan sifat ketiga dengan ketidakpedulian.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 5-9

 

Melampaui Tiga Guna

Apakah Sri Rama merasa sangat menderita dalam kisah Ramayana? Jelas tidak. Ini adalah permainan, Leela Sri Rama. Apa yang dapat membahagiakanNya? Apa yang dapat membuatNya menderita? Dengan kehendakNya Dia menciptakan segalanya. Sri Rama melakukan peran dalam panggung sandiwara duniawi Ramayana untuk menunjukkan “Guna”, sifat utama manusia dan bagaimana melampauinya.

“Sifat pertama melahirkan kebijakan; sifat kedua ketamakan; sifat ketiga kesesatan, ketidakpedulian, dan kebodohan. Mereka yang memiliki sifat pertama mengalami perkembangan. Mereka yang memiliki sifat kedua berada di tengah-tengah. Mereka yang memiliki sifat ketiga hanya mengalami kemerosotan. Ia yang melihat ketiga sifat tersebut berasal dari alam dan menyadari bahwa ‘sang Aku’ melampaui sifat-sifat tersebut, akan menyatu dengan ‘Aku’. Ia yang btelah melampaui sifat-sifat ini terbebaskan dari segala macam duka yang disebabkan oleh kelahiran, kematian, kemusnahan, dan mencapai kesadaran ‘SangAku’ yang langgeng, abadi. Arjuna bertanya: Bagaimana ciri-ciri seseorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut? Bagaimana perilakunya dan bagaimana ia dapat melampaui sifat-sifat tersebut? Mohon dijelaskan Krishna. Krishna menjawab: Ia yang tidak membenci sesuatu, dan tidak pula merindukan sesuatu. Ia yang tetap teguh dan tidak tergoyahkan oleh sifat-sifat alami. Ia yang menganggap sama suka dan duka, emas dan batu, dan lain sebagainya. Ia yang tidak terpengaruh oleh cacian dan pujian dan sama terhadap kawan dan lawan. Ialah yang telah melampauiketiga sifat alam itu. Ia yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian dalam kasih dan untuk kasih – Ialah yang telah melampaui ketiga sifat alam dan layak untuk menyatu dengan ‘Sang Aku’. Ketahuilah bahwa ‘Akulah Yang Teringgi, Yang Langgeng dan Abadi’ dan tidak dapat dijelaskan, namun menyebabkan Kebahagiaan Sejati yang tak terbandingkan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 17-27

 

Hikmah Ramayana

Dalam Sandeha Nivarini Sai Baba menyampaikan bahwa kita lahir di “maya”, dibesarkan di “maya”, dan misi manusia adalah untuk melampaui “maya”. Sifat utama manusia atau Guna tidak dapat diekspresikan tanpa adanya indera, oleh karena itu kita lahir dengan indera, dibesarkan dalam  indera, kita harus menguasai indera.

Ibarat layar bioskop. Kita bisa melihat gambar-gambar yang silih berganti di layar, dan itulah “maya” kita hidup dalam berbagai gambar di layar. Bagaimana pun semua gambar yang membuat kita merasa susah dan senang hanya bersifat sementara. Sementara ini, kita belum melampaui gambar-gambar yang sementara di layar untuk melihat layar berbingkai yang permanen.

Sri Rama, lahir sebagai putra Dasharatha, sepuluh kereta yang merupakan kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera. Dasharatha adalah lambang dari diri kita. Ibu kita, atau tiga permaisuri Dasharatha mewakili ketiga Guna, sifat utama manusia. Kausalya adalah sathvaguna, sifat tenang. Kaikeyi adalah rajoguna, sifat agresif. Sedangkan Sumitra adalah Tamoguna, sifat bermalas-malasan. Kaikeyi yang agresif mudah terhasut Manthara, pembantunya, sehingga menginginkan Bharata, putranya untuk menggantikan Dasharatha, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Lakshmana ke hutan. Dasharatha walau dengan penuh kesedihan terpaksa mengikuti kecenderungan agresif dari Kaikeyi.

Dalam rimba kehidupan, Jiwa atau Sita terperangkap oleh Ego, Rahwana. Untuk memperoleh kembali jiwa yang terperangkap oleh ego, maka Sri Rama, dalam perjalanan kegelisahan bertemu dengan kera kembar perkasa, Subali yang melambangkan keputusasaan dan saudaranya Sugriva yang melambangkan viveka, kemampuan memilah, diskriminasi. Dengan bantuan Hanuman atau Keberanian Sri Rama memilih Sugriva melenyapkan keputusasaan. Berapa banyak manusia yang kala menghadapi permasalahan yang berat, jatuh dalam keputusasaan dan menyerah? Dengan bantuan Sugriva, viveka, diskriminasi dan pasukannya yang penuh semangat, kekuatan dan ketabahan yang diwakili oleh Jambavan, Anggada dan para wanara lainnya serta rasa bhakti Hanuman, Sri Rama membuat Setubandha, jembatan untuk menyeberangi samudera ilusi atau maya. Setelah dapat menyeberangi maya, maka Sri Rama mengalahkan sifat Tamas yang dilambangkan oleh Kumbhakarna dan kemudian sifat Rajas yang diwakili oleh Rahwana. Dan, setelah itu Sri Rama menobatkan sifat Satvika, Vibhisana sebagai raja. Persatuan antara Sita dan Rama adalah Ananda, kebahagiaan abadi.

Ramayana terjadi dalam setiap orang, apakah orang tersebut masih dalam tahap tergoda oleh kijang kencana dunia, ataukah dia sedang menghadapi keputusasaan, mungkin juga dia sudah menjadi bhakta, panembah sudah bertemu Hanuman, sehingga sudah siap untuk menyeberangi samudera ilusi untuk mengalahkan sifat agresif, bermalas-malas dan berteman dengan kecenderungan yang tenang, seimbang. Demikian piawainya Resi Walmiki menguasai ilmu duniawi dan spiritual, sehingga bisa menggambarkan karakter para pelaku dengan sifat utama yang sesuai dengannya.

 

Mempraktekkan Pemahaman dalam Kehidupan Sehari-hari  

“Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan ‘ton’ pengetahuan. Apa gunanya? ‘Sekilo’ yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus. Anda hanya membebani otak anda.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pemahaman kisah Ramayana perlu dipraktekkan dalam keseharian. Menurut Sai Baba dalam Sandeha Nivarini, kita memiliki Veda, Sastra, Purana dan Ithihasa. Kita diberi nasehat untuk mengambil hikmahnya, mematuhi jalan yang diajarkan, mengumpulkan pengalaman, memahami makna dan pesan para bijak, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, menganggap Paramatma sebagai Guru dan melakukan Sadhana dengan cinta yang tak tergoyahkan. Dia akan muncul memberikan petunjuk. Dia mungkin juga memberkati sebagai akibat dari praktek Sadhana, sehingga kita bisa bertemu Sadguru.

“Shankara sangat berhati-hati dalam hal penggunaan kata. Yang disebut obat mujarab untuk membebaskan diri dari penyakit ketidaksadaran bukanlah ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’, tetapi ‘senantiasa memelihara kesadaran akan Sang Aku Sejati’. Bahkan istilah Sanskerta yang digunakan adalah Nirantara Abhyastaa. Nirantara berarti senantiasa, setiap saat—continuously, without a break. Dan Abhyastaa bukan semata-mata ‘memelihara’, tetapi juga ‘melakoni’, mempraktekkan. ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’ mudah diperoleh. Siapa saja bisa memperolehnya. Yang sulit adalah ‘pemeliharaan’ kesadaran itu. Lebih sulit lagi, ‘melakoninya’ di dalam hidup sehari-hari. But if you succed to do that, bila Anda berhasil memelihara dan melakoninya, maka: Terbebaskanlah dirimu dari ketidaksadaran, dari kegelisahan, dari kecemasan, dari kebingungan, kebimbangan dan keraguan yang disebabkan oleh ketidaksadaran.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Medan Perang Kurukshetra dalam Diri

Posted in Mahabharata with tags , , , on December 16, 2013 by triwidodo

kurukshetra 1 sumber www indianspiritualjourneys com

Ilustrasi Medan Perang Kurukshetra sumber: www indianspiritualjourneys com

Kejahatan dan Kebaikan dalam Diri

Pertempuran di medan perang Kurukshetra bukan hanya peristiwa historis yang terjadi sekitar tahun 3.000 SM, akan tetapi juga perang yang sedang berlangsung terjadi tiap hari, setiap hari dalam kehidupan kita. (Krishna, Anand. (2012). Musings on the Bhagavad Gita: From Confusion to Courage, Artikel dalam The Bali Times)

Pada Zaman Treta Yuga, masa terjadinya kisah Ramayana, kaum raksasa yang selalu ingin menang sendiri hidup terpisah dalam suatu kelompok, maka lebih gampang menjaga masyarakat yang baik, dan lebih mudah membasmi kelompok yang jahat. Pada Zaman Dvapara Yuga, mereka yang baik maupun yang jahat bercampur di tengah masyarakat. Untuk membasmi kejahatan, masyarakat perlu dipilah, ikut Koalisi Korawa atau ikut Koalisi Pandawa, dan setelah itu baru yang jahat dapat dimusnahkan. Pada masa kini, baik sifat jahat maupun sifat buruk ada dalam diri setiap manusia. Untuk membasmi kejahatan dengan cara lama, maka seluruh manusia akan ikut terbunuh. Dalam masa kini, kedamaian masyarakat akan sulit tercapai sebelum terjadi kedamaian dalam diri setiap manusia.

 

Wujud Kasar dan Wujud Halus dari Segala Sesuatu

Dalam Sandeha Nivarini, Sai Baba menyampaikan bahwa Sthula-rupa dan Sukshma-rupa, wujud kasar dan wujud halus, bukan hanya karakteristik pikiran saja. Wujud kasar dan wujud halus adalah karakteristik dari segala sesuatu, bahkan, semua nama dan rupa. Wujud kasar hanya untuk memahami wujud halus. Wujud halus dari matahari pun ada, tanpa wujud halus matahari, bagaimana bisa ada kemegahan, cahaya, kebijaksanaan dan penerangan dalam diri? Wujud halus langit adalah hati, wujud halus matahari adalah buddhi, intelegensia yang menerangi langit. Cahaya dari buddhi seterang cahaya matahari.  Wujud halus bulan adalah kasih. Sinarnya yang lembut menyenangkan langit hati.

Perang fisik antara Pandawa dan Korawa pun mempunyai “wujud halus” perang di dalam diri. Pandawa dan Korawa sedang melakukan “perang halus” setiap hari. Dalam wujud perang halus ini, kualitas jahat diwakili oleh Korawa sedangkan kualitas baik diwakili oleh Pandawa. Sathya, Dharma , Santhi, Prema dan Ahimsa adalah wujud halus dari Pandawa. Kualitas jahat amat banyak dan membentuk gerombolan adalah wujud halus dari Korawa. Mereka bertempur untuk menguasai kerajaan hati. Mereka adalah ajnani dan sujnani, karakter tidak bijaksana dan karakter bijaksana. Penguasa yang tidak bijaksana yang buta adalah Dhristarastra sedangkan Pandu adalah ayah dari karakter bijaksana. Jutaan emosi, pikiran dan perasaan adalah para prajurit. Panca indera adalah kereta perangnya. Wujud halus Sri Krishna adalah “saksi” yang dipahami sebagai atma. Dia adalah sais dari kereta jiwa.

Hastinapura adalah kota dari tulang-belulang, atau tubuh kita. Kota ini mempunyai 9 gerbang. Korawa dan Pandawa lahir dan berkembang di kota tersebut. Dalam diri kita, mereka saling waspada dan benci satu sama lain. Perang ini terjadi pada semua orang sampai saat ini. Mungkinkah perang ini berakhir? Mungkin, ketika manusia melampaui karakter baik dan buruk sehingga akan tercapai kedamaian.

 

Melampaui Ilusi atau Maya dengan Menemukan Jatidiri

Raja-raja penguasa mengobarkan perang karena mereka yakin dengan diri mereka. Ilusi atau maya adalah persoalan yang mendorong pribadi-pribadi untuk berperang. Ketika kita pause, berhenti sejenak dari ilusi, maka perang tidak akan berkobar. Bila kita dapat melepaskan diri dari ilusi atau maya, bila kita bisa melepaskan perasaan “aku” dan “milikku”, dan maka kita akan memperoleh kedamaian. Dengan menemukan Jatidiri maka ilusi atau maya terlampaui.

Berikut ini adalah artikel Bapak Anand Krishna “Nyanyian Ilahi 2” dalam situs http://www.aumkar.org

 

LAMPAUI KEGELISAHAN DENGAN MENEMUKAN JATIDIRI!

Krishna: Kau tidak berperang untuk memperebutkan kekuasaan; kau berperang demi keadilan, untuk menegakkan Kebajikan. Janganlah kau melemah di saat yang menentukan ini. Bangkitlah demi bangsa, negeri, dan Ibu Pertiwi.

Arjuna: Dan, untuk itu aku harus memerangi keluarga sendiri? Krishna, aku bingung, tunjukkan jalan kepadaku.

Krishna: Kau berbicara seperti seorang bijak, namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi. Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian, dua-duanya tak langgeng.

Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan, sesungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati. Badan yang mengalami kelahiran dan kematian ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu dan menggantinya dengan yang baru. Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.

Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat, disebabkan oleh panca-inderamu sendiri ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri. Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu.

Temukan Kebenaran Mutlak di balik segala pengalaman dan perasaan. Kebenaran Abadi, Langgeng dan Tak Termusnahkan. Segala yang lain diluar-Nya sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan. Temukan Kebenaran Abadi Itu, Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh. Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati. Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada. Kau akan menyatu dengan-Nya, bila kau menemukan-Nya. Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan. Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah. Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta, tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua. Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air, dan tidak menjadi kering karena angin.

Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu muncul dan lenyap secara bergantian. “Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan” dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”. Jiwa tak berubah dan tak pernah mati; hanyalah badan yang terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian. Apa yang harus kau tangisi?

Badanmu lahir dalam keluarga para Satria, ia memiliki tugas untuk membela negara dan bangsa. Bila kau melarikan diri dari tanggungjawabmu, kelak sejarah akan menyebutmu pengecut. Bila kau gugur di medan perang, kau akan mati syuhda, namamu tercatat sebagai pahlawan. Dan, bila kau menang, rakyat ikut merayakan menangnya Kebajikan atas kebatilan. Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan kemenangan dan kekalahan. Lakukan tugasmu dengan baik.

Berkaryalah demi kewajibanmu. Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang, bulatkan tekadmu, dan dengan keteguhan hati, tentukan sendiri jalan apa yang terbaik bagi dirimu. Berkaryalah demi tugas dan kewajiban, bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia. Janganlah kau merisaukan hasil akhir, tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan. Dengan jiwa seimbang, dan tak terikat pada pengalaman suka maupun duka, berkaryalah dengan penuh semangat! Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar; dari pendapat orang tentang dirimu, dan apa yang kau lakukan. Ikuti suara hatimu, nuranimu.

Arjuna: Bagaimana Krishna, bagaimana mendengarkan suara hati?

Krishna: Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas suara hatimu – itulah Pencerahan! Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka. Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.

Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang karena memperoleh sesuatu; tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya. Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan. Pengendalian Diri yang sampurna membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar. Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul rasa kecewa, amarah. Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.

Seorang bijak yang tercerahkan terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia, dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri. Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati.

Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup. Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya, ia menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Kisah Boddhisattva: Pengaruh Buruk Para Drona terhadap Raja

Posted in Relief Candi with tags , , , on December 7, 2013 by triwidodo

sang bijak relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Ilustrasi Relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Pikiran Yang Selaras dengan Alam Semesta

“Bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang saya pikirkan itu harmonis, selaras, dan serasi dengan semesta? Segala macam pikiran, ide, konsep, gagasan, imajinasi dan lain sebagainya yang bersifat luas dan membebaskan adalah pikiran yang selaras dengan semesta. Karena alam semesta Maha Luas dan Maha Bebas adanya. Ia tak terkurung, tak terbingkai dan tak terbatas. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang kerdil, sempit, membatasi, dan memenjarakan seperti dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang membuat kita berpikiran picik sudah jelas tidak harmonis, selaras dan serasi dengan semesta. Pikiran yang picik menimbulkan berbagai macam keadaan psikologis yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Keadaan psikologis yang dimaksud antara lain rasa takut, khawatir, kecewa, marah, iri, benci, dendam, sedih, dan depresi.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Boddhisattva lahir sebagai seorang pengembara yang dikenal dengan sebutan Mahabodhi, Sang Bijak. Setelah meninggalkan keduniawian, Sang Boddhisattva berfokus pada pelajaran dharma yang membawa manfaat bagi semua makhluk. Pekerjaannya adalah ‘vihar’, bepergian. Kemana pun ia pergi selalu dijamu dan dilayani oleh para brahmana dan para perumahtangga yang ingin mendengarkan nasehatnya tentang kehidupan. Akhirnya sampailah sang bijak kepada seorang raja yang kaya yang sangat menghormatinya. Sang raja membangun tempat khusus untuk Mahabodhi di taman yang indah. Sang raja dengan sukacita mendengarkan ajaran sang bijak dengan tekun dan sang bijak bahagia dengan kemajuan spiritual sang raja.

Beberapa Drona, Penasehat Sang Raja mulai iri dengan Mahabodhi. Mereka berkata, bahwa Sang Raja tidak perlu terfokus pada ajaran sang pengembara. Sang pengembara mungkin adalah mata-mata dari negara tetangga dan menggunakan ketertarikan Sang Raja pada dharma untuk menipunya. Pikiran cerdas dari sang pengembara dan dengan lidah yang piawai  akan membingungkan Sang Raja yang akan membawanya pada bencana. Mereka berupaya meyakinkan Sang Raja bahwa sang pengembara berpura-pura menjadi pemuja kebaikan, mendorong Sang Raja berlatih welas asih dan rendah hati. Dan setelah Sang Raja mengikuti sumpah maka dia akan merusak kebijakannya. Mereka minta agar Sang Raja memperhatikan berapa banyak sang pengembara berbicara pada orang-orang asing.

 

Bujukan Secara Repetitif Intensif oleh Para Drona

“Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diulang-ulang secara repetitif intensif, Sang Raja mulai berubah. Ketidakpercayaan Sang Raja mulai tumbuh. Sang Bijak dapat merasakan dan merasa bahwa kedatangannya tidak lagi menyenangkan sang raja. Dia segera mengumpulkan barang-barang untuk mengembara dan siap berangkat dari istana. Sang Raja mencoba menahannya dan bertanya apakah Sang Bijak kurang berkenan. Sang Bijak tegas berkata dia pergi bukan karena tidak dihormati, akan tetapi karena kedatanggannya sudah tidak mempunyai manfaat. Jadi harus pergi. Anjing kesayangan Sang Raja juga menggonggong keras-keras kepadan Sang Bijak seperti pada seorang musuh. Sang Bijak berkata bahwa anjing ini belum lama berselang suka tinggal disisinya mengikuti teladan Sang Raja. Sekarang dia menggonggong dengan keras, tentunya sang anjing telah mendengar bahwa Sang Raja telah berbicara kasar tentang saya. Demikianlah perilaku pegawai yang makan roti tuannya. Sang Raja merasa malu akan ketajaman persepsi Sang Bijak. Sang Raja berkata bahwa beberapa orang memang berbicara kasar tentang Sang Bijak.

 

Mohon Dukungan Sang Bijak Bila Sang Raja Berada dalam Kebingungan

Raja berkata jika Sang Bijak bersikeras akan pergi, maka dia mohon agar beliau kembali bila Sang Raja berada dalam kebingungan ketika memutuskan masalah besar. Sang Bijak berkata, bahwa hidup di dunia terjadi banyak hambatan, kadang harus lewat jalan memutar dan kadang datang musuh yang tak terduga. Dia tidak bisa janji. Hanya mempunyai keinginan untuk bertemu sekali lagi bila ada alasan yang baik untuk kunjungan tersebut. Sang Bijak kemudian pergi ke hutan.

Setelah beberapa bulan, Sang Bijak melihat bahwa Sang Raja terjebak dalam intrik-intrik para penasehatnya yang mendesak Sang Raja untuk menerima doktrin mereka. Jika hal tersebut dibiarkan, maka bisa membahayakan seluruh rakyatnya.

Salah satu penasehat meyakinkan Sang Raja bahwa hukum sebab-akibat sulit diikuti. Coba dilihat warna, bentuk, kelembutan, tangkai, kelopak pada bunga teratai. Alam semesta ada tanpa alasan. Penasehat lain membujuk Sang Raja agar memelihara kesenangan sensual, karena bila kesenangan tersebut musnah maka dia sudah kehilangan kesempatan menikmatinya. Penasehat yang lainnya lagi, menyarankan bahwa selama berguna bagi Sang Raja, guna memperpanjang kemuliaannya, maka bertindak kejam bisa dilakukan.

Boddhisattva melihat gambaran ini dan kemudian menciptakan jubah dari kulit orang hutan. Dan, dengan berpakaian jubah kulit orang hutan Sang Bijak ke istana.

 

Menghadapi Para Drona, Penasehat yang Tidak Bijak

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja bertanya siapa yang memberikan jubah kulit orang hutan untuk Sang Bijak? Sang Bijak menjawab bahwa duduk dan tidur di tanah yang keras dengan sedikit alas jerami menyakitkan tubuh dan membuat sulit beribadah. Sang Bijak berkata bahwa dia membunuh orang hutan dan mengambil kulitnya.

Menteri negara dan para penasehat berkata dengan lantang kepada sang raja bahwa perilaku Sang Bijak hanyalah terfokus kesenangannya. Sang Bijak tidak konsekuen.

Sang Bijak bertanya mengapa mereka menyalahkan dia dengan keras? Bukankah harus bersikap adil terhadap pendapat orang lain? Kepada penasehat yang tidak percaya hukum sebab-akibat, Sang Bijak berkata, “Tuan percaya bahwa alam semesta ada karena alasan alam yang terkandung di dalamnya. Lalu mengapa Tuan harus menyalahkan tindakan saya? Tentunya jika orang hutan tersebut mati akibat dari sifat yang dimilikinya sendiri, maka saya tidak salah telah membunuhnya. Tapi Tuan mengatakan saya berbuat dosa. Kematiannya disebabkan oleh penyebab, dan penyebabnya dalah saya. Oleh karena itu Tuan harus meninggalkan doktrin non-kausalitas/tak ada hukum sebab-akibat yang Tuan ucapkan.”

 

Hukum Sebab-Akibat

“Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepada Penasehat lainnya, sang bijak berkata, “Tuan mengatakan bahwa warna bentuk dan sebagainya dari teratai bukanlah hasil dari penyebab. Akan tetapi teratai hanya diproduksi oleh biji teratai yang ada di dalam air? Karena kondisi itu muncul, teratai tumbuh. Bila tidak terkondisi maka teratai tidak muncul. Juga pertimbangkan ini: Mereka yang menolak adanya hukum kausalitas/hukum sebab-akibat, selalu berupaya menggunakan logika. Bukankah logika itu sendiri mengikuti hukum sebab-akibat? Mereka telah menentang keyakinan mereka sendiri! Dan lebih lanjut , mereka yang mengatakan hukum kausalitas tidak ada, karena mereka tidak dapat memahami penyebab dari beberapa peristiwa tertentu! Kembali ke urusan orang hutan. Jika Tuan bertahan dalam doktrin Tuan, bahwa tidak ada kausalitas, maka kematian orang hutan itu tidak ada penyebabnya. Lalu mengapa menyalahkan saya? Mengapa menyalahkan saya kejam sedangkan Tuan berpendapat bila untuk memperpanjang kemuliaan tindakan kejam boleh dilakukan?”

Sang Bijak akhirnya berkata, “Paduka hamba tidak pernah membunuh orang hutan. Saya tidak pernah membunuh makhluk. Kulit ini saya buat berasal dari monyet yang saya imaginasikan sendiri. Sekarang ilusi tentang kulit orang hutan tersebut sudah kami buang dan saya hanya memakai pakaian biasa.”

“Ketika Paduka bertindak sesuai dengan Dharma, Paduka dapat memimpin sebagian besar rakyat untuk berbuat saleh. Bila Paduka memaksakan diri untuk melindungi rakyat dengan mengandalkan Dharma, Paduka akan menemukan bahwa aturan dan disiplin membuat jalan terindah dari semua orang. Sucikan perilaku Paduka, belajar untuk merangkul amal, membuka hati untuk tamu seolah-olah mereka kerabat terdekat Paduka, dan memerintah negeri dengan kebajikan dan tanggung jawab . Semoga Paduka mengatur negeri Paduka dengan kebenaran , tidak pernah berhenti merayaan tugas Anda.”

 

Memilih Pergaulan yang Baik

“Kelilingi diri Paduka dengan menteri yang setia, cerdas dan bijaksana, serta dengan teman-teman yang jujur ​​dan amanah. Biarkan Dharma memandu tindakan Paduka.”

“Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, Kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari Kusang, Ia akan selalu mencari Satsang.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sang Raja sadar dan tidak beberapa lama kemudian dia mengganti para penasehatnya dengan orang-orang bijak.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Setubandha Jembatan Ke Negeri Alengka, Jalan Penghubung Penakluk Nafsu Angkara

Posted in Ramayana with tags , , on December 3, 2013 by triwidodo

 

Sethubandha bridge sumber hariharji blogspot com

Ilustrasi Pembangunan Jembatan Setubandha sumber hariharji blogspot com

Setubandha, Jembatan Dibangun Para Wanara yang Sudah Tidak Liar

“Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu! Cara Swami menjinakkan pikiran seperti monyet ini sangat musical. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditative melalui musik. Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualisasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total….. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang. Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung. (Das,Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rama adalah simbol dari Paramatman, Diri Hyang Agung sedangkan Sita adalah Jeevatman, Diri Individual  yang sudah terpisah dari Paramatman karena ulah Rahwana atau Ego. Untuk menghubungkan Jeevatman kepada Paramatman diperlukan Hanuman sebagai jembatan. Sampai sekarang orang memuja Hanuman dan mempergunakannya sebagai jembatan menuju Paramatman. Setubandha adalah jembatan yang dihasilkan para wanara untuk menyeberangi samudera. Wanara yang terkenal berpikiran liar dan suka meloncat-loncat ternyata bisa dijinakkan dengan kidung pujian. Mereka bergotong-royong membangun jembatan sebagai persembahan kepada Rama, Sang Paramatman. Keberhasilan membangun jembatan Setubandha membuat para wanara semakin percaya diri, mati pun mereka rela demi Sri Rama.

Mata-Mata Alengka yang Tertangkap Pasukan Sri Rama

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang mata-mata dari Alengka yang dikirim oleh Rahwana terlihat oleh Vibhisana. Kemudian para wanara mengikatnya dibawa menghadap Panglima Perang Sugriva. Sugriva memerintahkan prajuritnya untuk memotong hidung dan telinganya. Sang mata-mata yang mengaku sebagai utusan Rahwana segera menangis dan mohon perlindungan Sri Rama, “Om Shri Rama”, saya berserah diri terhadap Rama. Ucapannya ternyata menyelamatkannya, hidung dan telinganya tidak jadi dipotong. Lakshmana segera datang dan kemudian menulis surat kepada Rahwana.

“Wahai Rahwana, pemusnah sendiri dari ras raksasa, segeralah mengubah pendapat Anda, tunduklah kepada Sri Rama dan ras raksasa akan diampuni olehnya. Kematian Anda sudah dekat.”

Suka, sang mata-mata menerima surat tersebut, mengucapkan Jaya Shri Rama dan segera balik ke Alengka.

Rahwana didepan persidangan mendengarkan penuturan Suka dan sangat marah dengan perbuatan Vibhisana yang telah diangkat sebagai raja Alengka masa depan. Menurutnya hanya tinggal beberapa hari lagi Vibhisana akan mati dalam peperangan. Rahwana juga bertanya apakah sang mata-mata tidak menyampaikan kekuatan pasukan Alengka yang bersikeras untuk tetap berperang? Rahwana juga bertanya bagaimana kekuatan pasukan Rama.

Suka menjawab, “Hamba tidak bisa menggambarkan kekuatan pasukan wanara. Ada banyak wanara dengan warna bulu yang berbeda-beda. Hamba mendengar jumlah mereka ada delapan belas Padma. Setiap Padma memiliki seorang jenderal yang berkekuatan puluhan gajah. Tidak ada seorang prajurit pun yang meragukan kemenangan mereka. Mereka hanya menunggu aba-aba dari Sri Rama.”

Suka dimarahi oleh Rahwana dan malam itu dia menyeberang samudera mencari perlindungan Sri Rama.

Rama Akan Mengeringkan Samudra

Rama memperhatikan samudera yang menghalangi perkemahannya dengan Alengka. Rama minta panah dan busur kepada Lakshmana. Rama mulai membidikkan panahnya untuk mengeringkan samudera.

Dewa Samudera dan para penghuni samudera mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka cemas dan segera membasahi kaki Sri Rama mohon ampun.

Dewa Samudera berkata pelan, “Dengan energi Paduka, saya akan mengering dan pasukan wanara bisa menyeberangi samudera, akan tetapi hal tersebut akan membuat hamba menderita. Hamba paham bahwa panah Paduka tidak bisa ditarik kembali, saya akan terpaksa menderita mengalami hal tersebut.”

Mendengar kata-kata sederhana dari samudera, Rama bertanya, apakah ada alternatif untuk menyeberangkan pasukan wanara?

Dewa Samudera mengatakan, bahwa Jenderal Nila dan Nala adalah keturunan Vishvakarma sang arsitek pembangun istana dewa. Mereka memperoleh anugrah dari para suci bahwa apa pun yang dipegang oleh mereka walaupun batu yang berat tidak akan tenggelam. Juga apabila setiap batu ditulis dengan nama Sri Rama, maka batu-batu tersebut juga akan terapung sesuai kehendak Sri Rama.

Sri Rama segera memanahkan panahnya ke daerah yang masyarakatnya banyak melakukan dosa dan daerah tersebut menjadi gurun pasir.

Seluruh Wanara, Segenap Batu Dan Bukit Melakukan Persembahan Kepada Rama

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’, kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus. ‘Sekujur tubuhku bergetar dengan getaran ilahi, dan suaraku serak karena luapan kasih ketika menyanyikan keagungan-Mu.’ Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keagungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para wanara segera mencari batu, untuk diserahkan kepada Hanuman yang menuliskan Nama Rama pada batu-batu tersebut dan diserahkan kepada Nila dan Nala yang menatanya sebagai jembatan.  Para wanara bekerja keras sambil melakukan chanting Nama Rama. Seluruh pekerjaan dipersembahkan kepada Rama, kepada Gusti Pangeran. Dan, pekerjaan berjalan cepat sekali. Dalam lima hari jembatan selesai.

Satrawan Suci Tulsidas menulis bahwa siapa pun juga yang yakin dengan kisah ini akan lebih mudah menyeberangi samudera dunia fana ini. Nama Sri Rama adalah jembatan yang kuat untuk menyeberang samudera samsara.

Saat Sugriwa membawa batu terakhir jembatan, Hanuman mendengar keluh kesah Bukit Brindavan yang jauh dari tempat pembangunan jembatan yang menangis, karena belum berkesempatan membantu tugas Sri Rama. Hanuman melaporkan kepada Sri Rama dan oleh Sri Rama,  Hanuman diminta terbang ke Brindavan untuk menenangkan mereka bahwa pada Zaman Dwapara Yuga, Rama akan datang dan tinggal di bukit tersebut. Dan, Bukit Brindavan lega serta bersyukur.

Mendirikan Shivalingga pada Jembatan Setubandha

“Trinitas asli Bali dan dari kepulauan Indonesia disebut Trimurti – ‘Tiga Bentuk’. Ketiga bentuk tersebut bisa dijelaskan dengan menguraikan kepanjangan kata ‘God’; ‘G’ Generator, Pencipta, ‘O’ Operator, Pemelihara dan ‘D’ Destroyer, Pemusnah. Dalam bahasa kuno, ketiga fungsi tersebut dikenal sebagai Brahma, Visnu dan Shiva. Dalam Trinitas masyarakat Bali, fungsi Tuhan sebagai pemusnah dibutuhkan sebagai prasyarat regenerasi. Secara berkesinambungan mencari keseimbangan dan harmoni, ketiga fungsi yang tampaknya berbeda membentuk sebuah lingkaran. Shiva sering disimbolisasikan sebagai Lingga atau organ kelamin pria, dengan Yoni atau organ kelamin wanita di bawahnya. Ini adalah simbol yang lengkap; ia mewakili ke-3 fungsi Tuhan tersebut.” Dikutip dari Bapak Anand Krishna Dalam Radar Bali: Tri Hita Karana

Setelah jembatan selesai, Vibhisana berkata kepada Sri Rama, “Paduka, Rahwana adalah bhakta teguh dari Shiva. Kami yakin Rahwana akan menemui ajal di tangan Paduka. Untuk menghormati Shiva mohon Paduka mendirikan Shivalingga di jembatan ini. Sebagai peringatan agar setiap orang sadar tentang Kebenaran. Setiap orang atau pemerintahan walau bagaimana pun kuatnya akan didaur ulang oleh zaman. Lingga tersebut akan dikenal sebagai Rama Lingesvara.

Rama memenuhi permintaan Vibhisana sebagai penguasa Alengka masa depan. Rama kemudian melakukan acara ritual persembahan atas selesainya jembatan tersebut. Para wanara menyanyikan kidung dengan penuh kebahagiaan. Shiva berkenan pada Rama untuk menaklukkan Rahwana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Anak Hasil Kawin Siri yang Tidak Diakui Ayahnya, Kisah Bharata Putra Shakuntala

Posted in Mahabharata with tags , on December 1, 2013 by triwidodo

shakuntala menghadap raja Dusyanta sumber biiindia wordpress com

Ilustrasi Bharata dan Shakuntala menghadap Raja Dusyanta sumber bidindia wordpress com

Perkawinan yang hanya disaksikan oleh Dia Yang Maha Kasih

“Perkawinan adalah perjalanan dari ‘aku’ menuju ‘kita’. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.” (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam kawin siri, sang lelaki tidak sepenuhnya memberikan totalitas bagi istri sirinya. Hanya sebagian yang diberikannya. Bagi perkembangan diri, ini akan menjadi penghambat. Kehidupan adalah perjalanan dari “aku” menuju “kita” dan dari “kita” menuju “Dia” Yang Maha Suci. Perkawinan adalah perjalanan kesadaran dari “aku” menjadi “kita”, sedangkan dengan kawin siri “aku” masih menjadi “aku”.

Raja Dusyanta memberikan janji-janji sebagai rayuan untuk memperoleh Shakuntala, tetapi kala diminta pertanggungan jawab dia lari dengan berbagai dalih.

Shakuntala dan Dusyanta

Vishvamitra adalah Raja yang tak kenal lelah meningkatkan kesadarannya. Untuk menghambat pengingkatan kesadarannya, dewa Indra mengirim bidadari Menaka untuk menggodanya. Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/22/menaka-bidadari-jelita-penggoda-vishvamitra/

Resi Vishvamitra hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan mempunyai anak perempuan. Bidadari Menaka kembali ke kahyangan sedangkan Vishvamitra melanjutkan pertapaannya untuk mencapai Brahmarishi. Vishvamitra meletakkan bayi perempuannya di padepokan sahabatnya yang bernama Resi Kanva, yang kala itu sedang bepergian keluar. Resi Kanva menemukan bayi perempuan tersebut ditemani burung-burung Shakunta, maka bayi perempuan tersebut dijadikan putri angkatnya dan diberi nama Shakuntala.

Raja Dusyanta adalah raja bijak yang masih lajang dari Dinasti Puru. Ayahnya adalah Raibya putra Puru. Pada suatu ketika sang raja melakukan perjalanan ke desa-desa dan sang raja mampir ke padepokan Resi Kanva. Raja Dusyanta bertemu dengan seorang putri cantik yang memperkenalkan diri sebagai putri angkat Resi Kanva. Setelah berbicara beberapa lama, Raja Dusyanta tahu bahwa Shakuntala adalah putri Resi Legendaris Vishvamitra yang kawin dengan Bidadari Menaka. Kecantikan Shakuntala memang tidak ada bandingnya, karena ibunya adalah seorang bidadari.

Seorang raja lajang tampan bertemu dengan putri resi yang cantik. Shakuntala bersikeras menunggu kepulangan Resi Kanva, akan tetapi sang raja merayu terus. Akhirnya pertahanan Shakuntala bobol dan mereka kawin secara gandharva. Pernikahan gandharva adalah tradisi pernikahan para kesatria zaman dahulu yang berdasarkan suka sama suka antara seorang pria dan seorang wanita, tanpa ritual dan tanpa saksi. Bagaimana pun dalam genetik Raja Dusyanta masih mengalir DNA Raja Yayati, kakek buyutnya yang pernah melakukan nikah gandharva. Hanya sebagai anak keturunan, Raja Dusyanta berprinsip nikah dengan seorang perempuan saja, sudah ada perbaikan genetik dalam dinastinya.

Raja Dusyanta balik ke istana dengan kecemasan. Pada masa itu raja takut dengan para resi karena kutukannya yang bertuah. Ketakutan dalam diri Raja Yayati yang dikutuk Resi Shukra masih mengalir dalam darah Raja Dusyanta. Raja Dusyanta selalu berdoa agar dirinya selamat. Sang raja belum menyadari adanya tangan-tangan Ilahi yang mempunyai skenario tersendiri. Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/11/16/dua-istri-membawa-masalah-kisah-raja-yayati-leluhur-pandawa/

Resi Kanva datang dan paham apa yang telah terjadi dengan putri angkatnya. Resi Kanva merestui perkawinannya dengan Raja Dusyanta, karena dia adalah raja yang bijaksana. Pada suatu ketika Shakuntala melahirkan putra yang diberi nama Sarvadarmana. Tahun demi tahun berlalu dan Sarvadarmana sudah berangkat remaja, dan dari dalam dirinya memancar kewibawaan yang luar biasa.

Menghadap Raja Dusyanta di Istana

“Hubungan-hubungan kita dalam hidup ini sangat erat kaitannya dengan hubungan-hubungan kita di masa lalu. Suka dan duka yang kualami dalam hidup ini adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Karena itu, aku tidak perlu menyalahkan siapa-siapa atas penderitaanku. Kesadaran seperti ini muncul ketika kita memahami Hukum Alam yang paling penting, yaitu Hukum Sebab-Akibat, Hukum Aksi-Reaksi – Hukum Karma.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Resi Kanva memanggil Sarvadarmana dan menjelaskan bahwa apapun yang dialami adalah akibat dari perbuatan di masa lalu. Jadi kita tidak boleh kecewa dengan apa pun yang menimpa diri kita. Resi Kanva menekankan bahwa dalam diri Sarvadarmana lewat ibunya mengalir genetik Resi Vishvamitra yang agung, yang tak kenal lelah meningkatkan kesadaran, membantu mereka yang kesusahan, menjadi Guru dari Sri Rama Avatara. Sedangkan dari ayahandanya mengalir genetik Raja Puru yang berjiwa besar dan Raja Yayati yang bijaksana. Sarvadarmana diminta membawa ibunya menemui Raja Dusyanta. Dia diminta menghadapi kenyataan apakah dia diterima sebagai putra raja atau tidak. Apabila tidak diterima, yakinlah bahwa dia akan menjadi brahmana yang bijaksana.

Sarvadarmana mengajak ibunya ke istana, semua orang memberikan perhatian kepada seorang ibu yang cantik dengan putranya yang wajahnya tidak asing lagi bagi mereka. Mereka mulai berbisik-bisik, wajah seseorang tak bisa dimanipulasi, jelas  sang remaja mirip dengan sang raja.

Sampai di Istana, mereka melihat Raja Dusyanta sedang duduk di singgasana di hadapan para petinggi kerajaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Ibu-anak tersebut segera bersujud di depan sang raja. Shakuntala kemudian mengingatkan sang raja tentang kunjungan sang raja ke padepokan Resi Kanva dan kemudian akhirnya berkata, “Paduka, ini adalah putramu sendiri.”

Sang raja kaget memperhatikan sang anak dan ibunya, dia tahu bahwa anak lelaki tersebut sangat mirip dengannya. Akan tetapi sang raja berkata, “Nampaknya kita pernah bertemu akan tetapi aku lupa!”

Sang raja yang masih lajang itu malu dan bingung bagaimana menjelaskan kepada para menterinya tentang kejadian beberapa tahun silam. Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Perkawinan gandharva tanpa orang lain menjadi saksi. Betulkah ini anaknya? Karena konsekuensinya sangat besar, begitu dia mengakui sebagai putranya, maka otomatis anak tersebut akan menjadi putra mahkota. Pada saat tersebut belum ada pemeriksaan DNA untuk memverifikasi apakah anak tersebut adalah putranya.  Akan tetapi janji yang telah diucapkan kepada Shakuntala juga menakutkan sang raja, karena dalam diri sang raja masih mengalir darah Raja Yayati yang dikutuk Resi Shukracharya karena ingkar janji.

Penolakan Sang Raja Tidak Mempengaruhi Sarvadarmana

Suami, istri, anak, saudara, orang tua, kawan, kerabat , semuanya adalah hubungan-hubungan yang ‘terjadi’ dalam hidup ini, dan di dunia ini. Saat aku lahir, tak seorang pun menemaniku. Kelak, ketika aku mati, perjalanan selanjutnya pun mesti kutempuh seorang diri. Lalu, bila seseorang meninggalkanku, apakah aku mesti merasa kesepian? Aku lahir seorang diri, dan mati seorang diri. Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan, penerimaan, pengakuan, pujian, maupun makian seseorang tak mampu memengaruhi kualitas hidupku. Aku sendiri yang menentukan kualitas hidupku.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shakuntala menangis, mendengar kata-kata sang raja. Kenyataan ini sangat pahit baginya. Sarvadarmana segera menggadeng ibunya, “Bunda aku ingat kata-kata Kakek Resi Kanva, hubungan ayah, suami, anak adalah hubungan dalam dunia yang sementara ini. Aku lahir seorang diri, mati seorang diri, mengapa harus kecewa tidak diakui sebagai anak? Aku akan menjadi pertapa yang baik yang dapat membahagiakan diri Bunda.”

Sarvadarmana melakukan sembah sujud kepada sang raja dan berkata, “Wahai Paduka, kebenaran ucapan adalah sama agungnya dengan pelajaran dari kitab suci dan membersihkan diri di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Dan, Dia adalah Kebenaran Mutlak. Jangan mendustai Brahman yang bersemayam dalam diri Paduka.  Anak itu sesuai hukum alam tidak dapat dipisahkan dengan orang tuanya. Dalam diri si anak mengalir genetik kedua orang tuanya dan hal tersebut akan dibawa sang anak sampai mati. Adalah kesalahan orang tua yang tidak mempedulikan kehidupan generasi penerusnya. Dia harus mempertanggungjawabkan tindakannya, akan ada hukum sebab-akibat yang tidak bisa dihindarinya. Hamba dan ibu mohon diri.”

Raja Dusyanta Sadar Setelah Mendengarkan Hati Nuraninya

“Sang raja rimba adalah mind atau ‘pikiran’ manusia. Para binatang lain penghuni rimba itu adalah panca indera kita,perilaku kita. Semuanya dikuasai oleh mind. Mind sedang menggerogoti jiwa kita. Kita menjadi korban ‘pembunuhan terencana’.  Sedikit demi sedikit,setiap hari jiwa kita mengalami kematian. Tanpa kita sadari,kematian jiwa itu pun terjadi karena ulah kita sendiri. Kita yang memilih untuk ‘kerja sama’ dengan mind! Mind bisa menggunakan berbagai macam dalil, bisa mengutip kitab suci dan para nabi. Mind manusia memang ibarat cendekiawan yang membingungkan. Sebaliknya, sang kelinci kecil ibarat suara hati nurani yang lembut sekali. Kadang terdengar, kadang tidak. Sudah terdengar pun, sering kali kita abaikan. Padahal yang bisa menyelamatkan jiwa kita hanyalah suara kecil itu. Lalu, jika anda sudah mendengarkan suara hati nurani dan sudah tidak mengabaikannya lagi, jangan berisik. Jangan pamer. Jangan cepat-cepat menganggap diri anda hebat. Belajarlah untuk menyimpan rahasia. Dengarkan suara lembut ‘Si kelinci Nurani’. Dengarkan suara hati nurani Anda sendiri. Hanya dialah yang dapat menyelamatkan anda. Hanya dialah yang dapat mencegah terjadinya kemerosotan kesadaran lebih lanjut.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Semua yang hadir tersentuh melihat ibu muda yang menangis terisak-isak dihibur putranya yang tabah keluar dari istana. Sang raja terperangah melihat kepergian Shakuntala dan putranya. Kebingungan melanda dirinya. Pikiran selalu membingungkan, masing-masing pikiran datang dengan dalihnya dan minta dia mengikuti  pendapatnya. Sang raja segera menutup mata, mengatur napas dan mengheningkan dirinya. Anak-anak pikirannya mulai menghilang. Dan tiba-tiba sang raja mendengar suara dari langit. Suara yang hanya terdengar oleh sang raja. Suara itu berkata, “Dusyanta, perempuan itu adalah istrimu dan anak lelaki itu adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang lebih besar dari dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Kemarahan seorang perempuan yang teraniaya akan menghancurkan keturunan Puru. Kejar segera istrimu, panggillah putramu dengan nama Bharata. Bhara berarti melindungi, karena putramu inilah maka anak keturunanmu disebut sebagai Dinasti Bharata.”

Raja Dusyanta segera mengejar Shukuntala dan putranya dan meminta mereka untuk menjadi permaisuri dan putra mahkotanya.

Raja Dusyanta bisa mengakses hati nuraninya dan selamatlah Dinasti Bharata. Berapa banyak pria yang tak dapat mengakses hati nuraninya dan hanya mengikuti nafsu dan pikiran semata sehingga banyak anak-anak siri yang hidup dalam ketidakbahagiaan. Akan ada suatu ketika, kala pria tersebut mengalami hal yang sama, lahir sebagai putra siri dan tidak diakui oleh ayahnya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013