Setubandha Jembatan Ke Negeri Alengka, Jalan Penghubung Penakluk Nafsu Angkara

 

Sethubandha bridge sumber hariharji blogspot com

Ilustrasi Pembangunan Jembatan Setubandha sumber hariharji blogspot com

Setubandha, Jembatan Dibangun Para Wanara yang Sudah Tidak Liar

“Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu! Cara Swami menjinakkan pikiran seperti monyet ini sangat musical. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditative melalui musik. Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualisasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total….. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang. Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung. (Das,Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rama adalah simbol dari Paramatman, Diri Hyang Agung sedangkan Sita adalah Jeevatman, Diri Individual  yang sudah terpisah dari Paramatman karena ulah Rahwana atau Ego. Untuk menghubungkan Jeevatman kepada Paramatman diperlukan Hanuman sebagai jembatan. Sampai sekarang orang memuja Hanuman dan mempergunakannya sebagai jembatan menuju Paramatman. Setubandha adalah jembatan yang dihasilkan para wanara untuk menyeberangi samudera. Wanara yang terkenal berpikiran liar dan suka meloncat-loncat ternyata bisa dijinakkan dengan kidung pujian. Mereka bergotong-royong membangun jembatan sebagai persembahan kepada Rama, Sang Paramatman. Keberhasilan membangun jembatan Setubandha membuat para wanara semakin percaya diri, mati pun mereka rela demi Sri Rama.

Mata-Mata Alengka yang Tertangkap Pasukan Sri Rama

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang mata-mata dari Alengka yang dikirim oleh Rahwana terlihat oleh Vibhisana. Kemudian para wanara mengikatnya dibawa menghadap Panglima Perang Sugriva. Sugriva memerintahkan prajuritnya untuk memotong hidung dan telinganya. Sang mata-mata yang mengaku sebagai utusan Rahwana segera menangis dan mohon perlindungan Sri Rama, “Om Shri Rama”, saya berserah diri terhadap Rama. Ucapannya ternyata menyelamatkannya, hidung dan telinganya tidak jadi dipotong. Lakshmana segera datang dan kemudian menulis surat kepada Rahwana.

“Wahai Rahwana, pemusnah sendiri dari ras raksasa, segeralah mengubah pendapat Anda, tunduklah kepada Sri Rama dan ras raksasa akan diampuni olehnya. Kematian Anda sudah dekat.”

Suka, sang mata-mata menerima surat tersebut, mengucapkan Jaya Shri Rama dan segera balik ke Alengka.

Rahwana didepan persidangan mendengarkan penuturan Suka dan sangat marah dengan perbuatan Vibhisana yang telah diangkat sebagai raja Alengka masa depan. Menurutnya hanya tinggal beberapa hari lagi Vibhisana akan mati dalam peperangan. Rahwana juga bertanya apakah sang mata-mata tidak menyampaikan kekuatan pasukan Alengka yang bersikeras untuk tetap berperang? Rahwana juga bertanya bagaimana kekuatan pasukan Rama.

Suka menjawab, “Hamba tidak bisa menggambarkan kekuatan pasukan wanara. Ada banyak wanara dengan warna bulu yang berbeda-beda. Hamba mendengar jumlah mereka ada delapan belas Padma. Setiap Padma memiliki seorang jenderal yang berkekuatan puluhan gajah. Tidak ada seorang prajurit pun yang meragukan kemenangan mereka. Mereka hanya menunggu aba-aba dari Sri Rama.”

Suka dimarahi oleh Rahwana dan malam itu dia menyeberang samudera mencari perlindungan Sri Rama.

Rama Akan Mengeringkan Samudra

Rama memperhatikan samudera yang menghalangi perkemahannya dengan Alengka. Rama minta panah dan busur kepada Lakshmana. Rama mulai membidikkan panahnya untuk mengeringkan samudera.

Dewa Samudera dan para penghuni samudera mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka cemas dan segera membasahi kaki Sri Rama mohon ampun.

Dewa Samudera berkata pelan, “Dengan energi Paduka, saya akan mengering dan pasukan wanara bisa menyeberangi samudera, akan tetapi hal tersebut akan membuat hamba menderita. Hamba paham bahwa panah Paduka tidak bisa ditarik kembali, saya akan terpaksa menderita mengalami hal tersebut.”

Mendengar kata-kata sederhana dari samudera, Rama bertanya, apakah ada alternatif untuk menyeberangkan pasukan wanara?

Dewa Samudera mengatakan, bahwa Jenderal Nila dan Nala adalah keturunan Vishvakarma sang arsitek pembangun istana dewa. Mereka memperoleh anugrah dari para suci bahwa apa pun yang dipegang oleh mereka walaupun batu yang berat tidak akan tenggelam. Juga apabila setiap batu ditulis dengan nama Sri Rama, maka batu-batu tersebut juga akan terapung sesuai kehendak Sri Rama.

Sri Rama segera memanahkan panahnya ke daerah yang masyarakatnya banyak melakukan dosa dan daerah tersebut menjadi gurun pasir.

Seluruh Wanara, Segenap Batu Dan Bukit Melakukan Persembahan Kepada Rama

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’, kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus. ‘Sekujur tubuhku bergetar dengan getaran ilahi, dan suaraku serak karena luapan kasih ketika menyanyikan keagungan-Mu.’ Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keagungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para wanara segera mencari batu, untuk diserahkan kepada Hanuman yang menuliskan Nama Rama pada batu-batu tersebut dan diserahkan kepada Nila dan Nala yang menatanya sebagai jembatan.  Para wanara bekerja keras sambil melakukan chanting Nama Rama. Seluruh pekerjaan dipersembahkan kepada Rama, kepada Gusti Pangeran. Dan, pekerjaan berjalan cepat sekali. Dalam lima hari jembatan selesai.

Satrawan Suci Tulsidas menulis bahwa siapa pun juga yang yakin dengan kisah ini akan lebih mudah menyeberangi samudera dunia fana ini. Nama Sri Rama adalah jembatan yang kuat untuk menyeberang samudera samsara.

Saat Sugriwa membawa batu terakhir jembatan, Hanuman mendengar keluh kesah Bukit Brindavan yang jauh dari tempat pembangunan jembatan yang menangis, karena belum berkesempatan membantu tugas Sri Rama. Hanuman melaporkan kepada Sri Rama dan oleh Sri Rama,  Hanuman diminta terbang ke Brindavan untuk menenangkan mereka bahwa pada Zaman Dwapara Yuga, Rama akan datang dan tinggal di bukit tersebut. Dan, Bukit Brindavan lega serta bersyukur.

Mendirikan Shivalingga pada Jembatan Setubandha

“Trinitas asli Bali dan dari kepulauan Indonesia disebut Trimurti – ‘Tiga Bentuk’. Ketiga bentuk tersebut bisa dijelaskan dengan menguraikan kepanjangan kata ‘God’; ‘G’ Generator, Pencipta, ‘O’ Operator, Pemelihara dan ‘D’ Destroyer, Pemusnah. Dalam bahasa kuno, ketiga fungsi tersebut dikenal sebagai Brahma, Visnu dan Shiva. Dalam Trinitas masyarakat Bali, fungsi Tuhan sebagai pemusnah dibutuhkan sebagai prasyarat regenerasi. Secara berkesinambungan mencari keseimbangan dan harmoni, ketiga fungsi yang tampaknya berbeda membentuk sebuah lingkaran. Shiva sering disimbolisasikan sebagai Lingga atau organ kelamin pria, dengan Yoni atau organ kelamin wanita di bawahnya. Ini adalah simbol yang lengkap; ia mewakili ke-3 fungsi Tuhan tersebut.” Dikutip dari Bapak Anand Krishna Dalam Radar Bali: Tri Hita Karana

Setelah jembatan selesai, Vibhisana berkata kepada Sri Rama, “Paduka, Rahwana adalah bhakta teguh dari Shiva. Kami yakin Rahwana akan menemui ajal di tangan Paduka. Untuk menghormati Shiva mohon Paduka mendirikan Shivalingga di jembatan ini. Sebagai peringatan agar setiap orang sadar tentang Kebenaran. Setiap orang atau pemerintahan walau bagaimana pun kuatnya akan didaur ulang oleh zaman. Lingga tersebut akan dikenal sebagai Rama Lingesvara.

Rama memenuhi permintaan Vibhisana sebagai penguasa Alengka masa depan. Rama kemudian melakukan acara ritual persembahan atas selesainya jembatan tersebut. Para wanara menyanyikan kidung dengan penuh kebahagiaan. Shiva berkenan pada Rama untuk menaklukkan Rahwana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: