Kisah Boddhisattva: Pengaruh Buruk Para Drona terhadap Raja

sang bijak relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Ilustrasi Relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Pikiran Yang Selaras dengan Alam Semesta

“Bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang saya pikirkan itu harmonis, selaras, dan serasi dengan semesta? Segala macam pikiran, ide, konsep, gagasan, imajinasi dan lain sebagainya yang bersifat luas dan membebaskan adalah pikiran yang selaras dengan semesta. Karena alam semesta Maha Luas dan Maha Bebas adanya. Ia tak terkurung, tak terbingkai dan tak terbatas. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang kerdil, sempit, membatasi, dan memenjarakan seperti dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang membuat kita berpikiran picik sudah jelas tidak harmonis, selaras dan serasi dengan semesta. Pikiran yang picik menimbulkan berbagai macam keadaan psikologis yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Keadaan psikologis yang dimaksud antara lain rasa takut, khawatir, kecewa, marah, iri, benci, dendam, sedih, dan depresi.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Boddhisattva lahir sebagai seorang pengembara yang dikenal dengan sebutan Mahabodhi, Sang Bijak. Setelah meninggalkan keduniawian, Sang Boddhisattva berfokus pada pelajaran dharma yang membawa manfaat bagi semua makhluk. Pekerjaannya adalah ‘vihar’, bepergian. Kemana pun ia pergi selalu dijamu dan dilayani oleh para brahmana dan para perumahtangga yang ingin mendengarkan nasehatnya tentang kehidupan. Akhirnya sampailah sang bijak kepada seorang raja yang kaya yang sangat menghormatinya. Sang raja membangun tempat khusus untuk Mahabodhi di taman yang indah. Sang raja dengan sukacita mendengarkan ajaran sang bijak dengan tekun dan sang bijak bahagia dengan kemajuan spiritual sang raja.

Beberapa Drona, Penasehat Sang Raja mulai iri dengan Mahabodhi. Mereka berkata, bahwa Sang Raja tidak perlu terfokus pada ajaran sang pengembara. Sang pengembara mungkin adalah mata-mata dari negara tetangga dan menggunakan ketertarikan Sang Raja pada dharma untuk menipunya. Pikiran cerdas dari sang pengembara dan dengan lidah yang piawai  akan membingungkan Sang Raja yang akan membawanya pada bencana. Mereka berupaya meyakinkan Sang Raja bahwa sang pengembara berpura-pura menjadi pemuja kebaikan, mendorong Sang Raja berlatih welas asih dan rendah hati. Dan setelah Sang Raja mengikuti sumpah maka dia akan merusak kebijakannya. Mereka minta agar Sang Raja memperhatikan berapa banyak sang pengembara berbicara pada orang-orang asing.

 

Bujukan Secara Repetitif Intensif oleh Para Drona

“Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diulang-ulang secara repetitif intensif, Sang Raja mulai berubah. Ketidakpercayaan Sang Raja mulai tumbuh. Sang Bijak dapat merasakan dan merasa bahwa kedatangannya tidak lagi menyenangkan sang raja. Dia segera mengumpulkan barang-barang untuk mengembara dan siap berangkat dari istana. Sang Raja mencoba menahannya dan bertanya apakah Sang Bijak kurang berkenan. Sang Bijak tegas berkata dia pergi bukan karena tidak dihormati, akan tetapi karena kedatanggannya sudah tidak mempunyai manfaat. Jadi harus pergi. Anjing kesayangan Sang Raja juga menggonggong keras-keras kepadan Sang Bijak seperti pada seorang musuh. Sang Bijak berkata bahwa anjing ini belum lama berselang suka tinggal disisinya mengikuti teladan Sang Raja. Sekarang dia menggonggong dengan keras, tentunya sang anjing telah mendengar bahwa Sang Raja telah berbicara kasar tentang saya. Demikianlah perilaku pegawai yang makan roti tuannya. Sang Raja merasa malu akan ketajaman persepsi Sang Bijak. Sang Raja berkata bahwa beberapa orang memang berbicara kasar tentang Sang Bijak.

 

Mohon Dukungan Sang Bijak Bila Sang Raja Berada dalam Kebingungan

Raja berkata jika Sang Bijak bersikeras akan pergi, maka dia mohon agar beliau kembali bila Sang Raja berada dalam kebingungan ketika memutuskan masalah besar. Sang Bijak berkata, bahwa hidup di dunia terjadi banyak hambatan, kadang harus lewat jalan memutar dan kadang datang musuh yang tak terduga. Dia tidak bisa janji. Hanya mempunyai keinginan untuk bertemu sekali lagi bila ada alasan yang baik untuk kunjungan tersebut. Sang Bijak kemudian pergi ke hutan.

Setelah beberapa bulan, Sang Bijak melihat bahwa Sang Raja terjebak dalam intrik-intrik para penasehatnya yang mendesak Sang Raja untuk menerima doktrin mereka. Jika hal tersebut dibiarkan, maka bisa membahayakan seluruh rakyatnya.

Salah satu penasehat meyakinkan Sang Raja bahwa hukum sebab-akibat sulit diikuti. Coba dilihat warna, bentuk, kelembutan, tangkai, kelopak pada bunga teratai. Alam semesta ada tanpa alasan. Penasehat lain membujuk Sang Raja agar memelihara kesenangan sensual, karena bila kesenangan tersebut musnah maka dia sudah kehilangan kesempatan menikmatinya. Penasehat yang lainnya lagi, menyarankan bahwa selama berguna bagi Sang Raja, guna memperpanjang kemuliaannya, maka bertindak kejam bisa dilakukan.

Boddhisattva melihat gambaran ini dan kemudian menciptakan jubah dari kulit orang hutan. Dan, dengan berpakaian jubah kulit orang hutan Sang Bijak ke istana.

 

Menghadapi Para Drona, Penasehat yang Tidak Bijak

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja bertanya siapa yang memberikan jubah kulit orang hutan untuk Sang Bijak? Sang Bijak menjawab bahwa duduk dan tidur di tanah yang keras dengan sedikit alas jerami menyakitkan tubuh dan membuat sulit beribadah. Sang Bijak berkata bahwa dia membunuh orang hutan dan mengambil kulitnya.

Menteri negara dan para penasehat berkata dengan lantang kepada sang raja bahwa perilaku Sang Bijak hanyalah terfokus kesenangannya. Sang Bijak tidak konsekuen.

Sang Bijak bertanya mengapa mereka menyalahkan dia dengan keras? Bukankah harus bersikap adil terhadap pendapat orang lain? Kepada penasehat yang tidak percaya hukum sebab-akibat, Sang Bijak berkata, “Tuan percaya bahwa alam semesta ada karena alasan alam yang terkandung di dalamnya. Lalu mengapa Tuan harus menyalahkan tindakan saya? Tentunya jika orang hutan tersebut mati akibat dari sifat yang dimilikinya sendiri, maka saya tidak salah telah membunuhnya. Tapi Tuan mengatakan saya berbuat dosa. Kematiannya disebabkan oleh penyebab, dan penyebabnya dalah saya. Oleh karena itu Tuan harus meninggalkan doktrin non-kausalitas/tak ada hukum sebab-akibat yang Tuan ucapkan.”

 

Hukum Sebab-Akibat

“Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepada Penasehat lainnya, sang bijak berkata, “Tuan mengatakan bahwa warna bentuk dan sebagainya dari teratai bukanlah hasil dari penyebab. Akan tetapi teratai hanya diproduksi oleh biji teratai yang ada di dalam air? Karena kondisi itu muncul, teratai tumbuh. Bila tidak terkondisi maka teratai tidak muncul. Juga pertimbangkan ini: Mereka yang menolak adanya hukum kausalitas/hukum sebab-akibat, selalu berupaya menggunakan logika. Bukankah logika itu sendiri mengikuti hukum sebab-akibat? Mereka telah menentang keyakinan mereka sendiri! Dan lebih lanjut , mereka yang mengatakan hukum kausalitas tidak ada, karena mereka tidak dapat memahami penyebab dari beberapa peristiwa tertentu! Kembali ke urusan orang hutan. Jika Tuan bertahan dalam doktrin Tuan, bahwa tidak ada kausalitas, maka kematian orang hutan itu tidak ada penyebabnya. Lalu mengapa menyalahkan saya? Mengapa menyalahkan saya kejam sedangkan Tuan berpendapat bila untuk memperpanjang kemuliaan tindakan kejam boleh dilakukan?”

Sang Bijak akhirnya berkata, “Paduka hamba tidak pernah membunuh orang hutan. Saya tidak pernah membunuh makhluk. Kulit ini saya buat berasal dari monyet yang saya imaginasikan sendiri. Sekarang ilusi tentang kulit orang hutan tersebut sudah kami buang dan saya hanya memakai pakaian biasa.”

“Ketika Paduka bertindak sesuai dengan Dharma, Paduka dapat memimpin sebagian besar rakyat untuk berbuat saleh. Bila Paduka memaksakan diri untuk melindungi rakyat dengan mengandalkan Dharma, Paduka akan menemukan bahwa aturan dan disiplin membuat jalan terindah dari semua orang. Sucikan perilaku Paduka, belajar untuk merangkul amal, membuka hati untuk tamu seolah-olah mereka kerabat terdekat Paduka, dan memerintah negeri dengan kebajikan dan tanggung jawab . Semoga Paduka mengatur negeri Paduka dengan kebenaran , tidak pernah berhenti merayaan tugas Anda.”

 

Memilih Pergaulan yang Baik

“Kelilingi diri Paduka dengan menteri yang setia, cerdas dan bijaksana, serta dengan teman-teman yang jujur ​​dan amanah. Biarkan Dharma memandu tindakan Paduka.”

“Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, Kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari Kusang, Ia akan selalu mencari Satsang.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sang Raja sadar dan tidak beberapa lama kemudian dia mengganti para penasehatnya dengan orang-orang bijak.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: