Bhagavatam: Ramalan Baik dan Buruk Saat Kelahiran Parikshit Cucu Pandawa

PARIKSIT_PROTECTED_FROM_BRAHMAASITHIRAM sumber thoughtsonsanathanadharma blogspot com

Ilustrasi Janin Parikshit dilindungi Sri Krishna dari senjata Ashvattama sumber: thoughtsonsanathanadharma blogspot com

Apa yang Perlu Dilakukan Menjelang Kematian

“Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Bhagavatam adalah dialog antara seseorang yang tahu hari kematiannya sudah dekat dengan seorang suci yang memandunya menghadapi kematian dengan damai. Raja Parikshit tahu waktunya hanya tinggal seminggu, pada saat itu masih segar-bugar akan tetapi seminggu kemudian dia akan mengalami kematian. Resi Suka putra Vyasa adalah Guru Suci yang membimbing Raja Parikshit mempersiapkan diri menghadapi kematian. Kita semua juga sedang menghadapi kematian. Persiapan apakah yang sudah kita lakukan?

Raja Parikshit adalah raja yang agung dan bijaksana dan sudah melakukan kebaikan yang tak terhitung jumlahnya. Sang Raja juga sudah memahami makna kehidupan. Selama 7 hari terakhir dia mendengarkan dan meresapi kisah-kisah keilahian, di antaranya tentang kemuliaan dan keagungan Bhagavanta, Tuhan; Kisah-kisah para Bhagavata, para Bhakta, Panembah Tuhan yang telah sepenuhnya memasrahkan diri mereka terhadap Tuhan; dan Hubungan kasih antara Tuhan, Bhagavanta dengan para Bhakta, Bhagavata.

Kisah ini diceritakan oleh Resi Vyasa, Kakek Pandawa yang juga penulis Mahabharata. Dikisahkan bahwa walau sudah menulis kisah Mahabharata yang tak lekang oleh zaman,yang memandu banyak manusia ke jalan yang benar, Resi Vyasa belum juga merasa puas, masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Adalah Resi Narada yang mengingatkan Resi Vyasa untuk menulis tentang bhakti. Para pembaca kisah yang sudah dalam jalur yang benar perlu memperoleh pemahaman tentang bhakti.  Resi Vyasa mengikuti nasehat Resi Narada dan dengan kemampuannya beliau “melihat” kisah-kisah tentang keilahian dan jadilah Kitab Srimad Bhagavatam.

Pengantar Artikel Kisah-Kisah Bhagavatam

Dalam blog Renungan Triwidodo http://triwidodo.wordpress.com/ ada beberapa artikel tentang Srimad Bhagavatam yang ditulis pada tahun 2009 dan 2011. Kisahnya tetap sama, karena memang dari dulu kisahnya memang demikian, sebuah kisah yang tak lekang zaman. Perbedaannya adalah bahwa artikel-artikel yang akan datang ini ditulis dengan sudut pandang yang berbeda. Referensi buku-buku Bapak Anand Krishna sudah lebih banyak dengan banyaknya tambahan buku tulisan Bapak Anand Krishna yang ditulis sejak tahun 2011. Paling tidak ada 9 buku tebal tulisan berharga Beliau sebagai tambahan referensi. Bhagavata Vahini dan Sandeha Nivarini dari Sai Baba juga dijadikan referensi. Artikel-artikel dari dunia maya juga melengkapi tulisan ini.

Beberapa artikel yang terkait dengan leluhur Pandawa sudah dimasukkan dalam kategori Mahabharata https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/category/mahabharata/

Ramalan Tentang Parikshit di Saat Kelahirannya

“Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. (Catatan: ‘Sifat dasar’ di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan yang kita lakukan-a.k). Lewat buku ini, saya hendak menyampaikan bahwa pengetahuan tentang sifat dasar membantu kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan menghindari apa yang tidak menguntungkan. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan.” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Subadra, ibu Abhimanyu menyampaikan berita kepada Yudisthira bahwa anak Abhimanyu telah lahir. Pandawa merasa bersukacita, mereka memerintahkan genderang ditabuh, petasan dibunyikan untuk merayakan kelahiran penerus tahta Pandawa. Masyarakat bergembira dan beramai-ramai menuju Indraprastha. Dalam beberapa menit, jalanan kota berubah menjadi pesta yang meriah. Yudhistira membagikan manisan untuk masyarakat, dan beberapa sapi untuk para brahmana.

Hari berikutnya, Yudhistira memanggil pendeta keluarga, Resi Kripacharya untuk melaksanakan ritual Jatha-karma (pembersihan pertama) kepada sang bayi. Pada hari ketiga Yudhistira memanggil para ahli astrologi ternama untuk mengetahui apakah kerajaan dan kebudayaan bangsa akan aman di tangan pangeran yang akan memikul tanggung jawab kerajaan. Para astrolog membicarakan dan mendiskusikan posisi planet dengan sangat hati-hati. Mereka mulai menarik kesimpulan dengan rasa sukacita bahwa mereka tidak bisa memperoleh kalimat untuk mengungkapkan kekaguman mereka.

Sesepuh astrolog akhirnya bangkit dan menyampaikan hasil kepada Yudhistira, “Paduka Maharaja, kami telah memeriksa ribuan posisi planet dan kami harus mengakui bahwa kami belum pernah menemukan konstelasi planet yang lebih bagus dari pada saat kelahiran cucu Paduka ini. Tanda-tanda menunjukkan bahwa Manu yang Agung, leluhur manusia telah lahir pada dinasti Paduka.”

Sesepuh Astrolog tersebut menambahkan, “Pangeran ini akan menghormati dan melayani para dewa dan brahmana dengan sangat baik. Dia akan melakukan banyak persembahan, Yajna dan Yaga seperti tertulis dalam shastra suci. Dia akan memperoleh keluhuran Bharata, leluhur Pandawa. Dia akan merayakan Asvamedha seperti yang telah Paduka jalankan dengan cara melakukan 3 upacara Asvamedha sekaligus.”

Maharaja Yudhistira masih belum puas, dia ingin mendengarkan lebih banyak keunggulan karakter sang pangeran dan juga menanyakan apakah selama dia memerintah akan terjadi perang besar, apakah dia menang melawan para musuh kerajaannya. Sesepuh astrolog tersebut menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak akan ada perang besar, tidak ada musuh yang merecoki kerajaannya. Dia teguh memerintah dengan adil dan bijaksana.

Ramalan tentang Kematian Sang Pangeran

“Kehidupan abadi tidak berarti seseorang dapat menghindari kematian. Karena kelahiran dan kematian merupakan dua sisi kehidupan. Ia akan sadar bahwa yang mati adalah raga, bahwasanya jiwa tidak mati. Begitu ia mengidentitaskan dirinya dengan jiwa, kematian raga tidak akan membuatnya gelisah lagi. Dalam kesadaran jiwa, kita semua hidup abadi. Hanya saja, ada yang sadar akan hal itu, ada yang belum sadar.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Beberapa saat kemudian, semua orang  terfokus pada Yudhistira yang cemas kala menanyakan pertanyaan terakhir, bagaimana akhir kematian sang pangeran nanti.

Sesepuh Astrolog tersebut menjawab, “Paduka Maharaja mengapa mengkhawatirkan hal ini? Kematian adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Sesuatu akan menyebabkan kematiannya. Tidakkah sebaiknya kita tidak perlu menyelidiki lebih lanjut. Tidakkah lebih baik kita serahkan hal tersebut kepada Dia Yang Maha Kuasa? Bukankah bagi orang saleh kematian hanya menyentuh raganya, sedangkan dia paham bahwa jiwanya tetap abadi?”

Akan tetapi karena desakan Maharaja Yudhistira, para astrolog kembali mempelajari konstelasi planet dengan lebih cermat untuk memperoleh gambaran bagaimana cara kematian sang pangeran.

Sesepuh Astrolog akhirnya berkata pelan, “Sang Pangeran akan menyerahkan kerajaannya, sebagai akibat dari kutukan seorang resi. Perhitungan kami menunjukkan dia akan meninggal dunia digigit ular.”

Dan Yudhistira bersama seluruh Pandawa serta para sesepuh yang hadir tenggelam dalam kesedihan, suasana berubah menjadi muram. Mereka sedih dengan ramalan kematian sang pangeran karena masih terpatri dalam benak mereka bahwa mati digigit ular termasuk mati yang tidak baik, apalagi bagi seorang maharaja yang saleh dan agung seperti sang pangeran.

Sesepuh Astrolog menghibur Yudhistira, “Paduka Maharaja, tidak ada hal yang perlu disedihkan. Dalam konstelasi planet kami melihat bahwa kebahagiaan menyertai akhir hayatnya. Segera setelah belajar tentang kutukan resi, sang pangeran akan menyerahkan kerajaannya kepada putranya. Dia akan menyepi ke sungai suci Bhagirathi. Resi Suka putra Vyasa yang masih terhitung pamanda Paduka, akan memandu sang pangeran dengan pengetahuan tentang Atma,kemudian menyelesaikan pelajaran terakhir manusia saleh melalui Bhakti Yoga. Sang Pangeran akan mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

Sinar kebahagiaan mengusir awan kemurungan Maharaja Yudhistira, “Jika demikian maka ini bukan kutukan akan tetapi karunia khusus, yang perlu disyukuri bersama!”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: