Archive for January, 2014

Seks? Mencintai Gusti Pangeran Melampaui Seks? Kisah Para Brahmachari dalam Ramayana

Posted in Ramayana with tags , , , on January 26, 2014 by triwidodo

hanuman lakshamana Rama Sita sumber devotionalimages blogspot com

Ilustrasi Hanuman dan Lakshmana bersama Rama dan Sita sumber: devotionalimages blogspot com

Brahmacharya atau Hidup dalam Kesadaran Tuhan

Brahmacharya biasanya diterjemahkan sebagai hidup selibat. Ada juga yang menterjemahkannya sebagai ‘tidak memanjakan indera-indera kenikmatan’.  Definisi ini mungkin lebih cocok untuk para pendeta dan pertapa peminta-minta. Namun Brahmacharya bukanlah hanya dimaksudkan untuk mereka saja. Siapapun bisa melakukannya. Seharusnya malah semua orang melakukannya. Brahma sering diterjemahkan sebagai Tuhan, walaupun sesungguhnya maksudnya adalah aham sejati, ‘diri’ sejati. Acharya adalah ‘orang yang melakukannya’, para praktisioner. Karenanya Brahmacharya mengacu pada penerapan ketuhanan dalam kehidupan. Brahmacarya berarti hidup dalam kesadaran Tuhan. Tidak masalah apakan anda sudah mengambil sumpah selibat atau tidak, satu yang sudah jelas. Anda tidak bisa lagi terlalu bermanja-manja dengan kenikmatan duniawi. Kenikmatan semacam itu jadi tidak berarti saat anda mencapai kenikmatan kesadaran tinggi yang lebih tinggi.” (Krishna, Anand. (2009). One Earth One Sky One Humankind, Celebration of Unity of Diversity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa sebenarnya Sri Rama, Gusti yang mewujud di dunia bisa bersabda, “Rahwana kau mati, Sita kau kembali!” dan kisah Ramayana akan selesai begitu singkat. Para Guru Suci mengatakan bahwa Ramayana merupakan sebuah drama untuk menunjukkan kepada dunia adanya pengabdian Hanuman. Secara fisik dia berwujud kera, akan tetapi berkat pengabdian dan dedikasinya kepada Sri Rama dan misi Sri Rama maka ia diteladani sebagai bhakta tulen, seorang panembah sejati.

Sewaktu bertemu Rama, Sugriva menunjukkan beberapa perhiasan wanita yang dijatuhkan untuk memberi tanda ke arah mana dia dibawa terbang Rahwana. Rama melihat gelang, kalung dan anting-anting dan yakin bahwa itu adalah milik Sita. Lakshmana diminta Rama melihatnya dan Lakshmana hanya mengenali gelang kaki Sita. Ketika ditanya Rama, Lakshmana menjawab bahwa selama ini dia hanya melihat kaki Sita. Yang dipikirkan hanyalah Rama dan dia sangat menghormati Rama dan istrinya. Rama sangat berbahagia mendengar jawaban Lakshmana. Ekagrata, one-pointedness yang pantas diteladani manusia dari Lakshmana.

Hanuman, Bhakta Sri Rama

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pada saat awal bertemu Sri Rama dan Lakshmana, Hanuman melihat aura yang terpancar dari mereka berdua yang membuatnya terpesona. Hanuman bertanya, “Apakah Paduka penyebab utama dari dunia ini yang mewujud sebagai manusia untuk menjembatani antara duniawi dan ilahi?” Rama dan Lakshmana kemudian membuka jatidiri mereka. Hanuman segera bersujud kepada Sri Rama dan berkata, “Paduka, meskipun hamba banyak kesalahan mohon pelayan ini tidak dibuang dan dilupakan oleh Paduka!” Setelah itu Hanuman hanya berfokus pada Sri Rama, yang dipikir Hanuman hanya Sri Rama dan tidak terlintas sedikitpun pikiran tentang seks.

Kalung Sita

Dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan sebuah legenda tentang kepulangan Sri Rama dan Sita ke Ayodhya. Ibu Sita memberikan hadiah kalung permata kepada Hanuman. Hanuman langsung menggigit batu-batu permata tersebut. Lakshmana naik pitam dan bertanya mengapa Hanuman tidak menghargai hadiah dari Ibu Sita? Hanuman menjawab bahwa dia sedang mencoba membaui aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut. Sri Rama mendekat dan bertanya apakah Hanuman menemukan aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut? Hanuman mengatakan bahwa aroma Sri Rama tidak terdapat dalam batu-batu permata tersebut.

Lakshmana berang dan bertanya bahwa apakah Hanuman berpikir bahwa kalung pemberian Ibu Sita itu tidak ada harganya karena tidak ada aroma Sri Rama? Hanuman menjawab bahkan tubuhnya pun tidak berharga bila tidak memiliki aroma Sri Rama. Rama kemudian memberikan perintah agar Hanuman menunjukkan bahwa tubuhnya beraroma Sri Rama. Hanuman segera menyobek dadanya sendiri dan tepat di tengah-tengah dadanya terdapat gambar Sri Rama dan aroma kasturi kesukaan Sri Rama tersebar ke seluruh penjuru.

Lakshmana, Membhaktikan Hidupnya bagi Sri Rama

“Bagi seorang sanyasi, Brahmacharya adalah langkah awal. Tanpa pengendalian diri seorang sanyasi tidak mampu menjalankan perannya sebagai pengabdi, sebagai pelayan. Dan jika ia tidak mampu melayani tanpa pilih kasih, tidak mampu mengabdi tanpa pamrih, untuk apa menjadi sanyasi? Jika Anda ingin tetap menjalankan brahmacharya, sebaiknya menyisihkan setidaknya 2 x 45 menit setiap hari untuk latihan yoga asana  yang dapat membantu Anda mengendalikan keinginan seks. Selain itu pola makan pun mesti diperbaiki. Pure vegetarian diet, puasa sekali atau dua kali setiap minggu, dan menghindari karbohidrat yang berlebihan, semua itu akan membantu Anda. Bacaan Anda, tontonan Anda, semuanya mesti diatur kembali supaya menunjang kehidupan Anda sebagai brahmachari. Mereka yang tidak memperoleh pelajaran brahmacharya di usia dini memang harus bekerja lebih keras. Tapi Anda bisa. Anda pasti berhasil. Fokus!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meskipun dikisahkan sebagai Grhastha, perumahtangga, Lakshmana adalah seorang Brahmachari ideal. Selama 14 tahun mendampingi Sri Rama, yang terpikirkan oleh Lakshmana hanyalah Sri Rama dan misi Sri Rama. Rama berkata bahwa Meghanada putra Rahwana adalah Komandan Raksasa yang tak terkalahkan di tiga dunia, bahkan Indra pun dikalahkan sehingga dia dikenal sebagai Indrajit. Hanya Lakshmana yang dapat mengalahkan Indrajit yang dapat menghilang dan mempunyai ilmu sihir. Dan kemenangan itu diperoleh karena kemurnian Lakshmana.

Diuji Sri Rama

“Walaupun tidak kawin, jika seseorang memikirkan seks melulu, maka energinya sudah pasti tersedot ke bawah. Sama saja. Jadi urusannya bukanlah kawin atau tidak kawin, urusannya adalah ‘seks secara berlebihan’, termasuk ‘memikirkan’ seks melulu. Mengapa saya mesti menjelaskan hal ini secara panjang lebar? Karena sebagai sanyasi Anda mesti memahami fenomena ini. Jangan sampai merasa sudah ‘beres’ hanya karena membujang. Paramhansa Yogananda mengingatkan bahwa sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi adalah sepadan dengan satu quart darah (kurang lebih 0.94 liter, hampir 1 liter). Lalu bagaimana jika tidak terjadi ejakulasi? Bagimana jika seorang hanya memikirkan seks saja? Energinya tetap tersedot ke bawah. Paramhansa Yogananda mewanti-wanti kaum pria. Karena alasan itu (berkurangnya darah setiap kali ejakulasi), dan keinginan seks seorang pria yang memang lebih kuat, maka perjalanan spiritual baginya tidak semudah bagi seorang perempuan.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada suatu kisah yang disampaikan seorang Guru bahwa pada suatu hari Sri Rama menguji Lakshmana. Sita sedang tidur di pangkuan Sri Rama dan dia membisiki Lakshmana untuk menggantikannya karena dia mempunyai kepentingan mendesak dan tidak ingin membangunkan Sita. Lakshmana patuh dan membiarkan Sita tidur di pangkuannya. Setelah pergi Sri Rama segera datang kembali mewujud sebagai burung beo dan memperhatikan tingkah laku Lakshmana.

Lakshmana yang berdekatan dengan seorang wanita jelita tercantik di dunia ternyata menutup mata dan membaca japa, Sumitra… Sumitra… Sumitra. Rupanya Lakshmana membayangkan bahwa yang tidur di pangkuannya adalah Sumitra, ibunya.

Brahmacharya

Brahmachari berarti ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Sebab itu remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Selama enam tahun pertama seorang anak belajar menggunakan fisiknya, inderanya, menggerakkan otot-ototnya, menyesuaikan setiap gerakan dengan keinginannya. Awalnya ia mesti diajari supaya tidak ngompol dan buang air di toilet, di tempat yang sudah tersedia untuk keperluan itu. Itulah pelajaran awal pengendalian diri. Pengendalian fisik, indra, dan gerakan otot adalah proses pembelajaran awal menuju brahmacharya. Jadi brahmacharya bukan sesuatu yang aneh, kuno, kolot, atau terkait dengan salau satu kepercayaan. Brahmacharya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa pengendalian diri, sulit membedakan manusia dari hewan. Selama enam tahun pertama ini, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja.

“Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

“Selanjutnya, padas usia 13 tahun ke atas ketika ia memasuki usia puber, ia mulai memberontak. Ia ingin mencoba segala hal yang baru. Ia ingin menguji kekuatan mental, emosional, dan kehendaknya. Jika dilarang melakukan sesuatu, ia malah tertantang untuk mencobanya. Banyak perokok berat mulai merokok pada usia ini. Demikian pula korban alcohol. Sebab itu, amat penting sebelum memasuki usia puber seorang anak belajar untuk mengendalikan emosi dan pikirannya. Jika hal itu tidak terjadi, usia puber hanyalah pertanda bencana.

“Kemudian, sekitar usia 19 tahun seorang remaja menentukan sendiri jalur hidupnya. Ia tidak mau diintervensi. Lagi-lagi, tanpa pengedalian diri, dan tanpa arahan yang tepat, seorang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diilhami oleh Buku Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151382463028899&set=a.10150718394503899.454510.382009333898&type=1&theater

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Advertisements

Seks? Melampaui Insting Seks? Kisah Resi Suka putra Vyasa, Guru Parikshit

Posted in Bhagavatam with tags , , on January 20, 2014 by triwidodo

sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Ilustrasi Sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Senggama dengan Semesta

“Seks sebagaimana dipahami dan dilakukan saat ini hanya memboroskan energi. Kenikmatan yang dirasakan hanya bertahan beberapa saat saja. Tidak lama kemudian, Anda lapar lagi, haus lagi, mencari lagi. Dan ketika ketertarikan terhadap pasangan Anda memudar, Anda mengejar pemicu baru. Seks tidak pernah memuaskan. Entah dengan predikat Tantra, atau polos tanpa predikat, tanpa atribut, tanpa dupa dan lilin. Kembali pada seks yang tidak pernah memuaskan. Alasannya seks tidak memenuhi kebutuhan jiwa. Jiwa membutuhkan senggama agung dengan semesta, bukan passion, bukan birahi, tetapi compassion, kasih.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam bahasa Sansekerta burung beo juga dikenal sebagai burung Suka. Ketika buah yang sudah masak dipotong oleh paruh burung Suka, rasa manis ditingkatkan. Demikian pula buah Veda yang sudah matang yang keluar dari ‘paruh’ Sukadeva bertambah manis. Seperti burung Suka yang menambah manis buah yang masak, maka Sukadeva mempunyai kemampuan untuk menyajikan  Srimad Bhagavatam lebih menarik daripada yang dituturkan oleh Resi Vyasa. Dikatakan Sukadeva putra Vyasa berfokus pada pelayanan dan sudah melampaui insting seks.

 

Kelahiran Sukadeva

Srimad Bhagavatam dibawa oleh Resi Narada diberikan kepada Resi Vyasa. Resi Vyasa menyampaikannya kepada Sukadeva, putranya. Sukadeva menyampaikan kepada Raja Parikshit seminggu sebelum sang raja meninggal dunia. Sukadeva sudah bebas dari segala keterikatan sejak dalam rahim ibunya. Dia tidak mengalaami pelatihan setelah kelahirannya. Sebagai jiwa sempurna, Sukadeva tidak perlu menjalani evolusi spiritual. Sukadeva telah menyampaikan Srimad Bhagavatam bagi jiwa-jiwa yang mendambakan kebebasan dari segala keterikatan.

Dikisahkan bahwa Shiva sedang menyampaikan Srimad Bhagavatam kepada Parvati. Dan, Parvati sendiri tidak begitu perhatian dan bahkan mulai tertidur. Seekor burung beo yang berada di dekat Shiva mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva sadar Parvati belum fokus mendengarkannya dan hanya burung kakatua yang mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva cemas burung beo tersebut hanya menghapalnya tanpa makna yang seakan-akan mengejek dirinya. Oleh karena itu Shiva mengejar sang burung untuk mengakhiri hidupnya. Sang burung ketakutan dan segera terbang dikejar Shiva. Sang burung terbang ke Ashram Vyasa dan masuk ke mulut Vatika istri Vyasa. Selama enam belas tahun burung beo tersebut tinggal dalam rahim Vatika sebelum lahir dengan nama Sukadeva.

 

 

Vyasa, Ayahanda Sukadeva Masih Membedakan Jenis Kelamin

Sukadeva sudah tidak mempunyai pikiran tentang seks. Sukadeva tidak menikah dan mengembara dengan bertelanjang bulat. Pada suatu saat ayahnya, Resi Vyasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam mengejar Suka yang berjalan di tepi kolam yang banyak gadis sedang mandi tanpa memakai baju. Saat Vyasa akan lewat, para gadis segera terburu-buru memakai baju dan ini membuat heran Vyasa.

“Aku sudah tua, sudah tidak layak melakukan seks dan juga mengenakan pakaian resi. Mengapa kalian cemas dan buru-buru memakai baju? Mengapa kalian tenang saja bertelanjang saat Suka lewat?”

Para gadis menjawab, “Wahai Bapa Resi yang terhormat, Suka putra Bapa tidak tahu mana pria dan mana wanita, sedangkan Bapa Resi tetap membedakan jenis kelamin antara pria atau wanita. Kami dapat merasakannya!”

 

Insting Seksual

“Seks adalah insting dasar kedua setelah pertahanan diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja. Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Svami Sivananda menulis yang terjemahan bebasnya, “ Anda mungkin menjadi tua, rambut Anda berubah abu-abu, tetapi pikiran Anda masih berkaitan dengan seks. Mungkin Anda sudah tidak mempunyai kemampuan berhubungan seks karena telah mendekati pikun, akan tetapi pikiran belum lepas dari seks. Mengidamkan seks adalah benih nyata untuk lahir kembali.”

“Bahkan seorang pria buta yang tidak kawin dan belum melihat wajah seorang wanita pun mempunyai dorongan seksual yang kuat. Mengapa? Hal ini disebabkan karena kekuatan samskara atau impresi kelahiran sebelumnya yang tertanam dalam pikiran bawah sadar. Apa pun yang Anda pikir, Anda lakukan semuanya dicetak atau tak terhapuskan impresinya dalam pikiran bawah sadar. Impresi ini hanya dapat dibakar atau dilenyapkan oleh fajar kesadaran Atman atau Diri Agung.”

“Dari dasar samskara, impresi kelahiran sebelumnya dan vasana, kecenderungan perilaku dalam pikiran muncul kalpana, imaginasi melalui Smriti atau memori. Kemudian datang keterikatan. Seiring dengan imaginasi muncul emosi dan dorongan. Kemudian datang iritasi seksual – craving and burning, keinginan kuat dan gelora api dalam pikiran dan seluruh tubuh. Seperti bahan bakar atau uap yang menggerakkan mesin, insting dan dorongan menggerakkan tubuh ini. Insting adalah penggerak utama dari semua kegiatan manusia. Mereka memberikan dorongan bagi tubuh dan menggerakkan indra untuk bertindak. Insting menciptakan kebiasaan. Dorongan insting memasok energi penggerak kegiatan mental. Mereka membentuk kehidupan manusia.”

 

Seks, Kebutuhan Dasar  Manusia atau Kebutuhan Dasar Raga Manusia?

“Para psikologi menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: ‘Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar ‘manusia’. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan, sesungguhnya bukan saja manusia – itu merupakan kebutuhan dasar fisik semua makhluk hidup.’ Aku merenungkan kata-kata itu. Aku bertanya kepada diri sendiri: ‘Apakah aku dapat hidup dengan makan, minum, tidur dan seks saja?’ Kudengar jawabannya dari seorang pujangga dari Timur Tengah yang pernah berkunjung ke wilayah kita, Isa Sang Masiha: ‘Tidak…… Sekedar roti saja tidak cukup. Manusia membutuhkan sesuatu yang lain demi keberlangsungan hidupnya.’ Banyak roti, banyak gandum di gudang Paman Sam. Adakah semua itu membahagiakan dirinya? Seorang Osama dapat mengganggu dan merusak kebahagiaannya dengan begitu mudah. ‘Apa arti harta yang kau timbun, jika kau kehilangan jiwamu?’ Seorang Penyair bertanya lewat syairnya. Kehilangan jiwa? Apakah kita sudah memiliki Kesadaran Jiwa, sehingga dapat merasakan hilangnya jiwa – atau hilangnya kesadaran itu? Siapakah aku? Untuk apa aku berada di dunia ini? Aku datang dari mana? Mau pergi ke mana? Jika pertanyaan-pertanyaan semacam ini belum jua menghantui kita – maka jelas kesadaran kita masih berada pada tingkat yang paling rendah. Pada tingkat dimana makan, minum, tidur dan seks adalah kebenaran. Dan, tidak ada kebenaran lain di luar itu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Platonic Love  Antara Suami-Istri

Sukadeva melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga sejak lahir. Hanuman, Lakshmana, Bhisma memutuskan tidak kawin agar lebih terfokus pada pelayanan. Mungkinkah seorang Grhastha, perumah-tangga melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga?

“Sanyas bukanlah pilihan hidup untuk semua orang. Sanyas adalah pilihan hidup buat mereka yang betul-betul sudah memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Untuk melayani Tuhan yang bersemayam dalam tiap diri setiap makhluk. Buat mayoritas, jalan hidup ‘beranak cucu dan bertambah’ itulah yang tepat. Itulah pola hidup, jalan hidup, buat mayoritas. Sesungguhnya mayoritas tidak bisa tidak menjalani hidup demikian. Alam mendorong mereka untuk beranakcucu dan bertambah. Kemudian bersama-sama pula Anda dapat mengurangi frekuensi hubungan seks, dan lebih banyak menggunakan energy Anda untuk hal-hal yang bernilai lebih tinggi. Inilah yang disebut Platonic Love. Sekarang platonic love diartikan sebagai hubungan cinta yang tidak melibatkan fisik. Tidak demikian. Plato tidak mengatakan demikian. Plato tidak menyarankan agar nafsu birahi ditekan atau dikekang. Ia menyarankan pengendalian diri secara berangsur, secara perlahan, tetapi pasti, hingga suatu ketika hubungan seks tidak memiliki arti lagi. Anda tidak menginginkannya lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Keyakinan dan Pengabdian Mengatasi Semua Hambatan: Kisah Hanuman Mencari Obat Lakshmana

Posted in Ramayana with tags , , on January 16, 2014 by triwidodo

 

Hanuman membawa bukit tanaman Sanjeevani sumber www indianetzone com

Ilustrasi Hanuman membawa bukit tempat tanaman Sanjivani sumber www indianetzone com

Bhakta Seorang Pejuang Tulen

“Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Utishtha, Jaagratah …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini. Mau bertemu dengan seorang Bhakta? Carilah dia di tengah medan perang ‘Kurukshetra’. Kau tidak akan menemukannya di dalam kuil la berada di tengah keramaian pasar, di tengah kebisingan dan kegaduhan dunia.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Hanuman dan Lakshmana adalah bhakta Sri Rama, dan kedua-duanya telah melepaskan diri dari keterikatan pada dunia benda, harta kekayaan, istri, keluarga dan kerabat. Yang ada di pikiran mereka hanyalah Sri Rama, mereka telah melampaui ego dan seks. Tujuan mereka bukan untuk mengalami moksha, akan tetapi menjadi alat Sri Rama. Saat Lakshmana terluka mendekati kematian, Hanuman diminta Sri Rama mencari obat di Pegunungan Himalaya yang harus diperoleh sebelum matahari terbit. Hanuman patuh dan merasa mendapat peluang untuk melakukan persembahan sesuai kekuatan yang telah dianugerahkan kepadanya. Hanuman yakin Lakshmana dapat sembuh kembali. Walaupun hanya Sri Rama yang tahu bahwa Lakshmana dalam pertempuran berikutnya akan membunuh Indrajit.

Lakshmana Terluka oleh Indrajit

Pada hari pertama pertempuran pasukan wanara Sri Rama melawan raksasa Alengka perang berkecamuk sangat dahsyat. Indrajit putra Rahwana berupaya menghancurkan pasukan Sri Rama. Sebenarnya nama putra mahkota Rahwana adalah Meghanada akan tetapi karena pernah mengalahkan Dewa indra, maka dia dikenal sebagai Indrajit. Lakshmana segera menghadang Indrajit sehingga Sugriva komandan pasukan wanara bahkan mulai bisa mendesak pasukan Alengka. Matahari sudah bergerak menuju ke barat, kala Indrajit sadar bahwa dia tidak akan menang berperang-tanding melawan Lakshmana, maka ia mulai menggunakan kekuatan magis untuk melesat melintasi awan. Dari balik awan Indrajit menggunakan senjata shakti yang dipanahkan ke arah Lakshmana. Lakshmana terkena, tubuhnya memar dan luka di dalam serta jatuh pingsan. Indrajit kemudian berupaya mengangkat tubuh Lakshmana untuk dibawa ke kemah pasukan Alengka. Akan tetapi ternyata dia tidak kuat mengangkatnya. Beberapa komandan raksasa membantu mengangkatnya, akan tetapi tidak berhasil. Lakshmana adalah Naga Adisesha pendamping Sri Vishnu yang mewujud, hanya mereka yang memperoleh blessing Sri Rama yang mampu mengangkatnya. Beberapa saat kemudian datanglah Hanuman mengusir Indrajit dan para komandannya, dan Hanuman segera memanggul Lakshmana ke kemah Sri Rama. Tak lama kemudian kedua pasukan mundur karena hari telah mulai senja.

Kemudian berhembus kabar bahwa seseorang yang terkena senjata Indrajit akan mati sebelum matahari terbit keesokan harinya. Jambavan mengatakan ada tabib Alengka yang paham pengobatan luka dalam akibat senjata Indrajit. Sushena sang tabib adalah pemuja Sri Rama. Sri Rama segera minta Hanuman membawa tabib Sushena untuk memeriksa Lakshmana. Sushena mengatakan bahwa ada ramuan yang dibuat dari akar tanaman Sanjivani yang dapat menyembuhkan luka Lakshmana. Akan tetapi tanaman tersebut hanya bisa diperoleh di Gunung Dunagiri di wilayah pegunungan Himalaya. Inilah satu-satu harapan untuk menyelamatkan Laksmana. Sebuah peluang yang nampaknya sangat musykil dilaksanakan.

Hanuman Sang Pengabdi

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Rama segera mengutus Hanuman untuk mengambil daun Sanjivani tersebut. Bagi Hanuman, bhakta Sri Rama, tugas yang diberikan oleh Sri Rama akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Hanuman yakin Sri Rama telah bertindak dengan pertimbangan matang untuk memintanya mengemban tugas tersebut. Hanuman mohon blessing Sri Rama dan segera berangkat.

Dari masukan telik sandi, Rahwana tahu bahwa Hanuman berupaya memperoleh tanaman obat di Himalaya. Rahwana segera mengutus Kalanemi, pamannya untuk menggunakan segala cara agar Hanuman tidak berhasil memperoleh tanaman tersebut. Kalanemi berkata bahwa sulit untuk menghadang Hanuman, makhluk perkasa yang sendirian saja bisa membakar kota Alengka. Kalanemi menyarankan Rahwana untuk berdamai dengan Sri Rama dengan cara memberikan obat pemunah racun bagi Lakshmana. Rahwana naik pitam yang membuat Kalanemi harus membuat pilihan segera. Kalanemi segera mohon diri untuk menghadang Hanuman. Bagi Kalanemi lebih baik mati terbunuh Hanuman Utusan Sri Rama daripada mati ditangan Rahwana.

Hambatan oleh Kalanemi

Kalanemi dengan kekuatan ilusinya segera mewujud sebagai seorang brahmana dan  membuat kuil yang indah dengan dilengkapi kolam yang jernih di Gandamadhana. Saat Hanuman menuju Himalaya dan melintasi tempat tersebut, Hanuman memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sang Brahmana datang menawarkan air dan memuji Sri Rama sehingga Hanuman sangat senang. Setelah minum air Hanuman justru semakin merasa haus dan minta untuk minum air kolam. Saat Hanuman di tepi kolam dan mulai minum, seekor buaya menyergap kakinya dan menariknya ke dalam kolam. Akan tetapi dengan sebuah pukulan buaya tersebut mati. Sang Buaya yang mati segera menjilma sebagai Apsara. Apsara tersebut pernah berbuat kesalahan sehingga dikutuk Daksha menjadi buaya dan kutukan akan sirna kala dia dibunuh oleh Hanuman. Sang Apsara segera memberitahu jatidiri Sang Brahmana yang ternyata adalah Kalanemi. Kalanemi segera dibunuh oleh Hanuman.

Dalam kehidupan sebelumnya Kalanemi dengan naik singa pernah bertarung dengan Vishnu yang naik Garuda dan Kalanemi terbunuh. Pada kehidupan berikutnya, Kalanemi lahir sebagai putra Hiranyakasiphu. Kalanemi mempunyai enam putra yang menjadi devoti Brahma yang kemudian dikutuk Hiranya Kasiphu akan lahir lagi dan dibunuh oleh Kalanemi pada kelahiran di masa depan. Kalanemi kemudian lahir sebagai paman Rahwana. Kalanemi akhirnya akan lahir lagi sebagai Kamsa dan 6 putranya lahir lagi sebagai putra Devaki yang dibunuh oleh Kamsa.

Berbagai Hambatan Lainnya

Rahwana tahu bahwa Kalanemi telah mati dan segera memanggil Dewa Surya, Sang Matahari untuk terbit sebelum waktunya. Hanuman segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menahan gerakan  matahari. Sesampainya di Dunagiri,Hanuman kesulitan memilih tanaman Sanjiwani dan segera mengangkat seluruh bukit untuk dibawa ke Alengka. Sampai di Nandigram sebuah panah mengenai kakinya dan Hanuman terjatuh beserta bukit yang dipanggulnya. Rupanya Bharata saudara Sri Rama mengira Hanuman seorang penjahat yang sedang membawa bukit. Hanuman segera menjelaskan bahwa ia membawa bukit untuk mengobati Lakshmana saudara Bharata. Bharata mohon maaf dan menawarkan Hanuman untuk menaiki anak panah yang dibidiknya menju Alengka agar cepat sampai. Hanuman menolaknya dan segera terbang lagi menuju Alengka.

Sushena segera mengambil beberapa akar tanaman Sanjivani dan dibuat ramuan untuk diminum Lakshmana. Lakshmana cepat mengalamikesembuhan dan Hanuman segera terbang menuju matahari, mohon maaf atas tindakannya kepada Dewa Surya. Dewa Surya, tersenyum dan berkata pelan, “Siapakah makhluk yang dapat menahan bhaktanya Sri Rama? Dengan blessing Sri Rama, seorang bhakta akan menyelesaikan tugas apa pun yang diembannya!”

Jadilah Orang Besar!

Hanuman adalah contoh Orang Besar. Hanuman siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran. Hanuman tetap optimistis, berkarya penuh keyakinan, tidak khawatir, tidak bimbang, tidak berkecil hati dan pantang menyerah.

“Jadilah Orang ‘Besar’! Tetap tenang dalam keadaan suka maupun duka; tidak terbawa oleh nafsu rendahan; tidak terkendali oleh pancaindra; tidak tergoyahkan oleh tantangan-tantangan kehidupan; Tidak tergesa-gesa, dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran, itulah sebagian ciri-ciri ‘orang besar’. Dalam keadaan apa pun mereka tetap optimistis, tetap berkarya dengan penuh keyakinan. Tidak khawatir, tidak bimbang, dan tidak berkecil hati. Pantang menyerah, demikianlah mereka. Jadilah orang ‘besar’. Karena, kau memang dilahirkan untuk menjadi ‘besar’. Bukanlah badanmu saja, tapi jiwamu mesti tumbuh menjadi besar. Pikiranmu, perasaanmu, semuanya mesti mengalami pertumbuhan. Kebesaranmu pastilah mengundang kebesaran. Kekuatanmu mengundang kekuatan. Keyakinanmu mengundang keyakinan. Alam semesta maha baik adanya. Jika kau berbuat baik, dan menjadi baik, kau akan mengundang lebih banyak kebaikan dari semesta. Kebaikanmu mengundang kasih, kepedulian, dan kedekatan sesama manusia. Kau menolong mereka dan mereka pun akan menolongmu. Demikian, dengan cara saling tolong-menolong, kau memperoleh kebahagiaan. Dan, mereka pun memperoleh kebahagiaan. Orang ‘besar’ selalu bahagia, ceria, dan bersuka-cita. Itulah rahasia kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kebesaran Sejati adalah ketika kau dapat berbagi ‘kebesaran’ dengan siapa saja, tanpa pilih kasih. Kebesaran sejati adalah ketika kau dapat berbagi kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaanmu-keceriaan dan kesukacitaanmu!” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Arjuna, Yang Dipilih Sri Krishna Sebagai Pemeran Utama Bhagavad Gita

Posted in Mahabharata with tags , , , on January 9, 2014 by triwidodo

Arjuna mendengarkan nasehat Kriahna sumber www dandavats com

Ilustrasi Arjuna mendengarkan Sri Krishna di awal perang Bharatayuda sumber www dandavats com

Alat Keberadaan

“Sang Kala atau Waktu, menurut Gita, adalah Pemusnah yang tak-tertandingi. Ia juga tak terhindari. Ia memusnahkan segalanya, kebaikan maupun keburukan, dan Ia melakukannya di saat yang sama. Ketika Ia memusnahkan keburukan/kejahatan, Ia juga sekaligus mengakhiri penderitaan mereka yang baik dan bijak. Rodanya berputar terus. Adakah cara untuk melepaskan diri dari cengkeramannya? Gita menjawab, ‘ya’. Dengan cara menjadi alat Sang Kala. Kemudian apa pun yang terjadi tidak lagi menimpa dirimu. Apa pun yang terjadi atas kehendakNya. Kamu hanyalah agen, khalifah. Saat ini, kata Krishna kepada Arjuna, adalah saat untuk mengakhiri kebatilan. Janganlah berpikir bahwa mereka yang melakukan kejahatan itu adalah kawan atau kerabat, pernah dekat denganmu. Itu dulu ketika kau berada di alam yang sama dengan mereka. Sekarang alammu lain. Kau berada di alamKu, menjadi alatKu. Maka, jadilah alat yang baik. Jadilah alat yang tajam, tidak tumpul. Akhiri mereka, karena itulah kehendakKu.” Kutipan dari Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Arjuna bukan hanya berhasil sebagai pahlawan penegak dharma pada saat perang Bharatayuda, akan tetapi dia masih tetap diingat sebagai manusia utama yang mencerahkan banyak manusia sampai akhir zaman. Kesiapan dirinya sebagai Alat Keberadaan dan perubahan dirinya dari manusia yang cemas menghadapi saling bunuh antar keluarga Bharata, sampai munculnya keyakinan diri bahwa dia berperang bukan untuk merebut kekuasaan akan tetapi sebagai alat untuk menegakkan dharma telah memberikan semangat manusia untuk mencapai kebebasan. Dua Pemeran Utama Bhagavad Gita, Sri Krishna, yang sekaligus merangkap sebagai Sutradara dan Arjuna, telah memberikan inspirasi bagi jutaan manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia.

Pertemuan Pertama Arjuna dengan Krishna

Dalam Bhagavata Vahini disampaikan percakapan Parikshit cucu Arjuna dengan Vyasa kakek Arjuna tentang hubungan antara Pandawa, leluhur Parikshit dengan Sri Krishna. Vyasa berkata bahwa keingintahuan Parikshit yang sangat besar tersebut dapat menjadi bekal untuk memperoleh Kesadaran.

Raja Draupada ingin memperoleh menantu bagi putrinya Draupadi yang luhur budi dan cantik jelita melalui sayembara. Para raja dan pangeran dikumpulkan untuk mengadu keahlian memanah, membidik sasaran yang diletakkan pada roda yang berputar. Ketika para raja dan pangeran gagal menunjukkan kemampuannya, masuklah pemuda tampan berpakaian brahmana ikut bertanding. Sang brahmana berhasil memanah sasaran dan tentu saja berhak memperoleh sang putri. Balarama memperhatikan Krishna yang terfokus pada pemuda tampan yang sebenarnya Arjuna, seakan-akan melihat masa lalu dan masa depan sang brahmana dan berkata, “memang pemuda kualitas unggul!” perkataan Balarama disambut senyuman oleh Krishna. Para raja dan pangeran protes mengapa brahmana dimenangkan dalam sayembara, akan tetapi seorang brahmana tinggi besar menghalangi mereka dan mereka kalah kuat dibandingkan brahmana tinggi besar tersebut dan segera membubarkan diri. Krishna segera mendatangi Raja Draupada dan memberitahu bahwa pemenangnya adalah Arjuna dari Pandawa dan ksatria yang mengusir mereka yang protes adalah Bhima, kakak kedua. Draupada senang mengetahui bahwa calon menantunya adalah Pandawa yang terkenal kesaktiannya yang diharapkan bisa membalaskan sakit hatinya atas tindakan sewenang-wenang Drona terhadap dirinya. Draupadi diserahkan kepada Arjuna untk diajak menemui Kunti ibu Pandawa.

Krishna dan Balarama menemui Kunti di kediamannya dan memperkenalkan diri sebagai putra Vasudewa, kakak kandung Kunti. Kunti adalah adik kandung Vasudeva yang sejak kecil diambil sebagai putri angkat Raja Kuntibhoja. Kunti sangat senang bertemu dengan Krishna, dalam hatinya dia begitu yakin pada kebijaksanaan sang keponakan tersebut. Krishna kemudian memperkenalkan diri dengan Pandawa dan kemudian asyik berbincang dengan Arjuna. Sejak saat itu dimulailah persahabatan Arjuna dengan Krishna. Mereka seakan-akan menjadi satu seperti dua bersaudara.

Rasa Takut Arjuna Pada Awal Bhagavad Gita

“Krishna akan berusaha untuk lebih dulu membebaskan Arjuna dari rasa takut. Rasa takut bagi Krishna adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia semestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Krishna juga tahu bahwa rasa takut disebabkan oleh:

1.       Ketidak tahuan tentang potensi diri, potensi manusia, dan

2.       Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu.

3.       Hilangnya rasa percaya diri.

Berarti rasa takut mempengaruhi tiga lapisan utama dalam diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensi, akal sehat atau pikiran jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri.” (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan indahnya, Bhagavad Gita memulai percakapan dengan rasa takut Arjuna. Rasa takut yang dipunyai oleh semua orang, yang juga dipunyai Arjuna walaupun dia adalah manusia unggul yang sudah waktunya meninggalkan rasa takut. Dengan demikian Bhagavad Gita dapat memandu orang yang masih mempunyai rasa takut, untuk melakukan transformasi, sehingga bisa melampaui rasa takut tersebut.

Arjuna menguasai ilmu bela diri dan ilmu peperangan yang handal. Arjuna telah menunjukkan ketabahan dalam menghadapi penderitaan selama masa pengasingan Pandawa. Arjuna juga menunjukkan kepatuhan terhadap ibundanya yang meminta Draupadi sebagai istri kelima Pandawa. Arjuna juga mendapat anugerah Shiva, senjata Pashupati, raja hewan, yang melambangkan pemiliknya sudah menguasai sifat hewani dalam diri. Toh Arjuna masih merasa takut menghadapi keperkasaan Kakek Agung Bhisma, Guru Drona dan takut membunuh handai-tolannya sendiri.

Takut Karena Salah Menentukan Identitas Diri

“Dalam keadaan gelisah itu, Arjuna tidak sadar bahwa sesungguhnya ia sudah berhadapan dengan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada dalam benaknya. Dirinya mewakili seribu satu macam pertanyaan dan persoalan yang dihadapi oleh manusia. Sementara itu, Krishna mewakili jawaban tunggal yang dapat menyelesaikan segala macam persoalan, yaitu dengan kembali pada diri sendiri.” (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semua orang mengalami delusi sehingga ia terkena kesedihan, yang bertindak sebagai rem terhadap tindakannya. Arjuna, seorang pahlawan besar, yang sudah mampu melepaskan diri terhadap keterikatan, dan memiliki berbagai kebijaksanaan, toh ia masih juga diperdaya oleh rasa takut dan kesedihan yang menghambat perannya untuk menegakkan kebenaran. Pada awal Bhagavad Gita, Arjuna masih bingung akan identitas dirinya. Arjuna mencampur-adukkan sifat atma yang abadi dengan tubuh duniawi yang bersifat fana. Ini adalah tragedi yang bukan saja dialami oleh Arjuna, akan tetapi oleh seluruh umat manusia. Arjuna menjadi ‘murid’, patuh terhadap Sang Guru, dan itu adalah langkah awal menuju ‘Manusia Universal’ yang sudah bebas dari conditioning kotak-kotak identitas suku, ras, agama, profesi, genetika bawaan dan sebagainya. Sebagai manusia universal Arjuna bebas dari penghakiman terhadap tindakan orang lain, terhadap kepercayaan yang diyakini masing-masing orang. Walaupun tidak menghakimi, karena Arjuna masih hidup di dunia, maka dia tetap memilah mana yang dharma mana yang adharma. Dia tetap menilai apakah tindakan teroris Korawa itu dharma atau adharma. Dan Arjuna tetap pro penegakan dharma.

Dalam Geeta Vahini disampaikan bahwa Bhagavad Gita adalah perahu yang membawa seseorang menyeberang dari pantai perbudakan yang penuh ketakutan menuju pantai kebebasan yang alami. Orang dibawa dari kegelapan menuju penerangan, dari redup tanpa kilau menuju cerah gemerlap. Bhagavad Gita membuat manusia berdisiplin berkarya yang bebas dari noda-noda yang mengikatnya pada siklus kelahiran dan kematian tanpa henti. Singkatnya, manusia datang ke medan kerja dunia hanya untuk berkarya, bukan untuk memperoleh hasil dari kegiatan tersebut. Berkarya tanpa pamrih. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Itulah pelajaran mendasar Bhagavad Gita. Bhagavad Gita adalah intisari dari semua Veda. Bhagavad Gita bernilai universal. Bhagavad Gita digunakan untuk berenang melintasi samudera ilusi.

Jadilah Arjuna

“Arjuna baru tersadarkan bila perang yang dihadapinya bukanlah untuk meraih kerajaan (pikiran itu berada dalam lingkupan waktu), tapi perang untuk menegakkan kebajikan dan keadilan, atau dharma. Kesadaran seperti itulah yang membebaskan kita dari cengkeraman Sang Kala dan menjadi bagian dari Sang Kala Hyang Maha Menyengkerami. Apa itu dharma, dan apa kewajiban alat, atau saya ingin tahu job-description alat baru mau jadi alat. Saya mau bereskan pikiran dan emosi dulu baru menjadi alat. Semua keraguan itu muncul karena kita belum yakin. Bukan saja belum yakin pada seorang, sesuatu atau Tuhan, tapi belum ‘punya keyakinan’. Orang yang punya keyakinan tidak bersikap seperti itu. Dia tahu persis bila Sang Kala bahkan tidak perlu diyakini. Ia bekerja terus, mau diyakini baik tidak pun baik. Maka menjadi alat Sang Kala sesungguhnya adalah demi kebaikannya. Supaya ia bebas dari cengkeraman Sang Kala. Jadilah alat yang baik.” Kutipandari Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/). Silakan mengikuti program Neo Interfaith Studies dan bergabung dalam diskusi yang lebih dalam.

Bapak Anand Krishna menekankan bahwa: Allah mempercayai kita, maka dilahirkanlah kita semua sebagai khalifah, duta besar penuh kuasa untuk ikut mengurusi dunia ini. Mari kita hormati kepercayaanNya. Kemudian ketika kita lupa akan peran kita, maka Ia pula yang mempertemukan kita dengan murshid supaya cepat-cepat ingat kembali.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Menghadapi Kematian? Cara Asura atau Cara Ilahi? Kisah Kamsa dan Parikshit

Posted in Bhagavatam with tags , on January 7, 2014 by triwidodo

Srimad Bhagavatam sumber krishnasharanam blogspot com

Ilustrasi Resi Suka mengisahkan Srimad Bhagavatam kepada Parikshit sumber: krishnasharanam blogspot com

Ketakutan Kamsa

“Rasa takut yang paling mengerikan, yang selalu menghantui kita, adalah rasa takut akan kematian, begitu kita melampaui rasa takut akan mati, kita berada di luar jangkauan maut. Kematian pun akan kita terima dengan tangan terbuka. Kematian pun dapat dijadikan perayaan. Apabila Anda menerima kehidupan seutuhnya, Anda tidak akan hanya merayakan kelahiran, tetapi Anda juga akan merayakan kematian. Ia yang sudah tidak takut mati, tidak dapat dibuat takut oleh siapa pun lagi. Itulah sebabnya, Krishna mengatakan bahwa ia berhak atas kehidupan abadi.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kamsa takut sekali akan datangnya kematian terhadap dirinya. Kamsa akhirnya tahu bahwa ancaman kematiannya datang dari anak kedelapan Vasudeva dan Devaki. Karena takut mati, Kamsa kemudian membunuh 6 bayi yang lahir dari Devaki dan memenjarakan Vasudeva dan Devaki dengan pengawasan yang ekstra ketat. Bayi ketujuh hilang dari kandungan Devaki, sedangkan bayi kedelapan melalui keajaiban selamat dibawa ke rumah Nanda dan Yasoda untuk ditukar dengan bayi Yasoda dan dibawa kembali ke penjara. Bayi yang dibawa dari Yasoda yang dianggap anak kedelapan Devaki tersebut juga dibunuh oleh Kamsa. Setelah Kamsa tahu bahwa bayi kedelapan Devaki selamat dan berada di rumah Nanda dan Yasoda dan bernama Krishna, maka Kamsa pengirimkan para asura pembunuh untuk membunuh Krishna. Demikian kisah di Srimad Bhagavatam tentang orang yang takut akan datangnya kematian dan tahu penyebab kematiannya. Kemudian dia menghalalkan segala cara untuk memusnahkan penyebab kematiannya. Seandainya Kamsa diberitahu Resi Narada bahwa penyebab kematiannya adalah Ular, kemungkinan seluruh ular di kerajaannya akan dimusnahkan, dengan cara apa pun.

Firaun lebih ganas daripada Kamsa, dia membuat peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki Bani Israel yang lahir. Tindakan itu diambil karena para astrolog Kerajaan Mesir mengatakan bahwa kekuasaan Fir’aun akan jatuh ke tangan seorang laki-laki dari Bani Israel. Karena ketakutan, dia memerintahkan setiap rumah Bani Israel digeledah dan jika ditemukan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.

Menganggap Tubuhnya sebagai “Diri”nya

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kamsa merasa bahwa dirinya adalah badannya, sehingga takut sekali badannya tak bernyawa karena dibunuh oleh Krishna. Oleh karena itu dengan segala cara Kamsa ingin melenyapkan Krishna, agar badannya tetap bernyawa. Sebaliknya Parikshit tidak takut mati, dia tidak bertindak ala Kamsa, dia tidak mau membunuh semua ular agar tidak ada ular yang dapat membunuhnya. Parikshit tahu bahwa dirinya adalah jiwa yang menghuni badan dan jiwa tidak mati. Parikshit ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mencapai Tuhan. Dalam Bhagavata Vahini cara Kamsa menghadapi ancaman kematian tersebut disebut cara Demoniac , cara Asura. Sedangkan cara Parikshit dalam menghadapi ancaman kematian disebut cara Deva, cara Ilahi.

Parikshit Tidak Takut Mati

“Selama Anda masih dibebani oleh berbagai keinginan dan harapan, Anda sebenarnya tidak bebas. Untuk membebaskan diri Anda, semuanya harus dilepaskan. Terakhir, Anda akan menemukan hanya satu keinginan, yaitu keinginan untuk pembebasan itu sendiri. Keinginan itu pun harus dilepaskan, namun jangan sekarang. Pertama-tama gunakan keinginan untuk pembebasan ini sebagai jarum tajam untuk mengeluarkan duri yang menusuk kaki Anda. Anda tertusuk oleh begitu banyak duri, yaitu berbagai keinginan dan harapan Anda. Setelah selesai, jarum itu pun harus dilepaskan. Moksha berarti pembebasan. Sanyas berarti pelepasan — melepaskan keinginan untuk pembebasan itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 355

Setelah tahu seminggu lagi dia akan meninggal karena digigit ular, Parikshit segera melepaskan semuanya, tahtanya diserahkan kepada putranya dan dia kemudian meninggalkan kerajaannya. Parikshit menuju Sungai Gangga untuk bertemu dengan para suci meminta nasehat apa yang sebaiknya dia lakukan dalam 7 hari menjelang kematiannya. Adalah karena tumpukan kebaikan yang telah dilakukannya dan datangnya berkah karunia Ilahi, maka Parikshit dapat bertemu Guru Suka yang memandunya menghadapi kematian.

Kita semua tahu kematian akan menjemput kita. Akan tetapi sudahkah kita meneladani Parikshit untuk melepaskan diri dari berbagai keterikatan?

Apa yang Terpikir Saat Ajal Tiba

“Apa yang terpikir sepanjang hidup, itu pula yang terpikir saat ajal tiba, karena kematian adalah perpanjangan atau kelangsungan dari kehidupan. Kemudian ia melingkar dan bertemu kembali dengan titik kelahiran. Kejahatan sepanjang usia tidak dapat dipisahkan dari saat ajal tiba. Saat ajal tiba tidak dapat dipisahkan dari saat kelahiran. Tanggal kelahiran dan tanggal kematian mungkin adalah dua tangga yang berbeda, namun kedua tanggal itu dipertemuan oleh hidup saat ini. Kelahiran adalah kepastian yang sudah berlalu. Kematian adalah kepastian yang akan datang. Diantara kedua kepastian itu adalah kehidupan kita.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Orang yang selalu memikirkan keluarganya selama hidupnya, maka pada saat ajalnya dia juga berpikir tentang keluarga tersebut dan dia akan lahir lagi di dunia meneruskan obsesinya yang belum selesai pada keluarga tersebut. Orang yang selalu memikirkan membesarkan perusahaannya selama hidupnya, pada saat ajalnya juga berpikir tentang perusahaannya dan dia akan lahir lagi ke dunia lagi meneruskan obesinya yang belum kesampaian. Itulah sebabnya para raja zaman dahulu setelah pensiun melakukan Vanaprastha, meninggalkan tahta pergi ke Vana, hutan untuk melepaskan keterikatan pada dunia, agar pada saat ajal tiba yang terpikir bukan duniawi lagi. Itulah sebabnya banyak agama yang mengajarkan agar pada saat ajal tiba menyebut nama Tuhan, sehingga bisa mencapai Tuhan.

Demikianlah Parikshit meninggalkan obsesi duniawi, sisa hidupnya digunakan hanya untuk berfokus pada Krishna, agar pada saaat ajal tiba yang terpikir hanyalah Krishna, sehingga tidak perlu lahir lagi di dunia. Beruntunglah Parikshit, karena niat yang kuat, tumpukan kebaikan yang dikerjakannya selama hidupnya, dan berkah karunia Tuhan maka dia bertemu Resi Suka putra Vyasa yang memandunya mengingat Tuhan menjelang kematiannya. Akhirnya pada saat ular menggigitnya, yang terpikir oleh Parikshit hanyalah Krishna.

Adalah hal di luar perkiraan orang awam bahwa begitu takutnya Kamsa terhadap Krishna, sehingga yang dipikir Kamsa hanyalah Krishna. Saat ajal tiba pun yang dipikir hanyalah Krishna. Pikiran Kamsa berpusat hanya pada Sri Krishna, setiap saat, ketika ia sedang makan, bepergian, istirahat, tidur, dan bahkan ketika ia sedang bernapas yang ada dalam pikirannya hanyalah Krishna! Oleh karena itu, meskipun Kamsa adalah orang yang berdosa besar dan jahat, ia dapat mencapai  Sri Krishna tanpa melalui kelahiran kembali dan penuh kebahagiaan. Pada saat ini adakah orang yang sangat membenci Tuhan, sehingga setiap saat yang dipikir hanya Tuhan? Mungkin yang ada adalah orang yang membenci kelompok atau keyakinan yang berbeda.

Eka Grata, One-Pointedness

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan. Para sufi dan mistik, para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini. Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila. Jakarta: Koperasi Global Anand Krishna)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Antara Ego dan Jatidiri, Antara Penderitaan Dasaratha dan Kebahagiaan Sri Rama

Posted in Ramayana with tags , , on January 4, 2014 by triwidodo

dasharatha sumber www indianetzone com

Ilustrasi Raja Dasaratha memperhatikan Rama putra kesayangannya sumber: www indianetzone com

Salah Identitas Diri

“Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dasaratha, ayah Sri Rama menganggap bahwa aku adalah badanku, kelima inderaku, pikiranku. Yang bekerja adalah aku. Dan akhirnya dia mengalami penderitaan yang luar biasa. Demi untuk memperoleh putra, dia sampai kawin 3 kali dan dengan istri ketiga dia menjanjikan putranya akan menjadi putra mahkota. Kemudian karena belum juga memperoleh putra, Dasaratha tetap merasakan duka sampai akhirnya melakukan ritual persembahan agnihotra sesuai saran para resi. Dan, Dasaratha memperoleh 4 putra yang membuat dia bersukacita. Selanjutnya, demi mematuhi janji terhadap istri ketiga, Kaikeyi maka Dasaratha mengangkat putra istri ketiganya, Bharata sebagai putra mahkota dan mengasingkan Sri Rama di hutan. Bagi Dasaratha, kepentingan negara dan masyarakat banyak untuk memperoleh pemimpin negara yang baik sebagai pengganti dia pun dikalahkan oleh keinginan istri ketiganya. Dalam kisah Ramayana kebetulan Bharata adalah orang yang baik dan tidak mau naik tahta yang seharusnya menjadi hak Sri Rama. Akhirnya Dasaratha merasa sangat berduka karena telah mengirimkan Sri Rama ke hutan pengasingan. Karena sedihnya Dasaratha sampai meninggal dalam keadaan merana dan putus asa.

Karena ketidaktahuan, terciptalah kesan yang salah bahwa ada ‘aku’ dan ‘milikku’. Dari kesan yang salah itu lahirlah perasaan suka dan senang, tersanjung dan terhina, pujian dan makian, dan sebagainya. Bila kita melihat dunia melewati jendela ego dan dualitas, kita akan merasa suka dan senang. Itulah yang dialami Dasaratha. Bagaimana dengan kita?

Selama kita melihat dunia melalui jendela ego, jendela dualitas maka gelombang otak kita akan mengalami naik-turun yang significant dan kehidupan kita akan melalui pasang surut suka duka yang besar sehingga membuat kita selalu gelisah. Latihan meditasi membuat kita lebih tenang, karena gelombang otak akan relatif lebih tenang dan gelombang pasang surut kehidupan tidak begitu menyengsarakan kita.

Beda Dasaratha dan Sri Rama

“Terdorong oleh sifat dasar alam itu sendiri, setiap orang terlibat dalam pekerjaan. Namun ia yang penglihatannya kabur karena awan keangkuhan, merasa bahwa yang bekerja adalah dia.” Bhagavad Gita 3:27 (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam Bhagavata Vahini disampaikan: “Perhatikan perbedaan antara Dasaratha, sang ayah dan Rama, sang putra. Mereka berbeda seperti bumi dan langit. Untuk menyenangkan istrinya, untuk membuatnya bahagia dan puas, sang ayah siap untuk menanggung penderitaan paling berat. Ia mengirim anak kesayangannya menjalani pengasingan ke hutan! Sebaliknya, sang putra bersama istrinya ke hutan pengasingan, untuk menghormati hukum di kerajaannya! Dua cara menghayati kehidupan secara berbeda. Dasaratha kewalahan oleh ilusi bahwa ia adalah tubuh fisik, sedangkan Rama sadar bahwa ia adalah Atma.”

Dasaratha merasa dirinya adalah pelaku dan akhirnya kebingungan sendiri dan meninggal dalam keadaan menderita. Bukankah kita seperti Dasaratha, kita selalu berpikir kita telah melakukan hal yang benar, kita sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang kita inginkan, akan tetapi kita tetap saja dihadapkan lagi pada hal yang membuat kita menderita. Selama kita melihat dunia melalui jendela dualitas dan ego maka suka dan duka akan kita alami silih berganti.

Belajar dari Sri Rama

“Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-’aku’-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, ‘Aku Sejati’. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sri Rama tidak merasa sedih pergi bersama Sita dan Laskhmana ke hutan untuk menjalani pengasingan. Masalah yang dihadapinya adalah masalah utama dunia sejak zaman dahulu kala, yaitu “tadinya tidak ada kemudian nampak ada dan akhirnya akan tidak ada lagi. Mengapa harus bersedih?”

“Pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya bersedih hati?” Bhagavad Gita 2:28

Bapak Anand Krishna mengingatkan diri kita untuk mengendalikan pancaindera dengan pikiran. Kita perlu menaklukkan pikiran/emosi dengan intelejensia. Kita perlu berpikir jernih, “bahagiakah aku selama ini dituntun oleh pikiran/emosi? Mestikah aku  mengulangi pengalaman-pengalaman yang tidak membahagiakan itu? Tahap terakhir adalah menggunakan intelejensia untuk menemukan jatidiri. Siapakah aku? Sampai kita sadar sesadar-sadarnya bahwa aku bukan pikiran, bukan perasaan, bukan intelejensia, aku adalah wujud kebenaran sejati,  kesadaran murni, dan kebahagiaan abadi. Inilah Sat Chitta Ananda. Inilah meditasi, proses dan tujuannya. Menemukan kebahagiaan di dalam diri, sehingga tak akan mencarinya di luar diri.

Berserah Diri pada Tuhan

Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau (Shirdi Baba) bersabda : “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Agar kita tidak mengalami kedukaan Dasaratha, kita perlu berserah diri kepada Tuhan. Bapak Anand Krishna memberi nasehat:” Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Melepaskan Diri dari Azab Kutukan, Kisah Keyakinan dan Devosi Draupadi

Posted in Mahabharata with tags , on January 1, 2014 by triwidodo

Draupadi menyerahkan wadah penanak nasi kepada Sri Krishna sumber krishnamercy wordpress com

Ilustrasi Draupadi menyerahkan wadah penanak nasi kepada Sri Krishna disaksikan Pandawa sumber: Krishnamercy wordpress com

Devosi dan Cinta

“Ia Hyang Maha Benar dan Maha Adil adaNya Hanyalah tercapai lewat devosi dan cinta; Banyak peminta, banyak pula permintaan mereka; Ia Hyang Maha Memberi memenuhi semuanya; Apa yang dapat kuberikan padaMu? Bagaimana memasuki kerajaanMu? Bagaimana meraih kasihMu? Renungkan kemuliaanNya setiap pagi, dan segala akibat karma akan kau lampaui; kebebasan mutlak pun akan kau raih; Nanak berkata, Hyang Maha Benar itulah Kebenaran Sejati, tak ada kebenaran lain diluarNya.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Draupadi yakin dan selalu berdevosi terhadap Sri Krishna. Draupadi pernah mengalami mukjizat ditolong Sri Krishna sewaktu kain sarinya ditarik Dursasana dan tidak bisa habis. Setiap saat Draupadi mengingat dan menyebut Nama Sri Krishna dalam doanya. Dalam keadaan kritis Draupadi berserah diri pada Sri Krishna dan masalahnya pun terselesaikan.

 

Kutukan

Kata “kutuk” masih terdapat dalam kosa kata bahasa kita, seperti misalnya dalam berdoa kita mohon dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk. Walaupun zaman sudah modern, dalam diri kita masih terdapat kecemasan kuno terhadap azab yang datang akibat kutukan orang yang marah terhadap tindakan kita. Sesungguhnya kita memang takut terhadap azab sebagai akibat dari kesalahan tindakan kita sendiri. Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, Mahabharata dan berbagai legenda lokal, banyak diceritakan tentang kutukan terhadap mereka yang berbuat salah. Kutukan resi yang bertuah hanyalah pemicu datangnya azab akibat kesalahan diri sendiri. Dalam diri kita masih terdapat warisan genetika kecemasan tentang kutukan yang dapat memicu azab. Raja Yayati yang gagah perkasa leluhur Pandawa dikutuk Resi Shukracharya menjadi tua bangka. Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/11/16/dua-istri-membawa-masalah-kisah-raja-yayati-leluhur-pandawa/

Dewa Indra karena melecehkan karunia Ilahi pernah dikutuk Resi Durvasa sehingga tahtanya jatuh ke tangan para Asura. Silakan baca:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/09/keangkuhan-indra-dan-anugerah-bagi-mereka-yang-berkarya-tanpa-pamrih/

Ketakutan berbuat salah sehingga memperoleh kutukan, atau pun kegamangan melakukan kebenaran karena takut memperoleh resiko yang besar adalah warisan genetika yang turun temurun eksis dalam masyarakat yang perlu diperbaiki. Seorang Master harus melakukan upaya ekstra untuk memperbaiki kondisi yang rumit tersebut. Masyarakat yang sudah terikat erat dengan dualitas rasa suka-duka dan ego yang ingin menghindari penderitaan dan mengulangi kesukaan tanpa mempertimbangkan dharma kebenaran, membuat rumit karakter kita di zaman modern ini. Kelompok masyarakat yang sudah berani melakukan tindakan yang benar tanpa takut resiko dari tindakannya sudah selangkah lebih maju daripada kita, orang awam.

“Efek-efek trauma yang dialami Aji Saka yang membekas di bawah sadar orang Nusantara yaitu: Menghindari tukar pendapat; Memendam kemarahan; Tabu mempertanyakan status quo; Takut salah paham; danTakut melakukan kesalahan di luar petunjuk. Kelima hal ini menjadi semacam etika tidak tertulis bagi para pengguna bahasa ‘HaNaCaRaKa’. Tidak ada yang salah jika kelima nilai di atas ditempatkan pada porsinya yang pas. Memang sebaiknya kita menghindari: debat kusir, kemarahan, asal kritik, kesalahpahaman, dan melakukan sesuatu asal sesuai yang tertulis tanpa memahami intensitas latar belakang (taklid). Tetapi trauma berkepanjangan ini telah menjadikan penerapan nilai-nilai ini menjadi semakin berlebih-lebihan dari generasi ke generasi. Menjadi semakin kaku dari generasi ke generasi sehingga mematikan inisiatif, diskusi dan kebebasan berpikir. Dan lagi-lagi hal ini merupakan makanan empuk para atasan yang korup/penguasa yang rakus yang menyalahgunakan kepatuhan dan kepasifan rakyatnya/ bawahannya untuk dieksploitasi demi mempertahankan kekuasaannya. Diperparah lagi dengan sebagian pusaka-pusaka kekuasaan dan peraturan perundangan juga dibuat dengan misi-misi semacam ini.” Terjemahan dari kutipan (Krishna, Anand. (2012). The Wisdom of Sundaland. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Raja Duryodhana menjamu Resi Durvasa dan Sepuluh Ribu Muridnya

Dalam Bhagavata Vahini, Raja Parikshit cucu Arjuna mendengarkan kisah yang disampaikan Resi Vyasa kakek dari kakeknya tentang bagaimana Draupadi menyelamatkan Pandawa dari Kutukan Resi Durvasa. Pada masa itu Resi Durvasa sangat ditakuti para raja, karena seakan-akan sudah ada stigma bahwa kehadiran sang resi hanyalah untuk mengutuk mereka yang tidak dapat memuaskan beliau. Resi Durvasa sering digambarkan sebagai inkarnasi dari kemarahan.

Walaupun sudah berhasil mengasingkan Pandawa selama 12 tahun, dan menyita seluruh harta kekayaan mereka, Raja Duryodhana masih mengidap penyakit kebencian terhadap Pandawa. Dalam setiap kesempatan sang raja masih ingin mencelakakan para Pandawa. Kesempatan tersebut datang saat sang raja mendapat tamu Resi Durvasa bersama sepuluh ribu muridnya di Istana Hastina. Korawa tahu betul tuah kutukan sang resi, sehingga menjamu mereka selama 4 bulan dengan sebaik-baiknya agar sang resi puas. Sebelum pamit, Resi Durvasa berterimakasih kepada Duryodhana dan menanyakan kepada Raja Hastina tersebut untuk minta anugerah apa yang akan dikabulkan sang resi. Dengan tutur kata halus, Duryodhana seakan-akan menolak minta anugerah duniawi dan hanya meminta sang resi menemui Pandawa agar sang resi juga menerima pelayanan yang sama seperti saat bertamu di Istana Hastina. Resi Durvasa tertawa terbahak-bahak, karena memahami muslihat Duryodhana. Duryodhana yang culas tahu bahwa Draupadi mempunyai wadah penanak nasi mukjizat yang bisa memberi makan jumlah orang berapa pun. Akan tetapi ketika semua orang telah makan dan Draupadi terakhir makan dan mencuci wadah tersebut sampai bersih, maka wadah tersebut tidak dapat berfungsi lagi sampai keesokan harinya. Duryodhana meminta Resi Durvasa datang ke Pandawa yang sedang berada di hutan, pada waktu Draupadi telah mencuci wadah tersebut. Tentu saja Duryodhana berharap Resi Durvasa akan marah terhadap layanan Pandawa sehingga mereka dikutuk sang resi. Sang resi mengabulkan permintaan Duryodhana dan mohon pamit.

 

Kedatangan Sri Krishna

Resi Durvasa beserta sepuluh ribu muridnya bertamu kepada Pandawa dan minta disiapkan makanan dan akan makan setelah mereka mandi suci di sungai lebih dahulu. Pandawa dan Draupadi kebingungan karena wadah penanak nasi mukjizat sudah dicuci bersih sehingga tidak bisa difungsikan lagi. Pandawa berada dalam keadaan putus asa, azab kutukan sang resi sudah terbayang di depan mata. Sudah dicurangi Korawa, kini mereka diminta menerima resi pemarah yang gampang mengeluarkan kutukan bila tidak puas atas pelayanan yang diterimanya. Adalah Draupadi yang ingat pada Sri Kishna, sehingga dia mengajak Pandawa berdoa mohon pertolongan Sri Krishna.

Sri Krishna pun datang dan berkata bahwa dirinya sedang dalam keadaan lapar dan minta  disiapkan makanan. Draupadi membawa wadah penanak nasi mukjizat dan berkata pada Sri Krishna bahwa wadah tersebut sudah dicuci dengan bersih sehingga tidak ada nasi tersisa. Draupadi juga menambahkan bahwa mereka sedang kebingungan karena mereka harus menjamu Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya  yang sedang melakukan ritual mandi suci di tengah hari. Draupadi menyampaikan bahwa dirinya dan Pandawa yakin Sri Krishna bisa memberikan solusi. Sri Krishna tertawa dan berkata bahwa dia tidak melihat seorang pun akan datang ke kediaman Pandawa, apalagi dalam jumlah sepuluh ribu orang. Sri Krishna mengambil wadah tersebut dan memperhatikan dengan cermat dan kemudian berkata bahwa dia masih melihat satu butir nasi tersisa. Sri Krishna memakan satu butir nasi tersebut dan berkata bahwa rasa laparnya telah hilang. Sri Krishna kemudian minta Bhima memanggil Resi Durvasa dan para muridnya untuk menerima jamuan dari Pandawa. Pandawa dan Draupadi melihat bahwa setelah diambil sebutir nasi tersisa, wadah tersebut tetap kosong, akan tetapi mereka sangat yakin dengan Guru mereka, sehingga dengan resiko apa pun Bhima mematuhi perintah Sri Krishna untuk mengundang Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya.

 

Resi Durvasa Menghindari  Jamuan Makan Pandawa

Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya selesai mandi suci dan tiba-tiba merasa kenyang. Para muridnya takut kala dijamu Pandawa, perut mereka sudah tidak mampu menerima tambahan lagi. Mereka mengingatkan sang resi bahwa Pandawa adalah bhakta Sri Krishna yang merupakan wujud Sri Vishnu. Adalah sangat berbahaya tidak makan jamuan makan yang telah disediakan oleh mereka. Sebagian muridnya juga mengingatkan bahwa sang resi pernah dikejar Chakra Sudarsana kala membuat tidak senang Raja Ambarisha bhakta Sri Vishnu. Sang resi dan murid-muridnya akhirnya segera mencari jalan lain menghindar dari kediaman Pandawa. Bhima yang melihat mereka mencari jalan lain segera mencari jalan pintas untuk mencegat mereka. Bhima mengundang Resi Durvasa agar datang ke kediaman Pandawa untuk menerima jamuan makan mereka.

Resi Duvasa mohon maaf tidak dapat memenuhi undangan Pandawa, karena mereka telah kekenyangan. Bahkan sang resi berkata bahwa seteguk air dan sesuap nasi pun mereka tidak mampu lagi memasukkan ke dalam perut mereka. Resi Durvasa berterima kasih dan berkata bahwa Pandawa akan menjadi penguasa dunia dan Korawa yang dengan tipu-muslihat ingin menjatuhkan Pandawa akan menerima kehancuran total. Trust and devotion to God akan menyelesaikan masalah apa pun.

 

Trust and Devotion to God

Keyakinan dan bhakti adalah jalan keluar dari segala macam permasalahan. Inilah yang diajarkan Master untuk melampaui kerumitan pikiran diri kita.

“Aku memenuhi keinginan setiap orang yang mengucapkan nama-Ku dengan tulus, dan meningkatkan kesadaran Kasih di dalam dirinya. Siapapun yang mengagungkan kisah kehidupan-Ku dan ajaran-Ku, akan kulindungi dari segala macam mara bahaya. Para bhakta, para penyembah yang telah berserah diri, dan menyerahkan hati dan jiwanya kepada-Ku sudah pasti bahagia ketika mendengar dan membaca kisah kehidupan-Ku… Yakinilah setiap kata yang Kukatakan, mereka akan menyampaikan dan menyebarkan kisah kehidupan-Ku ini akan memperoleh kepuasan diri yang tak terungkapkan lewat kata-kata, kebahagiaan yang mereka rasakan sungguh luar biasa! Setiap orang yang memuja-Ku dengan penuh keyakinan, dan berserah diri dengan pikirannya terpusatkan kepada-Ku sudah pasti meraih kebebasan sempurna, ini adalah janji-Ku, ini pula sifat-Ku. Mereka yang senantiasa mengingat-Ku, tak pernah tergoda oleh rayuan dunia benda. Aku membebaskan mereka dari kebendaan, dan kematian. Orang sakit yang mendengar cerita-cerita ini akan terbebaskan dari penyakit. Sebab itu, hendaknya kisah-Ku ini didengar dan disebarkan dengan penuh keyakinan. Inilah jalan menuju kebahagiaan abadi dan kepuasan diri. Hanya dengan membaca dan mendengar kisah kehidupan-Ku, para panembah terbebaskan dari rasa angkuh yang mencelakakan. Bila mereka lakukan itu dengan penuh keyakinan dan dengan pikiran yang terpusatkan, maka mereka akan menyatu dengan Kesadaran Murni, Kesadaran Semesta.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014