Antara Ego dan Jatidiri, Antara Penderitaan Dasaratha dan Kebahagiaan Sri Rama

dasharatha sumber www indianetzone com

Ilustrasi Raja Dasaratha memperhatikan Rama putra kesayangannya sumber: www indianetzone com

Salah Identitas Diri

“Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dasaratha, ayah Sri Rama menganggap bahwa aku adalah badanku, kelima inderaku, pikiranku. Yang bekerja adalah aku. Dan akhirnya dia mengalami penderitaan yang luar biasa. Demi untuk memperoleh putra, dia sampai kawin 3 kali dan dengan istri ketiga dia menjanjikan putranya akan menjadi putra mahkota. Kemudian karena belum juga memperoleh putra, Dasaratha tetap merasakan duka sampai akhirnya melakukan ritual persembahan agnihotra sesuai saran para resi. Dan, Dasaratha memperoleh 4 putra yang membuat dia bersukacita. Selanjutnya, demi mematuhi janji terhadap istri ketiga, Kaikeyi maka Dasaratha mengangkat putra istri ketiganya, Bharata sebagai putra mahkota dan mengasingkan Sri Rama di hutan. Bagi Dasaratha, kepentingan negara dan masyarakat banyak untuk memperoleh pemimpin negara yang baik sebagai pengganti dia pun dikalahkan oleh keinginan istri ketiganya. Dalam kisah Ramayana kebetulan Bharata adalah orang yang baik dan tidak mau naik tahta yang seharusnya menjadi hak Sri Rama. Akhirnya Dasaratha merasa sangat berduka karena telah mengirimkan Sri Rama ke hutan pengasingan. Karena sedihnya Dasaratha sampai meninggal dalam keadaan merana dan putus asa.

Karena ketidaktahuan, terciptalah kesan yang salah bahwa ada ‘aku’ dan ‘milikku’. Dari kesan yang salah itu lahirlah perasaan suka dan senang, tersanjung dan terhina, pujian dan makian, dan sebagainya. Bila kita melihat dunia melewati jendela ego dan dualitas, kita akan merasa suka dan senang. Itulah yang dialami Dasaratha. Bagaimana dengan kita?

Selama kita melihat dunia melalui jendela ego, jendela dualitas maka gelombang otak kita akan mengalami naik-turun yang significant dan kehidupan kita akan melalui pasang surut suka duka yang besar sehingga membuat kita selalu gelisah. Latihan meditasi membuat kita lebih tenang, karena gelombang otak akan relatif lebih tenang dan gelombang pasang surut kehidupan tidak begitu menyengsarakan kita.

Beda Dasaratha dan Sri Rama

“Terdorong oleh sifat dasar alam itu sendiri, setiap orang terlibat dalam pekerjaan. Namun ia yang penglihatannya kabur karena awan keangkuhan, merasa bahwa yang bekerja adalah dia.” Bhagavad Gita 3:27 (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam Bhagavata Vahini disampaikan: “Perhatikan perbedaan antara Dasaratha, sang ayah dan Rama, sang putra. Mereka berbeda seperti bumi dan langit. Untuk menyenangkan istrinya, untuk membuatnya bahagia dan puas, sang ayah siap untuk menanggung penderitaan paling berat. Ia mengirim anak kesayangannya menjalani pengasingan ke hutan! Sebaliknya, sang putra bersama istrinya ke hutan pengasingan, untuk menghormati hukum di kerajaannya! Dua cara menghayati kehidupan secara berbeda. Dasaratha kewalahan oleh ilusi bahwa ia adalah tubuh fisik, sedangkan Rama sadar bahwa ia adalah Atma.”

Dasaratha merasa dirinya adalah pelaku dan akhirnya kebingungan sendiri dan meninggal dalam keadaan menderita. Bukankah kita seperti Dasaratha, kita selalu berpikir kita telah melakukan hal yang benar, kita sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang kita inginkan, akan tetapi kita tetap saja dihadapkan lagi pada hal yang membuat kita menderita. Selama kita melihat dunia melalui jendela dualitas dan ego maka suka dan duka akan kita alami silih berganti.

Belajar dari Sri Rama

“Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-’aku’-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, ‘Aku Sejati’. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sri Rama tidak merasa sedih pergi bersama Sita dan Laskhmana ke hutan untuk menjalani pengasingan. Masalah yang dihadapinya adalah masalah utama dunia sejak zaman dahulu kala, yaitu “tadinya tidak ada kemudian nampak ada dan akhirnya akan tidak ada lagi. Mengapa harus bersedih?”

“Pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya bersedih hati?” Bhagavad Gita 2:28

Bapak Anand Krishna mengingatkan diri kita untuk mengendalikan pancaindera dengan pikiran. Kita perlu menaklukkan pikiran/emosi dengan intelejensia. Kita perlu berpikir jernih, “bahagiakah aku selama ini dituntun oleh pikiran/emosi? Mestikah aku  mengulangi pengalaman-pengalaman yang tidak membahagiakan itu? Tahap terakhir adalah menggunakan intelejensia untuk menemukan jatidiri. Siapakah aku? Sampai kita sadar sesadar-sadarnya bahwa aku bukan pikiran, bukan perasaan, bukan intelejensia, aku adalah wujud kebenaran sejati,  kesadaran murni, dan kebahagiaan abadi. Inilah Sat Chitta Ananda. Inilah meditasi, proses dan tujuannya. Menemukan kebahagiaan di dalam diri, sehingga tak akan mencarinya di luar diri.

Berserah Diri pada Tuhan

Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau (Shirdi Baba) bersabda : “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Agar kita tidak mengalami kedukaan Dasaratha, kita perlu berserah diri kepada Tuhan. Bapak Anand Krishna memberi nasehat:” Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: