Menghadapi Kematian? Cara Asura atau Cara Ilahi? Kisah Kamsa dan Parikshit

Srimad Bhagavatam sumber krishnasharanam blogspot com

Ilustrasi Resi Suka mengisahkan Srimad Bhagavatam kepada Parikshit sumber: krishnasharanam blogspot com

Ketakutan Kamsa

“Rasa takut yang paling mengerikan, yang selalu menghantui kita, adalah rasa takut akan kematian, begitu kita melampaui rasa takut akan mati, kita berada di luar jangkauan maut. Kematian pun akan kita terima dengan tangan terbuka. Kematian pun dapat dijadikan perayaan. Apabila Anda menerima kehidupan seutuhnya, Anda tidak akan hanya merayakan kelahiran, tetapi Anda juga akan merayakan kematian. Ia yang sudah tidak takut mati, tidak dapat dibuat takut oleh siapa pun lagi. Itulah sebabnya, Krishna mengatakan bahwa ia berhak atas kehidupan abadi.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kamsa takut sekali akan datangnya kematian terhadap dirinya. Kamsa akhirnya tahu bahwa ancaman kematiannya datang dari anak kedelapan Vasudeva dan Devaki. Karena takut mati, Kamsa kemudian membunuh 6 bayi yang lahir dari Devaki dan memenjarakan Vasudeva dan Devaki dengan pengawasan yang ekstra ketat. Bayi ketujuh hilang dari kandungan Devaki, sedangkan bayi kedelapan melalui keajaiban selamat dibawa ke rumah Nanda dan Yasoda untuk ditukar dengan bayi Yasoda dan dibawa kembali ke penjara. Bayi yang dibawa dari Yasoda yang dianggap anak kedelapan Devaki tersebut juga dibunuh oleh Kamsa. Setelah Kamsa tahu bahwa bayi kedelapan Devaki selamat dan berada di rumah Nanda dan Yasoda dan bernama Krishna, maka Kamsa pengirimkan para asura pembunuh untuk membunuh Krishna. Demikian kisah di Srimad Bhagavatam tentang orang yang takut akan datangnya kematian dan tahu penyebab kematiannya. Kemudian dia menghalalkan segala cara untuk memusnahkan penyebab kematiannya. Seandainya Kamsa diberitahu Resi Narada bahwa penyebab kematiannya adalah Ular, kemungkinan seluruh ular di kerajaannya akan dimusnahkan, dengan cara apa pun.

Firaun lebih ganas daripada Kamsa, dia membuat peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki Bani Israel yang lahir. Tindakan itu diambil karena para astrolog Kerajaan Mesir mengatakan bahwa kekuasaan Fir’aun akan jatuh ke tangan seorang laki-laki dari Bani Israel. Karena ketakutan, dia memerintahkan setiap rumah Bani Israel digeledah dan jika ditemukan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.

Menganggap Tubuhnya sebagai “Diri”nya

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kamsa merasa bahwa dirinya adalah badannya, sehingga takut sekali badannya tak bernyawa karena dibunuh oleh Krishna. Oleh karena itu dengan segala cara Kamsa ingin melenyapkan Krishna, agar badannya tetap bernyawa. Sebaliknya Parikshit tidak takut mati, dia tidak bertindak ala Kamsa, dia tidak mau membunuh semua ular agar tidak ada ular yang dapat membunuhnya. Parikshit tahu bahwa dirinya adalah jiwa yang menghuni badan dan jiwa tidak mati. Parikshit ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mencapai Tuhan. Dalam Bhagavata Vahini cara Kamsa menghadapi ancaman kematian tersebut disebut cara Demoniac , cara Asura. Sedangkan cara Parikshit dalam menghadapi ancaman kematian disebut cara Deva, cara Ilahi.

Parikshit Tidak Takut Mati

“Selama Anda masih dibebani oleh berbagai keinginan dan harapan, Anda sebenarnya tidak bebas. Untuk membebaskan diri Anda, semuanya harus dilepaskan. Terakhir, Anda akan menemukan hanya satu keinginan, yaitu keinginan untuk pembebasan itu sendiri. Keinginan itu pun harus dilepaskan, namun jangan sekarang. Pertama-tama gunakan keinginan untuk pembebasan ini sebagai jarum tajam untuk mengeluarkan duri yang menusuk kaki Anda. Anda tertusuk oleh begitu banyak duri, yaitu berbagai keinginan dan harapan Anda. Setelah selesai, jarum itu pun harus dilepaskan. Moksha berarti pembebasan. Sanyas berarti pelepasan — melepaskan keinginan untuk pembebasan itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 355

Setelah tahu seminggu lagi dia akan meninggal karena digigit ular, Parikshit segera melepaskan semuanya, tahtanya diserahkan kepada putranya dan dia kemudian meninggalkan kerajaannya. Parikshit menuju Sungai Gangga untuk bertemu dengan para suci meminta nasehat apa yang sebaiknya dia lakukan dalam 7 hari menjelang kematiannya. Adalah karena tumpukan kebaikan yang telah dilakukannya dan datangnya berkah karunia Ilahi, maka Parikshit dapat bertemu Guru Suka yang memandunya menghadapi kematian.

Kita semua tahu kematian akan menjemput kita. Akan tetapi sudahkah kita meneladani Parikshit untuk melepaskan diri dari berbagai keterikatan?

Apa yang Terpikir Saat Ajal Tiba

“Apa yang terpikir sepanjang hidup, itu pula yang terpikir saat ajal tiba, karena kematian adalah perpanjangan atau kelangsungan dari kehidupan. Kemudian ia melingkar dan bertemu kembali dengan titik kelahiran. Kejahatan sepanjang usia tidak dapat dipisahkan dari saat ajal tiba. Saat ajal tiba tidak dapat dipisahkan dari saat kelahiran. Tanggal kelahiran dan tanggal kematian mungkin adalah dua tangga yang berbeda, namun kedua tanggal itu dipertemuan oleh hidup saat ini. Kelahiran adalah kepastian yang sudah berlalu. Kematian adalah kepastian yang akan datang. Diantara kedua kepastian itu adalah kehidupan kita.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Orang yang selalu memikirkan keluarganya selama hidupnya, maka pada saat ajalnya dia juga berpikir tentang keluarga tersebut dan dia akan lahir lagi di dunia meneruskan obsesinya yang belum selesai pada keluarga tersebut. Orang yang selalu memikirkan membesarkan perusahaannya selama hidupnya, pada saat ajalnya juga berpikir tentang perusahaannya dan dia akan lahir lagi ke dunia lagi meneruskan obesinya yang belum kesampaian. Itulah sebabnya para raja zaman dahulu setelah pensiun melakukan Vanaprastha, meninggalkan tahta pergi ke Vana, hutan untuk melepaskan keterikatan pada dunia, agar pada saat ajal tiba yang terpikir bukan duniawi lagi. Itulah sebabnya banyak agama yang mengajarkan agar pada saat ajal tiba menyebut nama Tuhan, sehingga bisa mencapai Tuhan.

Demikianlah Parikshit meninggalkan obsesi duniawi, sisa hidupnya digunakan hanya untuk berfokus pada Krishna, agar pada saaat ajal tiba yang terpikir hanyalah Krishna, sehingga tidak perlu lahir lagi di dunia. Beruntunglah Parikshit, karena niat yang kuat, tumpukan kebaikan yang dikerjakannya selama hidupnya, dan berkah karunia Tuhan maka dia bertemu Resi Suka putra Vyasa yang memandunya mengingat Tuhan menjelang kematiannya. Akhirnya pada saat ular menggigitnya, yang terpikir oleh Parikshit hanyalah Krishna.

Adalah hal di luar perkiraan orang awam bahwa begitu takutnya Kamsa terhadap Krishna, sehingga yang dipikir Kamsa hanyalah Krishna. Saat ajal tiba pun yang dipikir hanyalah Krishna. Pikiran Kamsa berpusat hanya pada Sri Krishna, setiap saat, ketika ia sedang makan, bepergian, istirahat, tidur, dan bahkan ketika ia sedang bernapas yang ada dalam pikirannya hanyalah Krishna! Oleh karena itu, meskipun Kamsa adalah orang yang berdosa besar dan jahat, ia dapat mencapai  Sri Krishna tanpa melalui kelahiran kembali dan penuh kebahagiaan. Pada saat ini adakah orang yang sangat membenci Tuhan, sehingga setiap saat yang dipikir hanya Tuhan? Mungkin yang ada adalah orang yang membenci kelompok atau keyakinan yang berbeda.

Eka Grata, One-Pointedness

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan. Para sufi dan mistik, para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini. Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila. Jakarta: Koperasi Global Anand Krishna)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: