Renungan Diri: Sinta terpisah dari Rama terpikat Kijang Emas, kita jauh dari Tuhan sebab Keduniawian

 

laxman-rekha-sita-aranya-kand

Ilustrasi Garis Laksmana sumber gambar Ritsin com

“Dalam kisah Ramayana kita membaca tentang pengalaman Dewi Sinta. Melihat seekor kijang yang berwarna emas, ia kehilangan kesadaran diri. Rama, sang suami mengatakan, ‘Itu bukan kijang, pasti siluman.’ Sinta malah berang, ‘Sudahlah, bila kau memang tidak ingin menangkapnya untukku, ya sudah.’

“Rama masih berusaha untuk menjelaskan, ‘Pernahkah kau mendengar tentang kijang berwarna emas? Itu bukan kijang, bukan kijang biasa.’

“Justru karena itu,” jawab Sinta, ‘karena memang bukan kijang biasa, aku menginginkannya. Tapi tak apa, bila kau tidak mau menangkapnya.’

“Merasa kejantanannya ditantang, Rama pergi untuk menangkap kijang siluman itu. Beberapa saat kemudian, ketika kijang itu rebah kena panah Rama, ia pun kembali pada wujud aslinya… wujud raksasa. Ia meniru suara Rama dan berteriak, ‘Sinta, Sinta…’

“Pikir Sinta, Rama yang berteriak. Barangkali terjadi sesuatu; maka ia minta supaya Laksmana, adik Rama, menyusul dan melihat apa yang terjadi.

“Laksmana berusaha untuk meyakinkan kakak iparnya, ‘Tidak terjadi sesuatu pada kakak. Itu pasti ulah kijang siluman. Ia meniru suara kakak.’

“Sinta berang, ia menuduh Laksmana tidak peduli terhadap kakaknya. Laksmana tidak tahan dengan tuduhan itu dan meninggalkanSinta lalu menyusul Rama. Tetapi sebelumnya ia berpesan, ‘Kakak, janganlah sekali-kali keluar dari gubuk ini.’ Dia sudah memiliki firasat yang kurang baik.

“Sinta tidak mengindahkan nasihat Laksmana, ia keluar dari gubuk, dan diculik oleh Rahwana.

Saat itu Rahwana menyamar sebagai seorang pendeta yang datang untuk minta sedekah. Di luar gubuk ada garisyang dibuat oleh Laksmana dengan ujung panahnya. Sinta tidak perlu keluar dari garis itu, tetapi karena tertipu oleh samara Rahwana, ia keluar juga dan terpisahkan dari Rama.

“Dalam tradisi India Kuno, kisah Ramayana ini selain merupakan bagian dari sejarah masa lalu juga mengandung makna filosofis. Rama ibarat Tuhan; Sinta adalah manusia yang terpisahkan dari-Nya, karena ketertarikannya pada kijang emas yang mewakili harta-benda, keduniawian. Laksmana adalah kesadaran dalam diri manusia. Bila kita tidak sadar, atau melakukan sesuatu secara tidak sadar, diculiklah kita oleh dunia.

“Garis kesadaran yang dibuat oleh Laksmana memang membatasi gerak-gerik kita, tetapi pembatasan itu demi kebaikan kita sendiri. Pembatasan itu pun karena ulah kita. Bila kita bisa hidup tanpa ketertarikan dan ketertarikan padaa dunia benda, pembatasan itu tidak dibutuhkan.”  (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Seorang guru membatasi gerak-gerik kita. Ia melarang kita untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran kita. Ia membuat garis pembatas, ‘Garis Laksmana’. Kita pikir ia membatasi kebebasan kita. Kita berontak, dan terseretlah kesadaran kita ke bawah.

Kita belum siap; belum cukup dewasa, tapi sudah mau bertamasya di kebun raya dunia seorang diri. Kita menolak uluran tangan seorang pemandu. Kita menyangsikan itikad baik Sang Pemandu, maka tersesatlah kita di tengah belukar dunia.

Ada kalanya kita menerima uluran tangan pemandu, tetapi tidak percaya dengan pengetahuannya. Penerimaan kita masih setengah-setengah. Hal itu pun tidak berguna. Lebih baik tidak menerima uluran tangannya.

Seorang Pemandu mengajak kita ke suatu tempat lewat jalan tikus; kita ragu, ‘Mau dibawa kemana kita?’ Jika memang sudah memutuskan untuk dipandu, percayailah pemandu.

Keraguan kita terlambat dan tidak pada tempatnya. Seharusnya kita berpikir secara matang sebelum menjatuhkan pilihan. Lebih-lebih lagi kita ingin dipandu tetapi menginginkan sang pemandu mengikuti perintah kita. Terdengar lucu bukan? Tetapi, itulah yang sering terjadi.

Kita tidak tahu jalan, dan tidak mau mengikuti petunjuk sang pemandu, padahal dia berada di samping kita. ‘Kau harus mengantarku ke tujuan dalam waktu sesingkat mungkin, tetapi haris lewat Jalan AX.’ Kita menentukan jalan dan tujuan, padahal tidak tahu jalan; dan baru membaca atau mendengar saja tentang tujuan. Sementara itu, sang pemandu sudah pernah sampai tujuan. Anehnya, kita lebih percaya pada ketidaktahuan kita daripada pengetahuan seorang pemandu.

Guru saya pernah mengatakan, ‘Untuk apa kau meditasi? Cintailah sesamamu, itulah meditasimu!;

Tentu saja hal it tidak berarti bahwa meditasi tidak efektif. Bagaimana kita mencintai tanpa meditasi, tanpa kesadaran.? Saya mengartikan kata-kata Sang Guru sebagai perintahnya untuk menjalankan meditasi dalam  keseharian hidup. Untuk melakoninya lewat cinta kasih.

Kita harus belajar untuk mempercayai orang yang telah kita pilih sendiri untuk menjadi pemandu. Kita boleh berhadapan dengan seorang pemandu sekaliber Yesus, tetapi bila tanpa iman tak akan terjadi apa-apa. Tanpa iman, manusia sekadar tulang-belulang, daging dan darah; dengan iman ia adalah jiwa agung yang tidak pernah mati. Tanpa iman, kita hanyalah badan yang ada untuk sesaat. Dengan iman, kita adalah jiwa yang ada untuk selamanya.”  (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: