Archive for August, 2016

Ganesha, Penghancur Segala Rintangan dalam Mencapai Tujuan

Posted in Inspirasi Rohani on August 31, 2016 by triwidodo

1 Ganesha plus mantra

Ganesha yang berkepala gajah disebut Ganapati, Pemimpin Para Gana. Gana merupakan semua makhluk dari hewan kecil, hewan besar, manusia dan makhluk yang lebih halus. Manusia harus menghormati dan melayani semua makhluk, Gana, kemudian manusia tersebut akan dihilangkan segala rintangan dalam kehidupannya. Sebelum mencapai Bunda Ilahi, manusia harus mendapat restu dari Ganesha, “aku”-nya sudah meluas menjadi “kita”. Manusia yang bertindak, menghormati dan melayani kepentingan umum, kepentingan alam semesta dan bukan hanya kepentingan diri pribadi. Untuk mencapai keadaan tersebut, manusia harus melakukan “good karma”, “karma yoga”, melayani kepentingan umum dan alam semesta.

 

Ganesha dikenal sebagai dewa, suatu kekuatan ilahi pembawa keberuntungan dan penghancur segala rintangan. Ia juga dikenal sebagai kekuatan kebijaksanaan, kesejahteraan, kesehatan dan kebahagiaan. Pun ia dikenal sebagai salah satu dari lima kekuatan utama keilahian, Brahma – Penciptaan, Vishnu – Pemeliharaan, Shiva – Pendaur-ulang, Shakti – Energi, Kekuatan dan Ganesha – Pembawa keberuntungan dan penghancur rintangan. Tugas Ganesha dalam diri adalah sebagi penjaga kesadaran.

Dikisahkan kala Dewi Parvati sedang mandi, dia ingin dijaga agar pembersihan dirinya dapat berjalan dengan sempurna. Sang Dewi meminta Nandi, lembu Shiva untuk menjaganya. Semua gangguan ditahan oleh Nandi, akan tetapi saat Shiva datang, Nandi mengenalinya dan membiarkan Shiva masuk ke rumah Parvati. Sang Dewi kurang berkenan, harus ada penjagaan, harus diketahui olehnya lebih dulu sebelum seseorang memasuki rumahnya. Walaupun Shiva yang datang dia harus tahu. Kemudian Sang Dewi menciptakan seorang anak bernama Ganesha yang diciptakan dari pasta kunyit pembersih diri.

Pada suatu saat Shiva dengan pasukannya datang dan Shiva ingin masuk tetapi ditahan oleh Ganesha, “Saya harus lapor dahulu kepada Bunda sebelum Kau masuk!” Shiva tersinggung dan menyuruh pasukannya menyingkirkan Ganesha, akan tetapi seluruh pasukan Shiva dapat dikalahkan sang anak. Shiva marah dan kemudian turun tangan sendiri dan akhirnya dapat memenggal kepala Ganesha. Sang Dewi (wujud kekuatan, shakti) marah, “Aku harus sadar, baik kebaikan ataupun keburukan yang datang, aku harus tahu, untuk itulah aku menciptakan Ganesha! Alam akan kumusnahkan bila dia tidak hidup kembali. Kemudian setiap makhluk harus memuja dia sebelum melakukan sesuatu agar dilindungi olehnya!”

Shiva mengakui kesalahannya dan Brahma, Sang Pencipta datang, berupaya menenangkan Sang Dewi. Dan, kemudian Brahma meminta pasukannya untuk mencari secepatnya makhluk yang sedang lewat untuk dipotong kepalanya untuk menggantikan kepala Ganesha. Pasukan Brahma datang membawa kepala Gajah yang kemudian dipasangkan sebagai pengganti kepala Ganesha, dan Ganesha hidup kembali. Shiva mengakui bahwa Ganesha adalah putranya dan disebut Ganapati, raja dari semua jenis makhluk.

Dewi Parvati adalah salah satu wujud dari Parashakti, Energi Agung, Energi Awal Mula. Parashakti tersebut juga ada dalam diri manusia. Saat manusia sedang mensucikan dirinya, dia dijaga Nandi, karakter Ilahi dalam diri, sehingga segala gangguan dijaga, tetapi saat keilahian datang dia mengenalinya, sehingga dia membiarkan keilahian datang tanpa sepengetahuan orang yang sedang mensucikan dirinya. Shakti dalam diri ingin dirinya sendiri sadar walau siapa pun yang datang, maka dia menciptakan Ganesha yang menjaganya dengan setia, tidak membedakan yang baik atau yang buruk datang. Ganesha adalah penjaga rahasia Sang Dewi dalam diri. Ketika Shiva, sebagai penguasa Ilahi datang dia pun harus memberitahukan kepada Sang Dewi yang bersemayam di dalam diri. Shiva akhirnya memenggal kepala Ganesha, Shiva ingin memotong ego, identitas tingkat rendah yang menjaga Sang Sewi. Sang Dewi marah, dan berkata bahwa tanpa ego, jiwa akan kehilangan minat untuk hidup. Segala ciptaan akan hancur. Bila semua makhluk tanpa ego, maka tidak ada panggung sandiwara kehidupan. Shiva mengakui kebenaran Sang Dewi. Akhirnya ego yang rendah tingkatnya digantikan dengan ego yang meluas, kepala yang kecil digantikan dengan kepala Gajah yang besar. Pada waktu seseorang mensucikan dirinya, maka egonya meluas, dari “aku” yang sempit berganti kepada “kita yang meluas”. Sebelum ego terpenggal orang harus melalui keadaan ego yang meluas. Orang yang egonya terpenggal sudah tidak sesuai sistem dunia, dia perlu melanjutkan evolusi entah ke dunia mana……

Kisah pemotongan kepala Ganesha sebenarnya adalah kisah yang perlu dicerna lebih dalam. Kala Sati, istri Shiva dipermalukan oleh Daksa ayah Sati, sampai Sati membakar diri, akhirnya Daksa dipotong kepalanya oleh Shiva dan diganti kepala kambing. Pemotongan kepala Daksa bermakna pemotongan ego, sehingga Daksa bisa menjadi seorang bhakta. Kini Sati telah ber-reinkarnasi sebagai Parvati, istri Shiva dan Ganesha penjaganya dipotong kepalanya oleh Shiva dan diganti kepala Gajah. Penggantian kepala gajah ini bisa dimaknai peningkatan kebijaksanaan.

Ganesha yang berkepala gajah disebut Ganapati, Pemimpin Para Gana. Gana merupakan semua makhluk dari hewan kecil, hewan besar, manusia dan makhluk yang lebih halus. Manusia harus menghormati dan melayani semua makhluk, Gana dan kemudian manusia tersebut akan dihilangkan segala rintangan dalam kehidupannya. Sebelum mencapai Sang Dewi, manusia harus mendapat restu dari Ganesha, “aku”-nya sudah meluas menjadi “kita”. Manusia yang bertindak, menghormati dan melayani kepentingan umum, kepentingan alam semesta dan bukan hanya kepentingan diri pribadi. Untuk mencapai keadaan tersebut, manusia harus melakukan “good karma”, “karma yoga”, melayani kepentingan umum dan alam semesta.

Memperhatikan simbol Ganesha, nampak bahwa wahana, kendaraan Ganesha adalah tikus. Tikus merupakan simbol dari hewan rendah dan Gajah adalah simbol hewan tertinggi dan terkuat. Tubuh manusia berkepala gajah dan mengendarai tikus, mewakili wujud semua makhluk. Dalam simbol para dewa, kekuatan Ilahi dapat dilihat bahwa hampir semua dewa mengendarai asura/hewan yang telah dikalahkannya. Demikian juga Ganesha telah mengalahkan tikus keserakahan.

Kepala dan telinga yang besar memiliki makna bahwa ia telah mempunyai kebijaksaan yang besar lewat mendengar dan merenungkan kebenaran. Mulut Ganesha kecil, dia sedikit berbicara. Matanya juga kecil, dia pandai berkonsentrasi. Kepala berbelalai melengkung adalah simbol aksara Om. Om adalah suara awal. Kemudian gajah adalah vegetarian dan mempunyai sifat yang tenang walau dia menyimpan kekuatan yang luar biasa. Belalai gajah dapat melakukan tindakan kasar seperti mencabut pohon ataupun mengambil helai jerami yang kecil. Ini merupakan simbol kekuatan memilah, viveka.

Di tangan kanannya, Ganesha memegang kait ankusa dan di tangan kirinya memegang jerat paasa. Dia menjinakkan pikiran yang liar dan kemudian mengikatnya agar tetap dekat dengan keilahian. Dia juga memegang sepiring manisan Mothakam. Manisnya pengetahuan dan sukacita saat melakukan perjalanan spiritual. Perut besar Ganesha berisi seluruh alam semesta. Dia mampu menerima dan mencerna pengalaman apa pun. Kaki Ganesha yang satu menapak di tanah sedang lainnya mengarah di atas. Dia hidup di dunia seperti manusia, tetapi sebagian kakinya berpijak pada keilahian. Di dekat kaki Ganesha tersedia berbagai jenis makanan. Lambang dari kesejahteraan. Gading Ganesha dipakai untuk menghancurkan kejahatan dan potongan gading yang dipegang digunakan untuk menulis. Dikisahkan bahwaGanesha menulis Mahabharata. Ganesha mengorbankan kekuatannya untuk menulis. Diperlukan pengorbanan untuk menulis pengetahuan yang berguna.

Di hutan belantara duniawi, ketika Gajah Ganesha bergerak, ia membuat jalan bagi para pengikutnya. Perjalanan para pengikutnya lebih mudah setelah  rintangan di depan dibersihkan oleh Ganesha. Ganesha dalam diri adalah wisdom, kebijaksanaan sebagai pembuka jalan. Ganesha memiliki kekuatan ilahi yaitu Siddhi (kekuatan batin) dan Ridhi (kemakmuran)…….. Bila seseorang membangkitkan Ganesha dalam diri, maka otomatis Shiva dan Shakti akan hadir mendampingi sang putra……..

Foto Ganesha di Dworowati Solo

Advertisements

Dan, Arjuna pun “sungkem” kepada Penjagal Daging

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 27, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra arjuna minta nasehat kriahna

“Menjadi seorang pencinta Allah berarti tidak mengharapkan sesuatu dari siapa pun juga. Entah itu anak sendiri atau sahabat karib, bahkan tidak mengharapkan sesuatu dari Allah, dari Tuhan. Berserah diri sepenuhnya, “Engkau Maha Tahu, Tuhanku….. Engkaulah Maha Mengetahuai….”

“Jangan mengharapkan anak Anda akan menyantuni Anda di masa tua nanti. Besarkan dia, berikan dia pendidikan tanpa harapan apa pun juga. Bila Anda mengharapkan sesuatu dan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan itu, Anda pun kecewa.” Nasehat tersebut di atas mengawali kisah Arjuna, Krishna dan Penjagal Daging berikut:

 

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Arjuna sangat dekat dengan Sri Krishna, maka timbullah ego baru — ego spiritual. Seolah-olah dirinya sudah hebat.

Pada suatu hari, Arjuna hendak bepergian ke kota lain, dan Krishna menitipkan satu karung beras, “Arjuna, berikan karung ini kepada seorang temanku. Kebetulan dia tinggal di kota itu.”

Arjuna merasa aneh. “Satu karung beras?” pikir dia. Bila dia memang miskin, kenapa tidak dibantu saja? Krishna seorang Raja, dan tentu saja bisa memberikan pekerjaan, atau uang sehingga dia membuka usaha sendiri. Apa arti satu karung beras? Mau makan sampai kapan? Aneh, aneh, aneh…..

“Biarlah aku membantu dia. Tidak perlu membawa beras dari sini,” kata Arjuna.

“Tidak, tidak….. Bawalah beras ini. Satu karung ini sudah cukup untuk dia.” Sri Bhagavan menanggapinya.

Arjuna mungkin berpikir, “Pelit banget kamu… Pemberian ini tidak cocok dengan derajatmu. Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu. Demikian pula anjuran kitab-kitab suci.”

Memang demikian anjuran kitab-kitab suci, “Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu.” Dana-punia atau sedekah tidak bisa diseragamkan. Berilah sesuai dengan kesadaranmu, bila penghasilanmu meningkat, meningkat pula. Sebaliknya, bila penghasilanmu tidak seberapa, janganlah engkau memberi hanya karena rasa malu atau merasa wajib memberi.

Terpaksa, Arjuna harus mengangkutkarung beras itu. Sampai di kota tujuan, Arjuna mencari alamat “sahabat Krishna”. Ternyata dia seorang penjual daging. “Achhhhh, sungguh menjijikan. . ..,” pikir Arjuna.

Lebih-lebih lagi, ketika dia melihat si penjual daging itu menimbang jualannya sembari mengucapkan nama Tuhan, “Hari Bol, Hari Bol, Hari Bol…” Ucapkan Nama Dia Yang Maha Menyelamatkan, Maha Membebaskan….

Arjuna tidak memahami maksudnya, “Menyelamatkan dari apa, membebaskan dari apa? Siapa pula yang harus menyelamatkan diri dan membebaskan? Bukankah manusia harus berupaya sendiri untuk itu?”

Dia tidak paham bahwa si penjual daging sedang berdoa agar dirinya terbebaskan dari kesadaran badaniah, lahiriah.

Arjuna menegurnya dengan nada kesal, “Ini, aku membawakan satu karung beras untukmu.”

“Satu karung beras? Untuk apa? Dari siapa?”, tanya si penjual daging.

“Dari Sri Krishna. Karung beras ini titipan ini titipan dari beliau.”

“Kalau begitu, anda pastilah Prabhu Arjuna.”

“Ya, aku memang Arjuna.”

“Beruntung sekali aku, bisa bertemu dengan Sang Prabhu. Silakan masuk ke dalam.”

Masuk dalam ke mana? Duduk di mana? Arjuna masih belum “bebas” dari kesadaran wujud. Dia tidak bisa melihat kebenaran di balik wujud, “Mungkin lain kali saja… Saya masih banyak urusan dan harus segera berpulang ke Hastinapura.

Penjual daging tersenyum. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, “Ya, mungkin lain kali. Begitu pula dengan karung beras ini, mungkin lain kali saja.”

“Apa maksudmu?”

“Persediaan beras di rumah masih cukup untuk dua hari mendatang. Aku berterima kasih kepada Sri Krishna, tetapi tidak bisa menerima kirimannya. Aku juga berterima kasih kepada Sang Prabhu, karena sudah bersusah payah datang khusus untuk mengantar beras ini.”

“Kamu tidak mau menerima kiriman ini karena masih memiliki persediaan untuk dua hari mendatang? Demikian katamu tadi?”

“Ya, Sang Prabhu. Dan, selama ini aku tidak pernah kelaparan. Keluarga pun berkecukupan. Untuk apa menimbun beras? Dia memenuhi segala kebutuhanku selama ini. Dan akan memenuhi pula di kemudian hari.”

Solid… dua puluh empat karat emas murni. Logam mulia. Dialah seorang Bhakta. Dialah seorang pencinta Allah, bukan mereka yang sibuk menimbun harta dan kemudian “sekian persen dari harta itu disumbangkan untuk membangun tempat-tempat ibadah. Atau dibagikan kepada fakir miskin. Mereka adalah para pencinta “sekian persen”. Cinta mereka sebesar persentase sumbangan mereka. Cinta mereka belum seratus persen. Penyerahan diri mereka belum sampurna. Bahkan, sesungguhnya mereka belum berserah diri.

Arjuna baru sadar, “Engkaulah seorang Bhakta, seorang pencinta sejati.” Dan dia bersungkam mencium kaki si penjual daging itu.

“Untuk mencapai ketinggian Kasih, tidak perlu melepaskan dunia dan kewajiban-kewajiban duniawi. Yang perlu dilepaskan hanyalah keinginan untuk memperoleh imbalan.”

Melepaskan keinginan untuk memperoleh imbalan berarti membebaskan diri dari segala macam tuntutan, sekaligus membebaskan diri dari konflik serta kekerasan yang bisa terjadi karena tidak terpenuhinya tuntutan.

Melanjutkan kisah kita …. ..

Arjuna menyadari ketololan diri. Tetapi masih bingung, “Seorang Bhakta, seorang pencinta — dan berprofesi sebagai penjagal! Seorang Bhakta dan engkau membiarkan dia bekerja sebagai penjagal.”

Krishna menanggapi keluhan Arjuna dengan senyuman, “Masih ingat perang dahsyat di Kurukshetra?”

“Tentu, Krishna… tentu, masih ingat betul.”

“Saat itu, ‘Aku’ pun menjadi penjagal. Tanganmu ‘Ku’-gunakan untuk membunuh Kurawa dan pendukung-pendukung mereka.”

“Saat itu kita ‘melawan’ kezaliman dan ketidakadilan. Lain halnya dengan seorang penjagal. Dia melakukan kezaliman, ketidakadilan terhadap hewan-hewan tak bersalah.”

Kriishna mengucapkan satu kata, hanya satu kata, “Lihatlah! – Behold”…  Dan, Arjuna melihat Krishna berubah wujud menjadi penjagal. Seruling di tangannya berubah menjadi pisau untuk memotong daging.

Lagi-lagi Arjuna tersadarakan bahwa “Krishna” berada di mana-mana. Di dalam diri Raja Dvarka dan di dalam diri penjagal biasa, yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Maitreya, Mitra Dunia Menunda Masuk Nirvana Kembali Ke Pasar Dunia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 25, 2016 by triwidodo

1 Buddha Ketawa

“Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.”

Dalam buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan urut-urutan Melangkah dalam Zen:

  1. Mencari Sapi yang Hilang
  2. Menemukan Jejak Sapi
  3. Melihat Ekor Sapi
  4. Menjinakkan Sapi
  5. Terjinakkannya Sapi
  6. Pulang ke Rumah
  7. Menikmati Ketenangan
  8. Keheningan
  9. Kembali ke Sumber
  10. Mengunjungi Pasar Dunia

Silakan search google: gita kehidupan sepasang pejalan renungan zen

Seseorang yang telah mencapai langkah ke-10, Mengunjungi Pasar Dunia digambarkan berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia miliki dibungkus dan diikat pada tongkat tersebut.

Silakan simak penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku Zen Bagi Orang Modern berikut:

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia miliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyimpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali dirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya saru: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap-Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Foto Mi Le, Maitreya di Dworowati Solo

Dewi Sri, Kemuliaan dan Kemakmuran Menghampiri Para Pekerja Keras

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 23, 2016 by triwidodo

1 Dewi Sri shreeye namaha

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

“Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

“Arjuna adalah Calon Kuat untuk menjadi Yogi – Untuk hidup dalam Kesadaran Yoga, yakni hidup dengan penuh kesadaran bila alam benda, bahkan badan sendiri hanyalah ruang main, panggung sandiwara. Bahwasanya, Jiwa berada di ruang ini untuk meraih pengalaman yang dapat memperkayanya – itu saja.

“Bukan memperkaya secara materi. Jiwa tidak berkepentingan dengan materi. Kekayaan Jiwa adalah, lagi-lagi, kesadaran diri. Kesadaran bahwa, sesungguhnya ia tak pernah berpisah dari Sang Jiwa Agung. Berbagai pengalaman yang diperolehnya selama ‘berbadan’ hanyalah semata untuk mengukuhkan keyakinannya pada Hakikat-Diri.” Demikian penjelasan Bhagavad Gita 2:48 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Krishna adalah Avatara Vishnu di zaman Dvapara Yuga. Petunjuk Sang Avatara Vishnu adalah agar Arjuna: ber- Kesadaran Jiwa, manunggal dengan semesta, berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan.

 

Berikut ini adalah kisah dibalik Dewi Sri menjadi pasangan, shakti, energi kemuliaan dan kemakmuran bagi Vishnu………

Shree (Shri, Sri) adalah sebutan yang diberikan kepada orang atau yang suci, yang mulia. Kita menyebut Sri Krishna, Sri Rama, Sri Vishnu, Sri Paduka Raja dan sebagainya.

Shree sendiri adalah pasangan Vishnu, shakti, energi dari Vishnu. Shree dikaitkan dengan Kemuliaan dan Kemakmuran. Di bawah ini adalah salah satu versi kisahnya:

Dikisahkan pada saat para asura dan para deva bekerjasama mengaduk samudera untuk mencari Amrta, cairan yang membuat peminumnya mengalami keabadian, muncullah 14 “mutiara” dari dasar samudera. Dalam kisah Vinata dan Kadru kita telah mendengar bahwa salah satu permata tersebut adalah Kuda Uchaisrava silakan baca blog kisah spiritual tak lekang zaman “Dari Anak Saleh Menuju akendaraan Tuhan.”

Salah satu “mutiara” yang keluar dari samudera adalah Devi Lakshmi, Devi Shree. Dewi ini sangat cantik, menjadi sumber energi, shakti bagi kemuliaan dan kemakmuran. Para deva dan asura berharap sang dewi akan memilih salah satu sebagai pasangannya.

Pertama kami sang dewi melihat beberapa orang suci dan para rishi yang mengharapkan sang dewi memilih satu orang di antara mereka. Dewi Shree menolak dan mengatakan bahwa meskipun para suci menarik, tetapi mereka mempunyai masih memiliki ego karena merasa sedikit di atas manusia disebabkan mereka tahu rahasia menjadi dewa.

Selanjutnya sang dewi berjalan dengan penuh pesona sampai di depan para dewa. Kembali sang dewi menolak dan berkata bahwa mereka menjadi dewa karena kebajikan dan bahwa sang dewi hanya akan memilih seorang pekerja keras.

Sang dewi terus berjalan dan melihat seseorang yang tidak mempedulikannya, saat semua orang berupaya menarik perhatiannya. Dia adalah Vishnu yang sedang berbaring santai dengan bertelekan dengan siku lengan dengan penuh kedamaian.

Sang dewi mendatanginya, menggoyang kaki Vishnu sehingga Vishnu bertanya ada apa?  Sang dewi berkata bahwa dia ingin mengawininya dan Vishnu menerimanya.

Vishnu adalah penjaga dunia, pemelihara dunia dan dia selalu bekerja keras. Sejak saat itu Vishnu sang pemelihara dunia selain pekerja keras juga memiliki shakti, energi kemuliaan dan kemakmuran.

Mari kita merenung…….

Boleh jadi kita merasa suci, tetapi merasa lebih suci dari pada yang lain merupakan ekspresi ego dan kemuliaan dan kemakmuran tidak akan menghampiri kita.

Boleh jadi kita telah banyak berbuat kebajikan, akan tetapi tanpa bekerja keras kemuliaan dan kemakmuran akan melewati kita.

Boleh jadi kita sukses karena bekerja keras, akan tetapi kemuliaan dan kemakmuran tidak pernah menghampiri kita, karena kita tidak pernah merasa cukup, selalu serakah dan bertindak dengan segala cara yang jauh dari sifat mulia demi kepentingan diri sendiri.

Kemuliaan dan kemakmuran akan menghampiri mereka yang bekerja keras walau tidak peduli apakah hasil yang akan diraihnya mendatangkan kemuliaan dan kemakmuran. Dia telah melampaui ego dan bukan sekadar berbuat kebajikan tapi berkarya tanpa pamrih sehingga energi kemuliaan dan kemakmuran merasuk ke dalam dirinya.

Siapkah kita?????

Foto Dewi Sri di Dworowati Solo.

Dari Anak Saleh Menuju Kendaraan Tuhan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 19, 2016 by triwidodo

1 Garuda Wisnu Kencana Dworowati

Kendaraan kita memiliki Sepuluh Indra untuk Berkegiatan dan Persepsi; ditambah dengan Ego, Intelek, Gugusan Pikiran serta Perasaan, Harapan, dan lain-lain. Nah, di luar sana – di Jalan Raya Kehidupan, di Jalan Penuh Tantangan, ada Lima Objek Pemicu Indra: Warna, Aroma, Rasa, Suara dan Sentuhan. Jika indra kita terpicu, tergoda oleh setiap pemicu di luar – kita tidak bisa melangkah maju. Kendaraan kita berhenti di tempat. Tidak maju-maju. Banyak tempat peristirahatan dalam perjalanan hidup ini. Jika kita beristirahat di setiap tempat – kapan bisa sampai tujuan? Jika kita terbawa oleh  setiap godaan, setiap pemicu di luar, maka kita akan merepotkan hidup kita sendiri. Sebab itu Krsna mengajak Arjuna untuk menguasai medan laga, memahami kinerja indra dan lain-lain, supaya bisa berlaga secara efisien!” Penjelasan Bhagavad Gita 13:5-6

 

Garuda sudah disebut para Resi Bijak sebagai Kendaraan (Wahana) Tuhan!

 

Tersebutlah kisah di awal mula peradaban. Bhagavan Kasyapa mempunyai istri berjumlah delapan. Anak keturunannya lahir sebagai dewa, manusia, raksasa dan hewan. Dua Istri Sang Bhagawan, Vinata dan Kadru selalu berada dalam persaingan. Kadru melahirkan telur berjumlah ribuan. Menetas semua menjadi ular dan naga. Vinata melahirkan dua telor dan belum menetas juga. Satu telor sengaja dipecah agar segera keluar seorang putra. Ternyata menjadi burung belum sempurna yang dinamakan Aruna (akhirnya menjadi wahana Deva Surya, yang membawa ufuk fajar saat matahari terbit)…….

Pada suatu saat, Vinata terlibat pertaruhan dengan Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera susu yang diaduk bersama oleh para deva dan asura. Vinata bertaruh bahwa ekor kuda tersebut putih warnanya. Para ular masuk ke dalam samudera dan kemudian memberi tahu Kadru, ibu mereka, bahwa sang ibu akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut putih warnanya. Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekor sang kuda, agarnya nampak hitam warnanya. Ular yang menolak akan dikutuk dan mati sebagai persembahan para deva. Mereka yang menolak menuruti kemauan sang ibu, merasa amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat seekor kuda keluar dari dalam samudera. Ekor kuda tersebut hitam warnanya dan Vinata kalah dan dijadikan budak oleh Kadru sebagai perawat ular-ular putranya.

 

Satu telor tersisa dari Vinata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada sang ibunda. Yang telah mengandung dirinya dan menyebabkan dirinya lahir ke dunia. Genetik kedua ayah dan ibunya membuat dia menjadi perkasa dan energi yang luar biasa diperoleh dari semangat ibunda. Dia mencari sang ibunda ke pelosok dunia. Dan akhirnya mengetahui bahwa sang ibunda menjadi budak perawat para ular di samudera. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga mempertahankannya. Garuda bertanya apa syaratnya untuk membebaskan sang ibunda. Para ular dan naga meminta “tirta amrtha”, air yang membuat “a-mrtha”, tidak mati, hidup abadi selamanya. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan tirta amrtha. Segala halangan dan rintangan dilewatinya.

 

Sri Vishnu pemilik tirta amrtha melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Garuda dipersilakan minum tirta amrtha, tetapi Garuda dengan sopan menolaknya. Hamba tidak berani menolak anugerah Gusti, tetapi mohon diberikan dalam bentuk lainnya, tirta amrtha kami butuhkan untuk melepaskan perbudakan ibu hamba. Gusti telah memahami keadaan ibu hamba. Sri Vishnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda. Sri Vishnu memberikan tirta amrtha dan minta datang kepadanya setelah selesai urusannya…….

Di tengah perjalanan, Dewa Indera menghentikan Garuda, dan kemudian berpesan, agar tirta amrtha diberikan, setelah Bunda Vinata dibebaskan, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga yang penuh ketidakjujuran. Selanjutnya Garuda menemui para ular dan naga minta Vinata dibebaskan. Sebelumnya para ular dan naga diminta membersihkan diri dari ketidakjujuran yang telah mereka lakukan sebelumnya. Para ular dan naga memenuhi permintaan Garuda, Vinata dibebaskan, dan mereka membersihkan diri serta bertobat dari semua tindakan mereka di masa lalu….  Ketika mereka sedang membersihkan diri, tirta amrtha direbut para deva, sehingga para ular dan naga tak dapat hidup abadi. Mereka dapat berganti kulit, dapat meremajakan diri, tetapi tetap akan mati. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi…….

Akhirnya, Sang Garuda bersujud kepada ibundanya dan mohon doa restu untuk menghadap Gusti. Garuda tidak minta apa pun juga, pasrah pada Kehendak Ilahi. Gusti berkenan menjadikan Garuda menjadi kendaraan pribadi. Bukan sekedar tirta amrtha yang membuat tidak bisa mati, tetapi anugerah untuk menyatu dengan Gusti.

Foto Garuda Wisnu Kencana di Dworowati Solo

Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 13, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra anand ashram ubud

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna baru berusia 10-11 tahun, sementara para Gopi rata-rata diatas usia 16 tahun. Gopi berarti Cow-girl. Bukan Cowboy tetapi Cowgirl!

Krishna sendiri disebut Gopal — Pelindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu yang dilindungi Krishna.

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. ]adi, antre duluan.

Dikisahkan, setiap kali Krishna memainkan serulingnya, para Gopi akan mengerumuni dia. Pagi, siang, sore, malam, kapan saja, bunyi seruling akan menarik mereka ke tepi sungai Yamuna, dimana Krishna selalu menunggui kedatangan mereka.

Pada suatu hari, para Gopi melihat seekor anak sapi tergeletak di tepi sungai Yamuna. Ternyata sudah tidak bernyawa. Mereka merasa kasihan: “Krishna, biarlah dia hidup kembali.”

Krishna menanggapi mereka, “Dia sudah mati. Bagaimana bisa dihidupkan kembali?”

“Apa susahnya bagimu, Krishna? Kira pernah melihatmu mengangkat bukit Govardhana dengan jari kelingkingmu. Sekian banyak mukjizat yang terjadi setiap saat. Apa sulitnya menghidupkan kembali seekor anak sapi?”

Dan mereka betul. Banyak keajaiban yang terjadi sekitar Krishna. Tuntutan mereka, permohonan mereka tidak berlebihan. Masih segar dalam ingatan, ketika Krishna melarang mereka untuk memuja Dewa Indra, “Para Dewa hanya menjalankan Perintah Dia Yang Maha Esa. Cukup menghormati mereka. Tidak perlu menyembah. Tidak perlu memuja.”

Dewa Indra marah. Dia sudah terbiasa dipuja dan dihormati…. Sekarang, tiba-tiba….. Itu pun gara-gara seorang anak yang masih ingusan. Dan turunlah hujan serta angin kencang. Warga Gokula kehilangan tempat tinggal. Krishna tetap tenang. Dengan jari kelingkingnya dia mengangkat Bukit Govardhana, “Ayuk, berlindunglah di bawah payung raksasa ini.”

Dan Dewa Indra pun sadar, “Engkau bukanlah anak biasa. Maafkan aku. Maafkan kesombonganku. Aku sempat lupa bahwa kekuatanku, kekuasaanku — semuanya pemberian Dia. . ..”

Para Gopi mendesak Krishna, “Ayuk Krishna hidupkan anak sapi ini.”

“Baiklah, bila kalian mendesak, anak sapi itu akan kuhidupkan kembali, tetapi  dengan syarat.”

“Apa syaratnya, Krishna?” tanya mcreka.

“Salah seorang di antara kalian harus mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Dia harus menjawab pertanyaanku.”

“Apa lagi, Krishna, pertanyaan apa yang harus kami jawab?”

What do you desire the most? Apa yang kalian inginkan? jawaban tepat dan jujur akan menghidupkan kembali anak sapi ini.”

Satu per satu, mereka maju ke depan untuk menjawab pertanyaan Krishna. Dan jawaban mereka hampir sama, ”Aku menginginkan kamu, Krishna.” Anak sapi tetap tidak bernyawa. Tidak hidup kembali.

Maka seorang Gopi memberanikan diri: “Krishna, yang terbayang saat ini adalah perhiasan leher milik tetanggaku. Mungkin itu yang kuinginkan.”

Memang tidak terjadi sesuatu pun pada anak sapi, tetapi yang lain makin berani, makin jujur: “Atap rumahku bocor. Yang terpikir saat ini adalah perbaikan atap rumah. Aku membutuhkan seorang  tukang, Krishna.”

Krishna tersenyum, “Ternyata keinginan kalian beragam. Tidak seragam. Aneh, anak sapi ini masih tidak hidup kcmbali. Mungkin kalian sudah cukup jujur, tetapi masih kurang tepat.”

Sisa tiga Gopi. . . .

Savitri mengatakan: “Krishna aku mencintaimu. Dan aku tahu kamu pun mencintaiku. Lalu apa lagi yang harus kuinginkan?”

Anak sapi tetap tidak bergerak.

Radha berdiri persis di belakang Savitri. Gilirannya untuk menjawab, tetapi dia malah mendorong Janaki. Krishna melihat hal itu, “Tidak Radha, jangan mendesak Janaki. Kamu dulu. …”

Jawaban Radha sungguh manis, “Krishna, biarlah wujudmu dan wujudku sirna. Kasih di antara kita tak akan punah. Itulah keyakinanku. Itu pula keinginanku.”

Tetapi, anak sapi masih saja tergeletak tak bernyawa seperti semula.

Terakhir Janaki, “Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan — itulah keinginan tunggal manusia.”

Dan, anak sapi itu langsung hidup.

Radha marah…. sekaligus iri. Selama itu dia merasa dirinya sangat dekat dengan Krishna. Kesayangan Krishna. “Jangan-jangan Janaki mengambil kedudukanku,” pikir dia. Dia berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya, tetapi tidak bisa, “Krishna, aku bingung …. ..”

“Kenapa Radha. Kenapa bingung?”

“Jawaban Janaki tadi menghidupkan kembali anak sapi yang sudah mati. . . .  Apa iya, keinginan tunggal setiap orang adalah kebahagiaan diri?”

Krishna mengajak Radha untuk merenungkan, “Ada yang menginginkan aku. Untuk apa? Karena aku membahagiakan dia. Kamu sendiri menginginkan wujudmu dan wujudku sirna. Kenapa? Karena kamu yakin bahwa cinta di antara kita tak akan punah. Ada wujud atau tidak, tidak menjadi soal.”

Radha diam, merasa tersanjung.

“Renungkan, Radha. Tidak adanya wujud ini tidak menjadi soal bagi siapa? Jelas bagimu saja. Bagaimana dengan para Gopi yang lain? Tahukah kamu isi hati mereka? Keinginan mereka? Yakinkah kamu bahwa mereka tidak menginginkan kedekatan dengan wujud ini?”

Radha diam, kini dia tahu ke arah mana pembicaraan itu akan berakhir.

“Kamu tidak memikirkan mereka. Kamu hanya memikirkan diri sendiri. Karena dirimu sudah  melampaul kesadaran jasmam, kamu menginginkan wujudku sirna bersama wujudmu. Bagaimana dengan mereka yang masih belum bisa melampaui kesadaran jasmani? Bagaimana dengan mereka yang masih membutuhkan wujudku yang satu ini?”

Radha baru menyadari kesalahannya. Dan ikut sadar bersama dia, para Gopi yang lain. Betul — yang dicari-cari dan diinginkan oleh setiap manusia adalah kebahagiaan diri. Dan, demi kebahagiaan diri, kita sering lupa memikirkan kebahagiaan orang lain.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 108-113

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Angkuh Karena Merasa Paling Taat Menjalankan Perintah Tuhan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 8, 2016 by triwidodo

buku life workbook angkuh

“Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya………..

“Di atas segalanya, walau sudah mencapai kemanunggalan seperti itu, ia tetap rendah hati, tidak sombong. Ia sadar betul selama masih berbadan, setiap orang dapat tergoda oleh pemicu-pemicu di luar diri. sebab itu, ia pun senantiasa eling, waspada, hati-hati dalam hal menentukan tempat tinggal, tempat kerja, profesi, karier, pergaulan, dan sebagainya dan seterusnya.

“Ia tidak munafik. Ia jujur. Ia tahu persis bila tuntutan daging bisa saja menyeret dirinya ke ‘bawah’ – maka ia tidak pernah membanggakan diri sebagai orang yang ‘sudah berkesadaran, sudah cerah, sudah bisa mengakses dirinya yang terdalam, sudah menemukan jati dirinya. Ia tahu persis semuanya itu adalah keadaan yang  mesti dirawat, dijaga, dan dilestarikan. Ia bekerja keras, berupaya sungguh-sungguh, untuk ‘menjaga diri’ dan menjaga kesadaran diri.” Penjelasan Bhagavad Gita 13:7-11

Di bawah ini adalah sebuah kisah saat seorang Bhakta, Pengabdi yang menjadi sombong karena selalu berzikir, mengingat Tuhan tidak seperti yang lain……….

 

Cover buku buku life vorkbookLife Workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Seorang pecinta Allah menjadi sombong. Kisah ini tentang Narada, pecinta agung yang tidak pernah berhenti mengucapkan Asma Allah. Dalam keadaan apa pun, dan di mana pun, ia selalu berzikir, ber-japa, “Narayana, Narayana, Narayana…. Wahai Tuhan yang Bersemayam dalam Diri Setiap Insan!”

Kebiasaannya itu membuat dia menjadi sombong.Terpikir olehnya, “Adakah seorang pun di jagad raya ini yang setiap saat mengingat nama-Nya?”

Salah satu wujud, atau salah satu percikan dari Yang Maha Kuasa, Betara Wishnu, berkehendak untuk mengoreksinya, untuk meluruskannya, karena cinta, karena kasihnya terhadap Narada.

Pada suatu hari ia memanggil Narada, “Bisakah kau membantuku? Ada sepucuk surat yang harus kusampampaikan kepada seorang bhakta, seorang pengabdi yang tinggal di Mayapada, di Dunia — tolong sampaikan surat ini…”

Narada menerima surat itu, tetapi hatinya bergejolak, “Siapakah bhakta yang dimaksud? Adakah seorang pecinta yang lebih hebat dan melebihi diriku?”

Bertemu dengan pecinta yang dimaksud, Narada tambah kesal, marah, tersinggung. Pasalnya, orang itu ternyata penjual daging “biasa” di tengah pasar “biasa”. Penjual daging, seorang penjagal dan pecinta… Narada tidak memahami matematika itu. Tidak masuk akal baginya.

Ia tidak menyampaikan surat Wishnu dan mengantarnya kembali ke Vaikuntha, tempat tinggal Sang Betara. “Sepertinya ada kekeliruan. Orang itu tidak mungkin bhakta. Dia seorang penjagal. Menyembelih hewan adalah pekerjaannya sehari-hari. Jelas ia bukanlah seorang pecinta.”  Narada gusar. Amarah tercium dari setiap kata yang terucap olehnya. Dalam keadaan itu, ia menempatkan diri sebagai hakim agung, seolah ia berhak untuk menghakimi cinta seseorang terhadap Allah.

Wishnu menertawakan kesia-siaannya. Narada masih juga tidak memahami maksud Wishnu, maka Wishnu memikirkan cara lain untuk menyadarkannya. Sambil memberikan secawan minyak kepada Narada, Wishnu berkata, “Mungkin, Narada… mungkin aku keliru…. Ya, tidak apa…. Tapi, kebetulan nih… aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau menyebarkan wangi minyak ini ke seluruh pelosok Vaikuntha? Berhati-hatilah Narada, jangan sampai setetes pun tumpah. Wewangian ini keras sekali, bila tumpah akan membakar badanmu dan apa saja yang kena tumpahannya.”

Narada mengikuti perintahnya, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama ia pun sudah kembali, “Dewa, aku telah menjalankan perintahmu. Tidak setetes pun tumpah.”

Wishnu bertanya, “Narada, apakah para penghuni Vaikuntha menikmati wanginya? Apakah mereka memberi komentar?”

Narada menjawab, “Mana aku tahu Dewa, seluruh perhatianku tertuju pada cawan yang kau berikan, supaya tidak tumpah. Bukankah demikian pesanmu?”

“Ya, ya, betul. Berarti kau tidak mendengar pendapat mereka. Baiklah… tetapi, Narada, selama kau mengelilingi Vaikuntha, kau pasti tidak lupa berzikir.”

“Berzikir?” Narada baru sadar bahwa dirinya lupa berzikir selama itu. “Tidak Dewa, aku tidak berzikir, Aku lupa, karena seluruh perhatianku terarah pada cawan minyak ini.”

Wishnu tersenyum, “Narada, karena seluruh perhatianmu pada cawan minyak ini, kau sampai lupa berzikir. Si penjagal yang kau temui di dunia itu sepanjang hari mengurusi tokonya di pasar dan keluarganya di rumah, tetapi setiap pagi, tengah hari, sore dan malam ia masih sempat menyebut Asma Allah!”

Secawan minyak di tangan membuat Narada lupa zikir. Keluarga di rumah dan usaha di pasar membuat kita lupa akan Tuhan.

Sebab itu, berhati-hatilah. Janganlah terlalu menyombongkan diri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2