Mengapa Rakyat Kecil Harus Menanggung Derita Saat Para Pemimpin Berebut Kuasa?

buku sanyas dharma pengungsi suriah

Hanuman pernah membakar sebagian kota Langka ibukota Kerajaan yang dipimpin Ravana. Kita bertanya-tanya, “Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?”

Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Rakyat memilih pemimpin mereka, rakyat memilih penguasa mereka, rakyat memilih presiden dan perdana menteri mereka, rakyat memilih anggota parlemen mereka, dan rakyat bahkan memilih para diktator mereka. Para diktator berada di posisi mereka karena rakyat juga. Para diktator tetap berkuasa selama rakyat terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu…..… dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut ini adalah kisah Arjuna yang bimbang untuk mengawali perang terhadap sepupu dan sanak familinya dan juga paham bahwa rakyat akan menerima imbasnya.

buku sanyas dharma

Cover buku Sanyas Dharma

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Arjuna Bimbang……….

Dan ia mulai mencari dalih, mencari alasan, untuk menghindari perang: “Mereka adalah sepupu saya sendiri, orang tua saya, bagaimana melawan mereka? untuk apa? Jika mereka tidak sadar dan menjahati kita, apa kita mesti membalas mereka dengan kejahatan pula?”

Krishna menegaskan, “Wahai Arjuna, janganlah kau mengira bila keberadaanku di medan perang ini untuk membelamu. Tidak, tidak demikian. Aku tidak perlu membelamu, bahkan kau tidak perlu menganbil bagian dalam perang ini.”

Krishna dan kakaknya, Balarama atau Baladewa menguasai negara bagian yang berada di bawah naungan federasi yang saat ini diperintah oleh Kurawa, lawan Arjuna. Jika mau mencari aman Krishna akan berpihak pada Kurawa yang berkuasa, atau setidaknya tidak mengambil bagian dalam perang “saudara”.

Tapi tidak. Krishna tidak melihat perang itu sebagai perang saudara. Bagi Krishna perang di medan Kurukshetra itu adalah: Perang untuk melawan ketidakadilan.

Krishna berpihak pada dharma, pada kebajikan, pada hukum alam, hukum keberadaan, kebaikan, dan kebenaran.

“Wahai Arjuna mereka yang kau sebut orang tua itu sangat tidak pantas untuk dituakan. Masih ingat ketika Draupadi dipermalukan di tengah sidang? Apakah mereka tidak hadir saat itu? Apakah mereka tidak berada dalam ruang sidang saat itu? Mereka semua ada. Dan tidak seorang pun yang berkutik.

“Mereka tahu betul siapa Draupadi, putri seorang raja, istri seorang raja, tetap saja memperlakukannya dengan cara yang tidak sopan, tidak beradab.

“Bukan saja orang tua, tetapi para menteri, para pejabat yang hadir, bahkan seluruh masyarakat, semuanya diam membiasu seribu bahasa. Semuanya berpikir, ‘Ah, ini kan bukan urusan kita.’ Pikiran seperti itu adalah adharma. Setiap orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya adalah pelaku adharma.

“Kau mengangkat senjata atau tidak, kau berperang atau tidak, kekuatan adharma pasti binasa. Maka raihlah kemuliaan dengan mengangkat senjata dan menghabisi mereka.”

Arjuna masih berdalih, “Apa salah rakyat jelata, orang-orang kecil? Mereka ikut binasa dalam perang ini.” Seolah ia tidak mendengar penjelasan Krishna sebelumnya.

Rakyat yang Membisu Ketika Menyaksikan Pezaliman…

Dan berpikir, “Wah itu kan permainan orang-orang gede. Kita kan rakyat kecil, tidak punya apa-apa. Urusan kita mah cari nafkah, ngisi perut, untuk apa ikut campur urusan orang-orang gede?”

Mereka bisa bicara demikian karena tidak merasakan kesengsaraan orang lain. Mereka tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Maka, mau tak mau, mereka mesti memperoleh pelajaran dari Keberadaan. Mereka mesti sengsara, mesti menderita, mesti ikut binasa.

Rakyat “cilik” yang hanya mencari aman bagi dirinya adalah rakyat yang “licik”, penuh dengan logika yang tidak sehat. Besar atau kecil, anggota masyarakat seperti itu bukanlah warganegara yang baik, bahkan mereka bukan manusia yang baik. Mereka menjadi beban kemanusiaan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 333

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: