Angkuh Karena Merasa Paling Taat Menjalankan Perintah Tuhan

buku life workbook angkuh

“Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya………..

“Di atas segalanya, walau sudah mencapai kemanunggalan seperti itu, ia tetap rendah hati, tidak sombong. Ia sadar betul selama masih berbadan, setiap orang dapat tergoda oleh pemicu-pemicu di luar diri. sebab itu, ia pun senantiasa eling, waspada, hati-hati dalam hal menentukan tempat tinggal, tempat kerja, profesi, karier, pergaulan, dan sebagainya dan seterusnya.

“Ia tidak munafik. Ia jujur. Ia tahu persis bila tuntutan daging bisa saja menyeret dirinya ke ‘bawah’ – maka ia tidak pernah membanggakan diri sebagai orang yang ‘sudah berkesadaran, sudah cerah, sudah bisa mengakses dirinya yang terdalam, sudah menemukan jati dirinya. Ia tahu persis semuanya itu adalah keadaan yang  mesti dirawat, dijaga, dan dilestarikan. Ia bekerja keras, berupaya sungguh-sungguh, untuk ‘menjaga diri’ dan menjaga kesadaran diri.” Penjelasan Bhagavad Gita 13:7-11

Di bawah ini adalah sebuah kisah saat seorang Bhakta, Pengabdi yang menjadi sombong karena selalu berzikir, mengingat Tuhan tidak seperti yang lain……….

 

Cover buku buku life vorkbookLife Workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Seorang pecinta Allah menjadi sombong. Kisah ini tentang Narada, pecinta agung yang tidak pernah berhenti mengucapkan Asma Allah. Dalam keadaan apa pun, dan di mana pun, ia selalu berzikir, ber-japa, “Narayana, Narayana, Narayana…. Wahai Tuhan yang Bersemayam dalam Diri Setiap Insan!”

Kebiasaannya itu membuat dia menjadi sombong.Terpikir olehnya, “Adakah seorang pun di jagad raya ini yang setiap saat mengingat nama-Nya?”

Salah satu wujud, atau salah satu percikan dari Yang Maha Kuasa, Betara Wishnu, berkehendak untuk mengoreksinya, untuk meluruskannya, karena cinta, karena kasihnya terhadap Narada.

Pada suatu hari ia memanggil Narada, “Bisakah kau membantuku? Ada sepucuk surat yang harus kusampampaikan kepada seorang bhakta, seorang pengabdi yang tinggal di Mayapada, di Dunia — tolong sampaikan surat ini…”

Narada menerima surat itu, tetapi hatinya bergejolak, “Siapakah bhakta yang dimaksud? Adakah seorang pecinta yang lebih hebat dan melebihi diriku?”

Bertemu dengan pecinta yang dimaksud, Narada tambah kesal, marah, tersinggung. Pasalnya, orang itu ternyata penjual daging “biasa” di tengah pasar “biasa”. Penjual daging, seorang penjagal dan pecinta… Narada tidak memahami matematika itu. Tidak masuk akal baginya.

Ia tidak menyampaikan surat Wishnu dan mengantarnya kembali ke Vaikuntha, tempat tinggal Sang Betara. “Sepertinya ada kekeliruan. Orang itu tidak mungkin bhakta. Dia seorang penjagal. Menyembelih hewan adalah pekerjaannya sehari-hari. Jelas ia bukanlah seorang pecinta.”  Narada gusar. Amarah tercium dari setiap kata yang terucap olehnya. Dalam keadaan itu, ia menempatkan diri sebagai hakim agung, seolah ia berhak untuk menghakimi cinta seseorang terhadap Allah.

Wishnu menertawakan kesia-siaannya. Narada masih juga tidak memahami maksud Wishnu, maka Wishnu memikirkan cara lain untuk menyadarkannya. Sambil memberikan secawan minyak kepada Narada, Wishnu berkata, “Mungkin, Narada… mungkin aku keliru…. Ya, tidak apa…. Tapi, kebetulan nih… aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau menyebarkan wangi minyak ini ke seluruh pelosok Vaikuntha? Berhati-hatilah Narada, jangan sampai setetes pun tumpah. Wewangian ini keras sekali, bila tumpah akan membakar badanmu dan apa saja yang kena tumpahannya.”

Narada mengikuti perintahnya, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama ia pun sudah kembali, “Dewa, aku telah menjalankan perintahmu. Tidak setetes pun tumpah.”

Wishnu bertanya, “Narada, apakah para penghuni Vaikuntha menikmati wanginya? Apakah mereka memberi komentar?”

Narada menjawab, “Mana aku tahu Dewa, seluruh perhatianku tertuju pada cawan yang kau berikan, supaya tidak tumpah. Bukankah demikian pesanmu?”

“Ya, ya, betul. Berarti kau tidak mendengar pendapat mereka. Baiklah… tetapi, Narada, selama kau mengelilingi Vaikuntha, kau pasti tidak lupa berzikir.”

“Berzikir?” Narada baru sadar bahwa dirinya lupa berzikir selama itu. “Tidak Dewa, aku tidak berzikir, Aku lupa, karena seluruh perhatianku terarah pada cawan minyak ini.”

Wishnu tersenyum, “Narada, karena seluruh perhatianmu pada cawan minyak ini, kau sampai lupa berzikir. Si penjagal yang kau temui di dunia itu sepanjang hari mengurusi tokonya di pasar dan keluarganya di rumah, tetapi setiap pagi, tengah hari, sore dan malam ia masih sempat menyebut Asma Allah!”

Secawan minyak di tangan membuat Narada lupa zikir. Keluarga di rumah dan usaha di pasar membuat kita lupa akan Tuhan.

Sebab itu, berhati-hatilah. Janganlah terlalu menyombongkan diri.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: