Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna

buku narada bhakti sutra anand ashram ubud

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna baru berusia 10-11 tahun, sementara para Gopi rata-rata diatas usia 16 tahun. Gopi berarti Cow-girl. Bukan Cowboy tetapi Cowgirl!

Krishna sendiri disebut Gopal — Pelindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu yang dilindungi Krishna.

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. ]adi, antre duluan.

Dikisahkan, setiap kali Krishna memainkan serulingnya, para Gopi akan mengerumuni dia. Pagi, siang, sore, malam, kapan saja, bunyi seruling akan menarik mereka ke tepi sungai Yamuna, dimana Krishna selalu menunggui kedatangan mereka.

Pada suatu hari, para Gopi melihat seekor anak sapi tergeletak di tepi sungai Yamuna. Ternyata sudah tidak bernyawa. Mereka merasa kasihan: “Krishna, biarlah dia hidup kembali.”

Krishna menanggapi mereka, “Dia sudah mati. Bagaimana bisa dihidupkan kembali?”

“Apa susahnya bagimu, Krishna? Kira pernah melihatmu mengangkat bukit Govardhana dengan jari kelingkingmu. Sekian banyak mukjizat yang terjadi setiap saat. Apa sulitnya menghidupkan kembali seekor anak sapi?”

Dan mereka betul. Banyak keajaiban yang terjadi sekitar Krishna. Tuntutan mereka, permohonan mereka tidak berlebihan. Masih segar dalam ingatan, ketika Krishna melarang mereka untuk memuja Dewa Indra, “Para Dewa hanya menjalankan Perintah Dia Yang Maha Esa. Cukup menghormati mereka. Tidak perlu menyembah. Tidak perlu memuja.”

Dewa Indra marah. Dia sudah terbiasa dipuja dan dihormati…. Sekarang, tiba-tiba….. Itu pun gara-gara seorang anak yang masih ingusan. Dan turunlah hujan serta angin kencang. Warga Gokula kehilangan tempat tinggal. Krishna tetap tenang. Dengan jari kelingkingnya dia mengangkat Bukit Govardhana, “Ayuk, berlindunglah di bawah payung raksasa ini.”

Dan Dewa Indra pun sadar, “Engkau bukanlah anak biasa. Maafkan aku. Maafkan kesombonganku. Aku sempat lupa bahwa kekuatanku, kekuasaanku — semuanya pemberian Dia. . ..”

Para Gopi mendesak Krishna, “Ayuk Krishna hidupkan anak sapi ini.”

“Baiklah, bila kalian mendesak, anak sapi itu akan kuhidupkan kembali, tetapi  dengan syarat.”

“Apa syaratnya, Krishna?” tanya mcreka.

“Salah seorang di antara kalian harus mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Dia harus menjawab pertanyaanku.”

“Apa lagi, Krishna, pertanyaan apa yang harus kami jawab?”

What do you desire the most? Apa yang kalian inginkan? jawaban tepat dan jujur akan menghidupkan kembali anak sapi ini.”

Satu per satu, mereka maju ke depan untuk menjawab pertanyaan Krishna. Dan jawaban mereka hampir sama, ”Aku menginginkan kamu, Krishna.” Anak sapi tetap tidak bernyawa. Tidak hidup kembali.

Maka seorang Gopi memberanikan diri: “Krishna, yang terbayang saat ini adalah perhiasan leher milik tetanggaku. Mungkin itu yang kuinginkan.”

Memang tidak terjadi sesuatu pun pada anak sapi, tetapi yang lain makin berani, makin jujur: “Atap rumahku bocor. Yang terpikir saat ini adalah perbaikan atap rumah. Aku membutuhkan seorang  tukang, Krishna.”

Krishna tersenyum, “Ternyata keinginan kalian beragam. Tidak seragam. Aneh, anak sapi ini masih tidak hidup kcmbali. Mungkin kalian sudah cukup jujur, tetapi masih kurang tepat.”

Sisa tiga Gopi. . . .

Savitri mengatakan: “Krishna aku mencintaimu. Dan aku tahu kamu pun mencintaiku. Lalu apa lagi yang harus kuinginkan?”

Anak sapi tetap tidak bergerak.

Radha berdiri persis di belakang Savitri. Gilirannya untuk menjawab, tetapi dia malah mendorong Janaki. Krishna melihat hal itu, “Tidak Radha, jangan mendesak Janaki. Kamu dulu. …”

Jawaban Radha sungguh manis, “Krishna, biarlah wujudmu dan wujudku sirna. Kasih di antara kita tak akan punah. Itulah keyakinanku. Itu pula keinginanku.”

Tetapi, anak sapi masih saja tergeletak tak bernyawa seperti semula.

Terakhir Janaki, “Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan — itulah keinginan tunggal manusia.”

Dan, anak sapi itu langsung hidup.

Radha marah…. sekaligus iri. Selama itu dia merasa dirinya sangat dekat dengan Krishna. Kesayangan Krishna. “Jangan-jangan Janaki mengambil kedudukanku,” pikir dia. Dia berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya, tetapi tidak bisa, “Krishna, aku bingung …. ..”

“Kenapa Radha. Kenapa bingung?”

“Jawaban Janaki tadi menghidupkan kembali anak sapi yang sudah mati. . . .  Apa iya, keinginan tunggal setiap orang adalah kebahagiaan diri?”

Krishna mengajak Radha untuk merenungkan, “Ada yang menginginkan aku. Untuk apa? Karena aku membahagiakan dia. Kamu sendiri menginginkan wujudmu dan wujudku sirna. Kenapa? Karena kamu yakin bahwa cinta di antara kita tak akan punah. Ada wujud atau tidak, tidak menjadi soal.”

Radha diam, merasa tersanjung.

“Renungkan, Radha. Tidak adanya wujud ini tidak menjadi soal bagi siapa? Jelas bagimu saja. Bagaimana dengan para Gopi yang lain? Tahukah kamu isi hati mereka? Keinginan mereka? Yakinkah kamu bahwa mereka tidak menginginkan kedekatan dengan wujud ini?”

Radha diam, kini dia tahu ke arah mana pembicaraan itu akan berakhir.

“Kamu tidak memikirkan mereka. Kamu hanya memikirkan diri sendiri. Karena dirimu sudah  melampaul kesadaran jasmam, kamu menginginkan wujudku sirna bersama wujudmu. Bagaimana dengan mereka yang masih belum bisa melampaui kesadaran jasmani? Bagaimana dengan mereka yang masih membutuhkan wujudku yang satu ini?”

Radha baru menyadari kesalahannya. Dan ikut sadar bersama dia, para Gopi yang lain. Betul — yang dicari-cari dan diinginkan oleh setiap manusia adalah kebahagiaan diri. Dan, demi kebahagiaan diri, kita sering lupa memikirkan kebahagiaan orang lain.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 108-113

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

One Response to “Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna”

  1. Ni Made Adnyani Says:

    Reblogged this on Ni Made Adnyani and commented:
    Setiap orang menginginkan Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: