Dari Anak Saleh Menuju Kendaraan Tuhan

1 Garuda Wisnu Kencana Dworowati

Kendaraan kita memiliki Sepuluh Indra untuk Berkegiatan dan Persepsi; ditambah dengan Ego, Intelek, Gugusan Pikiran serta Perasaan, Harapan, dan lain-lain. Nah, di luar sana – di Jalan Raya Kehidupan, di Jalan Penuh Tantangan, ada Lima Objek Pemicu Indra: Warna, Aroma, Rasa, Suara dan Sentuhan. Jika indra kita terpicu, tergoda oleh setiap pemicu di luar – kita tidak bisa melangkah maju. Kendaraan kita berhenti di tempat. Tidak maju-maju. Banyak tempat peristirahatan dalam perjalanan hidup ini. Jika kita beristirahat di setiap tempat – kapan bisa sampai tujuan? Jika kita terbawa oleh  setiap godaan, setiap pemicu di luar, maka kita akan merepotkan hidup kita sendiri. Sebab itu Krsna mengajak Arjuna untuk menguasai medan laga, memahami kinerja indra dan lain-lain, supaya bisa berlaga secara efisien!” Penjelasan Bhagavad Gita 13:5-6

 

Garuda sudah disebut para Resi Bijak sebagai Kendaraan (Wahana) Tuhan!

 

Tersebutlah kisah di awal mula peradaban. Bhagavan Kasyapa mempunyai istri berjumlah delapan. Anak keturunannya lahir sebagai dewa, manusia, raksasa dan hewan. Dua Istri Sang Bhagawan, Vinata dan Kadru selalu berada dalam persaingan. Kadru melahirkan telur berjumlah ribuan. Menetas semua menjadi ular dan naga. Vinata melahirkan dua telor dan belum menetas juga. Satu telor sengaja dipecah agar segera keluar seorang putra. Ternyata menjadi burung belum sempurna yang dinamakan Aruna (akhirnya menjadi wahana Deva Surya, yang membawa ufuk fajar saat matahari terbit)…….

Pada suatu saat, Vinata terlibat pertaruhan dengan Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera susu yang diaduk bersama oleh para deva dan asura. Vinata bertaruh bahwa ekor kuda tersebut putih warnanya. Para ular masuk ke dalam samudera dan kemudian memberi tahu Kadru, ibu mereka, bahwa sang ibu akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut putih warnanya. Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekor sang kuda, agarnya nampak hitam warnanya. Ular yang menolak akan dikutuk dan mati sebagai persembahan para deva. Mereka yang menolak menuruti kemauan sang ibu, merasa amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat seekor kuda keluar dari dalam samudera. Ekor kuda tersebut hitam warnanya dan Vinata kalah dan dijadikan budak oleh Kadru sebagai perawat ular-ular putranya.

 

Satu telor tersisa dari Vinata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada sang ibunda. Yang telah mengandung dirinya dan menyebabkan dirinya lahir ke dunia. Genetik kedua ayah dan ibunya membuat dia menjadi perkasa dan energi yang luar biasa diperoleh dari semangat ibunda. Dia mencari sang ibunda ke pelosok dunia. Dan akhirnya mengetahui bahwa sang ibunda menjadi budak perawat para ular di samudera. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga mempertahankannya. Garuda bertanya apa syaratnya untuk membebaskan sang ibunda. Para ular dan naga meminta “tirta amrtha”, air yang membuat “a-mrtha”, tidak mati, hidup abadi selamanya. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan tirta amrtha. Segala halangan dan rintangan dilewatinya.

 

Sri Vishnu pemilik tirta amrtha melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Garuda dipersilakan minum tirta amrtha, tetapi Garuda dengan sopan menolaknya. Hamba tidak berani menolak anugerah Gusti, tetapi mohon diberikan dalam bentuk lainnya, tirta amrtha kami butuhkan untuk melepaskan perbudakan ibu hamba. Gusti telah memahami keadaan ibu hamba. Sri Vishnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda. Sri Vishnu memberikan tirta amrtha dan minta datang kepadanya setelah selesai urusannya…….

Di tengah perjalanan, Dewa Indera menghentikan Garuda, dan kemudian berpesan, agar tirta amrtha diberikan, setelah Bunda Vinata dibebaskan, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga yang penuh ketidakjujuran. Selanjutnya Garuda menemui para ular dan naga minta Vinata dibebaskan. Sebelumnya para ular dan naga diminta membersihkan diri dari ketidakjujuran yang telah mereka lakukan sebelumnya. Para ular dan naga memenuhi permintaan Garuda, Vinata dibebaskan, dan mereka membersihkan diri serta bertobat dari semua tindakan mereka di masa lalu….  Ketika mereka sedang membersihkan diri, tirta amrtha direbut para deva, sehingga para ular dan naga tak dapat hidup abadi. Mereka dapat berganti kulit, dapat meremajakan diri, tetapi tetap akan mati. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi…….

Akhirnya, Sang Garuda bersujud kepada ibundanya dan mohon doa restu untuk menghadap Gusti. Garuda tidak minta apa pun juga, pasrah pada Kehendak Ilahi. Gusti berkenan menjadikan Garuda menjadi kendaraan pribadi. Bukan sekedar tirta amrtha yang membuat tidak bisa mati, tetapi anugerah untuk menyatu dengan Gusti.

Foto Garuda Wisnu Kencana di Dworowati Solo

Advertisements

One Response to “Dari Anak Saleh Menuju Kendaraan Tuhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: