Dan, Arjuna pun “sungkem” kepada Penjagal Daging

buku narada bhakti sutra arjuna minta nasehat kriahna

“Menjadi seorang pencinta Allah berarti tidak mengharapkan sesuatu dari siapa pun juga. Entah itu anak sendiri atau sahabat karib, bahkan tidak mengharapkan sesuatu dari Allah, dari Tuhan. Berserah diri sepenuhnya, “Engkau Maha Tahu, Tuhanku….. Engkaulah Maha Mengetahuai….”

“Jangan mengharapkan anak Anda akan menyantuni Anda di masa tua nanti. Besarkan dia, berikan dia pendidikan tanpa harapan apa pun juga. Bila Anda mengharapkan sesuatu dan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan itu, Anda pun kecewa.” Nasehat tersebut di atas mengawali kisah Arjuna, Krishna dan Penjagal Daging berikut:

 

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Arjuna sangat dekat dengan Sri Krishna, maka timbullah ego baru — ego spiritual. Seolah-olah dirinya sudah hebat.

Pada suatu hari, Arjuna hendak bepergian ke kota lain, dan Krishna menitipkan satu karung beras, “Arjuna, berikan karung ini kepada seorang temanku. Kebetulan dia tinggal di kota itu.”

Arjuna merasa aneh. “Satu karung beras?” pikir dia. Bila dia memang miskin, kenapa tidak dibantu saja? Krishna seorang Raja, dan tentu saja bisa memberikan pekerjaan, atau uang sehingga dia membuka usaha sendiri. Apa arti satu karung beras? Mau makan sampai kapan? Aneh, aneh, aneh…..

“Biarlah aku membantu dia. Tidak perlu membawa beras dari sini,” kata Arjuna.

“Tidak, tidak….. Bawalah beras ini. Satu karung ini sudah cukup untuk dia.” Sri Bhagavan menanggapinya.

Arjuna mungkin berpikir, “Pelit banget kamu… Pemberian ini tidak cocok dengan derajatmu. Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu. Demikian pula anjuran kitab-kitab suci.”

Memang demikian anjuran kitab-kitab suci, “Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu.” Dana-punia atau sedekah tidak bisa diseragamkan. Berilah sesuai dengan kesadaranmu, bila penghasilanmu meningkat, meningkat pula. Sebaliknya, bila penghasilanmu tidak seberapa, janganlah engkau memberi hanya karena rasa malu atau merasa wajib memberi.

Terpaksa, Arjuna harus mengangkutkarung beras itu. Sampai di kota tujuan, Arjuna mencari alamat “sahabat Krishna”. Ternyata dia seorang penjual daging. “Achhhhh, sungguh menjijikan. . ..,” pikir Arjuna.

Lebih-lebih lagi, ketika dia melihat si penjual daging itu menimbang jualannya sembari mengucapkan nama Tuhan, “Hari Bol, Hari Bol, Hari Bol…” Ucapkan Nama Dia Yang Maha Menyelamatkan, Maha Membebaskan….

Arjuna tidak memahami maksudnya, “Menyelamatkan dari apa, membebaskan dari apa? Siapa pula yang harus menyelamatkan diri dan membebaskan? Bukankah manusia harus berupaya sendiri untuk itu?”

Dia tidak paham bahwa si penjual daging sedang berdoa agar dirinya terbebaskan dari kesadaran badaniah, lahiriah.

Arjuna menegurnya dengan nada kesal, “Ini, aku membawakan satu karung beras untukmu.”

“Satu karung beras? Untuk apa? Dari siapa?”, tanya si penjual daging.

“Dari Sri Krishna. Karung beras ini titipan ini titipan dari beliau.”

“Kalau begitu, anda pastilah Prabhu Arjuna.”

“Ya, aku memang Arjuna.”

“Beruntung sekali aku, bisa bertemu dengan Sang Prabhu. Silakan masuk ke dalam.”

Masuk dalam ke mana? Duduk di mana? Arjuna masih belum “bebas” dari kesadaran wujud. Dia tidak bisa melihat kebenaran di balik wujud, “Mungkin lain kali saja… Saya masih banyak urusan dan harus segera berpulang ke Hastinapura.

Penjual daging tersenyum. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, “Ya, mungkin lain kali. Begitu pula dengan karung beras ini, mungkin lain kali saja.”

“Apa maksudmu?”

“Persediaan beras di rumah masih cukup untuk dua hari mendatang. Aku berterima kasih kepada Sri Krishna, tetapi tidak bisa menerima kirimannya. Aku juga berterima kasih kepada Sang Prabhu, karena sudah bersusah payah datang khusus untuk mengantar beras ini.”

“Kamu tidak mau menerima kiriman ini karena masih memiliki persediaan untuk dua hari mendatang? Demikian katamu tadi?”

“Ya, Sang Prabhu. Dan, selama ini aku tidak pernah kelaparan. Keluarga pun berkecukupan. Untuk apa menimbun beras? Dia memenuhi segala kebutuhanku selama ini. Dan akan memenuhi pula di kemudian hari.”

Solid… dua puluh empat karat emas murni. Logam mulia. Dialah seorang Bhakta. Dialah seorang pencinta Allah, bukan mereka yang sibuk menimbun harta dan kemudian “sekian persen dari harta itu disumbangkan untuk membangun tempat-tempat ibadah. Atau dibagikan kepada fakir miskin. Mereka adalah para pencinta “sekian persen”. Cinta mereka sebesar persentase sumbangan mereka. Cinta mereka belum seratus persen. Penyerahan diri mereka belum sampurna. Bahkan, sesungguhnya mereka belum berserah diri.

Arjuna baru sadar, “Engkaulah seorang Bhakta, seorang pencinta sejati.” Dan dia bersungkam mencium kaki si penjual daging itu.

“Untuk mencapai ketinggian Kasih, tidak perlu melepaskan dunia dan kewajiban-kewajiban duniawi. Yang perlu dilepaskan hanyalah keinginan untuk memperoleh imbalan.”

Melepaskan keinginan untuk memperoleh imbalan berarti membebaskan diri dari segala macam tuntutan, sekaligus membebaskan diri dari konflik serta kekerasan yang bisa terjadi karena tidak terpenuhinya tuntutan.

Melanjutkan kisah kita …. ..

Arjuna menyadari ketololan diri. Tetapi masih bingung, “Seorang Bhakta, seorang pencinta — dan berprofesi sebagai penjagal! Seorang Bhakta dan engkau membiarkan dia bekerja sebagai penjagal.”

Krishna menanggapi keluhan Arjuna dengan senyuman, “Masih ingat perang dahsyat di Kurukshetra?”

“Tentu, Krishna… tentu, masih ingat betul.”

“Saat itu, ‘Aku’ pun menjadi penjagal. Tanganmu ‘Ku’-gunakan untuk membunuh Kurawa dan pendukung-pendukung mereka.”

“Saat itu kita ‘melawan’ kezaliman dan ketidakadilan. Lain halnya dengan seorang penjagal. Dia melakukan kezaliman, ketidakadilan terhadap hewan-hewan tak bersalah.”

Kriishna mengucapkan satu kata, hanya satu kata, “Lihatlah! – Behold”…  Dan, Arjuna melihat Krishna berubah wujud menjadi penjagal. Seruling di tangannya berubah menjadi pisau untuk memotong daging.

Lagi-lagi Arjuna tersadarakan bahwa “Krishna” berada di mana-mana. Di dalam diri Raja Dvarka dan di dalam diri penjagal biasa, yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: