Archive for September, 2016

Yesus: Mencintai Tuhan Sepenuh Hati dan Mencintai Tetangga Layaknya pada Diri Sendiri

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 29, 2016 by triwidodo

1-gusti-jesus-plus-mantra

Memikul Salib bersama Yesus

Mudah sekali bagi kita untuk mengutip seseorang yang “punya nama” kemudian menjabarkan apa yang dikatakannya. Mudah sekali bagi kita untuk mengutip Yesus, atau Muhammad, atau Siddhartha, atau Krishna, kemudian mengomentari kata-kata mereka.

Namun, tidak demikian dengan seorang Yesus. Ketika ditanya oleh para ahli kitab apa yang menjadi “ajaran utama” – bukan ajaran-“nya” – tetapi “ajaran”, titik. Mereka ingin mendengar sesuatu yang bersifat generik, dan berlaku bagi semua.

Maka, tanpa keraguan, Yesus pun menjawab bila mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan jiwa – adalah ajaran terutama. Dan, kedua adalah mencintai tetangga kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

Pernyataan seperti ini bukanlah pernyataan biasa. pernyataan seperti ini mengandung resiko yang sangat tinggi. Pernyataan ini menuntut “komitmen penuh” tanpa embel-embel, tanpa syarat apa pun jua.

Menempatkan Tuhan diatas segalanya. Dan, menempatkan tetangga sejajar dengan diri, dan keluarga sendiri. Mudah terucap, tetapi tidak mudah dalam laku.

Maka, para ahli kitab pun tercengang. Mereka tidak terbiasa memperoleh jawaban setegas dan sejelas itu. Kebiasaan para alim ulama adalah mengutip ayat-ayat suci. Mereka tidak berani berpendapat sendiri. Mereka tidak berani mengambil resiko.

Tidak demikian dengan Yesus. Ia berani mengambil resiko. Ia tidak membutuhkan dukungan kitab suci atau ayat-ayat suci untuk menyampaikan kebenaran. Inilah salib Yesus. Keberaniannya itulah yang menjadi salib yang masih juga dipikulnya hingga hari ini.

“Apa yang tidak kau hendaki bagi dirimu, janganlah kau lakukan terhadap sesama manusia – inilah inti ajaran Torah. Sisanya sekedar penjabaran dari inti ajaran itu,” Talmud juga menyampaikan hal yang sama. Tetapi, siapa yang peduli? Siapa yang ingat? Para alim ulama dan ahli kitab sibuk mengutip ayat-ayat suci, seorang Yesus sibuk melakoni ayat-ayat itu.

Yesus adalah seorang pemberani, sekaligus pemberontak. Masih ingat apa yang dilakukannya di pelataran bait suci? Ia seorang diri. Para murid yang berjumlah sedikit itu untuk malah meminggir. Para penonton bingung, karena apa yang mereka saksikan saat itu adalah sesuatu yang baru.

Yesus, seorang diri, mengobrak-abrik gubuk para pedagang dan para penukar uang yang menempatkan diri sebagai calo Tuhan.

Adakah keberanian seperti itu dalam diri kita?

Bila tidak, maka jadilah kita pemuja bangkai, gambar, patung, kitab dan tempat – yang semuanya kemudian tidak lebih dari berhala.

Bila kita tidak berani memikul salib kita masing-masing bersama Yesus, maka biarlah hati kita, nurani kita, jiwa kita menangisi kelemahan diri pada malam Natal ini. Tidak perlu merayakan Natal dengan menyalakan pelita dan lilin, karena hati yang lemah tidaklah menjadi kuat dengan cara itu.

Apakah arti kelahiran Yesus?

Setiap detik banyak orang yang lahir, dan banyak pula yang mati. Setiap Natal kita merayakan kelahiran Yesus, sebagaimana kita merayakan hari kelahiran saudara kita pasangan kita, anak kita – lantas apa? Apa bedanya? Barangkali Natal lebih meriah, itu saja?

Kelahiran Yesus tidak dapat dipisahkan dari kayu salib yang kelak dipikulnya. Kehiran Yesus hanyalah menjadi bermakna bila saat menyalakan lilin untuk merayakannya, kita juga memungut kayu salib yang ada diatas altar dan memikulnya. Pajangan itu mesti turun dari dinding dan berpindah tempat ke atas pundak kita.

Keberanian Yesus, kegigihannya untuk menghadapi segala tantangan hidup – inilah kemuliaan dan keilahiannya. Kematiannya diatas salib dan kebangkitannya kembali mesti “terulangi” dalam hidup kita masing-masing.

Adakah keberanian di dalam diri kita untuk terlebih dahulu – jauh-jauh hari sebelum merayakan malam kelahiran Yesus – menguburkan jiwa kita yang lemah, hati kita yang alot, dan pikiran kita yang kacau?

Biarlah keangkuhan, dan keserakahan kita mati diatas kayu salib. Biarlah jiwa kita yang tersentuh oleh kesadaran kristus bangkit kembali untuk berkarya di tengah kegaduhan dan ketakwarasan dunia ini dengan tetap mempertahankan kewarasan diri. Barulah setelah itu, malam kelahiran Yesus menjadi bermakna bagi kita.

Yesus tidak mengurusi kerajaan dunia, Ia mengurusi kerajaan Allah. Ya, betul, tetapi milik siapa pula kerajaan, bahkan dunia ini, alam ini? Bukankah semuanya milik Allah? Bukanlah kerajaan Allah berada di dalam diri kita masing-masing?

“Tidak mengurusi kerajaan dunia”, mesti dimaknai sebagai “tidak mengurusi apa pun jua karena keterikatan kita dengan dunia”.

Urusilah keluarga, dan dunia, karena semuanya itu merupakan amanah Allah. Tugas yang diberikan kepada kita oleh Gusti Pangeran.

………….

Yesus tidak kemana-mana. Yesus ada di sini. Ia tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Ia selalu ada. Kadang kita melihat-Nya dengan jelas, kadang tidak. Bukan karena Ia menghilang, tetapi mata batin kita berkabut.

“Bu, bu,” saya pernah bertanya kepada ibu asuh saya asal Solo, “kenapa Yesus terlihat begitu sedih?” Dan, beliau menjawab, “Karena kita sering sedih, sering gelisah, sering sakit.”

Maka, saat itu aku pun berjanji, “Aku tak akan sedih lagi, tak akan gelisah dan sakit lagi, supaya Yesus tertawa!”

………..

Make our Lord happy, walk with Him with your Cross on your shoulder!

Penulis : Anand Krishna (Aktivis Spiritual, saat ini penulis lebih dari 170 buku)

Dikutip dari http://www.aumkar.org/id/memikul-salib-bersama-yesus/

Foto  Gusti Yesus di Dworowati Solo

Advertisements

Cara Menyelamatkan Diri di Zaman Gelap Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 28, 2016 by triwidodo

buku-bhaja-govindam-sapi-dharma

Kali mempengaruhi masyarakat pada zaman Kali Yuga lewat 5 pintu: Pintu Judi, Pintu Mabuk, Pintu Zinah, Pintu Pembunuhan, dan Pintu Harta Berlebihan.

Silakan baca ulang Lima Pintu Masuk Kezaliman di Zaman Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit yang merupakan permintaan Kali kepada Raja Parikshit pada saat awal Zaman Kali Yuga.

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/20/lima-pintu-masuk-kezaliman-di-zaman-kali-yuga-kisah-maharaja-parikshit/

Setelah Kali Yuga dimulai, maka kegelapan mulai menaungi zaman dan kejahatan merajalela. Raja Parikshit kaget saat melihat kondisi yang berubah memburuk begitu cepat……

Silakan simak kisah Parikshit pada Zaman Kali Yuga berikut:

 

Cover Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pada suatu hari Raja Parikshit melihat seekor sapi merintih kesakitan, karena tiga dari empat kakinya sudah tidak ada. Ia berdiri di atas satu kaki saja. “Aneh,” pikir Parikshit, ”sapi ini bisa berdiri di atas satu kaki.”

Ternyata sapi itu bisa membaca pikiran Parikshit, “Raja, aku adalah Dharma. Karena pengaruh Kali Yuga, terpaksa aku berdiri di atas satu kaki saja.”

Dharma sering kali diterjemahkan sebagai “agama”. Boleh-boleh saja asal tidak disalahartikan sebagai agama formal sebagaimana tercantum di atas kartu identitas diri kita. Dharma berarti kebajikan. Dharma berarti akhlak. Dharma berarti budi-pekerti. Dharma berarti “apa saja yang kau pikirkan, kau ucapkan dan kalu lakukan dengan kesadaran”.

Parikshit ikut merintih kesakitan, “Apa gunanya kekuasaanku, bila aku tidak mampu melindungi Dharma?”

Zaman sekarang, boro-boro ikut merintih. Sementara rakyat pun menderita, para pemimpin berpcsta pora di hotel-hotel berbintang lima. Sementara rakyat di pedesaan sulit memperoleh air bersih untuk minum, para…….. rakyat malah mengkonsumsi air yang diimpor dari luar negeri. Pantas saja bila mereka tidak lagi merasa dekat dengan Tanah Air. Aduh,  bangsaku dipimpin oleh orang-orang “asing”!

Parikshit adalah seorang raja yang sadar. Ia ikut merintih bersama Dharma, “Katakan Dharma, apa yang harus kulakukan?”

“Sudahlah Raja, tidak perlu menangisi nasibku. Apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. Lebih baik menyelamatkan satu kaki yang tersisa ini,” jawab Dharma.

“Apa maksudmu Ibu Dharma? Apa yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan kakimu. Apa pula arti tiga kaki yang sudah terpisah dari badanmu?” tanya Sang Raja.

Maka lembu itu menjelaskan, “Kakiku yang pertama adalah tapa atau ‘pengendalian diri. Di zaman Kali Yuga ini, manusia sulit mengendalikan dirinya. Pengendalian diri dia gugur karena ego, keangkuhan, keakuan.

“Kakiku kedua mewakili shoucha atau ‘kesucian’—kesucian dalam pikiran, ucapan, dan tindakan. Kesucian pun gugur karena keterikatan. Keterikatan mempengaruhi kejernihan pandangan manusia.

“Kaki ketiga, dayaa atau ‘welas asih’ tidak ada karena hawa—nafsu. Sisa satu kaki saja Raja… dan yang satu ini mewakili satya—‘kebenaran’. Yang satu ini harus kau bantu selamatkan. ”

“Bagaimana Ibu Dharma, bagaimana menyelamatkan kebenaran di zaman Kali Yuga ini?” tanya Parikshit.

Dengan menghindari kusanga, yaitu pergaulan dengan mereka yang tidak menjunjung tinggi kebenaran,” jawab Dharma.

Kesadaran kita merosot karena pergaulan dengan mereka yang tidak menunjang terjadinya peningkatan kesadaran. Kesadaran kita merosot karena keterikatan dengan keaclaan yang tidak menunjang evolusi batin. Kita sudah salah gaul….. lebih baik kurang gaul daripada salah gaul.

Bersandarlah pada Kebenaran, bergaullah dengan Kebenaran, dan kesadaranmu tak akan merosot. Bagi para sufi seperti Mansoor, Sarmad……… Kebenaran atau Haqq adalah Puncak Kesadaran. Demikian pula bagi Mahatma Gandhi, Truth is God. Kebenaran itulah Tuhan.

Berkat para sufi dan para wali Allah, para mesias dan rasul, para buddha, dan avatar yang menjunjung tinggi Kebenaran selama lima ribu tahun terakhir, saat ini kita sudah memasuki Masa Kebenaran—Sat Yuga. Ketahuilah bahwa upaya rnereka tidak sia-sia. Yakinilah bahwa Masa Emas, Masa Kebenaran yang ditunggu-tunggu sudah kita masuki. Biarlah mereka yang masih senang dengan Kali Yuga, tinggal di dalam Kali Yuga.

Let me share with you a secret: Anda dapat sewaktu-waktu menentukan datangnya Masa Kebenaran bagi diri Anda—kapan saja!

Dengan Satsanga atau pergaulan yang baik —tumbuh kembangkan Sadbhaavana atau perasaan baik dalam dirimu. Biarlah perasaan baik atau goodfeelings itu kemudian memicu pikiran-pikiran yang baik—Sadvichaar, sehingga perilaku kita menjadi balk. Anda selalu bertindak tepat—itulah Sadkarma, Sukarma.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Lima Pintu Masuk Kezaliman di Zaman Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit

Posted in Inspirasi Rohani on September 20, 2016 by triwidodo

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Silakan memasuki panggung dunia, tetapi lewat empat pintu saja. Jangan mengetuk pintu lain. Pintu Pertama adalah Pintu Judi…….”

Kali langsung saja mengiyakannya. Yang penting masuk dulu. Parikshit tidak sadar bahwa pengaruh Kali bisa mengubah apa saja menjacli perjudian. Lihat bagaimana bank-bank kita berlomba untuk memberi hadiah. Kita pun membuka rekening dengan harapan akan memperoleh hadiah, akan mempcroleh “lebih” daripada apa yang menjadi hak kita. Harapan seperti itu kalau bukan spekulasi apa lagi? Kemudian, spekulasi itu apa lagi kalau bukan perjudian?

Kali senang sekali. Dia bisa melihat jauh ke depan. Dia bisa menggunakan judi sebagai senjata ampuh untuk melumpuhkan kesadaran manusia. Pintu masuk satu itu saja sudah cukup.

buku-bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Vyaasa, penulis sejarah India zaman itu (dalam hal ini zaman Parikshit cucu Arjuna sebagai Raja Kerajaan Hastina, penulis kutipan) merasa perlu menjelaskan peralihan umat manusia dari masa sebelumnya ke Masa Gelap lewat sebuah cerita:

Pada suatu hari Kegelapan mewujud dan menampakkan diri pada Raja Parikshit: “Raja, kau pun tahu sudah saatnya aku memasuki panggung dunia… Tapi, kebajikan, kebijaksanaan, dan kasihmu selalu menahan diriku. Aku tidak bisa berperan sesuai dengan peran yang telah ditetapkan bagiku.”

Parikshit merenung sebentar. Kehadiran Kali memang sudah menjadi bagian dari cetak biru keberadaan. Dia tidak ingin rnenghalanginya, tetapi…….

“Baik, Kali……. Silakan memasuki panggung dunia dan berperan sesuai dengan peran yang telah ditetapkan bagimu……. Tetapi dengan syarat,” kata Parikshit.

“Syarat apa, Raja? Katakan apa maumu, Raja tanya Kali.

 

 

“Silakan memasuki panggung dunia, tetapi lewat empat pintu saja. Jangan mengetuk pintu lain. Pintu Pertama adalah Pintu Judi…….”

Kali langsung saja mengiyakannya. Yang penting masuk dulu. Parikshit tidak sadar bahwa pengaruh Kali bisa mengubah apa saja menjacli perjudian. Lihat bagaimana bank-bank kita berlomba untuk memberi hadiah. Kita pun membuka rekening dengan harapan akan memperoleh hadiah, akan mempcroleh “lebih” daripada apa yang menjadi hak kita. Harapan seperti itu kalau bukan spekulasi apa lagi? Kemudian, spekulasi itu apa lagi kalau bukan perjudian?

Kali senang sekali. Dia bisa melihat jauh ke depan. Dia bisa menggunakan judi sebagai senjata ampuh untuk melumpuhkan kesadaran manusia. Pintu masuk satu itu saja sudah cukup.

Apalagi Sang Raja sudah menjanjikan tiga pintu lagi. “Baik Raja, kuikuti saja perintahmu. Bagaimana dengan tiga pintu yang lain?” –katanya.

Kedua adalah Pintu Mabuk. Masukilah hidup mereka yang selalu dalam keadaan mabuk.”

Maksud Sang Raja mabuk secara harfiah, mabuk minuman keras, kecanduan ganja dan sebagainya. Kali melihatnya dari sudut pandangan berbeda. Mabuk harta juga mabuk. Mabuk takhta juga mabuk. Mabuk wanita/pria juga mabuk. Definisi mabuk Kali jauh lebih luas daripada definisi Parikshit.

Bukan hanya mereka yang ”punya”, mereka yang “tidak punya” juga bisa mabuk. Orang kaya mabuk harta. Orang miskin mabuk kemiskinan. Untuk mencari perhatian, dia pun memamerkan kemiskinannya. Bahkan seorang spiritual pun bisa mabuk, mabuk spiritualitas. kemudian dia menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Perkara mabuk dan hilangnya kesadaran ini sungguh menarik. Saya pernah bertemu dengan “orang yang tidak punya” di kota Mumbai, India. Dia tinggal di daerah kumuh yang  terletak persis di belakang daerah elite Marine Drive. Ditanya tinggal di mana, jawabnya selalu, “Di Marine Drive.” Hebat!

Seorang warga asing yang sudah tinggal di Indonesia selama puluhan tahun dan tidak memiliki rencana untuk kembali ke negeri asalnya, saya tanya, “Kenapa tidak menjadi warga negara Indonesia saja?”

Dia pun menjawab dalam keadaan mabuk, “Saat ini saya adalah warga ‘negara kelas satu’. Untuk apa menjadi warga ‘negara kelas dua’?”

Negeri asalnya dianggap kelas satu, Indonenesia dianggapnya kelas dua. Padahal cari makan di sini, tinggal di sini, menghirup udara Indonesia. Bayangkan! Inilah pengaruh Kali………

…………

“Baik Raja……. apa pun yang kau katakan. Lalu dua pintu berikutnya?” Kali bertanya kembali.

Ketiga adalah Pintu Zinah.”

Parikshit begitu yakin bahwa dalam kerajaannya tak seorang pun warganya melakukan perzinahan. Warga India saat itu rupanya cukup alim dan ”sadar”! Yang tidak disadari oleh Parikshit adalah “pengaruh Kali” terhadap dirinya. Berdialog dengan Kali saja sudah cukup untuk mempengaruhi kesaclarannya. Ia sudah mulai membedakan warga-“nya” dari warga dunia “yang lain”. Kali boleh mempengaruhi warga dunia yang lain, selama tidak mempengaruhi warganya, “Kali boleh masuk lewat pintu-pintu lain selama tidak lewat empat pintu yang telah ‘ku’-tentukan.” Ini pun ego, tapi apa boleh buat? Kali memang sudah harus memainkan perannya cli atas panggung dunia.

Bagi Kali, “perzinahan” tidak sebatas ” penyelewengan yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya”. Bagi Kali, “zinah” berarti merampas hak orang”. Zinah berarti “memaksakan kehendak diri”. ”Mewujudkan keinginan dengan cara apa saja”—itu pun zinah. Kadang kita memaksa dengan cara kasar dan keras. Kadang dengan cara halus, lembut— dengan merayu dan merengek. Paksaan tetaplah paksaan. Menaklukkan hati orang, kemudian memperbudaknya, atau mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan diri—semua itu perzinahan, adultery.

“Dan yang keempat, Raja?”

Keempat adalah Pintu Pembunuhan.”

Selama Parikshit berkuasa tak seorang pun warganya pernah dihukum karena melukai atau menyerang warga lain, apalagi membunuh.

Bagi Kali, pintu keempat yang diperbolehkan Parikshit itu merupakan berkah tersendiri. “Pembunuhan terjadi di mana-mana,” pikirnya, “ada yang dibunuh, ada yang malah melakukan aksi bunuh diri. Ada yang membunuh orang lain, ada yang membunuh nuraninya sendiri.”

Betul dia…… Tidak mendengarkan suara hati merupakan aksi pembunuhan terhadap nurani.

Sebelum pamit untuk memasuki panggung dunia, sempat-sempatnya Kali melakukan kalkulasi dalam “hati”. Hitung-hitung warga dunia yang dapat dipengaruhinya lewat pintu itu tak lebih dari dua pertiga jumlah penduduk dunia dalam satu masa. Masih tersisa sepertiga, dan Kali tidak rela. “Raja, Raja……. Kasihanilah diriku. Keempat pintu tadi belum cukup. Beri aku satu pintu lagi.”

Parikshit berpikir kembali, “Apa ya, apa ya….? Pintu ini…. Ah tidak…. Pintu itu, ah tidak juga….”

Akhirnya, “Kali, hanya satu pintu lagi—pintu kelima, pintu terakhir ialah di mana terjadi penimbunan harra. Itulah Pintu Kelima yang dapat kau gunakan. Pintu Harta Berlebihan.

Dalan bahasa Vyaasa, pintu kelima ini disebut Pintu Emas. Bila seseorang sudah mulai menimbun emas batangan, berarti hartanya sudah betul-betul berlebihan. Taruh di bank, takut ditelusuri oleh instansi pemerintah. Beli properti bisa dilacak juga. Ya sudah, simpan emas batangan saja di pekarangan belakang rumah.

Bila uang anda mengalir, Kali tidakmampu mempengaruhi kesadaran anda. Kali hanya bisa mempengaruhi anda bila harta anda tidak mengalir. Berhenti, tertimbun di satu tempat. Tidak pula berarti anda harus menghamburkan uang. Tidak menghamburkan, tetapi juga tidak menahan-nahan. Bila harta anda mengalir, roda ekonomi pun akan berputar dengan baik.

Di Barat mereka menghamburkan uang. Roda perekonomian berputar begitu cepat, sehingga kecelakaan pun kadang tak terhindari. Di Timur kita menyimpan-nyimpan uang, dan roda perekonomian kita berputar lamban.

Di Barat jaminan sosial sudah cukup baik, orang tidak perlu memikirkan masa tua. Di Timur, umumnya jaminan sosial masih di bawah standar, tanpa tabungan mau makan apa di masa tua.

Di Barat, satu baju cukup dipakai 2-3 kali, kemudian dibuang. Di Timur, satu baju dipakai hingga 2-3 tahun. Sudah jelek pun, kita masih tidak rela kalau harus membuangnya, atau menghibahkannya kepada yang ticlak punya baju. Disimpan terus dalam lemari.

Para pengamat di Timur mencela budaya Barat yang dianggap konsumtif. Padahal karena budaya konsumtif itu pula, negara-negara berkembang dapat mengekspor hasil industri mereka.

Para pengamat di Barat menganggap Timur masih terbelakang dan kurang maju, padahal karena keterbelakangan itulah hasil industri mereka masih murah dan bisa diekspor untuk memenuhi kebutuhan Barat.

Lima ribu tahun setelah terjadinya dialog antara Kali dan Parikshit, saat-saat ini kita scdang memasuki kembali Periode Emas atau Sat Yuga, The Age of Truth—Masa Kebenaran.

Prediksi saya Barat akan lebih dahulu memasuki Masa Kebenaran, karena roda perekonomian mereka berputar terus. Dan, di mana uang, harta berputar, Kali tak mampu singgah lama.

Harta berlebihan yang kita timbun tidak hanya menyusahkan diri kita karena pengaruh Kali yang dapat menyeret kesadaran kita ke titik terendah, tetapi juga menyusahkan orang lain. Menyusahkan keluarga dan kerabat. Mereka tergantung pada kita karena timbunan harta itu pula. Kita boleh berperan sebagai Sinterklas, asal sadar bahwa ketergantungan mereka pada diri kita merampas kemandirian mereka.

 

Selama kau mampu bekerja dan masih punya tabungan, keluarga dan kerabat pun mendekatimu; kelak di usia senja ketika badan sudah melemah, tak seorang pun akan menyapamu. Bhaja Govindam  5

 

Kali Yuga, Sat Yuga, atau masa lain yang mana pun, syair Shankara bersifat lintas masa. Sadarilah kesia-siaan harta-benda, keterikatanmu dengan kerabat dan keluarga, keangkuhanmu karena masih muda, karena pada suatu ketika nanti semuanya sirna…. Karena itu:

 

Bersoraklah dengan gembira, sebut nama Govinda, bodoh!

 

Demikian kau akan terbebaskan dari kutukan Kali. Kemudian serapah pun berubah menjadi berkah…… Tidak perlu menunggu datangnya Sat Yuga, saat ini dan sekarang juga kita bisa membebaskan diri dari pengaruh Kali. Kita bisa menciptakan Masa Keemasan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama umat manusia. Tidak perlu rnenunggu orang lain merasakan kesatuan dan persatuan dengan dirimu. Kembangkan rasa kesatuan dan persatuan dalamdirimu. Itu cukup sudah.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Sri Krishna, Sais Agung Kereta Kehidupan Kita, Pembawa Chakra dan Bunga Wijaya Kusuma

Posted in Inspirasi Rohani on September 10, 2016 by triwidodo

1-krishna-baru-plus-mantra

Jadikan Sri Krsna—Sang Sais Agung—sebagai Sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu birahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran yang Jernih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Kita akan menikmatinya dan mereka yang mendengar pun akan menikmatinya. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Simbol Krishna memegang Chakra dan Bunga Wijayakusuma di Jawa

Sebagai Duta Kebenaran, Sri Krishna digambarkan mempunyai beberapa senjata diantaranya Chakra dan Bunga Wijayakusuma.

Senjata Chakra:

Digambarkan sebagai mata anak panah berujud cakra bulat seperti roda dan bergerigi tajam di ujung-ujungnya. Senjata tersebut adalah simbol tentang Sang Kala, Waktu dan Hukum Sebab-Akibat  yang akan mengejar siapa pun juga walau berada  dimanapun juga. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari Chakra Sri Krishna, bahkan setelah meninggalkan dunia pun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apa pun tindakan aksi yang kita lakukan, chakra memastikan diri akan mengejar kita sampai di mana pun bahkan sampai di kehidupan selanjutnya. Chakra tidak terbelenggu oleh satu kehidupan masa kini saja.

Hukum Sebab Akibat dan Reinkarnasi menjelaskan: “Setiap orang yang menderita adalah karena ulahnya sendiri; karena perbuatannya sendiri. Jika tidak dalam hidup ini, seperti seorang bayi yang lahir cacat, maka dalam kehidupan sebelumnya.” Jadi hidup ini, masa kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, tidak berdiri sendiri. Masa hidup kini hanyalah salah satu episode dari serial panjang kehidupan. Jika kita melihat satu episode saja, maka tidak dapat memahami jalur ceritanya. Mesti melihat kehidupan secara utuh. Berdasarkan perbuatan, kebutuhan untuk berkembang, dam masih sederet urusan-urusan lain, setiap jiwa menentukan sendiri kelahirannya kembali. Seorang bayi yang lahir cacat sudah pasti karena ada pelajaran yang mesti diperolehnya lewat tubuh yang cacat itu. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Bunga Wijaya Kusuma:

Nah, jika memang ada hukum sebab-akibat yang tidak bisa dihindari, maka kita kembali pada pertanyaan: Kenapa mesti berdoa? Kenapa mesti memohon pengampunannya? Jika segala sesuatu terjadi karena Hukum Sebab-Akibat, maka apakah Tuhan masih berperan dalam sandiwara kehidupan ini?

Pertanyaan tersebut dijawab dengan simbol Bunga Wijaya Kusuma, Pengampunan, Amnesti. Bagaimana pun besarnya kesalahan kita, Bunga Wijaya yang dipegang Sri Krishna bisa mengampuninya. Tentu saja dengan melakukan sadhana, kegiatan-kegiatan bhakti secara rutin……..

Apa yang terjadi ketika seorang berbuat salah, dan kemudian dihukum — katakan sekian tahun ia mesti mendekam dalam penjara… Hukuman sudah dijatuhkan, tetapi jika selama dalam tahanan, perilakunya baik — maka bisa saja ia memperoleh potongan masa tahanan. Berbagai keringanan yang dapat diperolehnya jika ia juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi sesama tahanan. Contoh lain… Kita. dihukum untuk berjalan kaki di padang pasir dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Tidak diperbolehkan berhenti. Kita harus jalan tanpa henti. Tidak ada keringanan. Tapi, kemudian, seorang datang untuk membantu kita. Ia memberikan payung, sehingga kita sedikit terlindungi dari terik matahari. Perjalanan sepanjang hari pun menjadi ringan sedikit. Orang yang menawarkan payung adalah Sadguru, dan payung yang ditawarkannya itu adalah Payung Doa… Kemudian, jika kita yakin pada Kasih-Nya, pada Pengampunan-Nya, maka bisa saja awan tebal nan gelap menutupi matahari, dan perjalanan “keras” di padang pasir pun berubah menjadi piknik yang menyenangkan. Demikian peran Tuhan, demikian manfaat doa... Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Masih ada kemungkinan lain… Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalaha-kesalahan yang sama. Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Krishna dengan mahkota bulu merak dan seruling di tangan

Krishna juga digambarkan dengan simbol mahkota bulu merak, dan sedang memainkan seruling. Krishna adalah wujud ideal cinta ilahi. Seruling adalah hati manusia, dan hati dibuat berongga agar dapat menjadi seruling untuk melagukan irama kasih. Ketika hati kita padat tak berongga, tidak ada ruang tersedia, tidak ada tempat untuk cinta. Hati manusia mempunyai rongga, sehingga sakit dan derita juga dapat pergi melalui lobang seruling hati. Hati manusia adalah alat musik ilahi yang  dapat membawa dari sifat kefanaan menuju keabadian.

Mahkota bulu merak adalah simbol wahyu. Musik dari hati diungkapkan melalui mahkota, kepala. Adalah pengetahuan di kepala dan cinta di hati yang bersama-sama mengungkapkan pesan ilahi. Bulu merak di sepanjang zaman telah dianggap sebagai tanda kecantikan dan pengetahuan; kecantikan karena nampak indah, dan pengetahuan karena  bulu merak tersebut membentuk gambaran mata. Dengan pengamatan yang tajam manusia memperoleh pengetahuan. Sedangkan Pengetahuan tanpa cinta serasa tak bernyawa. Dengan seruling dan mahkota bulu merak simbol Krishna menjadi lengkap.

Foto Krishna model Jawa di Dworowati Solo

Cara Vishnu Sang Pemelihara Alam Memperingatkan Kita

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on September 8, 2016 by triwidodo

1-vishnu-plus-mantra

“Svapnapada atau Keadaan Mimpi adalah alam Viṣṇu, sang Pemelihara Ilahi Bertangan Empat. Tiga Tangan-Nya memegang śaṅkha atau cangkang keong; cakra atau cakram; dan gadā atau gada. Tunggangan-Nya adalah Garuḍa yang perkasa, raja para elang dan rajawali.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

 Cara alam memperingatkan kita

Uraian Bapak Anand Krishna tentang keempat tangan Vishnu pada tahun 2009 tidak pernah terlupakan. Vishnu bertangan empat: tangan pertama sedang memberikan blessing dengan telapak tangan menghadap depan; tangan kedua memegang kerang, semacam terompet alam; tangan ketiga memegang chakra; dan tangan keempat  memegang gada.

Alam memperingatkan manusia seperti simbol 4 tangan Vishnu. Pertama kali, tangan memberi “blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua kali, tangan memegang terompet kulit kerang, setelah kita terus melakukan kesalahan, alam memberi peringatan dengan teguran keras. Ketiga kali, tangan memegang chakra, Alam memberi semacam tenggat waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah. Keempat kali, tangan membawa gada, begitu semua peringatan sudah dilaksanakan, masih “ndhendheng”, bebal, maka gada yang berbicara.

Seperti halnya alam memberi peringatan tentang bencana banjir. Ketika kita menebang hutan, dan kayunya hanya untuk keperluan rumah tangga sederhana, alam memaafkan. Tetapi ketika kita menebang hutan semakin banyak, bahkan dijadikan komoditi perdagangan, dan lahan hutan dijadikan pemukiman, terompet alam memberi peringatan lewat air sungai yang menjadi keruh karena banyaknya lumpur akibat bukit gundul terkena air hujan. Alam pun menggerakkan lembaga advokasi untuk mengingatkan masyarakat dengan terompet media. Selanjutnya alam tetap menunggu, memberi tenggat waktu untuk bertobat, memulihkan kondisi hutan. Dan akhirnya, karena keserakahan manusia yang menebang hutan semena-mena, maka datanglah alam membawa gada dan banyak dapur rumah, basement, kendaraan terparkir  yang dimasuki air berlumpur.

Vishnu “made in” Solo tanpa gada, mungkin orang Solo terlalu halus, mosok perwujudan pemelihara alam, perwujudan kasih memakai gada. Arjuna pun digambarkan langsing dan hanya Bhima dan Satyaki kesatria tegas yang memakai gada. Mungkin cukup gerakan tangan, mudra sudah memberi hasil yang sama…….. who knows?

 

Mengembangkan Ke-Visnu-an dalam Diri, Makna 4 Tangan Visnu

ATRIBUT-ATRIBUT VISNU MELAMBANGKAN semua hal yang kita butuhkan untuk hidup berkesadaran dan berkemanusiaan.

Sankha atau cangkang kerang melambangkan Ucapan yang Bertenaga, Kuat, namun Manis. Tegas tapi Lembut.

Cakra atau Cakram adalah perlambang gabungan Ruang dan Waktu. Sebagaimana Master saya selalu berkata, “Jangan menyia-nyiakan waktu karena waktu bukan sekadar kekayaan, sebagaimana dipercaya banyak orang, sesungguhnya waktu adalah Tuhan. Waktu itu Ilahi.”

Mereka yang menyia-nyiakan waktu, disia-siakan waktu. Cakram tersebut mengingatkan kita untuk menjadi efisien dalam segala hal yang kita kerjakan; untuk menjadi produktif sekaligus kreatif. Di saat yang sama, hendaknya kita juga ingat bahwa Roda Waktu tidak pernah berhenti. Ia terus berputar. Marilah kita tidak kehilangan kejernihan pikiran; marilah kita tidak menjadi arogan saat kita bergerak ke atas. Dan, janganlah berkecil hati saat bergerak ke bawah.

Kita tidak menggunakan kata “jatuh dan bangun”, karena kata-kata tersebut memiliki konotasi yang keliru. Ketika kita bergerak ke bawah, kita tidak jatuh. Ke mana kita bisa jatuh? Kita hanya bergerak ke bawah untuk kemudian bergerak ke atas lagi.

Jika kita memahami Permainan Kehidupan, Permainan Waktu — Kalacakra atau Roda Waktu—kita tidak akan pemah bermuram-durja. Apa pun yang terj adi, “Ini juga akan berlalu!”

 

GADĀ ATAU GADA tidak menyiratkan kekerasan. Ia menyiratkan kesiapan untuk menghadapi segala jenis tantangan.

Dengan kata lain, ketika kita menghadapi orang-orang yang hanya berbicara dalam bahasa kekerasan; ketika semua balasan non-kekerasan kita tidak memberikan hasil; maka kita tidak memiliki pilihan lain selain menjawab mereka dengan bahasa yang mereka pahami.

Non-kekerasan tidaklah sama dengan sikap pengecut. Non-kekerasan tidak membuat kita kabur dari medan perang kehidupan. Non-kekerasan malah memberi kita kekuatan untuk menghadapi segala tantangan.

 

MASTER KITA SELALU BERBICARA TENTANG CINTA KASIH, NON-KEKERASAN. Salah satu dari kami, murid yang bodoh, menerjemahkannya sebagai “Love is the only Solution”, “Cinta Kasih adalah satu-satunya solusi”. Ia mencetak apa yang ia pahami sebagai kata-kata bij ak, pada kaus dan dan menyebarkan kaus tersebut.

Ketika Master melihatnya, beliau tergelak, “Apa yang akan kau lakukan bila kau menghadapi orang-orang yang tidak memahami bahasa cinta kasih? Bagaimana jika mereka tetap menyakiti dirimu? Cinta Kasih sebagai satu-satunya solusi adalah untukku, kawan. Aku tidak boleh mengangkat senjata, aku harus menerima semua pukulan mereka — tetapi ini bukan jalan yang tepat untuk kalian.

“Belaj arlah dari teladan dalam kisah Mahabharata. Krsna tidak mengangkat senjata. Ia adalah kusir Arjuna, bisa dikatakan tanpa pertahanan sama sekali. Tetapi, Ia tidak menasihati Arjuna untuk melepaskan senjata. Malahan, Ia menasihati Arjuna untuk menghadapi musuh-mushnya, menghadapi kebatilan.

“Kalian harus bertindak seperti Arjuna.

Bagi kalian, cinta kasih haruslah menjadi solusi terbaik, tapi bukan satu-satunya solusi. Jika cinta tidak berhasil, maka untuk membela diri, untuk membela kebajikan, untuk membela saudara-saudara dalam sarigha – kalian harus siap untuk menghadapi segala jenis tantangan!”

Berikutnya…..

 

TANGAN KEEMPAT VISNU BERADA DALAM SIKAP ABHAYA MUDRA: “Jangan takut! Bila Aku di sini?” demikian kata Master.

“Orang-orang hendaknya tidak takut pada kalian,” demikian lanjut Master,  “mereka hendaknya bekerja untuk kalian dan dengan kalian karena cinta.”

Pada kesempatan yang lain, beliau menjelaskan, “Kadang menjadi keharusan untuk mendisiplinkan anak-anak kalian, staf kalian, bawahan kalian. Kalian tidak boleh menghindar dari tindakan disiplin tersebut. Tindakan penegakan disipilin juga merupakan manifestasi dari cinta kasih. Tentu saja niat kalian haruslah jemih dan murni. Kalian tidak mendisiplinkan seseorang dengan benci. Hendaknya kalian melakukannya dengan cinta.”

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Foto Vishnu di Dworowati Solo

Semar, Akomodatif Adaptif Bisa Menerima Apa Saja, Rohnya Indonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on September 5, 2016 by triwidodo

1 Semar ke kanan plus mantra

Rishi Agastya

Rishi Agastya adalah Resi Utama dari Bangsa Arya di India. Dikisahkan Rishi Agastya pindah dari India Utara ke India Selatan. Dengan kehadiran sang resi seluruh masyarakat India Selatan mulai berangsur-angsur menjadi saleh dan sejahtera.

“Agastya tidak pernah memaafkan dirinya. Di India Selatan dia hidup dalam pengasingan. Semacam self-exile—mengasingkan diri. Jauh dari keramaian. Bersama Lopamudra, Agastya menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran. Manusia India rata-rata bisa menerima perbedaan. Umumnya orang India bisa mengapresiasi agama lain, kepercayaan dan keyakinan lain. Hati mereka, jiwa mereka jauh lebih terbuka. Dan, itu karena Rishi Agastya. Karena getaran-getaran pikirannya mempengaruhi bangsa ini selama ribuan tahun………..”

“Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar…….. Semar, Agastya adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka.” dikutip dari halaman 60-61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Rishi Agastya bertemu dengan Rishi Hayagreeva

Rishi Agastya bertapa di daerah Kanchi (Tamil Nadu), India Selatan dan Sri Maha Vishnu mewujud sebagai Hayagreeva menemui sang rishi. Agastya bertanya, “Wahai Penguasa Alam, adakah jalan keselamatan bagi mereka yang berada dalam  “ignorance”, ketidaktahuan, yang tidak mengetahui Kebenaran, tidak mengenal siapa jatidirinya pada zaman Kali Yuga ini?”

Hayagreeva menjawab, “Ada dua buah cara:

Cara pertama adalah renounce, menyangkal, menafikan segala sesuatu – Ini bukan Kebenaran, itu bukan Kebenaran. Dengan Gyaana Yoga mereka dapat mencapai Kebenaran tentang “Attributeless”, sifat Keberadaan yang tanpa sifat. Ini adalah sebuah cara yang sangat sulit.

Kemudian, cara kedua adalah tunduk dan menjadi devoti dari Bunda Ilahi, Bunda Alam Semesta. Bahkan orang yang melakukan kesalahan pun dapat mengambil jalan ini. Banyak yang mendapatkan keselamatan lewat jalan ini!”

 

Resi Agastya kemudian minta Hayagreeva menceritakan tentang Bunda Ilahi, Dewi Yang Paling Mulia, Dewi yang melampaui dualitas, melampaui hukum sebab-akibat, melampaui Maya. Bahkan ShIva pun tanpa I (shakti) menjadi Shava (jasad) yang tidak bisa bergerak. Bunda Ilahi adalah Para Shakti (Mahashakti). Demikianlah asal usul Chanting Lalita Sahasranama yang berada dalam kitab Lalitopakyana, Kisah Dewi Lalita, Sang Bunda Ilahi. Lalita Sahasranama berada dalam bab 36 dari Lalitopakyana. Ini adalah sebuah himne yang menggambarkan 1.000 nama dari Sri Lalita.

 

Beristirahat sebentar di pangkuan Himalaya

“Ya, Rishi Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia ‘beragama’ semakin fanatik. Indonesia melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendekiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Dan itu jelas salah. Beliau juga ingin beristirahat sebentar. Ingin tidur sebentar di pangkuan Himalaya……….” dikutip dari halaman 61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Sudah kembali di Indonesia

Beliau ingin mengunjungi tempat-tempat suci yang bermunculan dalam 5000 tahun terakhir. Tetapi sekarang beliau sudah kembali ke Indonesia…… Negeri ini bagaikan kereta yang sudah turun dari jalur. But, don’t worry, he will fix it. Beliau bisa menangani hal itu. Tanpa bantuan siapa-siapa, beliau bisa melakukannya sendiri. Beruntunglah kalian dan Joseph, sehingga terpilih sebagai pembantu Sang Guru……..”

“Semar berkomunikasi dengan mereka lewat pikiran. Saat mereka dalam keadaan reseptif dan terbuka, mereka mendengarkan suara Semar. Dan suara Semar sesungguhnya suara hati. Suara kesadaran tinggi. Suara ‘diri’ mereka yang hakiki.”

“Sungguh beruntung kalian, bisa melihat wujud Semar. Bisa melihat Roh Indonesia, Jiwa Bangsa itu berwujud…….”

“Dan hal itu hanya terjadi, bila seseorang dalam keadaan sangat reseptif, terbuka….. yaitu bila seseorang sudah melampaui hawa nafsu dan berada pada tingkat kasih. Pertahankan kesadaranmu pada tingkat itu. Jadilah seorang Vishwamitra—Sahabat Sejati Alam Semesta. Seorang Maitreya—Mitra Dunia………” dikutip dari halaman 62-61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Foto Semar di Dworowati Solo