Semar, Akomodatif Adaptif Bisa Menerima Apa Saja, Rohnya Indonesia

1 Semar ke kanan plus mantra

Rishi Agastya

Rishi Agastya adalah Resi Utama dari Bangsa Arya di India. Dikisahkan Rishi Agastya pindah dari India Utara ke India Selatan. Dengan kehadiran sang resi seluruh masyarakat India Selatan mulai berangsur-angsur menjadi saleh dan sejahtera.

“Agastya tidak pernah memaafkan dirinya. Di India Selatan dia hidup dalam pengasingan. Semacam self-exile—mengasingkan diri. Jauh dari keramaian. Bersama Lopamudra, Agastya menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran. Manusia India rata-rata bisa menerima perbedaan. Umumnya orang India bisa mengapresiasi agama lain, kepercayaan dan keyakinan lain. Hati mereka, jiwa mereka jauh lebih terbuka. Dan, itu karena Rishi Agastya. Karena getaran-getaran pikirannya mempengaruhi bangsa ini selama ribuan tahun………..”

“Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar…….. Semar, Agastya adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka.” dikutip dari halaman 60-61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Rishi Agastya bertemu dengan Rishi Hayagreeva

Rishi Agastya bertapa di daerah Kanchi (Tamil Nadu), India Selatan dan Sri Maha Vishnu mewujud sebagai Hayagreeva menemui sang rishi. Agastya bertanya, “Wahai Penguasa Alam, adakah jalan keselamatan bagi mereka yang berada dalam  “ignorance”, ketidaktahuan, yang tidak mengetahui Kebenaran, tidak mengenal siapa jatidirinya pada zaman Kali Yuga ini?”

Hayagreeva menjawab, “Ada dua buah cara:

Cara pertama adalah renounce, menyangkal, menafikan segala sesuatu – Ini bukan Kebenaran, itu bukan Kebenaran. Dengan Gyaana Yoga mereka dapat mencapai Kebenaran tentang “Attributeless”, sifat Keberadaan yang tanpa sifat. Ini adalah sebuah cara yang sangat sulit.

Kemudian, cara kedua adalah tunduk dan menjadi devoti dari Bunda Ilahi, Bunda Alam Semesta. Bahkan orang yang melakukan kesalahan pun dapat mengambil jalan ini. Banyak yang mendapatkan keselamatan lewat jalan ini!”

 

Resi Agastya kemudian minta Hayagreeva menceritakan tentang Bunda Ilahi, Dewi Yang Paling Mulia, Dewi yang melampaui dualitas, melampaui hukum sebab-akibat, melampaui Maya. Bahkan ShIva pun tanpa I (shakti) menjadi Shava (jasad) yang tidak bisa bergerak. Bunda Ilahi adalah Para Shakti (Mahashakti). Demikianlah asal usul Chanting Lalita Sahasranama yang berada dalam kitab Lalitopakyana, Kisah Dewi Lalita, Sang Bunda Ilahi. Lalita Sahasranama berada dalam bab 36 dari Lalitopakyana. Ini adalah sebuah himne yang menggambarkan 1.000 nama dari Sri Lalita.

 

Beristirahat sebentar di pangkuan Himalaya

“Ya, Rishi Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia ‘beragama’ semakin fanatik. Indonesia melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendekiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Dan itu jelas salah. Beliau juga ingin beristirahat sebentar. Ingin tidur sebentar di pangkuan Himalaya……….” dikutip dari halaman 61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Sudah kembali di Indonesia

Beliau ingin mengunjungi tempat-tempat suci yang bermunculan dalam 5000 tahun terakhir. Tetapi sekarang beliau sudah kembali ke Indonesia…… Negeri ini bagaikan kereta yang sudah turun dari jalur. But, don’t worry, he will fix it. Beliau bisa menangani hal itu. Tanpa bantuan siapa-siapa, beliau bisa melakukannya sendiri. Beruntunglah kalian dan Joseph, sehingga terpilih sebagai pembantu Sang Guru……..”

“Semar berkomunikasi dengan mereka lewat pikiran. Saat mereka dalam keadaan reseptif dan terbuka, mereka mendengarkan suara Semar. Dan suara Semar sesungguhnya suara hati. Suara kesadaran tinggi. Suara ‘diri’ mereka yang hakiki.”

“Sungguh beruntung kalian, bisa melihat wujud Semar. Bisa melihat Roh Indonesia, Jiwa Bangsa itu berwujud…….”

“Dan hal itu hanya terjadi, bila seseorang dalam keadaan sangat reseptif, terbuka….. yaitu bila seseorang sudah melampaui hawa nafsu dan berada pada tingkat kasih. Pertahankan kesadaranmu pada tingkat itu. Jadilah seorang Vishwamitra—Sahabat Sejati Alam Semesta. Seorang Maitreya—Mitra Dunia………” dikutip dari halaman 62-61 buku (Krishna, Anand. (2001). Shalala, Merayakan Hidup. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Foto Semar di Dworowati Solo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: