Sri Krishna, Sais Agung Kereta Kehidupan Kita, Pembawa Chakra dan Bunga Wijaya Kusuma

1-krishna-baru-plus-mantra

Jadikan Sri Krsna—Sang Sais Agung—sebagai Sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu birahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran yang Jernih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Kita akan menikmatinya dan mereka yang mendengar pun akan menikmatinya. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Simbol Krishna memegang Chakra dan Bunga Wijayakusuma di Jawa

Sebagai Duta Kebenaran, Sri Krishna digambarkan mempunyai beberapa senjata diantaranya Chakra dan Bunga Wijayakusuma.

Senjata Chakra:

Digambarkan sebagai mata anak panah berujud cakra bulat seperti roda dan bergerigi tajam di ujung-ujungnya. Senjata tersebut adalah simbol tentang Sang Kala, Waktu dan Hukum Sebab-Akibat  yang akan mengejar siapa pun juga walau berada  dimanapun juga. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari Chakra Sri Krishna, bahkan setelah meninggalkan dunia pun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apa pun tindakan aksi yang kita lakukan, chakra memastikan diri akan mengejar kita sampai di mana pun bahkan sampai di kehidupan selanjutnya. Chakra tidak terbelenggu oleh satu kehidupan masa kini saja.

Hukum Sebab Akibat dan Reinkarnasi menjelaskan: “Setiap orang yang menderita adalah karena ulahnya sendiri; karena perbuatannya sendiri. Jika tidak dalam hidup ini, seperti seorang bayi yang lahir cacat, maka dalam kehidupan sebelumnya.” Jadi hidup ini, masa kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, tidak berdiri sendiri. Masa hidup kini hanyalah salah satu episode dari serial panjang kehidupan. Jika kita melihat satu episode saja, maka tidak dapat memahami jalur ceritanya. Mesti melihat kehidupan secara utuh. Berdasarkan perbuatan, kebutuhan untuk berkembang, dam masih sederet urusan-urusan lain, setiap jiwa menentukan sendiri kelahirannya kembali. Seorang bayi yang lahir cacat sudah pasti karena ada pelajaran yang mesti diperolehnya lewat tubuh yang cacat itu. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Bunga Wijaya Kusuma:

Nah, jika memang ada hukum sebab-akibat yang tidak bisa dihindari, maka kita kembali pada pertanyaan: Kenapa mesti berdoa? Kenapa mesti memohon pengampunannya? Jika segala sesuatu terjadi karena Hukum Sebab-Akibat, maka apakah Tuhan masih berperan dalam sandiwara kehidupan ini?

Pertanyaan tersebut dijawab dengan simbol Bunga Wijaya Kusuma, Pengampunan, Amnesti. Bagaimana pun besarnya kesalahan kita, Bunga Wijaya yang dipegang Sri Krishna bisa mengampuninya. Tentu saja dengan melakukan sadhana, kegiatan-kegiatan bhakti secara rutin……..

Apa yang terjadi ketika seorang berbuat salah, dan kemudian dihukum — katakan sekian tahun ia mesti mendekam dalam penjara… Hukuman sudah dijatuhkan, tetapi jika selama dalam tahanan, perilakunya baik — maka bisa saja ia memperoleh potongan masa tahanan. Berbagai keringanan yang dapat diperolehnya jika ia juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi sesama tahanan. Contoh lain… Kita. dihukum untuk berjalan kaki di padang pasir dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Tidak diperbolehkan berhenti. Kita harus jalan tanpa henti. Tidak ada keringanan. Tapi, kemudian, seorang datang untuk membantu kita. Ia memberikan payung, sehingga kita sedikit terlindungi dari terik matahari. Perjalanan sepanjang hari pun menjadi ringan sedikit. Orang yang menawarkan payung adalah Sadguru, dan payung yang ditawarkannya itu adalah Payung Doa… Kemudian, jika kita yakin pada Kasih-Nya, pada Pengampunan-Nya, maka bisa saja awan tebal nan gelap menutupi matahari, dan perjalanan “keras” di padang pasir pun berubah menjadi piknik yang menyenangkan. Demikian peran Tuhan, demikian manfaat doa... Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Masih ada kemungkinan lain… Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalaha-kesalahan yang sama. Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Krishna dengan mahkota bulu merak dan seruling di tangan

Krishna juga digambarkan dengan simbol mahkota bulu merak, dan sedang memainkan seruling. Krishna adalah wujud ideal cinta ilahi. Seruling adalah hati manusia, dan hati dibuat berongga agar dapat menjadi seruling untuk melagukan irama kasih. Ketika hati kita padat tak berongga, tidak ada ruang tersedia, tidak ada tempat untuk cinta. Hati manusia mempunyai rongga, sehingga sakit dan derita juga dapat pergi melalui lobang seruling hati. Hati manusia adalah alat musik ilahi yang  dapat membawa dari sifat kefanaan menuju keabadian.

Mahkota bulu merak adalah simbol wahyu. Musik dari hati diungkapkan melalui mahkota, kepala. Adalah pengetahuan di kepala dan cinta di hati yang bersama-sama mengungkapkan pesan ilahi. Bulu merak di sepanjang zaman telah dianggap sebagai tanda kecantikan dan pengetahuan; kecantikan karena nampak indah, dan pengetahuan karena  bulu merak tersebut membentuk gambaran mata. Dengan pengamatan yang tajam manusia memperoleh pengetahuan. Sedangkan Pengetahuan tanpa cinta serasa tak bernyawa. Dengan seruling dan mahkota bulu merak simbol Krishna menjadi lengkap.

Foto Krishna model Jawa di Dworowati Solo

Advertisements

One Response to “Sri Krishna, Sais Agung Kereta Kehidupan Kita, Pembawa Chakra dan Bunga Wijaya Kusuma”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: