Cara Menyelamatkan Diri di Zaman Gelap Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit

buku-bhaja-govindam-sapi-dharma

Kali mempengaruhi masyarakat pada zaman Kali Yuga lewat 5 pintu: Pintu Judi, Pintu Mabuk, Pintu Zinah, Pintu Pembunuhan, dan Pintu Harta Berlebihan.

Silakan baca ulang Lima Pintu Masuk Kezaliman di Zaman Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit yang merupakan permintaan Kali kepada Raja Parikshit pada saat awal Zaman Kali Yuga.

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/20/lima-pintu-masuk-kezaliman-di-zaman-kali-yuga-kisah-maharaja-parikshit/

Setelah Kali Yuga dimulai, maka kegelapan mulai menaungi zaman dan kejahatan merajalela. Raja Parikshit kaget saat melihat kondisi yang berubah memburuk begitu cepat……

Silakan simak kisah Parikshit pada Zaman Kali Yuga berikut:

 

Cover Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pada suatu hari Raja Parikshit melihat seekor sapi merintih kesakitan, karena tiga dari empat kakinya sudah tidak ada. Ia berdiri di atas satu kaki saja. “Aneh,” pikir Parikshit, ”sapi ini bisa berdiri di atas satu kaki.”

Ternyata sapi itu bisa membaca pikiran Parikshit, “Raja, aku adalah Dharma. Karena pengaruh Kali Yuga, terpaksa aku berdiri di atas satu kaki saja.”

Dharma sering kali diterjemahkan sebagai “agama”. Boleh-boleh saja asal tidak disalahartikan sebagai agama formal sebagaimana tercantum di atas kartu identitas diri kita. Dharma berarti kebajikan. Dharma berarti akhlak. Dharma berarti budi-pekerti. Dharma berarti “apa saja yang kau pikirkan, kau ucapkan dan kalu lakukan dengan kesadaran”.

Parikshit ikut merintih kesakitan, “Apa gunanya kekuasaanku, bila aku tidak mampu melindungi Dharma?”

Zaman sekarang, boro-boro ikut merintih. Sementara rakyat pun menderita, para pemimpin berpcsta pora di hotel-hotel berbintang lima. Sementara rakyat di pedesaan sulit memperoleh air bersih untuk minum, para…….. rakyat malah mengkonsumsi air yang diimpor dari luar negeri. Pantas saja bila mereka tidak lagi merasa dekat dengan Tanah Air. Aduh,  bangsaku dipimpin oleh orang-orang “asing”!

Parikshit adalah seorang raja yang sadar. Ia ikut merintih bersama Dharma, “Katakan Dharma, apa yang harus kulakukan?”

“Sudahlah Raja, tidak perlu menangisi nasibku. Apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. Lebih baik menyelamatkan satu kaki yang tersisa ini,” jawab Dharma.

“Apa maksudmu Ibu Dharma? Apa yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan kakimu. Apa pula arti tiga kaki yang sudah terpisah dari badanmu?” tanya Sang Raja.

Maka lembu itu menjelaskan, “Kakiku yang pertama adalah tapa atau ‘pengendalian diri. Di zaman Kali Yuga ini, manusia sulit mengendalikan dirinya. Pengendalian diri dia gugur karena ego, keangkuhan, keakuan.

“Kakiku kedua mewakili shoucha atau ‘kesucian’—kesucian dalam pikiran, ucapan, dan tindakan. Kesucian pun gugur karena keterikatan. Keterikatan mempengaruhi kejernihan pandangan manusia.

“Kaki ketiga, dayaa atau ‘welas asih’ tidak ada karena hawa—nafsu. Sisa satu kaki saja Raja… dan yang satu ini mewakili satya—‘kebenaran’. Yang satu ini harus kau bantu selamatkan. ”

“Bagaimana Ibu Dharma, bagaimana menyelamatkan kebenaran di zaman Kali Yuga ini?” tanya Parikshit.

Dengan menghindari kusanga, yaitu pergaulan dengan mereka yang tidak menjunjung tinggi kebenaran,” jawab Dharma.

Kesadaran kita merosot karena pergaulan dengan mereka yang tidak menunjang terjadinya peningkatan kesadaran. Kesadaran kita merosot karena keterikatan dengan keaclaan yang tidak menunjang evolusi batin. Kita sudah salah gaul….. lebih baik kurang gaul daripada salah gaul.

Bersandarlah pada Kebenaran, bergaullah dengan Kebenaran, dan kesadaranmu tak akan merosot. Bagi para sufi seperti Mansoor, Sarmad……… Kebenaran atau Haqq adalah Puncak Kesadaran. Demikian pula bagi Mahatma Gandhi, Truth is God. Kebenaran itulah Tuhan.

Berkat para sufi dan para wali Allah, para mesias dan rasul, para buddha, dan avatar yang menjunjung tinggi Kebenaran selama lima ribu tahun terakhir, saat ini kita sudah memasuki Masa Kebenaran—Sat Yuga. Ketahuilah bahwa upaya rnereka tidak sia-sia. Yakinilah bahwa Masa Emas, Masa Kebenaran yang ditunggu-tunggu sudah kita masuki. Biarlah mereka yang masih senang dengan Kali Yuga, tinggal di dalam Kali Yuga.

Let me share with you a secret: Anda dapat sewaktu-waktu menentukan datangnya Masa Kebenaran bagi diri Anda—kapan saja!

Dengan Satsanga atau pergaulan yang baik —tumbuh kembangkan Sadbhaavana atau perasaan baik dalam dirimu. Biarlah perasaan baik atau goodfeelings itu kemudian memicu pikiran-pikiran yang baik—Sadvichaar, sehingga perilaku kita menjadi balk. Anda selalu bertindak tepat—itulah Sadkarma, Sukarma.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: