Archive for October, 2016

yang Memenangkan Perang bukan Saya tetapi Krishna

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 30, 2016 by triwidodo

buku-shangrila-krishna-sais-arjuna

Sore itu, Joseph dan Devi juga duduk bersama mereka. Duduk dalam keheningan, sambil memperhatikan napas. Mata mereka tertutup. Setengah  jam kemudian, Sang Guru mempersilakan mereka untuk membuka mata:

“Selama perang Bharatayudha, Krishna menjadi sais kereta Arjuna. Kisah ini sarat dengan makna. Krishna sebagai sais kereta….. ah!”

Anand Giri berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Jadikan Tuhan sebagai Sais Kereta Kehidupanmu. Biarkan Dia menuntunmu. Jangan meragukan, menyangsikan kebijakan-Nya. Mau dibawa ke mana saja, jangan mengeluh. Dia Maha Tahu. Jangan sok pintar. Jika berhadapan dengan seorang Krishna, jadilah bodoh. Jangan banyak bicara, dengarkan Dia……..

buku-shangrila

Cover Buku Shangrila

“Arjuna tahu persis, Krishna itu siapa. Tetapi, lagi-lagi kesadarannya merosot. Seusai perang Bharatayudha, ketika keretanya sudah sampai di depan tendanya, sebagaimana biasanya Arjuna menunggu Krishna untuk turun dulu dan membuka pintu untuk dia. Bayangkan, scorang Arjuna yang sudah tahu kesejatian Krishna masih juga memperlakukan Krishna sebagai sais biasa. Sebagai sopir. Tunggu sopir membuka pintu mobil, baru turun.

“Demikianlah ego para Arjuna. Dan Arjuna bisa ditemukan dalam diri setiap orang. Jangan menertawakan ketololan Arjuna, karena dia juga ada dalam diri kalian.

“Hari itu, Krishna tidak mau turun. Arjuna pun pura-pura membenahi bajunya. Mengangkt senjatanya, kemudian menaruhnya kembali untuk diangkat Iagi. Dia masih tunggu Krishna turun.

“Krishna yang sedang memperhatikan gerak-gerik Arjuna, akhirnya mempersilakan Arjuna

turun, ’Turun dulu, Arjuna…’

“’Turun dulu.’—pikir Arjuna, ’Nggak salah?!’ Kesal, tetapi dia tidak berani mcmbantah Krishna. Mukanya masam. Dia turun dan melangkah cepat menuju kemahnya tanpa menyalami Krishna.

“Sementara itu, Krishna pun langsung turun. Dan begitu turun, kereta yang dia bawa selama berrhari-hari meledak sambil mengcluarkan suara dahsyat. Arjuna menoleh ke belakang, ’Astaga, keretanya hancur, terbakar.’

“’Apa yang terjadi, Krishna?’ tanya Arjuna.

“Krishna rnenjawab, ‘Keretamu ini sudah berulang kali diserang oleh musuh. Kalau masih utuh, itu hanya karena Aku masih ada di dalamnya. Sekarang Aku turun dan selesai sudah tugas kereta ini, maka Aku biarkan hancur.’

“Arjuna sadar kembali bahwa kemenangan yang dia peroleh di medan perang Kurukshetra, bukan karena keahliannya, tetapi semata-mata karena Krishna. Tanpa Krishna, mungkin dia sudah ikut hancur lebur bersama keretanya.

“Renungkan kisah ini. Dan temukan Arjuna yang bersemayam di dalam diri kalian. Sadarkan dia bahwa apa pun yang terjadi, terjadi hanya karena Krishna. Bukan karena dia…..”

Anand Giri memejamkan kembali matanya. Para murid menerima isyarat Sang Guru. Jika ia memejamkan mata, mereka pun ikut memejamkan mata.

Advertisements

Dvarapala, 2 Penjaga Setia Istana Vishnu Lahir ke Dunia Melawan Avatara Vishnu

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 25, 2016 by triwidodo

buku-si-goblok-arca-dwarapala

Intensitas perasaan dan ingatan terhadap Tuhan

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.”

“Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini. Kalangan radikal yang membunuh atas nama Tuhan dan agama-Nya bisa jadi mengalami intensitas perasaan yang begitu hebat.”

“Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Menjalankan “peran jahat sesuai skenario Sutradara”, sebaik mungkin

Berikut kisah Hiranyaksa dan Hiranyakasipu yang membenci Sri Vishnu, Ravana dan Kumbakarna yang membenci Sri Rama, serta Sisupala dan Dantavakra yang membenci Sri Krishna. Mungkinkah mereka hanya menjalankan peran jahat sesuai skenario Sang Sutradara yang diberikan kepada mereka, agar umat manusia belajar dari kisah mereka? Dan, setelah selesai mereka keluar dari panggung dunia? Moksa? Berikut kutipan dari Penjelasan Bhagavad Gita….

 

“Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan ‘peran’ yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika ‘peran’ itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.”

…………….

Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Silakan simak kisah lengkap pada Tautan di bawah ini:

buku-si-goblok

Cover Buku Si Goblok

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Penjaga Gerbang Istana Dua Raksasa Dwarapala

Kita melihat gambar dua penjaga Raksasa Dwarapala di depan istana dalam “Gunungan” wayang kulit. Demikian juga di kiri-kanan gerbang gedung megah sering terdapat sepasang arca raksasa memegang gada.

Dua raksasa yang bernama Jaya dan Vijaya tersebut juga diabadikan sebagai nama pegunungan di Papua sebagai penjaga pintu gerbang Indonesia di sebelah timur oleh Presiden pertama RI, Soekarno……

Mereka adalah penjaga gerbang setia di Vaikuntha, Istana Vishnu.

Dikisahkan Vishnu ingin suasana tak terganggu saat berdua dengan istrinya Lakshmi. Jaya dan Wijaya diinstruksikan untuk tidak mengizinkan semua pengunjung masuk istana.

Empat tamu, para putra Brahma telah mempunyai janji untuk bertemu dengan Vishnu, akan tetapi Jaya dan Wijaya menolak mereka masuk ke dalam istana. Ke empat tamu tersebut marah dan salah satunya Resi Sanaka memberi kutukan bahwa ke dua raksasa penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Vishnu, dewa yang selama ini menjadi pelindungnya.

Pada saat pertengkaran itu, Vishnu muncul di depan mereka. Bertobat atas kebodohan dan keangkuhan mereka, Jaya dan Vijaya memohon Vishnu untuk membebaskan mereka dari kutukan sang tamu. Vishnu mengatakan bahwa dia tidak bisa membatalkan kutukan, tapi bisa mengurangi intensitasnya. Dia memberi mereka dua pilihan: mereka bisa memilih opsi pertama untuk lahir di dunia sebanyak 7 (tujuh) kali sebagai bhakta, devoti Vishnu; atau opsi kedua untuk lahir di dunia sebanyak 3 (tiga) kali sebagai musuh bebuyutan Vishnu. Vishnu mengatakan kepada mereka bahwa setelah menjalani salah satu dari dua opsi tersebut, mereka akan bisa kembali ke Vaikuntha dan menduduki posisi semula sebagai Dwarapala.

Jaya dan Vijaya bahkan tidak bisa membayangkan berada jauh dari Vishnu selama tujuh kali kehidupan di dunia. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menjadi musuh bebuyutan Vishnu selama tiga kali kelahiran. Dengan cara itu, mereka pikir mereka juga akan mampu mencapai moksa di tangan Vishnu yang mereka cintai.

Jalan yang biasa ditempuh manusia untuk “Menyatu dengan Gusti” adalah dengan cara berbuat kebaikan. Jalan yang ditempuh Jaya dan Vijaya adalah jalan pintas tercepat, setiap saat dalam kehidupan di dunia, mereka hanya berpikir tentang musuh mereka yaitu Vishnu, tak ada waktu senggangpun tanpa berpikir tentang Vishnu musuhnya. Pikiran, ucapan dan tindakan mereka hanya terfokus pada Vishnu, musuhnya di dunia dengan intensitas yang sangat tinggi. Onepointedness, ekagrata negatif….. itu sangat sulit…….. dan negatif atau positif itu adalah hasil pikiran kita, dan Dia Sang Misteri Agung di luar pemikiran kita…… bagi Dia siapa tahu yang penting justru intensitasnya?

 

Tiga kali kelahiran di dunia sebagai musuh Vishnu

Pada zaman Satya Yuga, Jaya dan Vijaya pertama kali lahir sebagai saudara kembar iblis, Hiranyaksha dan Hiranyakashipu. Hiranyaksha mati dibunuh Vishnu yang mewujud sebagai Varaha, babi hutan raksasa, sedangkan Hiranyakashipu dibunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Narasimha, raksasa yang berkepala singa.

Pada zaman Treta Yuga, Jaya dan Vijaya kemudian mengambil kelahiran kedua sebagai Ravana dan Kumbakarna, yang terbunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Sri Rama.

Akhirnya, di zaman Dwapara Yuga, Jaya dan Vijaya lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra dibunuh oleh Vishnu yang mewujud sebagai Sri Krishna.

Sisupala dan Dantavakra tersenyum menjelang kematian mereka, terbunuh oleh senjata Chakra Sri Krishna. Seakan-akan mereka berkata, “Terima kasih Vasudeva, peranku di dunia telah selesai!” Pikiran mereka hanya terfokus pada Sri Krishna, seperti tertulis dalam Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demikianlah salah satu kisah dalam buku Srimad Bhagavatam .

Mungkinkah Duryodana dan Shakuni juga hanya menjalankan peran jahat yang diberikan kepada mereka? Mereka dihujat bahkan sampai kini. Tak ada orang yang menamakan putranya dengan nama mereka. Kisah mereka membuat umat manusia sadar dan tidak ingin menjadi mereka. Itukah sebabnya di salah satu versi, saat Pandawa masuk surga mereka telah melihat para Korawa telah masuk surga duluan???  Bagi kita yang penting hikmah yang kita peroleh dari berbagai versi kisah….. apa pun versi kisah itu……..

Foto salah satu Dvarapala di Alun-Alun Utara Surakarta.

Kisah Raja Janaka, Pentingnya Mengingat Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 23, 2016 by triwidodo

buku-tetap-waras-jaman-edan-malaikat-elmaut

“Sang Nabi pernah bersabda: Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. Selalu mengingat kematian merupakan salah satu cara meditasi yang sudah berusia ribuan tahun. Suatu cara kuno sekali, yang sudah lama dikenal oleh para mistik Timur. Selalu mengingat kematian juga merupakan salah satu cara yang paling gampang untuk memasuki alam tafakkur. Apa yang kita sebut ‘meditasi’ dalam bahasa Arab disebut tafakkur. Selalu mengingat kematian tidak akan menjadikan kita pesimis terhadap kehidupan tidak sama sekali. Justru akan menjadikan kita sangat ‘dinamis’. Kita akan selalu sadar. Sadar sepenuhnya, sadar senantiasa sadar akan tanggung jawab kita terhadap lingkungan.” Dikutip dari Pesan Bapak Anand Krishna di tahun 2.000

Berikut sebuah kisah indah Raja Janaka mengingatkan seorang pemuda tentang pentingnya mengingat kematian seperti yang tertulis dalam buku: (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-tetap-waras-jaman-edan

Cover Buku Tetap Waras di Zaman Edan

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

………….

Setelah menyelesaikan pendidikannya, seorang anak muda menghadapi ayahnya, seorang pertapa. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang jurus-jurus ilmu yang dikuasainya. Pemuda itu merasa sudah menguasai segala bidang ilmu dan bangga bahwa dapat melakukan hal itu dalam waktu yang singkat Jekali.

Sang Pertapa mencium arogansi anaknya, “Nak kau memang sudah menguasai berbagai cabang ilmu. Tetapi menurut pendapatku, masih ada suatu bidang yang belum kau kuasai. Pergilah menghadap Raja Janaka, teman baikku. Ia akan mengajarkan apa yang belum kau kuasai itu.”

“Belajar dari seorang Raja, ayah? Apa yang ia ketahui tentang spiritualitas? Seorang raja hidup mewah, dikelilingi oleh benda-benda materi, yang justru membuat kita terikat pada dunia benda ini. Apa yang dapat aku peroleh dari dia?”—pemuda itu agak bingung.

“Kau belum pernah bertemu dengan dia, nak. Jangan punya prasangka dan praduga terbadap sesuatu yang belum kau alami sendiri. Pergilah menghadap Raja ]anaka”—demikian nasihat sang pertapa.

Walaupun tidak puas dengan penjelasan ayahnya, ia tidak ingin membantah. Ia mohon pamit dan langsung pergi menghadap Sang Raja.

Hari sudah sore ketika pemuda itu sampai di istana, dan sang raja sedang beristirahat di ruang pribadinya. Karena tidak ingin tinggal lama di suatu tempat yang ia anggap “sangat duniawi”, pemuda itu mohon agar bisa diterima segera. Begitu diberitahu oleh penjaga, Sang Raja pun langsung menerima pemuda itu, “Putra sahabatku, kau telah memberkati istana ini dengan kunjunganmu. Apa yang dapat kulakukan untukmu? Bagaimana dengan ayahmu, baik-baik saja kan?”

“Semuanya baik-baik saja, Baginda Raja. Sebenarnya aku di suruh ke sini untuk mendapatkan suatu pelajaran yang menurut ayah, hanya aku peroleh di sini” – sang pemuda menjelaskan tujuannya, sambil melirik kanan dan kiri. Ia rnelihat Sang Raja dikerumuni oleh permaisurinya, oleh para pelayan wanita, mungkin selir-selirnya. Ranjangnya empuk dan ruang itu sangat mewah sekali. Dalam hati, ia berpikir, “Entah pelajaran apa yang dapat aku peroleh  dari manusia yang sangat duniawi ini?”

“Sebenarnya kami tidak layak untuk memperoleh kehormatan dan kepercayaan yang dilimpahkan ayahmu kepada kami. Kami menganggapnya sebagai perintah. Baiklah, kami siap melaksanakan. Besok pagi, kita akan mulai belajar. Sementara, putra sahabatku, beristirahatlah malam ini. Kan pasti sudah lelah.”

Pemuda itu diantar ke salah satu ruang yang disediakan untuk para tamu khusus. Sebenarnya ia tidak ingin berada lama-lama di istana. Ia menganggapnya sebagai tempat maksiat, di mana yang berkuasa adalah “setan kesenangan duniawi”. Tetapi ia harus mengindahkan perintah ayahnya, walaupun dalam hati kecilnya ia sudah mulai menyangsikan kebijakan ayahnya,

Begitu masuk dalam ruangan, ia menemukan ranjang yang sangat empuk. la menghindari dirinya duduk di atas ranjang itu. Selama bertahun-tahun ia memperoleb pelajaran bahwa Tuhan hanya dapat ditemukan dalam keadaan prihatin. Tuhan berada di balik tangisan para yatim piatu, di balik jeritan para janda— demikian yang ia pelajari selama ini. Belum ada yang mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan berada di balik kemewahan dan hal-hal yang berbau “duniawi”. Ia memutuskan tidak akan menggunakan ranjang itu.

Ia berusaha tidur di atas lantai marmer yang tidak beralas. Permadani pun dianggapnya barang mewah. Ia menghndari segala kemewahan duniawi. Karena memang sudah lelah, ia ketiduran. Tetapi tengah malam, ia terbangun karena mimpinya yang sangat menakutkan. Ia mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk itu dan sedang menikmatinya. la mengutuk dirinya, mengutuk mimpinya, “bagaimana aku, seorang pertapa, dapat mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk  dan malah menikmatinya?!” Ia berusaha tidur lagi, tetapi tidak bisa. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah ranjang itu dan mengingat kembali mimpinya. Betapa nyamannya ranjang yang empuk itu, betapa enaknya tidur di atas ranjang itu!

Akhirnya, ia tidak dapat menahan  diri. Ia toh sendirian dalam ruangan itu. Tidak ada yang melihatnya, apa salahnya tidur di atas ranjang itu? Setidaknya mencoba saja. Ia tergoda dan langsung saja naik ke atas ranjang.

Rupanya ada mekanisme di bawah ranjang itu, karena begitu ia menaikinya, ranjang itu langsung terangkat ke atas. Sekarang ia berada di tengah-tengah ruangan. la kaget, dan berusaba untuk turun kembali.

Tetapi, apa yang dilihatnya? Lantai di bawah pun sudah tergeser dan diganti oleh kolam. Yang membuat dia lebih gelisah lagi, di kolam itu, ia melihat beberapa ekor buaya, “sialan”!

Begitu melihat ke atas, ia tambah cemas lagi. Ada beberapa pedang yang tergantung persis di atas ranjangnya. Ia memperhatikan talinya—temyata tali sutera yang sangat tipis, “mampus”.

la sudah kehabisan akal, apa yang harus dilakukannya. Di atas ada pedang, di bawah ada buaya. Ia berteriak minta bantuan, tidak ada yang mendengar teriakannya, “Keparat si Raja itu, ia ingin membunuh saya”—pikiran demikian yang mulai muncul.

Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur. Lelap sedikit, mungkin ada pedang yang jatuh dan melukai dia, bahkan bisa membunuh dia. Kalau jatuh ke bawah,  pasti menjadi makanan buaya. Ia gelisah, cemas, takut.

Sekitar jam 06.00 pagi, tiba-tiba ranjangnya turun ke bawah, kolam tertutup dengan lantai marmer lagi dan pedang-pedang di atamya juga menghilang, sepertinya ditarik ke atas kembali. Ia menarik napas panjang.

Pintu kamar itu terbuka dan ia melihat Sang Raja memasuki kamarnya, “Putra sahabatku, bagaimana—bisakah kau tidur nyenyak semalam?”

“Tidur? Baginda Raja, aku harus berterus-terang—tadi malam Baginda telah mempersiapkan segala sesuatu untuk membunuh diriku. Kebetulan saja bahwa aku masih hidup”—pemuda itu sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Putra sahabatku, kau tidak bisa tidur karena takut mati?”—tanya Sang Raja sambil tersenyum.

“Tentu saja, siapa yang bisa tidur dalam keadaan mencekamkan itu?”—amarah pemuda itu masih nampak jelas.

“Dan putra sahabatku, kau tidak menikmati ranjang yang empuk dan kemewahan ruangan ini karena takut mati?”—Sang raja masih bertanya.

“Bagaimana saya dapat menikmati semuanya itu? Begitu lelap sedikit, aku akan mati konyol”— sang pemuda menjawab.

“Itulah pelajaran yang ayahmu ingin kau pelajari, putra sahabatku. Apa yang dapat kuberikan telah kuberikan. Sekarang kau boleh pulang”—ujar sang raja.

“Pelajaran? Apa maksud Baginda?”—pemuda itu bingung….

“Kemarin aku sengaja mengundang kamu masuk, ke ruang pribadiku, Kau melihat kemewahan hidupku, dan dari lirikan matama, aku bisa tahu bahwa kau menyangsikan kebijakan ayahmu mengirim kamu ke sini—bukankah demikian, putra sahabatku? ”— Janaka bertanya kembali.

Bara amarah pemuda ita sudah mulai pudar, “Memang demikian, Baginda.”

“Aku tinggal di dalam istana yang mewah ini, tetapi selalu ingat kematian. Aku tahu persis bahwa kapan saja ajalku bisa tiba. Itu sebabnya aku selalu sadar. Aku tidak pernah tertidur lelap. Aku menikmati hidup mewah ini, tetapi aku tidak pernah lupa bahwa pada suatu ketika, semuanya ini akan berakhir. Badan ini pun akan berakhir. Semuanya ini ibarat impian. Keberadaannya hanya untuk sesaat.”

Pemuda itu menundukkan kepalanya. Kata-kata Sang Raja itu menusuk jiwanya, menghabisi keangkuhannya dan melahirkan sesuatu yang “baru”, yang “indah” dalam dirinya!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Tarian Shiva, Penciptaan dan Pemusnahan Tak Berkesudahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 21, 2016 by triwidodo

1-shiva-menari

Hubungan Tuhan dengan alam bukan seperti pabrik dengan produk tetapi antara penari dan tarian

 

“Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

 

“Tuhan bukanlah ‘pabrik’ yang terpisah dari barang-barang ‘buatan pabrik’. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan ‘terjadi’ saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

buku-michael-jackson-500x500

Pratima, arca Shiva Nataraja digambarkan Shiva sedang menari. Kaki kirinya diangkat dan kaki kanan menginjak manusia kerdil melambangkan kemenangan atas ilusi dan kebodohan. Di atas kepalanya simbol sungai Gangga yang dahsyat dapat ditenangkan, diikat dengan rambutnya. Tangan kiri atas memegang api melambangkan kekuatan kreativitas dan pemusnah segalanya, lengan bagian yang rendah dililit  ular cobra merupakan simbol ego yang sudah terkendalikan. Tangan kanan atas memegang alat musik “damru” merupakan simbol feminin dan maskulin. Tangan kanan bawah  memberikan pernyataan “jangan takut. Lingkaran api melambangkan siklus kematian dan kehidupan yang tak berakhir.

 

“Konsep Michael (Jackson, pencatat) tentang penciptaan ini persis sama dengan konsep para bijak pada masa lalu. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, ‘permainan’ Tuhan. ‘Menciptakan’ itu adalah cara Tuhan untuk melewatkan waktu luang.

“Kesadaran mewujudkan dirinya melalui penciptaan – dengan kata lain, Tuhan mengekspresikan Diri-Nya melalui ciptaan. Seluruh alam raya ini adalah ekspresi, perwujudan Tuhan, Sang Kesadaran Tertinggi.

“Kesadaran yang sama juga dapat memilih untuk menjadi statis beberapa saat, diam tanpa ekspresi, tanpa kegiatan. Sang penari boleh dong memutuskan untuk istirahat beberapa saat. Saat itulah tarian tidak dapat terlihat. Namun, tarian itu tetap ada, ‘di dalam’ sang penari. Tidak pergi ke mana-mana, tetap bersama sang penari… namun tak terdeteksi.

“Konsep ini benar-benar berbeda dari pandangan umum tentang Pencipta sebagai pabrik atau produsen, di mana produk hasilnya masih dapat dideteksi walaupun pabriknya sedang tidur, atau produsennya sudah lama wafat.

“Nah, sekarang karena seluruh penciptaan sejatinya adalah tarian dari  Sang Penari Teragung, berarti kita bagian dari tarian tersebut. Kita semua sesungguhnya sedang berdansa, menari bersama dengan sang pencipta. Kita bernyanyi dan bergerak bersama Tuhan. Kita berpaduan suara dengan Tuhan. Peran kita sesungguhnya dalam permainan keberadaan ini adalah sebagai tim sorak-sorai.

“Dunia tempat tinggal kita ini adalah tarian Sang Pencipta. Para penari datang dan pergi dalam sekejap mata, namun tarian akan tetap ada. Kita semua bagaikan satu langkah dalam tarian ini. Tuhan selalu mengganti-ganti langkah, jadi kita datang dan pergi dalam sekejap mata. Gerakan-gerakan Tuhan itu otomatis, cepat, lebih cepat daripada kilat. Gerakan-Nya berada di luar kemampuan berpikir manusia, karena pikiran kita pun sesungguhnya juga bagian dari permainan. Perubahan-perubahan terjadi dalam dan bagi pikiran kita. Perubahan dalam pikiran dan emosi – semua ini disebabkan oleh gerakan-gerakan Sang Penari yang amat cepat.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

 

Kita semua adalah satu

“Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. ‘Goresan’ DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil.

“Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian.”

 

Fritzof Capra, seorang pakar Fisika Modern dalam buku “The Dance of Shiva: The Hindu View of Matter in the Light of Modern Physics,” dan “The Tao of Physics” mengatakan bahwa setiap partikel subatomik tidak hanya melakukan tarian energi, tetapi juga proses penciptaan dan pemusnahan tanpa akhir.

Tarian Shiva sendiri adalah tarian tak berkesudahan penciptaan dan pemusnahan seluruh alam semesta.

#KisahSufi Zun-Nun, Yang Tidak Berjiwa Sufi Tak Akan Pernah Memahami Sufi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 20, 2016 by triwidodo

buku-samudra-sufi-zun-nun-dari-mesir

Jangan memberikan barang berharga kepada mereka yang tidak memahaminya

 

Persis seperti yang dikatakaan oleh Isa: “Jangan memberi mutiara kawanan babi”. Mereka tidak mengerti nilainya. Malah jika mutiara itu ditelannya, maka akan keselek. Dan, bisa jadi mereka menyerang balik, karena Anda dianggap “kurang ajar, memberi makanan kok sekeras itu, sampai aku keselek.” Penjelasan Bhagavad Gita 18:67 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bagi kita rezeki berlimpah, pasangan, anak, orangtua, harta, jabatan adalah berkah, bagi Bhagavad Gita itu semua belum berkah

 

Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya. Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan “diri” yang baik. Jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. Tinggal memilih pasangan……..

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Penjelasan Bhgavad Gita 10:11 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Babi tidak mengenal nilai mutiara, kita belum mengenal Berkah Gusti Pangeran sesungguhnya, di bawah ini kisah orang yang belum bisa memahami kehidupan para sufi seperti dikisahkan dalam buku: (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)……

buku-samudra-sufi

Cover Buku Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Seorang pemuda menghadap Zun-Nun, sufi tersohor dari Mesir:

“Saya masih belum paham, tujuan para sufi itu apa? Pakaian mereka compang-camping. Mereka tak acuh terhadap dunia. Mereka justru menjadi beban bagi masyarakat.”

Sambil melepaskan cincin dari salah satu jarinya, Zun-Nun berkata, “Begini kawanku, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Coba, bisakah kau menjualnya seharga satu keping emas.”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda itu ragu-ragu, “Satu keping emas. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

Zun-Nun mendesak, “Cobalah kawanku, bantulah aku. Sekembalinya, akan kujawab pertanyaanmu.”

Dan pemuda itu pergi ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging, dan lain-lainnya. Tidak seorang pun yang berani membelinya seharga 1 keping emas. Cincin itu ditawar satu keping perak. Tentu saja, ia tidak berani menjualnya. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun, “Tidak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun memintanya kembali, “Sekarang, tolong ke toko mas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepadanya, jangan buka harga. Dengarkan, bagaimana penilaian dia.”

Pemuda itu pun ke toko emas, dan ternyata cincin itu dinilai seribu keping emas. Ia kembali menghadap Zun-Nun, “Rupanya, para pedagang di pasar tidak cahu nilai cincinmu. Nilainya seribu kali lebih tinggi dari yang kutawarkan. Mereka bodoh. Mereka tidak membelinya dengan harga satu keping emas. Padahal harganya seribu keping emas.”

Zun-Nun menanggapinya, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu. Apabila ingin menilai seorang sufi, ingin menilai ajaran sufi, kau harus berjiwa sufi pula. Hanya pedagang emas dan permata yang dapat menilai perhiasan emas dan permata. Para pedagang sayur tidak dapat menilainya. Apabila kau ingin mengetahui tentang sufi, jadilah seorang sufi. Tidak ada jalan lain.

 

Mereka yang tidak berjiwa sufi, tak akan pernah memahami sufi. Sebaliknya, apabila Anda belum menyelami sufi, Anda tidak akan pernah berjiwa sufi, Memang paradoks, tetapi demikianlah  adanya!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Kisah Dewi Sri dan Vishnu, Keberlimpahan tiada arti tanpa Sang Kekasih

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 12, 2016 by triwidodo

1-vishnu-plus-lakshmi1-vishnu-plus-laksmi-sendiri

Dikisahkan bahwa Lakshmi selalu bepergian, tidak berdiam di satu tempat. Ada yang memaknai bahwa kesejahteraan, keberlimpahan tidak bertahan lama. Itulah sebabnya simbol Lakshmi ditempatkan di antara Ganesha (sang putra) dan Sarasvati (sahabatnya) agar lebih betah tinggal. Bisa dimaknai dengan kebijaksaaan (Ganesha) dan pengetahuan (Sarasvati), kesejahteraan, keberlimpahan akan betah.

Parvati, Uma, Durga merupakan sahabat baik Lakshmi. Oleh sebab itu Laksmi (kesejahteraan, keberlimpahan) diharapkan betah bersama Parvati (kesucian).

Seseorang  sangat yakin dengan berkah seorang Master yang memberinya gambar Laksmi yang sedang duduk, dia berharap kesejahteraan, keberlimpahan duduk betah di tempatnya.

Di bawah ini kisah Lakshmi yang di Jawa dikenal sebagai Dewi Sri dengan Vishnu, sebagaimana ditulis dalam buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………..

 

Di jawa Shree adalah lambang kesuburan, bahkan diwujudkan sebagai perempuan cantik, yaitu Dewi Sri atau Devi Lakshmi. Pasangannya, Vishnu, juga disebut Shreepati yang berarti “Suami Shree”. Pati berarti suami.

Vishnu adalah pemelihara jagat raya. Dan, pemeliharaan merupakan salah satu sifat Tuhan; salah satu fungsi Keberadaan. Penggambaran Vishnu, Lakshmi, dan lain-lain adalah bersifat metaforis. Ini hanyalah lambang, atau tanda-tanda Kebesaran Yang Maha Besar Ada-Nya. Mereka yang tidak tahu, dan tidak mau tahu, beranggapan bahwa orang Jawa zaman dulu memuja berhala. Mereka memiliki banyak Tuhan. Sayang sekali, anggapan itu muncul dari ketidaktahuan.

Kisah metaforis ini indah sekali. Ambil hikmahnya. Ibarat buah mangga, makanlah dagingnya. Jangan mempersoalkan kulitnya.

Shreepati pernah dibuat bingung oleh arogansi istrinya. Sambil memijit kaki Sang Suami, Shree berkata, “Pernahkah terpikir olehmu, apa yang terjadi bila aku tidak mendampingimu?”

Shreepati mencium sesuatu yang aneh, “Tidak pernah, Shree. Tetapi, kenapa kau bertanya demikian?”

“Nggak, suamiku… begitu saja koq… Cuma kadang kupikir untuk memelihara jagat ini, kau membutuhkan kesuburan, kesejahteraan dan …”

“Oh ya,” Shreepati menanggapi istrinya, “semua itu berasal darimu. I am nothing with you. Apa daya Vishnu tanpa Lakshmi? Apa daya Shreepati tanpa Shree?”

Dalam hati, Sang Pemelihara berpikir, “begitu toh! Ya sudah. . .”

Sementara itu hati Shree berbunga-bunga “Tidak ada jagat bila aku tidak ada.” Muncul “aku”-nya. Muncul arogansi dan egonya.

Shreepati pun tidak duduk diam. Ia membisiki seorang pengabdinya yang setia, Resi Narada (baca juga Narada Bhakti Sutra—Cinta Tak Terbatas dan Tak Bersyarat oleh Anand Krishna—Ed.), “Let? play a game. Saatnya bermain sandiwara.”

Narada memahami maksud Vishnu, dan mendatangi Shree, “Betapa aku mengagumi keunggulanmu, Mahadevi. Aku tidak membutuhkan bukti, aku mengakuinya.”

Senanglah Shree, ia melirik suaminya.

“Tetapi, untuk warga dunia, keunggulanmu harus dibuktikan,” kata Narada, ”biar mereka pun tahu bahwa tanpamu jagat raya akan hancur lebur.”

Sang suami yang memang menyutradarai adegan itu mendukung Narada, ”Ya Dewiku… Narada betul. Biar manusia tahu betapa pentingnya kau. Tak seorang pun bisa berbuat apa-apa, tanpamu.”

Mengikuti skrip sandiwara yang sudah dibuat oleh Sang Pemelihara, Narada mengajak mereka turun ke dunia kita, ke Mayapada. Menurut rencana mereka, selama enam bulan pertama Narada menjadi promotor Shree, enam bulan berikutnya mempromosikan Shreepati.

Mengikuti tradisi orang bule, Ladies First, Shree memperoleh giliran pertama. Narada menggunakan segala media untuk mempromosikan Shree, “Seorang yogi perempuan yang baru saja turun dari Himalaya mengunjungi kota anda. Ia akan keliling dunia selama enam buIan saja. Setiap negara dikunjungi satu kali saja. Terlewatkan sekali, kesempatan emas ini terlewatkan untuk selamanya.”

Shree tidak berbicara banyak, tapi berbuat banyak. Di setiap kesempatan ia membagi kepingan emas yang keluar dari tangannya. Alam imajinasi orang India, Devi Lakshmi memang memiliki tangan ajaib. Kepingan emas keluar terus menerus dari tangannya. Orang India memang tidak terlalu percaya terhadap uang kertas dan plastik. Mereka lebih percaya pada emas, logam mulia.

Berita tentang mukjizat yang dipertunjukkan oleh Shree melanda seluruh dunia. Media cetak dan elektronik saling sikut-menyikut supaya bisa meliput pertemuan-pertemuan Shree secara khusus. Ada yang menawarkan uang satu juta dollar kcpada Narada untuk Talk Show bersama Shree. Narada tidak bisa menahan tawanya, “Aduh, bagaimana anda ini. Apa arti satu juta dollar? Kepingan emas yang dikeluarkan Shree selama duapuluh empat jam saja sudah lebih dari 2 juta dollar.” Semua orang bingung bagaimana membeli waktu Shree.

Para konglomerat dan pejabat tinggi harus antre untuk sekadar menyalami Shree. Lalu pada suatu ketika Shree menerima undangan makan dari seorang presiden. Wah lebih repot lagi Narada. Para petinggi negara, sultan, raja, dan emir seluruh dunia pun minta booking. Semua ingin mengundang Shree. Apalagi setelah berita tentang keajaiban yang terjadi di rumah pengundang pertama disiarkan oleh CNN, BBC dan VOA—Shree dan hanya Shree yang menghiasi frontpage setiap koran di seluruh dunia.

Yang terjadi malam itu memang luar biasa. Peralatan makan apa saja yang tersentuh oleh Shree, berubah menjadi emas. Piring, mangkok, sendok, garpu, sumpit, bahkan tusuk gigi pun berubah menjadi emas!

Shree tidak membutuhkan waktu enam bulan untuk menaklukkan dunia. Waktu enam minggu pun sudah lebih dari cukup baginya.

Shreepati berpura-pura malu. (Sambil menundukkan kepalanya, ia berkata, “Istriku, aku mengakui kehebatanmu. Tetapi, bahwa kau menaklukkan dunia hanya dalam 6 minggu, tak terpikir olehku. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Kupikir kau sudah harus mengakhiri permainanmu. Aku mengaku kalah ”

“Maaf, Tuanku. . . Maaf sekali lagi, tapi Tuanku tidak bisa mengundurkan diri begitu saja. Silakan Mahadevi mengakhiri perannya, tetapi Tuanku tetap bermain,” kata Narada, lagi-lagi sesuai dengan skenario rancangan ”Tuan”-nya, Vishnu.

Mahadevi mendesaknya juga, ”Ya, ya suamiku… kan main-main saja.”

“Baiklah…,” nada Vishnu berat, seolah ia terpaksa melakukan sesuatu.

Maka turunlah Vishnu ke Mayapada, dan mulai berkarya. Ia memperoleh pengikut, pendengar, tapi hanya satu, dua… Dalam enam bulan jumlah pengikutnya bertambah menjai puluhan saja. Sementara itu Shree yang sudah berpulang ke alamnya, Vaikuntha, Lapisan Surga Teratas, mulai menghitung hari, “Tinggal sehari lagi, besok ia balik. Suamiku balik. . ..”

Ternyata Vishnu tidak balik juga. Yang datang malah Narada, “Wah, celaka Mahadevi.”

“Celaka apa, Narada?” Shree kaget.

“Tuanku tidak mau balik ke Vaikuntha. Ia mau menetap di Mayapada.”

“Mau menetap di dunia? Untuk apa? Ada apa di sana?” Shree betul-betul terkejut.

“Nah itu, Mahadevi, memang ada apa-apanya sehingga Tuanku tidak mau balik.”

Langsung terpancinglah Mahadevi Shree, “Ada apa-apanya? Apa maksudmu Narada? Katakan sejujur-jujurnya.”

“Ketemu seorang perempuan di sana. Maaf, Mahadevi, maafkan aku… Tuanku jatuh cinta. Sudah mabuk kepayang dalam cinta dia.” Kepalanya menunduk ke bawah, seolah malu atas perbuatan Tuan-Nya, Narada memainkan perannya dengan sangat baik.

“Siapa perempuan itu? Bisa-bisanya…”

Biasa… Walau Mahadevi, tetaplah ia adalah seorang istri; tidak rela dirinya dimadu. Bergegaslah ia turun ke Mayapada bersama Narada. Eh, betul. Ia menemukan suaminya bercumbuan engan wanita lain. Marah besar dia. Memerah matanya. Napasnya kacau. Ia meneriaki Vishnu, “Suamiku apa-apaan kamu ini?”

Vishnu berpura-pura takut, terkejut, “Shree, Shree.. . Oh Shree, maafkan  Pikirku aku sudah tidak layak bagimu. Kau mampu menaklukkan dunia hanya dalam enam minggu. Aku tidak mampu. Karena itu aku memutuskan untuk tinggal di sini saja.”

“Tidak, tidak, suamiku… tidak… nahin, nahin, nahin. . .,” teriak Shree, persis seperti dalam film India. “Kau tetaplah suamiku. Jangan berkata begitu. Apa arti dunia bagiku? Kaulah arti hidupku.”

Narada mengeluarkan secarik kertas dari kantongnya, “Tunggu dulu Mahadevi. Maafkan Tuanku. Duh, aku lupa dialog terakhir tadi….. biar kubaca …. .. tunggu ya, oh ya….. Ternyata Mahadevi bisa menaklukkan dunia, tetapi tertaklukkan oleh Vishnu, oleh Shreepati.”

Shree menangis haru, sedikit marah juga. “Ternyata kalian berdua mempermainkan aku…… Tapi siapa wanita itu di sisimu?”

“Lihat Devi, lihatlah siapa dia. . .,” kata Vishnu.

Aneh, Shree tidak melihat apa-apa, Koq nggak ada, suamiku. . ..”

“Memang tidak ada,” jawab Vishnu, “tidak ada wanita lain di sisiku. Yang terlihat olehmu tadi hanyalah pikiranmu sendiri. Pikiranmu terpengaruh oleh Narada. Kau menganggap benar apa yang dikatakan oleh Narada. Anggapanmu itu sendiri yang mewujud menjadi wanita.”

Shree mengakui kesalahannya, “Maafkan aku, suamiku. Shree memang Shree, tapi apa arti Shree tanpa Shreepati!”

Narada menyeletuk, “Apa arti jagat raya tanpa Shree dan Shreepati!”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Foto Lakshmi dekat dengan Vishnu di Dworowati, Solo agar Lakshmi betah tinggal

Bodhidharma, 2 Pilihan Menuju Kebenaran : Jalan Pengetahuan, Otak atau Jalan Pengabdian, Hati

Posted in Inspirasi Rohani on October 11, 2016 by triwidodo

 1-bodhidharma-terang-plus-nama

  1. Banyak jalan menuju Jalan Raya. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan: Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian…. Sekian banyak jalan-jalan kecil pun dikelompokkan Bodhidharma menjadi dua:
    1. Kelompok pertama mewakili otak, pikiran, mind—jalan yang banyak diminati. Di antara para pengguna otak, banyak yang bahkan tidak tahu bila ada pilihan lain.
    2. Kelompok kedua mewakili hati, rasa, feelings—jalan yang tidak banyak diminati.
    3. Jalan pertama, Jalan Pengetahuan atau Gyaana Maarga menuntut analisis, reasoning: Ini tidak, itu bukan… inipun tidak, itu pun bukan. Dengan cara itu seorang saadhaka, seorang yang suka melakukan olah rohani, seorang pencari atau seeker membebaskan diri dari segala belenggu untuk menemukan Kebenaran.
    4. Jalan kedua, Jalan Pengabdian atau Bhakti Maarga menuntut penyerahan diri, surrender: Ini kamu, itu pun Kamu….. Wajah-Mu di barat, di timur pun Wajah-Mu….. Kerajaan-Mu di Surga, di dunia pun Kerajaan-Mu.
    5. Siddharta Gautama, Sang Buddha, dan para pengikutnya secara umum berada pada jalur Gyaana Maarga. Lewat jalur itulah mereka memperoleh pencerahan, memasuki alam meditasi.
    6. Bodhidharma, walau merupakan “pengikut Sang Buddha”, sesungguhnya berada pada jalur kedua. Sang Buddha meninggalkan istana untuk mencari kebenaran. Bodhidharma pun demikian. Ia pun meninggalkan istana. Sepintas, sepertinya mereka sama….. sama-sama meninggalkan istana, namun alasan mereka meninggalkan istana tidak sama. Siddharta meninggalkan istana untuk “mencari”Kebenaran. Bodhidharma meninggalkan istana karena telah “menemukan” Kebenaran, kemudian istana pun kehilangan makna baginya.

 

  1. Memasuki alam meditasi lewat Jalur Pengabdian berarti mempunyai kemampuan untuk
    1. menerima ketidakadilan,
    2. menyesuaikan diri dengan keadaan,
    3. berhenti mengejar sesuatu, dan
    4. menerjemahkan dharma dalam hidup sehari-hari.

 

  1. Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…… aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan…… mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.

 

  1. Laku Kedua: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebagai makhluk hidup, kita semua terkendali oleh keadaan, belum dapat mengendalikan diri. Keadaan pula yang menentukan pengalaman suka dan duka. Rezeki, penghargaan, ketenaran, atau pengalaman lain yang kita peroleh dalam hidup ini, semata-mata karena perbuatan kita di masa lalu, karena keadaan masa lalu. Bila keadan berubah, pengalaman kita pun berakhir, berubah. Kenapa membesar-besarkan pengalaman itu? Keberhasilan dan kegagalan tergantung pada keadaan, namun “kesadaran”mu tidak tergantung pada sesuatu pun. Ia tidak mengalami pasang-surut. Mereka yang tidak terpengaruh oleh angin kenikmatan, oleh hawa nafsu, memasuki alam meditasi dengan mudah.

 

  1. Laku Ketiga: Berhenti mengejar sesuatu. Warga dunia ini umumnya hidup dalam ketidaksadaran. Mereka selalu mengharapkan sesuatu, mengejar sesuatu. Hanya segelintir orang bijak yang “terjaga”, sadar, kemudian tidak lagi mengikuti kebiasaan umum. Kesadaran diri mereka tidak terpengaruh oleh keadaan di luar diri yang berubah terus. Yang terpengaruh oleh perubahan itu hanya badan mereka, fisik mereka. Keberadaan sekitarmu sesungguhnya tidak memiliki bobot. Tidak ada sesuatu apapun yang berarti di dalamnya, lalu apa yang harus dikejar? Suka dan duka silih berganti. Tinggal dalam dunia”berlapis tiga” ini seperti tinggal di dalam rumah yang terbakar. Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari badan. Adakah seorang “berbadan” yang bebas dari penderitaan? Mereka yang memahami hal ini tidak lagi terikat pada keberadaan dan berhenti berkhayal, berhenti mengejar sesuatu. Ayat-ayat suci pun menyampaikan hal yang sama: “Mengejar berarti menderita. Berbahagialah ia yang telah berhenti mengejar”. Saat kau berhenti mengejar, ketahuilah bahwa saat itu pula kau telah menemukan Jalan.

 

  1. Laku Keempat: Menerjemahkan Dharma atau kebajikan dalam hidup sehari-hari. Sadar akan Kebenaran bahwa pada hakikatnya Keberadaan suci adanya – itulah Dharma. Dan, sadar akan ketiadaan di balik Keberadaan – itulah Kebenaran. Tak ada lagi ketidakterikatan dan keterikatan; tak ada pula subyek dan obyek. Ayat-ayat suci pun menyampaikan:”Dharma melampaui segala macam keadaan oleh karenanya ia bebas dari segala macam noda. Dharma melampaui ‘aku’, maka bebas dari segala bentuk pencemaran”.Para bijak yang memahami serta meyakini hal ini sudah pasti melakoni Dharma dalam hidup sehari-hari. Sadar akan hakikat yang tak pernah berkurang, mereka senantiasa siap sedia untuk menyerahkan jiwa, raga serta harta tanpa penyesalan maupun rasa angkuh sebagi pemberi atau penerima. Sambil melakoni Dharma dan mempertahankan kesadaran diri, mereka memberi tanpa pamrih; berbagi tanpa keterikatan membantu tanpa pilih kasih. Demikian, mereka memuliakan Jalan menuju Pencerahan. Bukan sekadar memberi atau berbagi, “kebaikan-kebaikan” lain pun merekajalani. Walau sudah berbuat banyak serta menjalani enam kebaikan untuk melampaui ilusi, sesungguhnya mereka tidak berbuat apa-apa; mereka tidak menjalani apa-apa.

Dikutip dari Outline of Practice atau Intisari Meditasi oleh Bodhidharma yang diulas Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Foto Bodhidharma di Dworowati Solo