Bodhidharma, 2 Pilihan Menuju Kebenaran : Jalan Pengetahuan, Otak atau Jalan Pengabdian, Hati

 1-bodhidharma-terang-plus-nama

  1. Banyak jalan menuju Jalan Raya. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan: Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian…. Sekian banyak jalan-jalan kecil pun dikelompokkan Bodhidharma menjadi dua:
    1. Kelompok pertama mewakili otak, pikiran, mind—jalan yang banyak diminati. Di antara para pengguna otak, banyak yang bahkan tidak tahu bila ada pilihan lain.
    2. Kelompok kedua mewakili hati, rasa, feelings—jalan yang tidak banyak diminati.
    3. Jalan pertama, Jalan Pengetahuan atau Gyaana Maarga menuntut analisis, reasoning: Ini tidak, itu bukan… inipun tidak, itu pun bukan. Dengan cara itu seorang saadhaka, seorang yang suka melakukan olah rohani, seorang pencari atau seeker membebaskan diri dari segala belenggu untuk menemukan Kebenaran.
    4. Jalan kedua, Jalan Pengabdian atau Bhakti Maarga menuntut penyerahan diri, surrender: Ini kamu, itu pun Kamu….. Wajah-Mu di barat, di timur pun Wajah-Mu….. Kerajaan-Mu di Surga, di dunia pun Kerajaan-Mu.
    5. Siddharta Gautama, Sang Buddha, dan para pengikutnya secara umum berada pada jalur Gyaana Maarga. Lewat jalur itulah mereka memperoleh pencerahan, memasuki alam meditasi.
    6. Bodhidharma, walau merupakan “pengikut Sang Buddha”, sesungguhnya berada pada jalur kedua. Sang Buddha meninggalkan istana untuk mencari kebenaran. Bodhidharma pun demikian. Ia pun meninggalkan istana. Sepintas, sepertinya mereka sama….. sama-sama meninggalkan istana, namun alasan mereka meninggalkan istana tidak sama. Siddharta meninggalkan istana untuk “mencari”Kebenaran. Bodhidharma meninggalkan istana karena telah “menemukan” Kebenaran, kemudian istana pun kehilangan makna baginya.

 

  1. Memasuki alam meditasi lewat Jalur Pengabdian berarti mempunyai kemampuan untuk
    1. menerima ketidakadilan,
    2. menyesuaikan diri dengan keadaan,
    3. berhenti mengejar sesuatu, dan
    4. menerjemahkan dharma dalam hidup sehari-hari.

 

  1. Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…… aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan…… mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.

 

  1. Laku Kedua: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebagai makhluk hidup, kita semua terkendali oleh keadaan, belum dapat mengendalikan diri. Keadaan pula yang menentukan pengalaman suka dan duka. Rezeki, penghargaan, ketenaran, atau pengalaman lain yang kita peroleh dalam hidup ini, semata-mata karena perbuatan kita di masa lalu, karena keadaan masa lalu. Bila keadan berubah, pengalaman kita pun berakhir, berubah. Kenapa membesar-besarkan pengalaman itu? Keberhasilan dan kegagalan tergantung pada keadaan, namun “kesadaran”mu tidak tergantung pada sesuatu pun. Ia tidak mengalami pasang-surut. Mereka yang tidak terpengaruh oleh angin kenikmatan, oleh hawa nafsu, memasuki alam meditasi dengan mudah.

 

  1. Laku Ketiga: Berhenti mengejar sesuatu. Warga dunia ini umumnya hidup dalam ketidaksadaran. Mereka selalu mengharapkan sesuatu, mengejar sesuatu. Hanya segelintir orang bijak yang “terjaga”, sadar, kemudian tidak lagi mengikuti kebiasaan umum. Kesadaran diri mereka tidak terpengaruh oleh keadaan di luar diri yang berubah terus. Yang terpengaruh oleh perubahan itu hanya badan mereka, fisik mereka. Keberadaan sekitarmu sesungguhnya tidak memiliki bobot. Tidak ada sesuatu apapun yang berarti di dalamnya, lalu apa yang harus dikejar? Suka dan duka silih berganti. Tinggal dalam dunia”berlapis tiga” ini seperti tinggal di dalam rumah yang terbakar. Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari badan. Adakah seorang “berbadan” yang bebas dari penderitaan? Mereka yang memahami hal ini tidak lagi terikat pada keberadaan dan berhenti berkhayal, berhenti mengejar sesuatu. Ayat-ayat suci pun menyampaikan hal yang sama: “Mengejar berarti menderita. Berbahagialah ia yang telah berhenti mengejar”. Saat kau berhenti mengejar, ketahuilah bahwa saat itu pula kau telah menemukan Jalan.

 

  1. Laku Keempat: Menerjemahkan Dharma atau kebajikan dalam hidup sehari-hari. Sadar akan Kebenaran bahwa pada hakikatnya Keberadaan suci adanya – itulah Dharma. Dan, sadar akan ketiadaan di balik Keberadaan – itulah Kebenaran. Tak ada lagi ketidakterikatan dan keterikatan; tak ada pula subyek dan obyek. Ayat-ayat suci pun menyampaikan:”Dharma melampaui segala macam keadaan oleh karenanya ia bebas dari segala macam noda. Dharma melampaui ‘aku’, maka bebas dari segala bentuk pencemaran”.Para bijak yang memahami serta meyakini hal ini sudah pasti melakoni Dharma dalam hidup sehari-hari. Sadar akan hakikat yang tak pernah berkurang, mereka senantiasa siap sedia untuk menyerahkan jiwa, raga serta harta tanpa penyesalan maupun rasa angkuh sebagi pemberi atau penerima. Sambil melakoni Dharma dan mempertahankan kesadaran diri, mereka memberi tanpa pamrih; berbagi tanpa keterikatan membantu tanpa pilih kasih. Demikian, mereka memuliakan Jalan menuju Pencerahan. Bukan sekadar memberi atau berbagi, “kebaikan-kebaikan” lain pun merekajalani. Walau sudah berbuat banyak serta menjalani enam kebaikan untuk melampaui ilusi, sesungguhnya mereka tidak berbuat apa-apa; mereka tidak menjalani apa-apa.

Dikutip dari Outline of Practice atau Intisari Meditasi oleh Bodhidharma yang diulas Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Foto Bodhidharma di Dworowati Solo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: