Kisah Dewi Sri dan Vishnu, Keberlimpahan tiada arti tanpa Sang Kekasih

1-vishnu-plus-lakshmi1-vishnu-plus-laksmi-sendiri

Dikisahkan bahwa Lakshmi selalu bepergian, tidak berdiam di satu tempat. Ada yang memaknai bahwa kesejahteraan, keberlimpahan tidak bertahan lama. Itulah sebabnya simbol Lakshmi ditempatkan di antara Ganesha (sang putra) dan Sarasvati (sahabatnya) agar lebih betah tinggal. Bisa dimaknai dengan kebijaksaaan (Ganesha) dan pengetahuan (Sarasvati), kesejahteraan, keberlimpahan akan betah.

Parvati, Uma, Durga merupakan sahabat baik Lakshmi. Oleh sebab itu Laksmi (kesejahteraan, keberlimpahan) diharapkan betah bersama Parvati (kesucian).

Seseorang  sangat yakin dengan berkah seorang Master yang memberinya gambar Laksmi yang sedang duduk, dia berharap kesejahteraan, keberlimpahan duduk betah di tempatnya.

Di bawah ini kisah Lakshmi yang di Jawa dikenal sebagai Dewi Sri dengan Vishnu, sebagaimana ditulis dalam buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………..

 

Di jawa Shree adalah lambang kesuburan, bahkan diwujudkan sebagai perempuan cantik, yaitu Dewi Sri atau Devi Lakshmi. Pasangannya, Vishnu, juga disebut Shreepati yang berarti “Suami Shree”. Pati berarti suami.

Vishnu adalah pemelihara jagat raya. Dan, pemeliharaan merupakan salah satu sifat Tuhan; salah satu fungsi Keberadaan. Penggambaran Vishnu, Lakshmi, dan lain-lain adalah bersifat metaforis. Ini hanyalah lambang, atau tanda-tanda Kebesaran Yang Maha Besar Ada-Nya. Mereka yang tidak tahu, dan tidak mau tahu, beranggapan bahwa orang Jawa zaman dulu memuja berhala. Mereka memiliki banyak Tuhan. Sayang sekali, anggapan itu muncul dari ketidaktahuan.

Kisah metaforis ini indah sekali. Ambil hikmahnya. Ibarat buah mangga, makanlah dagingnya. Jangan mempersoalkan kulitnya.

Shreepati pernah dibuat bingung oleh arogansi istrinya. Sambil memijit kaki Sang Suami, Shree berkata, “Pernahkah terpikir olehmu, apa yang terjadi bila aku tidak mendampingimu?”

Shreepati mencium sesuatu yang aneh, “Tidak pernah, Shree. Tetapi, kenapa kau bertanya demikian?”

“Nggak, suamiku… begitu saja koq… Cuma kadang kupikir untuk memelihara jagat ini, kau membutuhkan kesuburan, kesejahteraan dan …”

“Oh ya,” Shreepati menanggapi istrinya, “semua itu berasal darimu. I am nothing with you. Apa daya Vishnu tanpa Lakshmi? Apa daya Shreepati tanpa Shree?”

Dalam hati, Sang Pemelihara berpikir, “begitu toh! Ya sudah. . .”

Sementara itu hati Shree berbunga-bunga “Tidak ada jagat bila aku tidak ada.” Muncul “aku”-nya. Muncul arogansi dan egonya.

Shreepati pun tidak duduk diam. Ia membisiki seorang pengabdinya yang setia, Resi Narada (baca juga Narada Bhakti Sutra—Cinta Tak Terbatas dan Tak Bersyarat oleh Anand Krishna—Ed.), “Let? play a game. Saatnya bermain sandiwara.”

Narada memahami maksud Vishnu, dan mendatangi Shree, “Betapa aku mengagumi keunggulanmu, Mahadevi. Aku tidak membutuhkan bukti, aku mengakuinya.”

Senanglah Shree, ia melirik suaminya.

“Tetapi, untuk warga dunia, keunggulanmu harus dibuktikan,” kata Narada, ”biar mereka pun tahu bahwa tanpamu jagat raya akan hancur lebur.”

Sang suami yang memang menyutradarai adegan itu mendukung Narada, ”Ya Dewiku… Narada betul. Biar manusia tahu betapa pentingnya kau. Tak seorang pun bisa berbuat apa-apa, tanpamu.”

Mengikuti skrip sandiwara yang sudah dibuat oleh Sang Pemelihara, Narada mengajak mereka turun ke dunia kita, ke Mayapada. Menurut rencana mereka, selama enam bulan pertama Narada menjadi promotor Shree, enam bulan berikutnya mempromosikan Shreepati.

Mengikuti tradisi orang bule, Ladies First, Shree memperoleh giliran pertama. Narada menggunakan segala media untuk mempromosikan Shree, “Seorang yogi perempuan yang baru saja turun dari Himalaya mengunjungi kota anda. Ia akan keliling dunia selama enam buIan saja. Setiap negara dikunjungi satu kali saja. Terlewatkan sekali, kesempatan emas ini terlewatkan untuk selamanya.”

Shree tidak berbicara banyak, tapi berbuat banyak. Di setiap kesempatan ia membagi kepingan emas yang keluar dari tangannya. Alam imajinasi orang India, Devi Lakshmi memang memiliki tangan ajaib. Kepingan emas keluar terus menerus dari tangannya. Orang India memang tidak terlalu percaya terhadap uang kertas dan plastik. Mereka lebih percaya pada emas, logam mulia.

Berita tentang mukjizat yang dipertunjukkan oleh Shree melanda seluruh dunia. Media cetak dan elektronik saling sikut-menyikut supaya bisa meliput pertemuan-pertemuan Shree secara khusus. Ada yang menawarkan uang satu juta dollar kcpada Narada untuk Talk Show bersama Shree. Narada tidak bisa menahan tawanya, “Aduh, bagaimana anda ini. Apa arti satu juta dollar? Kepingan emas yang dikeluarkan Shree selama duapuluh empat jam saja sudah lebih dari 2 juta dollar.” Semua orang bingung bagaimana membeli waktu Shree.

Para konglomerat dan pejabat tinggi harus antre untuk sekadar menyalami Shree. Lalu pada suatu ketika Shree menerima undangan makan dari seorang presiden. Wah lebih repot lagi Narada. Para petinggi negara, sultan, raja, dan emir seluruh dunia pun minta booking. Semua ingin mengundang Shree. Apalagi setelah berita tentang keajaiban yang terjadi di rumah pengundang pertama disiarkan oleh CNN, BBC dan VOA—Shree dan hanya Shree yang menghiasi frontpage setiap koran di seluruh dunia.

Yang terjadi malam itu memang luar biasa. Peralatan makan apa saja yang tersentuh oleh Shree, berubah menjadi emas. Piring, mangkok, sendok, garpu, sumpit, bahkan tusuk gigi pun berubah menjadi emas!

Shree tidak membutuhkan waktu enam bulan untuk menaklukkan dunia. Waktu enam minggu pun sudah lebih dari cukup baginya.

Shreepati berpura-pura malu. (Sambil menundukkan kepalanya, ia berkata, “Istriku, aku mengakui kehebatanmu. Tetapi, bahwa kau menaklukkan dunia hanya dalam 6 minggu, tak terpikir olehku. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Kupikir kau sudah harus mengakhiri permainanmu. Aku mengaku kalah ”

“Maaf, Tuanku. . . Maaf sekali lagi, tapi Tuanku tidak bisa mengundurkan diri begitu saja. Silakan Mahadevi mengakhiri perannya, tetapi Tuanku tetap bermain,” kata Narada, lagi-lagi sesuai dengan skenario rancangan ”Tuan”-nya, Vishnu.

Mahadevi mendesaknya juga, ”Ya, ya suamiku… kan main-main saja.”

“Baiklah…,” nada Vishnu berat, seolah ia terpaksa melakukan sesuatu.

Maka turunlah Vishnu ke Mayapada, dan mulai berkarya. Ia memperoleh pengikut, pendengar, tapi hanya satu, dua… Dalam enam bulan jumlah pengikutnya bertambah menjai puluhan saja. Sementara itu Shree yang sudah berpulang ke alamnya, Vaikuntha, Lapisan Surga Teratas, mulai menghitung hari, “Tinggal sehari lagi, besok ia balik. Suamiku balik. . ..”

Ternyata Vishnu tidak balik juga. Yang datang malah Narada, “Wah, celaka Mahadevi.”

“Celaka apa, Narada?” Shree kaget.

“Tuanku tidak mau balik ke Vaikuntha. Ia mau menetap di Mayapada.”

“Mau menetap di dunia? Untuk apa? Ada apa di sana?” Shree betul-betul terkejut.

“Nah itu, Mahadevi, memang ada apa-apanya sehingga Tuanku tidak mau balik.”

Langsung terpancinglah Mahadevi Shree, “Ada apa-apanya? Apa maksudmu Narada? Katakan sejujur-jujurnya.”

“Ketemu seorang perempuan di sana. Maaf, Mahadevi, maafkan aku… Tuanku jatuh cinta. Sudah mabuk kepayang dalam cinta dia.” Kepalanya menunduk ke bawah, seolah malu atas perbuatan Tuan-Nya, Narada memainkan perannya dengan sangat baik.

“Siapa perempuan itu? Bisa-bisanya…”

Biasa… Walau Mahadevi, tetaplah ia adalah seorang istri; tidak rela dirinya dimadu. Bergegaslah ia turun ke Mayapada bersama Narada. Eh, betul. Ia menemukan suaminya bercumbuan engan wanita lain. Marah besar dia. Memerah matanya. Napasnya kacau. Ia meneriaki Vishnu, “Suamiku apa-apaan kamu ini?”

Vishnu berpura-pura takut, terkejut, “Shree, Shree.. . Oh Shree, maafkan  Pikirku aku sudah tidak layak bagimu. Kau mampu menaklukkan dunia hanya dalam enam minggu. Aku tidak mampu. Karena itu aku memutuskan untuk tinggal di sini saja.”

“Tidak, tidak, suamiku… tidak… nahin, nahin, nahin. . .,” teriak Shree, persis seperti dalam film India. “Kau tetaplah suamiku. Jangan berkata begitu. Apa arti dunia bagiku? Kaulah arti hidupku.”

Narada mengeluarkan secarik kertas dari kantongnya, “Tunggu dulu Mahadevi. Maafkan Tuanku. Duh, aku lupa dialog terakhir tadi….. biar kubaca …. .. tunggu ya, oh ya….. Ternyata Mahadevi bisa menaklukkan dunia, tetapi tertaklukkan oleh Vishnu, oleh Shreepati.”

Shree menangis haru, sedikit marah juga. “Ternyata kalian berdua mempermainkan aku…… Tapi siapa wanita itu di sisimu?”

“Lihat Devi, lihatlah siapa dia. . .,” kata Vishnu.

Aneh, Shree tidak melihat apa-apa, Koq nggak ada, suamiku. . ..”

“Memang tidak ada,” jawab Vishnu, “tidak ada wanita lain di sisiku. Yang terlihat olehmu tadi hanyalah pikiranmu sendiri. Pikiranmu terpengaruh oleh Narada. Kau menganggap benar apa yang dikatakan oleh Narada. Anggapanmu itu sendiri yang mewujud menjadi wanita.”

Shree mengakui kesalahannya, “Maafkan aku, suamiku. Shree memang Shree, tapi apa arti Shree tanpa Shreepati!”

Narada menyeletuk, “Apa arti jagat raya tanpa Shree dan Shreepati!”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Foto Lakshmi dekat dengan Vishnu di Dworowati, Solo agar Lakshmi betah tinggal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: