#KisahSufi Zun-Nun, Yang Tidak Berjiwa Sufi Tak Akan Pernah Memahami Sufi

buku-samudra-sufi-zun-nun-dari-mesir

Jangan memberikan barang berharga kepada mereka yang tidak memahaminya

 

Persis seperti yang dikatakaan oleh Isa: “Jangan memberi mutiara kawanan babi”. Mereka tidak mengerti nilainya. Malah jika mutiara itu ditelannya, maka akan keselek. Dan, bisa jadi mereka menyerang balik, karena Anda dianggap “kurang ajar, memberi makanan kok sekeras itu, sampai aku keselek.” Penjelasan Bhagavad Gita 18:67 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bagi kita rezeki berlimpah, pasangan, anak, orangtua, harta, jabatan adalah berkah, bagi Bhagavad Gita itu semua belum berkah

 

Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya. Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan “diri” yang baik. Jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. Tinggal memilih pasangan……..

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Penjelasan Bhgavad Gita 10:11 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Babi tidak mengenal nilai mutiara, kita belum mengenal Berkah Gusti Pangeran sesungguhnya, di bawah ini kisah orang yang belum bisa memahami kehidupan para sufi seperti dikisahkan dalam buku: (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)……

buku-samudra-sufi

Cover Buku Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Seorang pemuda menghadap Zun-Nun, sufi tersohor dari Mesir:

“Saya masih belum paham, tujuan para sufi itu apa? Pakaian mereka compang-camping. Mereka tak acuh terhadap dunia. Mereka justru menjadi beban bagi masyarakat.”

Sambil melepaskan cincin dari salah satu jarinya, Zun-Nun berkata, “Begini kawanku, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Coba, bisakah kau menjualnya seharga satu keping emas.”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda itu ragu-ragu, “Satu keping emas. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

Zun-Nun mendesak, “Cobalah kawanku, bantulah aku. Sekembalinya, akan kujawab pertanyaanmu.”

Dan pemuda itu pergi ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging, dan lain-lainnya. Tidak seorang pun yang berani membelinya seharga 1 keping emas. Cincin itu ditawar satu keping perak. Tentu saja, ia tidak berani menjualnya. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun, “Tidak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun memintanya kembali, “Sekarang, tolong ke toko mas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepadanya, jangan buka harga. Dengarkan, bagaimana penilaian dia.”

Pemuda itu pun ke toko emas, dan ternyata cincin itu dinilai seribu keping emas. Ia kembali menghadap Zun-Nun, “Rupanya, para pedagang di pasar tidak cahu nilai cincinmu. Nilainya seribu kali lebih tinggi dari yang kutawarkan. Mereka bodoh. Mereka tidak membelinya dengan harga satu keping emas. Padahal harganya seribu keping emas.”

Zun-Nun menanggapinya, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu. Apabila ingin menilai seorang sufi, ingin menilai ajaran sufi, kau harus berjiwa sufi pula. Hanya pedagang emas dan permata yang dapat menilai perhiasan emas dan permata. Para pedagang sayur tidak dapat menilainya. Apabila kau ingin mengetahui tentang sufi, jadilah seorang sufi. Tidak ada jalan lain.

 

Mereka yang tidak berjiwa sufi, tak akan pernah memahami sufi. Sebaliknya, apabila Anda belum menyelami sufi, Anda tidak akan pernah berjiwa sufi, Memang paradoks, tetapi demikianlah  adanya!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: