Tarian Shiva, Penciptaan dan Pemusnahan Tak Berkesudahan

1-shiva-menari

Hubungan Tuhan dengan alam bukan seperti pabrik dengan produk tetapi antara penari dan tarian

 

“Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

 

“Tuhan bukanlah ‘pabrik’ yang terpisah dari barang-barang ‘buatan pabrik’. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan ‘terjadi’ saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

buku-michael-jackson-500x500

Pratima, arca Shiva Nataraja digambarkan Shiva sedang menari. Kaki kirinya diangkat dan kaki kanan menginjak manusia kerdil melambangkan kemenangan atas ilusi dan kebodohan. Di atas kepalanya simbol sungai Gangga yang dahsyat dapat ditenangkan, diikat dengan rambutnya. Tangan kiri atas memegang api melambangkan kekuatan kreativitas dan pemusnah segalanya, lengan bagian yang rendah dililit  ular cobra merupakan simbol ego yang sudah terkendalikan. Tangan kanan atas memegang alat musik “damru” merupakan simbol feminin dan maskulin. Tangan kanan bawah  memberikan pernyataan “jangan takut. Lingkaran api melambangkan siklus kematian dan kehidupan yang tak berakhir.

 

“Konsep Michael (Jackson, pencatat) tentang penciptaan ini persis sama dengan konsep para bijak pada masa lalu. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, ‘permainan’ Tuhan. ‘Menciptakan’ itu adalah cara Tuhan untuk melewatkan waktu luang.

“Kesadaran mewujudkan dirinya melalui penciptaan – dengan kata lain, Tuhan mengekspresikan Diri-Nya melalui ciptaan. Seluruh alam raya ini adalah ekspresi, perwujudan Tuhan, Sang Kesadaran Tertinggi.

“Kesadaran yang sama juga dapat memilih untuk menjadi statis beberapa saat, diam tanpa ekspresi, tanpa kegiatan. Sang penari boleh dong memutuskan untuk istirahat beberapa saat. Saat itulah tarian tidak dapat terlihat. Namun, tarian itu tetap ada, ‘di dalam’ sang penari. Tidak pergi ke mana-mana, tetap bersama sang penari… namun tak terdeteksi.

“Konsep ini benar-benar berbeda dari pandangan umum tentang Pencipta sebagai pabrik atau produsen, di mana produk hasilnya masih dapat dideteksi walaupun pabriknya sedang tidur, atau produsennya sudah lama wafat.

“Nah, sekarang karena seluruh penciptaan sejatinya adalah tarian dari  Sang Penari Teragung, berarti kita bagian dari tarian tersebut. Kita semua sesungguhnya sedang berdansa, menari bersama dengan sang pencipta. Kita bernyanyi dan bergerak bersama Tuhan. Kita berpaduan suara dengan Tuhan. Peran kita sesungguhnya dalam permainan keberadaan ini adalah sebagai tim sorak-sorai.

“Dunia tempat tinggal kita ini adalah tarian Sang Pencipta. Para penari datang dan pergi dalam sekejap mata, namun tarian akan tetap ada. Kita semua bagaikan satu langkah dalam tarian ini. Tuhan selalu mengganti-ganti langkah, jadi kita datang dan pergi dalam sekejap mata. Gerakan-gerakan Tuhan itu otomatis, cepat, lebih cepat daripada kilat. Gerakan-Nya berada di luar kemampuan berpikir manusia, karena pikiran kita pun sesungguhnya juga bagian dari permainan. Perubahan-perubahan terjadi dalam dan bagi pikiran kita. Perubahan dalam pikiran dan emosi – semua ini disebabkan oleh gerakan-gerakan Sang Penari yang amat cepat.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

 

Kita semua adalah satu

“Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. ‘Goresan’ DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil.

“Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian.”

 

Fritzof Capra, seorang pakar Fisika Modern dalam buku “The Dance of Shiva: The Hindu View of Matter in the Light of Modern Physics,” dan “The Tao of Physics” mengatakan bahwa setiap partikel subatomik tidak hanya melakukan tarian energi, tetapi juga proses penciptaan dan pemusnahan tanpa akhir.

Tarian Shiva sendiri adalah tarian tak berkesudahan penciptaan dan pemusnahan seluruh alam semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: