Kisah Raja Janaka, Pentingnya Mengingat Kematian

buku-tetap-waras-jaman-edan-malaikat-elmaut

“Sang Nabi pernah bersabda: Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. Selalu mengingat kematian merupakan salah satu cara meditasi yang sudah berusia ribuan tahun. Suatu cara kuno sekali, yang sudah lama dikenal oleh para mistik Timur. Selalu mengingat kematian juga merupakan salah satu cara yang paling gampang untuk memasuki alam tafakkur. Apa yang kita sebut ‘meditasi’ dalam bahasa Arab disebut tafakkur. Selalu mengingat kematian tidak akan menjadikan kita pesimis terhadap kehidupan tidak sama sekali. Justru akan menjadikan kita sangat ‘dinamis’. Kita akan selalu sadar. Sadar sepenuhnya, sadar senantiasa sadar akan tanggung jawab kita terhadap lingkungan.” Dikutip dari Pesan Bapak Anand Krishna di tahun 2.000

Berikut sebuah kisah indah Raja Janaka mengingatkan seorang pemuda tentang pentingnya mengingat kematian seperti yang tertulis dalam buku: (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-tetap-waras-jaman-edan

Cover Buku Tetap Waras di Zaman Edan

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

………….

Setelah menyelesaikan pendidikannya, seorang anak muda menghadapi ayahnya, seorang pertapa. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang jurus-jurus ilmu yang dikuasainya. Pemuda itu merasa sudah menguasai segala bidang ilmu dan bangga bahwa dapat melakukan hal itu dalam waktu yang singkat Jekali.

Sang Pertapa mencium arogansi anaknya, “Nak kau memang sudah menguasai berbagai cabang ilmu. Tetapi menurut pendapatku, masih ada suatu bidang yang belum kau kuasai. Pergilah menghadap Raja Janaka, teman baikku. Ia akan mengajarkan apa yang belum kau kuasai itu.”

“Belajar dari seorang Raja, ayah? Apa yang ia ketahui tentang spiritualitas? Seorang raja hidup mewah, dikelilingi oleh benda-benda materi, yang justru membuat kita terikat pada dunia benda ini. Apa yang dapat aku peroleh dari dia?”—pemuda itu agak bingung.

“Kau belum pernah bertemu dengan dia, nak. Jangan punya prasangka dan praduga terbadap sesuatu yang belum kau alami sendiri. Pergilah menghadap Raja ]anaka”—demikian nasihat sang pertapa.

Walaupun tidak puas dengan penjelasan ayahnya, ia tidak ingin membantah. Ia mohon pamit dan langsung pergi menghadap Sang Raja.

Hari sudah sore ketika pemuda itu sampai di istana, dan sang raja sedang beristirahat di ruang pribadinya. Karena tidak ingin tinggal lama di suatu tempat yang ia anggap “sangat duniawi”, pemuda itu mohon agar bisa diterima segera. Begitu diberitahu oleh penjaga, Sang Raja pun langsung menerima pemuda itu, “Putra sahabatku, kau telah memberkati istana ini dengan kunjunganmu. Apa yang dapat kulakukan untukmu? Bagaimana dengan ayahmu, baik-baik saja kan?”

“Semuanya baik-baik saja, Baginda Raja. Sebenarnya aku di suruh ke sini untuk mendapatkan suatu pelajaran yang menurut ayah, hanya aku peroleh di sini” – sang pemuda menjelaskan tujuannya, sambil melirik kanan dan kiri. Ia rnelihat Sang Raja dikerumuni oleh permaisurinya, oleh para pelayan wanita, mungkin selir-selirnya. Ranjangnya empuk dan ruang itu sangat mewah sekali. Dalam hati, ia berpikir, “Entah pelajaran apa yang dapat aku peroleh  dari manusia yang sangat duniawi ini?”

“Sebenarnya kami tidak layak untuk memperoleh kehormatan dan kepercayaan yang dilimpahkan ayahmu kepada kami. Kami menganggapnya sebagai perintah. Baiklah, kami siap melaksanakan. Besok pagi, kita akan mulai belajar. Sementara, putra sahabatku, beristirahatlah malam ini. Kan pasti sudah lelah.”

Pemuda itu diantar ke salah satu ruang yang disediakan untuk para tamu khusus. Sebenarnya ia tidak ingin berada lama-lama di istana. Ia menganggapnya sebagai tempat maksiat, di mana yang berkuasa adalah “setan kesenangan duniawi”. Tetapi ia harus mengindahkan perintah ayahnya, walaupun dalam hati kecilnya ia sudah mulai menyangsikan kebijakan ayahnya,

Begitu masuk dalam ruangan, ia menemukan ranjang yang sangat empuk. la menghindari dirinya duduk di atas ranjang itu. Selama bertahun-tahun ia memperoleb pelajaran bahwa Tuhan hanya dapat ditemukan dalam keadaan prihatin. Tuhan berada di balik tangisan para yatim piatu, di balik jeritan para janda— demikian yang ia pelajari selama ini. Belum ada yang mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan berada di balik kemewahan dan hal-hal yang berbau “duniawi”. Ia memutuskan tidak akan menggunakan ranjang itu.

Ia berusaha tidur di atas lantai marmer yang tidak beralas. Permadani pun dianggapnya barang mewah. Ia menghndari segala kemewahan duniawi. Karena memang sudah lelah, ia ketiduran. Tetapi tengah malam, ia terbangun karena mimpinya yang sangat menakutkan. Ia mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk itu dan sedang menikmatinya. la mengutuk dirinya, mengutuk mimpinya, “bagaimana aku, seorang pertapa, dapat mimpi sedang tidur di atas ranjang yang empuk  dan malah menikmatinya?!” Ia berusaha tidur lagi, tetapi tidak bisa. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah ranjang itu dan mengingat kembali mimpinya. Betapa nyamannya ranjang yang empuk itu, betapa enaknya tidur di atas ranjang itu!

Akhirnya, ia tidak dapat menahan  diri. Ia toh sendirian dalam ruangan itu. Tidak ada yang melihatnya, apa salahnya tidur di atas ranjang itu? Setidaknya mencoba saja. Ia tergoda dan langsung saja naik ke atas ranjang.

Rupanya ada mekanisme di bawah ranjang itu, karena begitu ia menaikinya, ranjang itu langsung terangkat ke atas. Sekarang ia berada di tengah-tengah ruangan. la kaget, dan berusaba untuk turun kembali.

Tetapi, apa yang dilihatnya? Lantai di bawah pun sudah tergeser dan diganti oleh kolam. Yang membuat dia lebih gelisah lagi, di kolam itu, ia melihat beberapa ekor buaya, “sialan”!

Begitu melihat ke atas, ia tambah cemas lagi. Ada beberapa pedang yang tergantung persis di atas ranjangnya. Ia memperhatikan talinya—temyata tali sutera yang sangat tipis, “mampus”.

la sudah kehabisan akal, apa yang harus dilakukannya. Di atas ada pedang, di bawah ada buaya. Ia berteriak minta bantuan, tidak ada yang mendengar teriakannya, “Keparat si Raja itu, ia ingin membunuh saya”—pikiran demikian yang mulai muncul.

Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur. Lelap sedikit, mungkin ada pedang yang jatuh dan melukai dia, bahkan bisa membunuh dia. Kalau jatuh ke bawah,  pasti menjadi makanan buaya. Ia gelisah, cemas, takut.

Sekitar jam 06.00 pagi, tiba-tiba ranjangnya turun ke bawah, kolam tertutup dengan lantai marmer lagi dan pedang-pedang di atamya juga menghilang, sepertinya ditarik ke atas kembali. Ia menarik napas panjang.

Pintu kamar itu terbuka dan ia melihat Sang Raja memasuki kamarnya, “Putra sahabatku, bagaimana—bisakah kau tidur nyenyak semalam?”

“Tidur? Baginda Raja, aku harus berterus-terang—tadi malam Baginda telah mempersiapkan segala sesuatu untuk membunuh diriku. Kebetulan saja bahwa aku masih hidup”—pemuda itu sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Putra sahabatku, kau tidak bisa tidur karena takut mati?”—tanya Sang Raja sambil tersenyum.

“Tentu saja, siapa yang bisa tidur dalam keadaan mencekamkan itu?”—amarah pemuda itu masih nampak jelas.

“Dan putra sahabatku, kau tidak menikmati ranjang yang empuk dan kemewahan ruangan ini karena takut mati?”—Sang raja masih bertanya.

“Bagaimana saya dapat menikmati semuanya itu? Begitu lelap sedikit, aku akan mati konyol”— sang pemuda menjawab.

“Itulah pelajaran yang ayahmu ingin kau pelajari, putra sahabatku. Apa yang dapat kuberikan telah kuberikan. Sekarang kau boleh pulang”—ujar sang raja.

“Pelajaran? Apa maksud Baginda?”—pemuda itu bingung….

“Kemarin aku sengaja mengundang kamu masuk, ke ruang pribadiku, Kau melihat kemewahan hidupku, dan dari lirikan matama, aku bisa tahu bahwa kau menyangsikan kebijakan ayahmu mengirim kamu ke sini—bukankah demikian, putra sahabatku? ”— Janaka bertanya kembali.

Bara amarah pemuda ita sudah mulai pudar, “Memang demikian, Baginda.”

“Aku tinggal di dalam istana yang mewah ini, tetapi selalu ingat kematian. Aku tahu persis bahwa kapan saja ajalku bisa tiba. Itu sebabnya aku selalu sadar. Aku tidak pernah tertidur lelap. Aku menikmati hidup mewah ini, tetapi aku tidak pernah lupa bahwa pada suatu ketika, semuanya ini akan berakhir. Badan ini pun akan berakhir. Semuanya ini ibarat impian. Keberadaannya hanya untuk sesaat.”

Pemuda itu menundukkan kepalanya. Kata-kata Sang Raja itu menusuk jiwanya, menghabisi keangkuhannya dan melahirkan sesuatu yang “baru”, yang “indah” dalam dirinya!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: