Archive for November, 2016

Hanya Kasih yang Memuaskan Manusia, Kisah Narada pada Vyasa Penulis #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on November 28, 2016 by triwidodo

buku-narada-bhakti-sutra-narada-dan-para-brahmana

“Setelah karma yang memberiku tubuh ini berakhir, kematian pun datang. Segera aku menjadi pembantu-Nya, kemudian terjadilah maha pralaya, banjir besar yang menenggelamkan dunia. Seluruh ciptaan, bersama dengan sang pencipta (Brahma) tenggelam ke dalam-Nya. Aku juga memasuki badan-Nya. Setelah waktu yang sangat lama, Tuhan sekali lagi menghendaki penciptaan, dan Brahma menciptakan aku bersama para rishi lainnya. Sejak saat itu aku dengan bebas menjelajahi seluruh semesta, memainkan vina ini dan menyanyikan nama dan kemuliaan-Nya dan Dia menampakan diri-Nya dalam hatiku.

Menyanyikan kisah-kisah dan kemuliaan-kemuliaan Ilahi dalam adalah rakit yang paling pasti untuk menyeberangi samudra kehidupan bagi mereka yang pikirannya terganggu oleh pengejaran hawa nafsu. Maka kuperintahkan padamu untuk mengisahkan inkarnasi Tuhan. Dikutip dari Srimad Bhagavatam

Berikut kisah Narada yang disampaikan pada Vyasa agar membuat karya yang dapat memuaskan dirinya…………

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Narada mengajak Vyasa untuk menoleh jauh ke belakang:….. “di Kalpa yang lalu, saya pernah lahir sebagai anak pembantu.”

Narada bahkan tidak menjelaskan nama ayahnya. Pada masa itu, nama ayah tidak penting. Nama ibu lebih penting. Seorang anak dikenal dengan nama ibunya. Entah siapa ayah Narada pada masa kelahiran itu. Bila menggunakan “standar” yang berlaku di “zaman” kita sekarang ini, Narada bisa disebut “anak hararn”. Terserah Anda. Narada tidak akan ambil pusing tanggapan itu. Bagi seorang Narada, yang “memanusiakan” manusia bukanlah asal-usul kelahirannya, melainkan perbuatan atau tindakan nyata dalam hidup sehari-hari.

Narada jujur, “… saya pernah lahir sebagai anak scorang pembantu. Ibu saya berpindah kerja terus. Sampai pada suatu ketika, dia memperoleh pekerjaan di suatu pertapaan. Bersama ibu, aku pun tinggal di pertapaan itu.”

Saat itu, Narada baru berusia lima tahun, masih kecil sekali, dan oleh karenanya, gampang menyesuaikan diri dengan pola hidup di pertapaan. Dia menjadi bagian dari pertapaan itu.

Setiap siang dan sore, para pertapa berkumpul untuk doa bersama. Doa mereka bukan untuk meminta sesuatu, tetapi untuk mensyukuri pemberian Tuhan. Narada selalu ikut berdoa. Para pertapa pun menyayangi dia. Pengalaman-pengalaman kecil di masa kecil membentuk kepribadian kita.

Pondasi hidupnya dibuat oleh para pertapa. Pondasi kepribadiannya dibuat di pertapaan. Dari kecil, dia diajari untuk  tidak menuntut apa-apa, tetapi justru untuk mensyukuri segala apa yang sudah diberikan kepadanya.

Dari usia sekecil itu, Narada sudah berkenalan dengan Cinta. Bukan cinta monyet, bukan cinta sinetron, melainkan Cinta Sejati. Cinta Tak Bersyarat. Tidak menuntut, dan Tak Terbatas. Oleh karenanya luas. Seluas laut. Tinggi — setinggi langit. Besar — sebesar semesta. Dalam — sedalam jiwa manusia!

Narada melanjutkan kisahnya, “… pada suatu malam, ibu dipatok ular. Dia meninggal seketika. Saya baru sadar bahwa orang bisa mati. Yang hidup bisa meninggal. Dan saya mulai bertanya, ke mana ibuku pergi? Kematian itu apa? Para pertapa berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Tetapi saya tidak puas. Barangkali saya tidak rnemahami bahasa mereka. Kemudian pada suatu hari, saya meninggalkan pertapaan itu. Meninggalkan untuk apa, mau ke mana, saya pun tidak tahu……..”

Dan pada usia sekecil itu, Narada sudah menjadi ”warga dunia”. Dia keliling dunia. Bukan hanya dunia kita, kata Narada: “Aku mengililingi sekian banyak dunia. Aku mempelajari sekian banyak bidang ilmu. Aku mcnjadi seorang ilmuwan. Seorang pandit, seorang cendekiawan. Tetapi, masih saja tidak puas. Masih ada yang mengganjal. Masih ada yang kurang. Keadaanku saat itu, Vyasa, persis seperti keadaanmu saat ini.”

Jangan lupa, Narada sedang bercerita dcngan Vyasa. Dia sedang berbagi pengalaman. Dan pengalamannya di masa lalu mirip dengan pengalaman Vyasa di masa kini. Masalah yang dihadapi Vyasa hampir sama dengan masalah yang pernah dihadapi oleh Narada. Oleh karena itu, sesaat lagi Narada akan memberikan solusi. Dia bisa memberi jalan keluar, karena dia sendiri berhasil keluar dari masalah ini.

Narada sudah bebas. Itu sebabnya dia bisa membebaskan Vyasa. Narada sudah tenang, tenteram, damai. Itulah sebabnya dia bisa berbagi ketenangan, ketenteraman dan kedamaian.

“Pada suatu hari, saya bertemu dengan Sanatkumara….”

Sanatkumara adalah pujangga dari Kalpa yang sudah berlalu. Dia sudah tidak memiliki wujud lagi. Dia sudah bersatu dengan gumpalan energi yang menjadi bahan baku bagi Kalpa kita saat ini. Kesadaran Sanatkumara ada di dalam diri setiap orang, setiap makhluk hidup. Bahkan di langit dan di bumi. Dalam tumbuh-tumbuhan dan pegunungan………….

………….

Sanatkumara sudah menjadi bahan baku yang “membuat” anda hidup. Wujud anda saat ini adalah wujudnya. Berhubungan dengan Sanatkumara dalam Kalpa ini, berarti berhubungan dengan diri sendiri. Menemukan jati diri.

Lain sekarang, lain dulu. Saat itu, Sanatkumara masih berwujud. Dia menegur Narada, ”Apa yang sedang kau cari? Pengetahuan apa lagi yang masih kau kejar? Ilmu apa lagi yang ingin kau kuasai. Ketahuilah bahwa pengetahuan dan ilmu akan berkembang terus. Baru menguasai satu, muncul yang lain. Kamu tidak akan pernah puas. Kamu akan selalu haus, lapar. Yang bisa memuaskan kamu hanya satu……..”

“Apa pula yang satu itu?” tanya Narada.

“Yang hanya Satu Ada-Nya… Kasih. Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas…. Hanya itu yang bisa memuaskan manusia,” jawab Sanatkumara.

Narada mengenang kembali masa kecilnya di pertapaan. Cinta yang Tak Terbatas dan Tak Bersyarat bukanlah sesuatu yang baru. Dia sudah pernah berkenalan dengan cinta. Lalu apa lagi yang sedang dicarinya? Dia baru sadar bahwa pencariannya selama itu justru membuat dirinya makin jauh dari pusat cinta. Padahal pusat cinta berada di dalam diri sendiri.

“Ahhhhhhh  aku tercerahkan! Cinta — kekuranganku ternyata hanya satu itu. Padahal disebut kekurangan pun sebenarnya bukan kekurangan. Aku hanya tidak menyadarinya. Itu saja. Aku mengucapkan terima kasih kepada Sanatkumara. Dan, untuk menemukan Pusat Kasih yang berada di dalam diri, aku mulai menggali diri sendiri.”

……………

Kesimpulan Narada sungguh sederhana. Love means fulfillment. Terisi oleh cinta, jiwa tak akan menuntut sesuatu lagi. Bila sudah menemukan cinta, anda tidak akan mencari sesuatu lagi. Pencarian kita membuktikan bahwa kita belum menemukan cinta. Belum terjamah oleh Kasih.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pada buku Srimad Bhagavatam Rishi Narada memberi nasehat: “Wahai Vyasa, nyanyikanlah kemuliaan Ilahi dan hatimu akan menemukan kedamaian tertinggi dan kebahagian abadi. Hatimu gelisah karena sejauh ini kamu belum melakukannya………… (Srimad Bhagavatam adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Keilahian. Baik kisah tentang keilahian Tuhan maupun para panembahnya.)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Kisah Onta Majnun: Keterikatan Jasmani Menghambat Perjalanan #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on November 24, 2016 by triwidodo

buku-masnawi-4-onta-majnun

“Kesadaran rohani dan kesadaran jasmani bagaikan Majnun dan onta betina yang ditungganginya.

“Majnun ingin cepat-cepat bertemu dengan Layla yang dicintainya. Sementara itu, onta betina tidak tega meninggalkan anaknya. Setiap kali Majnun terlena, onta betina pun akan melangkah mundur. Maju-mundur, maju-mundur terus, sehingga Majnun tidak pernahsampai di tujuannya. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam tiga hari, memakan waktu bertahun-tahun.

 

“Kita sudah beribadah, sudah beramal saleh, sudah melakukan perjalanan suci – rasanya koq belum sampai-sampai juga?

“Tuhan masih terasa jauh sekali. Kenapa demikian? Karena kita masih menunggangi ‘onta betina kesadaran jasmani’. Kita masih enggan melepaskan keterikatan pada dunia benda.

“Sekali lagi perlu saya ingatkan bahwa bukan dunia benda yang harus kita lepaskan, tetapi ‘keterikatan’ padanya. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Setelah mati pun tidak. Karena ‘alam semesta’ pun masih merupakan ‘benda’. Masih merupakan ‘materi’. Bumi dan langit dengan segala isinya, masih bersubstansi. Masih berwujud. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Yang bisa kita lepaskan hanyalah ‘keterikatan’ pada dunia benda.

“Seorang pecinta Allah, seorang pencari Kebenaran, harus menyadari hal ini. Sebagaimana Majnun menyadarinya……

buku-masnawi-4

Cover Buku Masnawi Buku Keempat

 

“Sudah saatnya kita berpisah. Cintamu dan cintaku tidak sejalan, tidak selaras.” – kata Majnun kepada onta betina itu.

Memang demikian adanya. Kesadaran rohani dan kesadaran jasmani memang tidak selaras.

“Karena menunggangi kamu, selama ini aku berjalan di tempat. Kadang maju, kadang mundur. Perjalanan beberapa hari telah memakan waktu enam puluh tahun. Tidak, aku tidak akan menunggangi kamu lagi.”

Majnun lalu menjatuhkan dirinya. Tulang kakinya patah, tetapi semangatnyamasih tetap utuh. Dia tidak putus asa.

Dia mengikat kedua kakinya dan menggelindingkan badannya. Persis seperti bola. Majnun bergelinding terus  dan akhirnya bertemu juga dengan Layla.

 

Selanjutnya Rumi menegur kita, menegur saya dan Anda, ‘Bagaimana dengan cintamu terhadap Allah?’

Siapkah kita menjadi ‘bola kesederhanaan  dan keluguan’? kepala kita tidak tegak karena ego, tetapi menunduk karena kesadaaran. Siapkah kita menjatuhkan diri dari punggung onta? Dari ‘panggung dunia? Kemudian, dengan hati yang tulus – siapkah kita bergelinding di atas jalan cinta? Bila belum siap, ya tidak perlu mengeluh – ‘Koq belum sampai juga? – karena memang belum menempuh perjalanan. Masih berjalan di tempat.”

Ketidakpuasan Vyasa dan Awal Kisah #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on November 21, 2016 by triwidodo

buku-bhagavatam-vyasa-narada

“Wahai Vyasa kaulah sinar Tuhan, melalui kedisiplinan dan yogamu kau telah menyelami pengetahuan tentang diri dan tentang kitab suci. Kau telah menguraikan kewajiban-kewajiban manusia. Konsep tentang kewajiban dan pelaksanaan ritual suci akan tetap disalahmengertikan oleh jiwa-jiwa yang tidak waspada, karena akan menjadi tindakan yang egois semata. Hanya segelintir orang bijak yang memahami bahwa kebebasan itu lebih penting daripada perintah-perintah dari kitab dan dengan menjadi sepenuhnya bhakti kepada Tuhan.

“Wahai pemimpin para rsi.  Hanyalah wacana-wacana, kitab-kitab, kebijaksanaan, tindakan yang menjadikan Tuhan sebagai subjek dan objeknya  yang dapat dikatakan berharga…………

“Wahai Vyasa, nyanyikanlah kemuliaan Tuhan dan hatimu akan menemukan kedamaian tertinggi dan kebahagian abadi. Hatimu gelisah karena sejauh ini kamu belum melakukannya.” Dikutip dari terjemahan Buku Srimad bhagavatam………

Berikut kisah yang melatarbelakangi Srimad Bhagavatam……

buku-narada-bhakti-sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Narada adalah seorang Rishi, seseorang yang telah “melihat” Kebenaran. Seseorang yang telah “bertatap muka” dengan apa yang kita sebut “Tuhan”. Dia adalah scorang pujangga, seorang scholar, sekaligus seorang pencinta. Dan kombinasi ini sungguh unik.

Dalam sejarah peradaban manusia, hanya ada beberapa Narada yang kita temui. Jalaluddin Rumi bisa disebut sebagai seorang Narada. Rabindranath Tagore bisa disebut seorang Narada. Khalil Gibran? Mungkin, “Mungkin” saya katakan, karena dia seorang pujangga, seorang scholar, sekaligus seorang pencinta, tetapi belum mencapai kesadaran seorang Rishi. Dia sudah mendengar tentang Kebenaran, tetapi belum bertatap muka dengan-Nya. Belum terjamah oleh-Nya.

Dalam salah satu teks kuno, Srimad Bhagavatam, Narada bercerita tentang dirinya kepada Vyasa. Dan dia mengawalinya dengan sebuah teguran halus: “Vyasa, engkau telah berhasil mengumpulkan dan membukukan kebijakan masa lalu. Keempat Veda — Rig, Yajur, Sama, dan Atharva — adalah bukti nyata akan keberhasilanmu. Engkau telah menulis hikayat Dinasti Bharata. Tulisanmu, Mahabharata, akan dikenang scpanjang masa. Masih banyak tulisanmu yang lain…….. Tetapi Vyasa, katakan, puaskah kamu?”

Vyasa sangat jujur, “Tidak, Brahma-Rishi. Tidak.  Aku belum puas. Engkau telah bertatap muka dengan Brahman, dengan Dia Yang Tak Berwujud dan Melampaui Segala Sifat. Engkau telah mcngalami apa yang melampaui segala pengalaman. Katakan, Narada, apa sebab dari kctidakpuasanku?”

Narada menjawab, “Ketidakpuasanmu disebabkan oleh sesuatu yang belum tertulis. Yang belum kau tulis. Sesuatu yang masih tersisa. Itu sebabnya, kau ingin menulis dan menulis terus. Bila yang satu itu sudah tertulis, keinginanmu untuk menulis akan sirna, dan kamu akan mengalami apa yang ada di balik tulisan. Kamu akan mengalami apa yang tidak bisa ditulis. Kamu akan melampaui kata-kata dan tulisan.

“Coba, renungkan, Vyasa. Renungkan, kira-kira apa yang belum tertulis? Apa yang belum kau tulis?”

Vyasa bingung, “Aku sendiri tidak tahu, Brahma-Rishi. Bantulah aku……..”

Mau menulis tentang apa lagi? Vyasa sudah menulis tentang segala sesuatu, tentang segala cabang ilmu. Baik yang berkaitan dengan kerohanian, maupun yang berkaitan dengan keduniawian. Dalam Veda, anda bisa menemukan cara pembuatan rocket dan missile. Cara bedah dan memainkan musik. Apa saja ada.

Tentang Mahabharata, bahkan seorang penulis dari Barat pernah mengatakan: “Apa yang tidak ada di dalam Mahabharata, tidak ada di mana-mana. Apa yang tidak bisa ditemukan dalam Mahabharata, tidak bisa ditemukan dari mana pun juga.”

Ukuran buku-buku yang ditulis oleh Vyasa — Masya Allah! Luar biasa….. Terjemahan Mahabharata dalam bahasa Inggris menjadi belasan jilid. Veda sendiri puluhan jilid. Belum lagi buku-buku lain.

Narada memancing Vyasa, “Coba pikirkan, Vyasa, apa yang masih kurang? Apa yang belum tertulis, sehingga kamu belum puas dan masih ingin menulis terus.”

Vyasa menyerah, “Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku tidak tahu apa yang kurang. Apa yang belum tertulis, apa sebab ketidakpuasanku pun tidak kuketahui.”

Narada bisa “merasakan” kesiapan diri Vyasa. Bila seseorang sudah “habis pikir”, sudah “menyerah”, maka dia siap untuk sesuatu yang lebih dalam. Lebih dalam dari otak, pikiran, dan intelektualitas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Maka, mulailah Narada berbagi rasa: “Dengarkan Vyasa. Pada kalpa yang lalu ……….”

Demikian awal kisah Srimad Bhagavatam ditulis……….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Kisah Pedagang yang Terburu-buru #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on November 18, 2016 by triwidodo

buku-masnawi-3-telur-dan-burung-hanya-beda-plus-teks

Seorang sahabat mengeluh, “Rasul Allah, usaha apa pun yang kurintis, selalu gagal. Ada saja yang menipu aku.”

Sang Nabi menanggapinya, “Kalau takut ditipu sebelum merintis usaha apa pun, terlebih dahulu lakukan perenungan selama tiga hari. Berhati-hatilah, jangan tergesa-gesa, jangan terburu-buru…”

 

Berhati-hati tidak berarti berwas-was, berhati-hati berarti “waspada”, melangkah dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Ini adalah sifat ilahi – sifat yang terpuji. Menurut Rumi, terburu-buru atau tergesa-gesa adalah sifat syaitani. Pemicunya kesadaran rendah, hawa nafsu, dan keinginan yang berlebihan.

Rumi memberi contoh:

Berikan sepotong roti kepada anjing. Dia akan menciumnya dulu, baru dimakan. Sebelum melangkah, hendaknya kita pun meneliti dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran. Apakah langkah yang diambil itu cukup bijak…

Tuhan menciptakan alam ini dalam enam hari. Padahal jika Dia menghendaki, dapat tercipta dalam sekejap.

Manusia mencapai kesempurnaannya dalam usia 40 tahun. padahal jika Dia menghendaki, begitu lahir sudah bisa mencapai kesempurnaan.

 

Cover Buku Masnawi Buku Ketiga

Dibutuhkan kearifan untuk memahami kalimat yang terakhir ini. Apabila setiap orang mencapai kesempurnaannya dalam usia 40 tahun, lalu bagaimana dengan Isa dan nabi-nabi lain yang sudah memulai misi mereka jauh sebelum usia itu.

Kata “manusia” di sini bersifat metaforis. Yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad. Beliau mengelami penerimaan wahyu pertama (Iqra’) dalam usia 40-an tahun.

Kalimat ini sekaligus mendekatkan kita dengan Nabi Muhammad. Beliau menjadi sangat dekat dengan Anda dan saya. Untuk mencapai kesadaran tersebut, beliau pun “membutuhkan” waktu. Waktu untuk “melatih diri”, waktu untuk menyadari “jati diri”. ini yang terjadi di sebuah gua di bukit Hira. Lalu, terjadilah pertemuan dengan Sang Kesadaran Murni, Allah, YHV, Bapa di Surga, Tao, Widhi – apa pun yang nama yang Anda berikan kepada Yang Satu itu. Yang tidak bisa diduakan, Yang Tiada Duanya!

Berarti apa? Berarti Anda dan saya, kita semua membutuhkan waktu. Tidak ada pencerahan instan. Ya, saat “kejadiannya”, pencerahan memang terjadi dalam “satu instan”. Menggunakan istilah “sekejap” pun tidak tepat. Karena kejadiannya lebih cepat dari itu. Tetapi, proses untuk mencapai “apa yang terjadi itu” membutuhkan kerja keras sejak awal.

Rumi menasihati kita:

Jangan berhenti mencari (Tuhan/Kesadaran Murni/Pencerahan). Jangan pula terburu-buru, tergesa-gesa.

Sungai kecil yang mengalir terus, tidak akan menjadi kotor. (Dan pada suatu ketika pasti menyatu dengan laut).

Sebutir telur tidak sama dengan burung yang sedang terbang tinggi di langit. Tetapi tunggu sebentar, beri dia waktu. Telur itu akan menetas dan melahirkan burung yang bisa terbang tinggi di langit.

Kendati demikian, Rumi juga menyadari betul bahwa ada saja telur yang busuk. Yang tidak akan menetas. Lalu perbedaan antara telur burung dan telur ular. Perbedaan antara biji buah asem  dan buah apel. Tampak sama, tetapi jelas berbeda. Dedaunan pun bisa mirip, tetapi buahnya berbeda…

 

Badan manusia pun demikian. Yang satu mirip dengan yang lain. Tetapi jiwa di dalamnya berbeda.

Setiap orang berdagang di pasar. Ada yang memperoleh keuntungan dan bersuka-cita. Ada yang menderita kerugian dan berduka-cita.

Pada saat kematian pun demikian. Sebagian di antara kita beruntung dan menang. Sebagian lagi tidak beruntung dan kalah.

Tinggal tunggu tanggal mainnya. Siapa yang menang, siapa yang kalah? Siapa yang ditaklukkan oleh maut, siapa yang menaklukkan maut? Menaklukkan maut tidak berarti Anda ‘tidak akan mati’. Tidak demikian. Menaklukkan maut berarti Anda akan menghadapi dengan senyuman. Dan ditaklukkan oleh maut berarti Anda ‘takut’ menghadapinya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Elang Tinggalkan Sangkar Allah Cari Kebebasan Duniawi #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on November 15, 2016 by triwidodo

buku-masnawi-2-elang

Konon, seorang Raja kehilangan burung elang kesayangannya. Burung elang itu sengaja meninggalkan istana karena kejenuhan dan mendatangi rumah seorang wanita tua.

Melihat seekor burung berbadan montok, wanita itu senang sekali. Dia menagkap serta mengikat kaki dan sayapnya. Melihat kuku elang yang panjang, wanita ini mengatakan, “Yang memelihara kamu selama ini sungguh malas. Kukumu dibiarkan memanjang; tidak pernah dipotong. Begitu pula dengan sayapmu, tidak pernah dirampingkan. Tetapi jangan khawatir. Engkau berada di tempat yang tepat. Ibumu ini akan memotong kukumu dan merampingkan sayapmu.”

buku-masnawi-2-diperbesar

Cover Masnawi Buku Kedua

Dan itu pula yang dia lakukan. Kukunya dipotong, sayapnya dirampingkan, dipotong.

Demikianlah jika engkau bersahabat dengan orang bodoh. Cinta serta kepeduliannya pun bisa mencelakakanmu.

Sementara itu, pada suatu hari Sang Raja melewati rumah wanita tadi. Melihat burungnya yang sudah tidak bercakar, dan nyaris tidak bersayap, Sang Raja tidak bisa menahan jeritannya, “Apa yang terjadi padamu? Hidup bebas di dalam istana bagaikan hidup dalam taman Firdaus. Lalu, kenapa kamu harus meninggalkan istana dan datang ke tempat di mana mereka tidak menghargaimu. Mereka tidak tahu bahwa engkau seekor elang. Dan bagi seekor elang, cakar serta sayapnya sangat berharga.”

Si elang berupaya untuk mendekati Raja dan kendati tidak bisa berbicara, dia menyampaikan permohonan maafnya, “Aku telah melakukan kesalahan.”

Sang Raja memahami maksud burung tersebut, dan dia memaafkannya.

Karena dekat dengan Tuhan, sering kali manusia menjadi sombong. Karena dekat dengan Sang Raja, dia lupa daratan. Dan dia meremehkan kedekatan itu. Lalu, karena kesombongannya sendiri dia menjadi jauh dari Tuhan, dari Sang Raja.

 

Seperti si burung elang dalam kisah ini, kita pun tidak pernah dikeluarkan dari Taman Firdaus. Kita keluar sendiri. Keluar dari istana, kita jatuh di tangan wanita tua yang tidak tahu elang itu apa.

Lalu, kuku (elang) kita dipotong. Sayap kita digunting. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sebelumnya kaki kita pun sudah diikat oleh dia.

Yang kita anggap kebebasan, ternyata bukan kebebasan. Apa yang kita anggap kemerdekaan ternyata perbudakan. Dengan kuku dan sayap terpotong, sekarang kita sudah tidak bisa melakukan apa pun. Walaupun berbadan dan berjiwa elang, kita sudah tidak bisa terbang lagi.

Harus ada seorang raja yang mendatangi elang (kita), mengenali kita, dan membebaskan kita dari perangkap wanita tua.

Wanita tua adalah dunia. Keterikatan anda terhadap dunia dan kepedulian dunia terhadap anda menghasilkan apa? Rasa takut, waswas. Kemampuan (elang) untuk terbang pun menghilang. Tetapi anda masih saja betah di dalam “rumah-dunia” ini.

Berdoalah agar ada seorang mursyid, seorang raja yang mendatangi elang (anda) dan membebaskan dari perangkap dunia.

Demikian, jiwa si elang yang tadinya kafir itu memeluk Islam. Selama anda masih mencari sesuatu di luar Allah, anda berjiwa kafir, seperti elang yang meninggalkan istana, meninggalkan raja, untuk mencari “kebebasan” di luarnya.

Elang tidak sadar bahwa hidup dalam istana bersama Raja itulah kebebasan! Hidup di dalam “Sangkar Allah” berarti hidup dalam ketakterbatasan-itulah Kebebasan. Hidup di dalam “dunia yang tampaknya bebas” berarti hidup dalam keterbatasan-itulah perbudakan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Adam dan Iblis menurut #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on November 13, 2016 by triwidodo

buku-masnawi-1-adam-dan-iblis

Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya. Sebelum Rumi, tidak seorang pun yang mampu melihat “kebenaran yang tersirat” di balik kisah Adam, Hawa dan Iblis. Jika Iblis tidak menggoda, jika Adam tidak tergoda, maka Roda Dunia, Chakra sang Kala tidak akan pernah berputar. Siapa yang bisa menyutradarai Sandiwara Kehidupan ini – kecuali Dia?

Iblis dan Adam, dua-duanya mengetahui hal tersebut. Ibarat pemain sinetron, mereka sudah membaca skrip. Adam menerima perannya. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, Iblis tidak sepenuh hati menerima peran yang diberikan kepadanya. Ia mengeluh.

Silakan simak kisah berikut:

buku-masnawi-1-langit-biru

Cover Buku Masnawi Satu

 

“Adam dalam kisah ini mewakili rasa. Sementara, Iblis mewakili pikiran. Jika analogi ini dipahami sejak awal, pesan Moulana akan menjadi sangat jelas:

Iblis berupaya untuk menutupi kesalahannya dan mencari pembenaran, “Tuhanlah yang menggoda aku.”

Allah bersabda: “Sadarkah engkau, bahwa apa yang kau lakukan itu karena Aku juga?”

Adam menjawab, “Ya, Tuhanku,”

“Lalu kenapa tidak mengatakan demikian?” tanya Tuhan.

“Aku tidak dapat menyalahkan Engkau  – Tuhanku…

“Aku pun tidak akan menyalahkanmu.”

Sekian banyak makna yang tersirat dalam kisah ini:

 

Pertama, Allah berada di balik setiap kejadian. Maha Besar Allah, Maha Suci Tuhan, Dialah Sebab Awal segala kejadian.

Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya. Sebelum Rumi, tidak seorang pun yang mampu melihat “kebenaran yang tersirat” di balik kisah Adam, Hawa dan Iblis. Jika Iblis tidak menggoda, jika Adam tidak tergoda, maka Roda Dunia, Chakra sang Kala tidak akan pernah berputar. Siapa yang bisa menyutradarai Sandiwara Kehidupan ini – kecuali Dia?

Iblis dan Adam, dua-duanya mengetahui hal tersebut. Ibarat pemain sinetron, mereka sudah membaca skrip. Adam menerima perannya. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, Iblis tidak sepenuh hati menerima peran yang diberikan kepadanya. Ia mengeluh.

Jika Anda termasuk orang yang sering mengeluh, yang selalu meragukan Kebijakan Allah, Anda bersifatkan Iblis. Tetapi, jika Anda termasuk orang yang menerima Kehendak Ilahi, tidak meragukan Kebijakan-Nya, Anda bersifatkan Adam.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri, ‘Aku termasuk golongan yang mana? Golongan Iblis atau golongan Adam?’

Saat ini, baru bentuk badan kita yang menyerupai Adam. Sifat kita, akhlak kita, penerimaan kita belum menyerupai Adam.

Masih ada makna lain yang tersirat dalam kisah ini.

Makna kedua: Iblis adalah pikiran kita. Pikiran yang selalu mencari pembenaran. Pikiran yang tidak mau disalahkan. Pikiran yang lebih senang menyalahkan orang lain. Pikiran yang selalu mencari kambing hitam. Adam adalah rasa. Rasa yang selalu siap menerima. Rasa yang tidak mengenal perhitungan laba-rugi. Rasa yang tidak pernah mencari pembenaran.

Jika ingin dekat dengan Tuhan, jika ingin disapa oleh Allah, kembangkan rasa dalam diri Anda. Pikiran tidak akan membantu.

Moulana mengkaitkan pikiran dengan intelek dan rasa dengan spiritualitas:

Pencarian dan pemahaman intelektual tidak sama dengan pencarian dan pemahaman spiritual. Intelek hanya bisa memahami hal-hal yang bersifat duniawi, dan tidak mampu memahami sesuatu yang bersifat rohani.

Seorang intelektual ibarat seorang pincang yang membutuhkan bantuan ‘tongkat logika’. Intelek membutuhkan pembuktian. Tidak demikian dengan spiritualitas. Jiwa seorang spiritual diterangi oleh Cahaya Ilahi. Oleh karena itu, ia mandiri. Ia tidak membutuhkan pembuktian dan pengukuhan.

Saya tidak perlu mengimentari hal ini. Hanya ingin mengingatkan Anda bahwa Muhammad bukan seorang intelektual; Isa bukanlah seorang cendekiawan; Buddha, Krishna, Lao Tze bukan para ahli kitab. Mereka adalah orang-orang spiritual.

Berada di dalam “sangkar-badan”, manusia tergoda oleh pujian yang diberikan kepadanya. Ada yang mengatakan, “Engkaulah yang terbaik.” Ada lagi yang berupaya mengatakan, “Engkaulah yang paling tampan, paling cantik.”

Dan dia mulai mempercayai pendapat orang lain tentang dirinya. Dia menjadi sombong. Dia tidak bisa lagi menjaga keseimbangan diri dan lepas kendali…

Dia tidak sadar bahwa kata-kata pujian ibarat manisan. Terlalu banyak “memakannya” akan membahayakan kesehatan dia sendiri.

Apa yang terjadi, jika seseorang memakimu di depan umum? Selama berhari-hari, kamu tidak akan melupakan caciannya. Selama berhari-hari kamu gelisah. Cacian membuat kamu resah, gelisah. Pujian membuat kamu sombong, angkuh. Apa bedanya? Yang satu pahit, yang lain manis. Kamu mangeluhkan yang pahit dan menikmati yang manis.

 

Padahal dua-duanya tidak berguna! Dua-duanya membuat kita tidak percaya diri. Ada yang memuji, kita senang. Ada yang memaki, kita sedih. Kita mempercayai pujian dan makian orang. Kita meyakini pendapat orang tentang diri kita.

Ada yang menempatkan Nabi pada urutan pertama di antara para tokoh penting dunia, kita girang. Ada lagi yang menempatkan Nabi pada urutan kesekian di antara para tokoh penting Indonesia, kita gerah, dan ngamuk. Padahal, Nabi sendiri mungkin tidak berkepentingan dengan pendapat orang tentang dirinya.

Yang berkepentingan dengan pendapat orang adalah mereka yang tidak percaya diri. Mereka yang masih mengejar pengakuan dari pihak ketiga. Mereka yang masih suka disanjung.

Rumi mengingatkan bahwa pujian dan makian — dua-duanya—ditujukan kepada badan kita, kepada apa yang terlihat oleh mata kasat…

Selama masih jaya, masih berada di atas, banyak orang yang mengerumuni kamu. Begitu jatuh, mereka meninggalkan kamu. Setan pun menggoda kamu, selama masih ada kemanusiaan dalam dirimu. Jika kesadaranmu merosot dan kamu berperilaku seperti dia, maka Setan pun meninggalkan kamu.

 

Setiap kali ada saja yang mengeluh, “Setelah mengikuti meditasi sekian lama, kesadaranku masih saja naik turun.”

Menyadari bahwa kesadaran Anda sering naik turun merupakan langkah awal menuju Pencerahan Sampurna. Ia yang tercerahkan menyadari betul bahwa kesadaran bisa pasang, bisa surut. Karena itu, ia akan selalu waspada. Menyadari naik-turunnya kesadaran, pasang-surutnya kesadaran membuktikan bahwa Anda masih cukup manusiawi. Yang merasa dirinya sudah hebat dan kesadarannya selalu berada pada langit ketujuh sesungguhnya tidak sadar sama sekali. Dia sudah tergoda oleh Setan, sudah diperbudak oleh pikiran. Yang membuat dirinya sombong dan mengklaim bahwa kesadarannya tidak pernah naik-turun adalah “Setan Pikiran”.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kejenuhan Mojud melakoni “yang benar dan tidak benar” dan Panduan Khidir

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 7, 2016 by triwidodo

 

buku-paramhansa-mojud-jhulelal

Mojud adalah seorang pegawai negeri biasa. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengawas tirnbangan dan ukuran. Pekerjaannya menuntut disiplin yang tinggi sekali. Setiap pengusaha, setiap pedagang yang berurusan dengan timbangan dan ukuran, harus memeriksakan timbangannya atau meterannya secara berkala. Mojud harus mengujinya. Apabila sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, ia akan memberi stempel ”Telah Diuji”. Apabila tidak sesuai, meteran atau timbangan tersebut akan ditarik kembali,dimusnahkan. Dan para pengusaha harus beli yang baru.

Jabatan itu memang cukup “basah”. Mojud bisa saja menyalahgunakan wewenangnya. Setiap kali ada saja seorang pengusaha yang ingin menyuap dia, tetapi Mojud tidak pernah tergoda, bahkan ia mulai merasa jenuh. Setiap hari ia meneliti keabsahan, kebenaran timbangan dan meteran—setiap hari memilah antara yang “benar” dan “tidak benar”. Pada suatu ketika ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, ”Hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Sewaktu masih kecil, ia disuruh memilih antara Setan dan Tuhan. Lantas, ia disuruh memilih antara Sorga dan Neraka. Sekarang, antara yang benar dan yang tidak benar. Sungguh memuakkan. Dan akhirnya, ia berontak, “Allah, Tuhan—hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Ia mendatangi para suci, “Muak sudah aku dengan pekerjaan yang menjenuhkan ini. Setiap hari, aku berhadapan dengan ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar’. Inikah satu-satunya kenyataan hidup? Haruskah aku meneruskan pekerjaan ini sampai akhir hayat? Hanya untuk inikah aku beracla di dunia ini?”

Para suci menjawab, ”Mojud, kami tidak sanggup menjawab pertanyaanmu, karena kami sendiri belum bisa melampaui dualitas. Kami sendiri masih terombang-ambing antara ’yang benar’ dan ‘yang ticlak benar’. Yang bisa menjawab pertanyaanmu hanyalah Dia, yang sudah melampaui dualitas tersebut.”

“Adakah orang yang telah melampauinya? Kalau tidak ada, sia-sialah hidupku ini. Entah sejak kapan, aku berlari di tempat. Aku tidak mengalami peningkatan kesadaran sama sekali. Dari dulu yang kulakukan hanyalah mernilah ancara ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar.”

“Ada, Mojud. Ada satu orang yang telah melampaui dualitas antara ’yang benar’ clan ’yang tidak benar’. Nabi Khidir—Beliaulah satu-satunya manusia yang telah melampaui dualitas. Beliau senantiasa berada dalam ketauhidan AlIah.”—para suci menjawab. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda

“Dan bagaimana aku rnenemukan Beliau—ke mana aku rnencarinya?”—tanya Mojud.

“Itu susahnya. Beliau tidak bisa dicari. Apabila kamu sudah siap, Beliau akan menemui kamu sendiri. Kamu tidak perlu mencarinya ke mana-mana.”

“Lantas—apa yang harus kulakukan? Persiapan apa yang dibutuhkan?”

“Kejenuhanmu—itulah persiapan yang kau butuhkan. Semakin jenuh kamu, semakin siap pula kamu.”

Semakin lama, Mojud semakin jenuh. Usaha memilah antara ”yang benar” dan “yang tidak benar” memang sangat menjenuhkan!

Dan pada suatu ketika, Nabi Khidir pun muncul, “Mojud, rnatang sudah kejenuhanmu. Sekarang kamu sudah siap untuk sesuatu yang lebih tinggi nilainya, daripada sekadar memilah antara ’yang benar’ clan ‘yang tidak benar’. Tinggalkan pekerjaanmu.”

Mojud memang sudah siap betul. Langsung saja, ia meninggalkan pekerjaannya. Sanak-saudara, kawan dan lawan bertanya, “Mojud, apa yang akan kau lakukan?”

Mojud menjawab, “Aku tidak tahu.“

“Dan, kau meninggalkan pekerjaan yang begitu mulia—pekerjaan yang tidak gampang diperoleh. Begitu banyak orang yang ingin mendapatkan jabatanmu.”

“Kuucapkan selamat kepada rnereka. Aku sudah jenuh memilah antara ’yang benar’ dan ’yang tidak benar’.”—tegas Mojud.

“Mojud, kau gila—kau tololl”

”Mungkin!”

Nabi Khidir muncul lagi, ”Mojud, kamu tidak terpengaruh oleh pendapat umum. Sekarang kamu siap untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Lepaskan bajumu, jatuhkan dirimu ke dalam sungai yang mengalir itu. Biarkan aliran sungai menuntun kamu. jangan berusaha untuk menyelamatkan dirimu.”

Mojud tidak berpikir dua kali. Ia merobek bajunya, dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Ia membiarkan arus sungai menuntun dia. Seorang nelayan yang menyaksikan kejadian itu dari kejahuan bergegas menyelamatkan Mojud, ”Kamu ingin bunuh diri?”

“Tidak.”

“Lantas, kenapa kamu menjatuhkan dirimu ke dalam sungai? Arusnya sedang kuat, kamu bisa tenggelam. Apa yang hendak kau lakukan?”

”Aku tidak tahu.”

“Kamu betul-betul edan!” Kendati demikian, si nelayan tetap juga menyelamatkan nyawa Mojud dan mengajaknya ke perkampungan para nelayan. Selama beberapa bulan, Mojud tinggal bersama para nelayan, belajar memancing ikan dan membantu mereka.

Pada suatu malam, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, “Selesai sudah pelajaranmu tahap pertama. Sekarang tinggalkan tempat ini. Pergilah ke daerah lain.”

Mojud meninggalkan perkampungan para nelayan dan berangkat ke daerah lain. Dia bertemu dengan seorang petani, “Sepertinya, kamu tidak punya pekerjaan tetap. Saya kebetulan sedang mencari pembantu. Ikutilah saya.”

Dari majikannya yang baru, Mojud belajar bercocok-tanam. Ia belajar mencintai bumi. Selama dua tahun bekerja di ladang—ia memperoleh upah. Sekarang ia memiliki tabungan.

Nabi Khidir menampakkan dirinya lagi, “Pelajaran tahap kedua pun sudah selesai. Tinggalkan kampung ini, pergilah ke kota. Gunakan tabunganmu untuk berdagang jual-beli kulit.”

Itu pula yang dilakukan oleh Mojud. Dan ia berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar. Tiga tahun kemudian, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, ”Berikan seluruh penghasilanmu kepadaku. Tinggalkan kota ini, pergilah ke Samarkand. Kamu akan bertemu dengan seorang pedagang. Layanilah dia.”

Mojud tidak pernah membantah, tidak pernah mempertanyakan kebijakan Nabi Khidir. Hari itu juga, ia berangkat ke Samarkand. Dalarn perjalanan ia bertemu dengan orang-orang sakit. Ia hanya menyalami mereka, menyentuh mereka—dan mereka langsung sembuh.

Mojud pun bingung, apa yang terjadi! Di Samarkand, sambil melayani majikannya, kejadian-kejadian serupa akan terulangi lagi. Semakin lama, semakin sering. Berduyun-duyun, anak-cucu Adam mendatangi dia hanya untuk melihat wajahnya, hanya untuk menyentuh jubahnya.

Para penulis, penyair dan pemikir mendatangi dia, “Guru, kami ingin menulis kisah hidupmu. Ceritakan sedikit tentang dirimu.”

”Al<u Mojud—Aku Ada!”

”Maksud kami—apa yang Guru lakukan dulu?”

“Dulu, aku seorang pegawai negeri.”

Mereka rnengira bahwa dulu ia seorang raja, seorang sultan—dan mereka mengira bahwa ia sedang merendah saja, “Jadi Guru meninggalkan semuanya itu demi pencarian spiritual?”

“Saya meninggalkan semuanya itu, karena saya jenuh. Bukan demi sesuatu apa pun.”—tegas Mojud.

Mereka tetap juga tidak memahami Mojud, “Apa yang Guru lakukan setelah itu?”

”Saya mengikuti aliran sungai. Lantas nyawa saya terselamatkan. Setelah itu, saya mulai rnenangkap ikan, bercocok-tanam, lalu mejadi pedagang kulit. Sekarang membantu majikan di sini. Demikianlah kisah hidupku. Siapa yang akan tertarik untuk membaca buku kalian?”—giliran Mojud rnengajukan pertanyaan.

Para pemikir menjadi sangat bingung. Mereka mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud.

Para penulis pun bingung, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud. Dalam kebingungan itu, setiap orang di antara mereka menulis kisah hidup Mojud, sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Para penyair menyentuh jubah Mojud, mencium tangannya, dan mulai rnenari. Saya dengar, sampai sekarang pun mereka masih menari. Dan Mojud pun ikut menari bersama mereka!