Kejenuhan Mojud melakoni “yang benar dan tidak benar” dan Panduan Khidir

 

buku-paramhansa-mojud-jhulelal

Mojud adalah seorang pegawai negeri biasa. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengawas tirnbangan dan ukuran. Pekerjaannya menuntut disiplin yang tinggi sekali. Setiap pengusaha, setiap pedagang yang berurusan dengan timbangan dan ukuran, harus memeriksakan timbangannya atau meterannya secara berkala. Mojud harus mengujinya. Apabila sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, ia akan memberi stempel ”Telah Diuji”. Apabila tidak sesuai, meteran atau timbangan tersebut akan ditarik kembali,dimusnahkan. Dan para pengusaha harus beli yang baru.

Jabatan itu memang cukup “basah”. Mojud bisa saja menyalahgunakan wewenangnya. Setiap kali ada saja seorang pengusaha yang ingin menyuap dia, tetapi Mojud tidak pernah tergoda, bahkan ia mulai merasa jenuh. Setiap hari ia meneliti keabsahan, kebenaran timbangan dan meteran—setiap hari memilah antara yang “benar” dan “tidak benar”. Pada suatu ketika ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, ”Hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Sewaktu masih kecil, ia disuruh memilih antara Setan dan Tuhan. Lantas, ia disuruh memilih antara Sorga dan Neraka. Sekarang, antara yang benar dan yang tidak benar. Sungguh memuakkan. Dan akhirnya, ia berontak, “Allah, Tuhan—hanya untuk inikah aku berada di dunia ini?”

Ia mendatangi para suci, “Muak sudah aku dengan pekerjaan yang menjenuhkan ini. Setiap hari, aku berhadapan dengan ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar’. Inikah satu-satunya kenyataan hidup? Haruskah aku meneruskan pekerjaan ini sampai akhir hayat? Hanya untuk inikah aku beracla di dunia ini?”

Para suci menjawab, ”Mojud, kami tidak sanggup menjawab pertanyaanmu, karena kami sendiri belum bisa melampaui dualitas. Kami sendiri masih terombang-ambing antara ’yang benar’ dan ‘yang ticlak benar’. Yang bisa menjawab pertanyaanmu hanyalah Dia, yang sudah melampaui dualitas tersebut.”

“Adakah orang yang telah melampauinya? Kalau tidak ada, sia-sialah hidupku ini. Entah sejak kapan, aku berlari di tempat. Aku tidak mengalami peningkatan kesadaran sama sekali. Dari dulu yang kulakukan hanyalah mernilah ancara ‘yang benar’ dan ’yang tidak benar.”

“Ada, Mojud. Ada satu orang yang telah melampaui dualitas antara ’yang benar’ clan ’yang tidak benar’. Nabi Khidir—Beliaulah satu-satunya manusia yang telah melampaui dualitas. Beliau senantiasa berada dalam ketauhidan AlIah.”—para suci menjawab. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda

“Dan bagaimana aku rnenemukan Beliau—ke mana aku rnencarinya?”—tanya Mojud.

“Itu susahnya. Beliau tidak bisa dicari. Apabila kamu sudah siap, Beliau akan menemui kamu sendiri. Kamu tidak perlu mencarinya ke mana-mana.”

“Lantas—apa yang harus kulakukan? Persiapan apa yang dibutuhkan?”

“Kejenuhanmu—itulah persiapan yang kau butuhkan. Semakin jenuh kamu, semakin siap pula kamu.”

Semakin lama, Mojud semakin jenuh. Usaha memilah antara ”yang benar” dan “yang tidak benar” memang sangat menjenuhkan!

Dan pada suatu ketika, Nabi Khidir pun muncul, “Mojud, rnatang sudah kejenuhanmu. Sekarang kamu sudah siap untuk sesuatu yang lebih tinggi nilainya, daripada sekadar memilah antara ’yang benar’ clan ‘yang tidak benar’. Tinggalkan pekerjaanmu.”

Mojud memang sudah siap betul. Langsung saja, ia meninggalkan pekerjaannya. Sanak-saudara, kawan dan lawan bertanya, “Mojud, apa yang akan kau lakukan?”

Mojud menjawab, “Aku tidak tahu.“

“Dan, kau meninggalkan pekerjaan yang begitu mulia—pekerjaan yang tidak gampang diperoleh. Begitu banyak orang yang ingin mendapatkan jabatanmu.”

“Kuucapkan selamat kepada rnereka. Aku sudah jenuh memilah antara ’yang benar’ dan ’yang tidak benar’.”—tegas Mojud.

“Mojud, kau gila—kau tololl”

”Mungkin!”

Nabi Khidir muncul lagi, ”Mojud, kamu tidak terpengaruh oleh pendapat umum. Sekarang kamu siap untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Lepaskan bajumu, jatuhkan dirimu ke dalam sungai yang mengalir itu. Biarkan aliran sungai menuntun kamu. jangan berusaha untuk menyelamatkan dirimu.”

Mojud tidak berpikir dua kali. Ia merobek bajunya, dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Ia membiarkan arus sungai menuntun dia. Seorang nelayan yang menyaksikan kejadian itu dari kejahuan bergegas menyelamatkan Mojud, ”Kamu ingin bunuh diri?”

“Tidak.”

“Lantas, kenapa kamu menjatuhkan dirimu ke dalam sungai? Arusnya sedang kuat, kamu bisa tenggelam. Apa yang hendak kau lakukan?”

”Aku tidak tahu.”

“Kamu betul-betul edan!” Kendati demikian, si nelayan tetap juga menyelamatkan nyawa Mojud dan mengajaknya ke perkampungan para nelayan. Selama beberapa bulan, Mojud tinggal bersama para nelayan, belajar memancing ikan dan membantu mereka.

Pada suatu malam, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, “Selesai sudah pelajaranmu tahap pertama. Sekarang tinggalkan tempat ini. Pergilah ke daerah lain.”

Mojud meninggalkan perkampungan para nelayan dan berangkat ke daerah lain. Dia bertemu dengan seorang petani, “Sepertinya, kamu tidak punya pekerjaan tetap. Saya kebetulan sedang mencari pembantu. Ikutilah saya.”

Dari majikannya yang baru, Mojud belajar bercocok-tanam. Ia belajar mencintai bumi. Selama dua tahun bekerja di ladang—ia memperoleh upah. Sekarang ia memiliki tabungan.

Nabi Khidir menampakkan dirinya lagi, “Pelajaran tahap kedua pun sudah selesai. Tinggalkan kampung ini, pergilah ke kota. Gunakan tabunganmu untuk berdagang jual-beli kulit.”

Itu pula yang dilakukan oleh Mojud. Dan ia berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar. Tiga tahun kemudian, Nabi Khidir mendatangi dia lagi, ”Berikan seluruh penghasilanmu kepadaku. Tinggalkan kota ini, pergilah ke Samarkand. Kamu akan bertemu dengan seorang pedagang. Layanilah dia.”

Mojud tidak pernah membantah, tidak pernah mempertanyakan kebijakan Nabi Khidir. Hari itu juga, ia berangkat ke Samarkand. Dalarn perjalanan ia bertemu dengan orang-orang sakit. Ia hanya menyalami mereka, menyentuh mereka—dan mereka langsung sembuh.

Mojud pun bingung, apa yang terjadi! Di Samarkand, sambil melayani majikannya, kejadian-kejadian serupa akan terulangi lagi. Semakin lama, semakin sering. Berduyun-duyun, anak-cucu Adam mendatangi dia hanya untuk melihat wajahnya, hanya untuk menyentuh jubahnya.

Para penulis, penyair dan pemikir mendatangi dia, “Guru, kami ingin menulis kisah hidupmu. Ceritakan sedikit tentang dirimu.”

”Al<u Mojud—Aku Ada!”

”Maksud kami—apa yang Guru lakukan dulu?”

“Dulu, aku seorang pegawai negeri.”

Mereka rnengira bahwa dulu ia seorang raja, seorang sultan—dan mereka mengira bahwa ia sedang merendah saja, “Jadi Guru meninggalkan semuanya itu demi pencarian spiritual?”

“Saya meninggalkan semuanya itu, karena saya jenuh. Bukan demi sesuatu apa pun.”—tegas Mojud.

Mereka tetap juga tidak memahami Mojud, “Apa yang Guru lakukan setelah itu?”

”Saya mengikuti aliran sungai. Lantas nyawa saya terselamatkan. Setelah itu, saya mulai rnenangkap ikan, bercocok-tanam, lalu mejadi pedagang kulit. Sekarang membantu majikan di sini. Demikianlah kisah hidupku. Siapa yang akan tertarik untuk membaca buku kalian?”—giliran Mojud rnengajukan pertanyaan.

Para pemikir menjadi sangat bingung. Mereka mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud.

Para penulis pun bingung, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk menulis tentang Mojud. Dalam kebingungan itu, setiap orang di antara mereka menulis kisah hidup Mojud, sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Para penyair menyentuh jubah Mojud, mencium tangannya, dan mulai rnenari. Saya dengar, sampai sekarang pun mereka masih menari. Dan Mojud pun ikut menari bersama mereka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: