Kisah Adam dan Iblis menurut #Masnawi

buku-masnawi-1-adam-dan-iblis

Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya. Sebelum Rumi, tidak seorang pun yang mampu melihat “kebenaran yang tersirat” di balik kisah Adam, Hawa dan Iblis. Jika Iblis tidak menggoda, jika Adam tidak tergoda, maka Roda Dunia, Chakra sang Kala tidak akan pernah berputar. Siapa yang bisa menyutradarai Sandiwara Kehidupan ini – kecuali Dia?

Iblis dan Adam, dua-duanya mengetahui hal tersebut. Ibarat pemain sinetron, mereka sudah membaca skrip. Adam menerima perannya. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, Iblis tidak sepenuh hati menerima peran yang diberikan kepadanya. Ia mengeluh.

Silakan simak kisah berikut:

buku-masnawi-1-langit-biru

Cover Buku Masnawi Satu

 

“Adam dalam kisah ini mewakili rasa. Sementara, Iblis mewakili pikiran. Jika analogi ini dipahami sejak awal, pesan Moulana akan menjadi sangat jelas:

Iblis berupaya untuk menutupi kesalahannya dan mencari pembenaran, “Tuhanlah yang menggoda aku.”

Allah bersabda: “Sadarkah engkau, bahwa apa yang kau lakukan itu karena Aku juga?”

Adam menjawab, “Ya, Tuhanku,”

“Lalu kenapa tidak mengatakan demikian?” tanya Tuhan.

“Aku tidak dapat menyalahkan Engkau  – Tuhanku…

“Aku pun tidak akan menyalahkanmu.”

Sekian banyak makna yang tersirat dalam kisah ini:

 

Pertama, Allah berada di balik setiap kejadian. Maha Besar Allah, Maha Suci Tuhan, Dialah Sebab Awal segala kejadian.

Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya. Sebelum Rumi, tidak seorang pun yang mampu melihat “kebenaran yang tersirat” di balik kisah Adam, Hawa dan Iblis. Jika Iblis tidak menggoda, jika Adam tidak tergoda, maka Roda Dunia, Chakra sang Kala tidak akan pernah berputar. Siapa yang bisa menyutradarai Sandiwara Kehidupan ini – kecuali Dia?

Iblis dan Adam, dua-duanya mengetahui hal tersebut. Ibarat pemain sinetron, mereka sudah membaca skrip. Adam menerima perannya. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, Iblis tidak sepenuh hati menerima peran yang diberikan kepadanya. Ia mengeluh.

Jika Anda termasuk orang yang sering mengeluh, yang selalu meragukan Kebijakan Allah, Anda bersifatkan Iblis. Tetapi, jika Anda termasuk orang yang menerima Kehendak Ilahi, tidak meragukan Kebijakan-Nya, Anda bersifatkan Adam.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri, ‘Aku termasuk golongan yang mana? Golongan Iblis atau golongan Adam?’

Saat ini, baru bentuk badan kita yang menyerupai Adam. Sifat kita, akhlak kita, penerimaan kita belum menyerupai Adam.

Masih ada makna lain yang tersirat dalam kisah ini.

Makna kedua: Iblis adalah pikiran kita. Pikiran yang selalu mencari pembenaran. Pikiran yang tidak mau disalahkan. Pikiran yang lebih senang menyalahkan orang lain. Pikiran yang selalu mencari kambing hitam. Adam adalah rasa. Rasa yang selalu siap menerima. Rasa yang tidak mengenal perhitungan laba-rugi. Rasa yang tidak pernah mencari pembenaran.

Jika ingin dekat dengan Tuhan, jika ingin disapa oleh Allah, kembangkan rasa dalam diri Anda. Pikiran tidak akan membantu.

Moulana mengkaitkan pikiran dengan intelek dan rasa dengan spiritualitas:

Pencarian dan pemahaman intelektual tidak sama dengan pencarian dan pemahaman spiritual. Intelek hanya bisa memahami hal-hal yang bersifat duniawi, dan tidak mampu memahami sesuatu yang bersifat rohani.

Seorang intelektual ibarat seorang pincang yang membutuhkan bantuan ‘tongkat logika’. Intelek membutuhkan pembuktian. Tidak demikian dengan spiritualitas. Jiwa seorang spiritual diterangi oleh Cahaya Ilahi. Oleh karena itu, ia mandiri. Ia tidak membutuhkan pembuktian dan pengukuhan.

Saya tidak perlu mengimentari hal ini. Hanya ingin mengingatkan Anda bahwa Muhammad bukan seorang intelektual; Isa bukanlah seorang cendekiawan; Buddha, Krishna, Lao Tze bukan para ahli kitab. Mereka adalah orang-orang spiritual.

Berada di dalam “sangkar-badan”, manusia tergoda oleh pujian yang diberikan kepadanya. Ada yang mengatakan, “Engkaulah yang terbaik.” Ada lagi yang berupaya mengatakan, “Engkaulah yang paling tampan, paling cantik.”

Dan dia mulai mempercayai pendapat orang lain tentang dirinya. Dia menjadi sombong. Dia tidak bisa lagi menjaga keseimbangan diri dan lepas kendali…

Dia tidak sadar bahwa kata-kata pujian ibarat manisan. Terlalu banyak “memakannya” akan membahayakan kesehatan dia sendiri.

Apa yang terjadi, jika seseorang memakimu di depan umum? Selama berhari-hari, kamu tidak akan melupakan caciannya. Selama berhari-hari kamu gelisah. Cacian membuat kamu resah, gelisah. Pujian membuat kamu sombong, angkuh. Apa bedanya? Yang satu pahit, yang lain manis. Kamu mangeluhkan yang pahit dan menikmati yang manis.

 

Padahal dua-duanya tidak berguna! Dua-duanya membuat kita tidak percaya diri. Ada yang memuji, kita senang. Ada yang memaki, kita sedih. Kita mempercayai pujian dan makian orang. Kita meyakini pendapat orang tentang diri kita.

Ada yang menempatkan Nabi pada urutan pertama di antara para tokoh penting dunia, kita girang. Ada lagi yang menempatkan Nabi pada urutan kesekian di antara para tokoh penting Indonesia, kita gerah, dan ngamuk. Padahal, Nabi sendiri mungkin tidak berkepentingan dengan pendapat orang tentang dirinya.

Yang berkepentingan dengan pendapat orang adalah mereka yang tidak percaya diri. Mereka yang masih mengejar pengakuan dari pihak ketiga. Mereka yang masih suka disanjung.

Rumi mengingatkan bahwa pujian dan makian — dua-duanya—ditujukan kepada badan kita, kepada apa yang terlihat oleh mata kasat…

Selama masih jaya, masih berada di atas, banyak orang yang mengerumuni kamu. Begitu jatuh, mereka meninggalkan kamu. Setan pun menggoda kamu, selama masih ada kemanusiaan dalam dirimu. Jika kesadaranmu merosot dan kamu berperilaku seperti dia, maka Setan pun meninggalkan kamu.

 

Setiap kali ada saja yang mengeluh, “Setelah mengikuti meditasi sekian lama, kesadaranku masih saja naik turun.”

Menyadari bahwa kesadaran Anda sering naik turun merupakan langkah awal menuju Pencerahan Sampurna. Ia yang tercerahkan menyadari betul bahwa kesadaran bisa pasang, bisa surut. Karena itu, ia akan selalu waspada. Menyadari naik-turunnya kesadaran, pasang-surutnya kesadaran membuktikan bahwa Anda masih cukup manusiawi. Yang merasa dirinya sudah hebat dan kesadarannya selalu berada pada langit ketujuh sesungguhnya tidak sadar sama sekali. Dia sudah tergoda oleh Setan, sudah diperbudak oleh pikiran. Yang membuat dirinya sombong dan mengklaim bahwa kesadarannya tidak pernah naik-turun adalah “Setan Pikiran”.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: