Kisah Elang Tinggalkan Sangkar Allah Cari Kebebasan Duniawi #Masnawi

buku-masnawi-2-elang

Konon, seorang Raja kehilangan burung elang kesayangannya. Burung elang itu sengaja meninggalkan istana karena kejenuhan dan mendatangi rumah seorang wanita tua.

Melihat seekor burung berbadan montok, wanita itu senang sekali. Dia menagkap serta mengikat kaki dan sayapnya. Melihat kuku elang yang panjang, wanita ini mengatakan, “Yang memelihara kamu selama ini sungguh malas. Kukumu dibiarkan memanjang; tidak pernah dipotong. Begitu pula dengan sayapmu, tidak pernah dirampingkan. Tetapi jangan khawatir. Engkau berada di tempat yang tepat. Ibumu ini akan memotong kukumu dan merampingkan sayapmu.”

buku-masnawi-2-diperbesar

Cover Masnawi Buku Kedua

Dan itu pula yang dia lakukan. Kukunya dipotong, sayapnya dirampingkan, dipotong.

Demikianlah jika engkau bersahabat dengan orang bodoh. Cinta serta kepeduliannya pun bisa mencelakakanmu.

Sementara itu, pada suatu hari Sang Raja melewati rumah wanita tadi. Melihat burungnya yang sudah tidak bercakar, dan nyaris tidak bersayap, Sang Raja tidak bisa menahan jeritannya, “Apa yang terjadi padamu? Hidup bebas di dalam istana bagaikan hidup dalam taman Firdaus. Lalu, kenapa kamu harus meninggalkan istana dan datang ke tempat di mana mereka tidak menghargaimu. Mereka tidak tahu bahwa engkau seekor elang. Dan bagi seekor elang, cakar serta sayapnya sangat berharga.”

Si elang berupaya untuk mendekati Raja dan kendati tidak bisa berbicara, dia menyampaikan permohonan maafnya, “Aku telah melakukan kesalahan.”

Sang Raja memahami maksud burung tersebut, dan dia memaafkannya.

Karena dekat dengan Tuhan, sering kali manusia menjadi sombong. Karena dekat dengan Sang Raja, dia lupa daratan. Dan dia meremehkan kedekatan itu. Lalu, karena kesombongannya sendiri dia menjadi jauh dari Tuhan, dari Sang Raja.

 

Seperti si burung elang dalam kisah ini, kita pun tidak pernah dikeluarkan dari Taman Firdaus. Kita keluar sendiri. Keluar dari istana, kita jatuh di tangan wanita tua yang tidak tahu elang itu apa.

Lalu, kuku (elang) kita dipotong. Sayap kita digunting. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sebelumnya kaki kita pun sudah diikat oleh dia.

Yang kita anggap kebebasan, ternyata bukan kebebasan. Apa yang kita anggap kemerdekaan ternyata perbudakan. Dengan kuku dan sayap terpotong, sekarang kita sudah tidak bisa melakukan apa pun. Walaupun berbadan dan berjiwa elang, kita sudah tidak bisa terbang lagi.

Harus ada seorang raja yang mendatangi elang (kita), mengenali kita, dan membebaskan kita dari perangkap wanita tua.

Wanita tua adalah dunia. Keterikatan anda terhadap dunia dan kepedulian dunia terhadap anda menghasilkan apa? Rasa takut, waswas. Kemampuan (elang) untuk terbang pun menghilang. Tetapi anda masih saja betah di dalam “rumah-dunia” ini.

Berdoalah agar ada seorang mursyid, seorang raja yang mendatangi elang (anda) dan membebaskan dari perangkap dunia.

Demikian, jiwa si elang yang tadinya kafir itu memeluk Islam. Selama anda masih mencari sesuatu di luar Allah, anda berjiwa kafir, seperti elang yang meninggalkan istana, meninggalkan raja, untuk mencari “kebebasan” di luarnya.

Elang tidak sadar bahwa hidup dalam istana bersama Raja itulah kebebasan! Hidup di dalam “Sangkar Allah” berarti hidup dalam ketakterbatasan-itulah Kebebasan. Hidup di dalam “dunia yang tampaknya bebas” berarti hidup dalam keterbatasan-itulah perbudakan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: