Kisah Pedagang yang Terburu-buru #Masnawi

buku-masnawi-3-telur-dan-burung-hanya-beda-plus-teks

Seorang sahabat mengeluh, “Rasul Allah, usaha apa pun yang kurintis, selalu gagal. Ada saja yang menipu aku.”

Sang Nabi menanggapinya, “Kalau takut ditipu sebelum merintis usaha apa pun, terlebih dahulu lakukan perenungan selama tiga hari. Berhati-hatilah, jangan tergesa-gesa, jangan terburu-buru…”

 

Berhati-hati tidak berarti berwas-was, berhati-hati berarti “waspada”, melangkah dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Ini adalah sifat ilahi – sifat yang terpuji. Menurut Rumi, terburu-buru atau tergesa-gesa adalah sifat syaitani. Pemicunya kesadaran rendah, hawa nafsu, dan keinginan yang berlebihan.

Rumi memberi contoh:

Berikan sepotong roti kepada anjing. Dia akan menciumnya dulu, baru dimakan. Sebelum melangkah, hendaknya kita pun meneliti dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran. Apakah langkah yang diambil itu cukup bijak…

Tuhan menciptakan alam ini dalam enam hari. Padahal jika Dia menghendaki, dapat tercipta dalam sekejap.

Manusia mencapai kesempurnaannya dalam usia 40 tahun. padahal jika Dia menghendaki, begitu lahir sudah bisa mencapai kesempurnaan.

 

Cover Buku Masnawi Buku Ketiga

Dibutuhkan kearifan untuk memahami kalimat yang terakhir ini. Apabila setiap orang mencapai kesempurnaannya dalam usia 40 tahun, lalu bagaimana dengan Isa dan nabi-nabi lain yang sudah memulai misi mereka jauh sebelum usia itu.

Kata “manusia” di sini bersifat metaforis. Yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad. Beliau mengelami penerimaan wahyu pertama (Iqra’) dalam usia 40-an tahun.

Kalimat ini sekaligus mendekatkan kita dengan Nabi Muhammad. Beliau menjadi sangat dekat dengan Anda dan saya. Untuk mencapai kesadaran tersebut, beliau pun “membutuhkan” waktu. Waktu untuk “melatih diri”, waktu untuk menyadari “jati diri”. ini yang terjadi di sebuah gua di bukit Hira. Lalu, terjadilah pertemuan dengan Sang Kesadaran Murni, Allah, YHV, Bapa di Surga, Tao, Widhi – apa pun yang nama yang Anda berikan kepada Yang Satu itu. Yang tidak bisa diduakan, Yang Tiada Duanya!

Berarti apa? Berarti Anda dan saya, kita semua membutuhkan waktu. Tidak ada pencerahan instan. Ya, saat “kejadiannya”, pencerahan memang terjadi dalam “satu instan”. Menggunakan istilah “sekejap” pun tidak tepat. Karena kejadiannya lebih cepat dari itu. Tetapi, proses untuk mencapai “apa yang terjadi itu” membutuhkan kerja keras sejak awal.

Rumi menasihati kita:

Jangan berhenti mencari (Tuhan/Kesadaran Murni/Pencerahan). Jangan pula terburu-buru, tergesa-gesa.

Sungai kecil yang mengalir terus, tidak akan menjadi kotor. (Dan pada suatu ketika pasti menyatu dengan laut).

Sebutir telur tidak sama dengan burung yang sedang terbang tinggi di langit. Tetapi tunggu sebentar, beri dia waktu. Telur itu akan menetas dan melahirkan burung yang bisa terbang tinggi di langit.

Kendati demikian, Rumi juga menyadari betul bahwa ada saja telur yang busuk. Yang tidak akan menetas. Lalu perbedaan antara telur burung dan telur ular. Perbedaan antara biji buah asem  dan buah apel. Tampak sama, tetapi jelas berbeda. Dedaunan pun bisa mirip, tetapi buahnya berbeda…

 

Badan manusia pun demikian. Yang satu mirip dengan yang lain. Tetapi jiwa di dalamnya berbeda.

Setiap orang berdagang di pasar. Ada yang memperoleh keuntungan dan bersuka-cita. Ada yang menderita kerugian dan berduka-cita.

Pada saat kematian pun demikian. Sebagian di antara kita beruntung dan menang. Sebagian lagi tidak beruntung dan kalah.

Tinggal tunggu tanggal mainnya. Siapa yang menang, siapa yang kalah? Siapa yang ditaklukkan oleh maut, siapa yang menaklukkan maut? Menaklukkan maut tidak berarti Anda ‘tidak akan mati’. Tidak demikian. Menaklukkan maut berarti Anda akan menghadapi dengan senyuman. Dan ditaklukkan oleh maut berarti Anda ‘takut’ menghadapinya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: