Ketidakpuasan Vyasa dan Awal Kisah #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-vyasa-narada

“Wahai Vyasa kaulah sinar Tuhan, melalui kedisiplinan dan yogamu kau telah menyelami pengetahuan tentang diri dan tentang kitab suci. Kau telah menguraikan kewajiban-kewajiban manusia. Konsep tentang kewajiban dan pelaksanaan ritual suci akan tetap disalahmengertikan oleh jiwa-jiwa yang tidak waspada, karena akan menjadi tindakan yang egois semata. Hanya segelintir orang bijak yang memahami bahwa kebebasan itu lebih penting daripada perintah-perintah dari kitab dan dengan menjadi sepenuhnya bhakti kepada Tuhan.

“Wahai pemimpin para rsi.  Hanyalah wacana-wacana, kitab-kitab, kebijaksanaan, tindakan yang menjadikan Tuhan sebagai subjek dan objeknya  yang dapat dikatakan berharga…………

“Wahai Vyasa, nyanyikanlah kemuliaan Tuhan dan hatimu akan menemukan kedamaian tertinggi dan kebahagian abadi. Hatimu gelisah karena sejauh ini kamu belum melakukannya.” Dikutip dari terjemahan Buku Srimad bhagavatam………

Berikut kisah yang melatarbelakangi Srimad Bhagavatam……

buku-narada-bhakti-sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Narada adalah seorang Rishi, seseorang yang telah “melihat” Kebenaran. Seseorang yang telah “bertatap muka” dengan apa yang kita sebut “Tuhan”. Dia adalah scorang pujangga, seorang scholar, sekaligus seorang pencinta. Dan kombinasi ini sungguh unik.

Dalam sejarah peradaban manusia, hanya ada beberapa Narada yang kita temui. Jalaluddin Rumi bisa disebut sebagai seorang Narada. Rabindranath Tagore bisa disebut seorang Narada. Khalil Gibran? Mungkin, “Mungkin” saya katakan, karena dia seorang pujangga, seorang scholar, sekaligus seorang pencinta, tetapi belum mencapai kesadaran seorang Rishi. Dia sudah mendengar tentang Kebenaran, tetapi belum bertatap muka dengan-Nya. Belum terjamah oleh-Nya.

Dalam salah satu teks kuno, Srimad Bhagavatam, Narada bercerita tentang dirinya kepada Vyasa. Dan dia mengawalinya dengan sebuah teguran halus: “Vyasa, engkau telah berhasil mengumpulkan dan membukukan kebijakan masa lalu. Keempat Veda — Rig, Yajur, Sama, dan Atharva — adalah bukti nyata akan keberhasilanmu. Engkau telah menulis hikayat Dinasti Bharata. Tulisanmu, Mahabharata, akan dikenang scpanjang masa. Masih banyak tulisanmu yang lain…….. Tetapi Vyasa, katakan, puaskah kamu?”

Vyasa sangat jujur, “Tidak, Brahma-Rishi. Tidak.  Aku belum puas. Engkau telah bertatap muka dengan Brahman, dengan Dia Yang Tak Berwujud dan Melampaui Segala Sifat. Engkau telah mcngalami apa yang melampaui segala pengalaman. Katakan, Narada, apa sebab dari kctidakpuasanku?”

Narada menjawab, “Ketidakpuasanmu disebabkan oleh sesuatu yang belum tertulis. Yang belum kau tulis. Sesuatu yang masih tersisa. Itu sebabnya, kau ingin menulis dan menulis terus. Bila yang satu itu sudah tertulis, keinginanmu untuk menulis akan sirna, dan kamu akan mengalami apa yang ada di balik tulisan. Kamu akan mengalami apa yang tidak bisa ditulis. Kamu akan melampaui kata-kata dan tulisan.

“Coba, renungkan, Vyasa. Renungkan, kira-kira apa yang belum tertulis? Apa yang belum kau tulis?”

Vyasa bingung, “Aku sendiri tidak tahu, Brahma-Rishi. Bantulah aku……..”

Mau menulis tentang apa lagi? Vyasa sudah menulis tentang segala sesuatu, tentang segala cabang ilmu. Baik yang berkaitan dengan kerohanian, maupun yang berkaitan dengan keduniawian. Dalam Veda, anda bisa menemukan cara pembuatan rocket dan missile. Cara bedah dan memainkan musik. Apa saja ada.

Tentang Mahabharata, bahkan seorang penulis dari Barat pernah mengatakan: “Apa yang tidak ada di dalam Mahabharata, tidak ada di mana-mana. Apa yang tidak bisa ditemukan dalam Mahabharata, tidak bisa ditemukan dari mana pun juga.”

Ukuran buku-buku yang ditulis oleh Vyasa — Masya Allah! Luar biasa….. Terjemahan Mahabharata dalam bahasa Inggris menjadi belasan jilid. Veda sendiri puluhan jilid. Belum lagi buku-buku lain.

Narada memancing Vyasa, “Coba pikirkan, Vyasa, apa yang masih kurang? Apa yang belum tertulis, sehingga kamu belum puas dan masih ingin menulis terus.”

Vyasa menyerah, “Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku tidak tahu apa yang kurang. Apa yang belum tertulis, apa sebab ketidakpuasanku pun tidak kuketahui.”

Narada bisa “merasakan” kesiapan diri Vyasa. Bila seseorang sudah “habis pikir”, sudah “menyerah”, maka dia siap untuk sesuatu yang lebih dalam. Lebih dalam dari otak, pikiran, dan intelektualitas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Maka, mulailah Narada berbagi rasa: “Dengarkan Vyasa. Pada kalpa yang lalu ……….”

Demikian awal kisah Srimad Bhagavatam ditulis……….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: