Kisah Onta Majnun: Keterikatan Jasmani Menghambat Perjalanan #Masnawi

buku-masnawi-4-onta-majnun

“Kesadaran rohani dan kesadaran jasmani bagaikan Majnun dan onta betina yang ditungganginya.

“Majnun ingin cepat-cepat bertemu dengan Layla yang dicintainya. Sementara itu, onta betina tidak tega meninggalkan anaknya. Setiap kali Majnun terlena, onta betina pun akan melangkah mundur. Maju-mundur, maju-mundur terus, sehingga Majnun tidak pernahsampai di tujuannya. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam tiga hari, memakan waktu bertahun-tahun.

 

“Kita sudah beribadah, sudah beramal saleh, sudah melakukan perjalanan suci – rasanya koq belum sampai-sampai juga?

“Tuhan masih terasa jauh sekali. Kenapa demikian? Karena kita masih menunggangi ‘onta betina kesadaran jasmani’. Kita masih enggan melepaskan keterikatan pada dunia benda.

“Sekali lagi perlu saya ingatkan bahwa bukan dunia benda yang harus kita lepaskan, tetapi ‘keterikatan’ padanya. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Setelah mati pun tidak. Karena ‘alam semesta’ pun masih merupakan ‘benda’. Masih merupakan ‘materi’. Bumi dan langit dengan segala isinya, masih bersubstansi. Masih berwujud. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Yang bisa kita lepaskan hanyalah ‘keterikatan’ pada dunia benda.

“Seorang pecinta Allah, seorang pencari Kebenaran, harus menyadari hal ini. Sebagaimana Majnun menyadarinya……

buku-masnawi-4

Cover Buku Masnawi Buku Keempat

 

“Sudah saatnya kita berpisah. Cintamu dan cintaku tidak sejalan, tidak selaras.” – kata Majnun kepada onta betina itu.

Memang demikian adanya. Kesadaran rohani dan kesadaran jasmani memang tidak selaras.

“Karena menunggangi kamu, selama ini aku berjalan di tempat. Kadang maju, kadang mundur. Perjalanan beberapa hari telah memakan waktu enam puluh tahun. Tidak, aku tidak akan menunggangi kamu lagi.”

Majnun lalu menjatuhkan dirinya. Tulang kakinya patah, tetapi semangatnyamasih tetap utuh. Dia tidak putus asa.

Dia mengikat kedua kakinya dan menggelindingkan badannya. Persis seperti bola. Majnun bergelinding terus  dan akhirnya bertemu juga dengan Layla.

 

Selanjutnya Rumi menegur kita, menegur saya dan Anda, ‘Bagaimana dengan cintamu terhadap Allah?’

Siapkah kita menjadi ‘bola kesederhanaan  dan keluguan’? kepala kita tidak tegak karena ego, tetapi menunduk karena kesadaaran. Siapkah kita menjatuhkan diri dari punggung onta? Dari ‘panggung dunia? Kemudian, dengan hati yang tulus – siapkah kita bergelinding di atas jalan cinta? Bila belum siap, ya tidak perlu mengeluh – ‘Koq belum sampai juga? – karena memang belum menempuh perjalanan. Masih berjalan di tempat.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: