Hanya Kasih yang Memuaskan Manusia, Kisah Narada pada Vyasa Penulis #SrimadBhagavatam

buku-narada-bhakti-sutra-narada-dan-para-brahmana

“Setelah karma yang memberiku tubuh ini berakhir, kematian pun datang. Segera aku menjadi pembantu-Nya, kemudian terjadilah maha pralaya, banjir besar yang menenggelamkan dunia. Seluruh ciptaan, bersama dengan sang pencipta (Brahma) tenggelam ke dalam-Nya. Aku juga memasuki badan-Nya. Setelah waktu yang sangat lama, Tuhan sekali lagi menghendaki penciptaan, dan Brahma menciptakan aku bersama para rishi lainnya. Sejak saat itu aku dengan bebas menjelajahi seluruh semesta, memainkan vina ini dan menyanyikan nama dan kemuliaan-Nya dan Dia menampakan diri-Nya dalam hatiku.

Menyanyikan kisah-kisah dan kemuliaan-kemuliaan Ilahi dalam adalah rakit yang paling pasti untuk menyeberangi samudra kehidupan bagi mereka yang pikirannya terganggu oleh pengejaran hawa nafsu. Maka kuperintahkan padamu untuk mengisahkan inkarnasi Tuhan. Dikutip dari Srimad Bhagavatam

Berikut kisah Narada yang disampaikan pada Vyasa agar membuat karya yang dapat memuaskan dirinya…………

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Narada mengajak Vyasa untuk menoleh jauh ke belakang:….. “di Kalpa yang lalu, saya pernah lahir sebagai anak pembantu.”

Narada bahkan tidak menjelaskan nama ayahnya. Pada masa itu, nama ayah tidak penting. Nama ibu lebih penting. Seorang anak dikenal dengan nama ibunya. Entah siapa ayah Narada pada masa kelahiran itu. Bila menggunakan “standar” yang berlaku di “zaman” kita sekarang ini, Narada bisa disebut “anak hararn”. Terserah Anda. Narada tidak akan ambil pusing tanggapan itu. Bagi seorang Narada, yang “memanusiakan” manusia bukanlah asal-usul kelahirannya, melainkan perbuatan atau tindakan nyata dalam hidup sehari-hari.

Narada jujur, “… saya pernah lahir sebagai anak scorang pembantu. Ibu saya berpindah kerja terus. Sampai pada suatu ketika, dia memperoleh pekerjaan di suatu pertapaan. Bersama ibu, aku pun tinggal di pertapaan itu.”

Saat itu, Narada baru berusia lima tahun, masih kecil sekali, dan oleh karenanya, gampang menyesuaikan diri dengan pola hidup di pertapaan. Dia menjadi bagian dari pertapaan itu.

Setiap siang dan sore, para pertapa berkumpul untuk doa bersama. Doa mereka bukan untuk meminta sesuatu, tetapi untuk mensyukuri pemberian Tuhan. Narada selalu ikut berdoa. Para pertapa pun menyayangi dia. Pengalaman-pengalaman kecil di masa kecil membentuk kepribadian kita.

Pondasi hidupnya dibuat oleh para pertapa. Pondasi kepribadiannya dibuat di pertapaan. Dari kecil, dia diajari untuk  tidak menuntut apa-apa, tetapi justru untuk mensyukuri segala apa yang sudah diberikan kepadanya.

Dari usia sekecil itu, Narada sudah berkenalan dengan Cinta. Bukan cinta monyet, bukan cinta sinetron, melainkan Cinta Sejati. Cinta Tak Bersyarat. Tidak menuntut, dan Tak Terbatas. Oleh karenanya luas. Seluas laut. Tinggi — setinggi langit. Besar — sebesar semesta. Dalam — sedalam jiwa manusia!

Narada melanjutkan kisahnya, “… pada suatu malam, ibu dipatok ular. Dia meninggal seketika. Saya baru sadar bahwa orang bisa mati. Yang hidup bisa meninggal. Dan saya mulai bertanya, ke mana ibuku pergi? Kematian itu apa? Para pertapa berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Tetapi saya tidak puas. Barangkali saya tidak rnemahami bahasa mereka. Kemudian pada suatu hari, saya meninggalkan pertapaan itu. Meninggalkan untuk apa, mau ke mana, saya pun tidak tahu……..”

Dan pada usia sekecil itu, Narada sudah menjadi ”warga dunia”. Dia keliling dunia. Bukan hanya dunia kita, kata Narada: “Aku mengililingi sekian banyak dunia. Aku mempelajari sekian banyak bidang ilmu. Aku mcnjadi seorang ilmuwan. Seorang pandit, seorang cendekiawan. Tetapi, masih saja tidak puas. Masih ada yang mengganjal. Masih ada yang kurang. Keadaanku saat itu, Vyasa, persis seperti keadaanmu saat ini.”

Jangan lupa, Narada sedang bercerita dcngan Vyasa. Dia sedang berbagi pengalaman. Dan pengalamannya di masa lalu mirip dengan pengalaman Vyasa di masa kini. Masalah yang dihadapi Vyasa hampir sama dengan masalah yang pernah dihadapi oleh Narada. Oleh karena itu, sesaat lagi Narada akan memberikan solusi. Dia bisa memberi jalan keluar, karena dia sendiri berhasil keluar dari masalah ini.

Narada sudah bebas. Itu sebabnya dia bisa membebaskan Vyasa. Narada sudah tenang, tenteram, damai. Itulah sebabnya dia bisa berbagi ketenangan, ketenteraman dan kedamaian.

“Pada suatu hari, saya bertemu dengan Sanatkumara….”

Sanatkumara adalah pujangga dari Kalpa yang sudah berlalu. Dia sudah tidak memiliki wujud lagi. Dia sudah bersatu dengan gumpalan energi yang menjadi bahan baku bagi Kalpa kita saat ini. Kesadaran Sanatkumara ada di dalam diri setiap orang, setiap makhluk hidup. Bahkan di langit dan di bumi. Dalam tumbuh-tumbuhan dan pegunungan………….

………….

Sanatkumara sudah menjadi bahan baku yang “membuat” anda hidup. Wujud anda saat ini adalah wujudnya. Berhubungan dengan Sanatkumara dalam Kalpa ini, berarti berhubungan dengan diri sendiri. Menemukan jati diri.

Lain sekarang, lain dulu. Saat itu, Sanatkumara masih berwujud. Dia menegur Narada, ”Apa yang sedang kau cari? Pengetahuan apa lagi yang masih kau kejar? Ilmu apa lagi yang ingin kau kuasai. Ketahuilah bahwa pengetahuan dan ilmu akan berkembang terus. Baru menguasai satu, muncul yang lain. Kamu tidak akan pernah puas. Kamu akan selalu haus, lapar. Yang bisa memuaskan kamu hanya satu……..”

“Apa pula yang satu itu?” tanya Narada.

“Yang hanya Satu Ada-Nya… Kasih. Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas…. Hanya itu yang bisa memuaskan manusia,” jawab Sanatkumara.

Narada mengenang kembali masa kecilnya di pertapaan. Cinta yang Tak Terbatas dan Tak Bersyarat bukanlah sesuatu yang baru. Dia sudah pernah berkenalan dengan cinta. Lalu apa lagi yang sedang dicarinya? Dia baru sadar bahwa pencariannya selama itu justru membuat dirinya makin jauh dari pusat cinta. Padahal pusat cinta berada di dalam diri sendiri.

“Ahhhhhhh  aku tercerahkan! Cinta — kekuranganku ternyata hanya satu itu. Padahal disebut kekurangan pun sebenarnya bukan kekurangan. Aku hanya tidak menyadarinya. Itu saja. Aku mengucapkan terima kasih kepada Sanatkumara. Dan, untuk menemukan Pusat Kasih yang berada di dalam diri, aku mulai menggali diri sendiri.”

……………

Kesimpulan Narada sungguh sederhana. Love means fulfillment. Terisi oleh cinta, jiwa tak akan menuntut sesuatu lagi. Bila sudah menemukan cinta, anda tidak akan mencari sesuatu lagi. Pencarian kita membuktikan bahwa kita belum menemukan cinta. Belum terjamah oleh Kasih.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pada buku Srimad Bhagavatam Rishi Narada memberi nasehat: “Wahai Vyasa, nyanyikanlah kemuliaan Ilahi dan hatimu akan menemukan kedamaian tertinggi dan kebahagian abadi. Hatimu gelisah karena sejauh ini kamu belum melakukannya………… (Srimad Bhagavatam adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Keilahian. Baik kisah tentang keilahian Tuhan maupun para panembahnya.)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: