Archive for December, 2016

4 Pelajaran Lanjutan Tilopa kepada Naropa dalam Kisah #TantraYoga

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 30, 2016 by triwidodo

buku-tantra-yoga-festival-di-hemis-gompa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dia melihat orang dengan kedua kaki dan tangannya terikat. Tergeletak di atas rumput. Sementara clua orang lagi sedang menyiksa dia. Sudah pasti, mereka juga yang mengikatnya. Naropa mendekati mereka, “Apa-apaan kalian?”

Bukan urusanmu.” – jawab salah satu di antara mereka.

Astaga, ternyata orang yang tergeletak itu dibuka perutnya. Darah di mana-mana. Ususnya sudah di luar perut dan sedang dicuci oleh kcdua orang yang mengikatnya.

“Aach…. Kalian bukan manusia…….”

Naropa menyumpahi mereka, dan melanjutkan perjalanannya.

Eh, ternyata dia tertipu lagi: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa bingung. Bingung apa maksud Tilopa. Pelajaran apa yang hendak dia berikan. Baru muncul pertanyaan, jawaban pun terdengar jelas: “Seorang siswa harus dicuci bersih dulu. Baru diberi pelajaran baru. Cukup bernyalikah engkau, Naropa?” .

ltulah pelajaran kelima. Pelajaran yang penting sekali. Di ashram kami tidak membuka perut Anda. Tetapi isi perut dikeluarkan juga. Lewat latihan-latihan cleansing, pembersihan — pikiran, emosi, memori, trauma semuanya dimuntahkan ke luar. Setelah itu, Anda baru memasuki pelajaran lanjutan. Tanpa menjalani proses pembersihan, pelajaran yang Anda peroleh tak ada gunanya. Cawan masih kotor. Untuk apa dituangi susu? Semurni apa pun, susu itu akan rusak.

 

Cover Buku Tantra Yoga

buku-tantra-yoga

Pengalaman-pengalaman tadi menguras energi Naropa. Dia sudah capek sekali. Karena itu, ketika dia bertemu dengan seorang raja dan diundang ke istana, dia menerima undangannya.

Setelah istirahat penuh selama beberapa hari, Naropa siap untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika mau pamit, dia ditahan oleh Sang Raja, “Brahmana, engkau berpendidikan tinggi. Dan rupanya belum berkeluarga. Nikahilah anakku.”

Naropa menolak, ”Saya ini seorang pengembara. Keluarga dan pekerjaan di Nalanda kutinggalkan untuk mengembara. Untuk mencari Guru Tilopa. Tidak, Baginda Raja, saya tidak bisa menerima tawaran Baginda.”

Sang Raja marah, ”Dasar Brahmana tidak tahu diri.” Dan memberi perintah agar Naropa dicambuki seratus kali.

Naropa pun tidak dapat menahan diri, ”Mau mencambuki aku? Cambuk itu dapat kuubah menjadi ular. Ayo, siapa yang berani?”

Tiba-tiba…….

Istana dan Raja dan para pengawal – semuanya lenyap…..

Ah, ah, ah — Naropa sudah tahu dia akan ditegur lagi. Betul, ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keenam – Pengendalian diri.

“Salahku juga,” — pikir Naropa, “Kalau mau cari kenyamanan istana, ya harus siap dicambuki juga.”

buku-tantra-yoga-foto-di-vihara-hemis-leh

Foto 2008 di Vihara Hemis Leh Himalaya tempat festival tahunan Naropa

Berikutnya, Naropa bertemu dengan seorang pemburu. Naropa menegur dia, “Untuk apa membunuh makhluk tak bersalah?”

“Aku ingin membersihkan hutanku dari hewan-hewan buas.” — jawab pemburu.

Naropa menggelengkan kepala, “Sombong banget kamu; hutanmu? Memang hutan ini milik kamu?”

Si pemburu tidak menjawab pertanyaan Naropa. Malah memberi nasihat: “Hutan harus dibersihkan dari hewan-hewan buas.”

Naropa tidak memahami maksudnya. Baru mau jalan, pemburu pun lenyap dan terdengar lagi suara Tilopa: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa baru sadar bahwa yang dimaksud adalah “hutan diri”, yang harus dibersihkan dari sifat-sifat hewani. Dari kebuasan dan keliaran. Itulah pelajaran ketujuh.

Di zaman sekarang ini, Guru seperti Tilopa sudah pasti tidak laku. Mana ada Naropa yang mau berguru sama dia? Tilopa sungguh beruntung. Lahir seribu tahun yang lalu. Masih bisa mendapatkan seorang Naropa!

Naropa seorang murid berkualitas prima. Mungkin Keberadaan sudah tidak lagi memproduksi kualitas-Naropa.

Dia tidak putus asa. Dia melanjutkan perjalanan serta pencariannya. Pada suatu sore dia melewati gubuk sepasang suami istri yang sudah tua, “Brahmana, masukilah gubuk kami. Sudah bertahun-tahun, tidak ada yang bertamu ke sini.”

Naropa menerima undangan mereka. Gubuk mereka kccil sekali. Satu kamar menjadi ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan sekaligus dapur.

Ketika Naropa melihat Wanita tua memasak, dia merasa jijik. Ikan dan kodok dan entah daging apa lagi yang sedang dia masak. Sebagai seorang Brahmana, dari kasta tinggi, Naropa tidak pernah makan daging. Bahkan menyentuh pun belum. Baru mau bicara……. Tuan Rumah mendahuluinya, ”Kami tahu, anda tidak akan makan. Biasanya para Brahmana tidak menyentuh makanan setelah matahari terbenam. Dan saat ini rnatahari sudah terbenam.”

“SialanI” — pikir Naropa. Lalu untuk apa mengundang? Padahal dia sudah lapar.

Sementara si tua membisiki isterinya, ”Orang ini pengikut ajaran rendahan. Tidak seperti kita. Dia tidak akan makan daging.”

Bisikan itu terdengar oleh Naropa.

“Ajaran rendahan? Aku menganut ajaran rendahan? Aku, Naropa……..? Dia pikir dirinya siapa, sudah hebat? Sudah tercerahkan?”

Darah Naropa sudah mulai mendidih. Baru mau meledak, gubuk itu lenyap. Lenyap pula suami, isteri dan makanan mereka.

Lagi-lagi, terdengar teguran Tilopa: ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku.

You missed me!

Pelajaran kedelapan: Jangan membedakan derajat. Ini rendah, itu tinggi. Semuanya ilusif. Saat ini ada, saat berikutnya tidak ada.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Hiranyaksha dan Hiranyakashipu Kelahiran Sifat Raksasa Akibat Nafsu #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on December 28, 2016 by triwidodo

buku-bhagavatam-jaya-dan-vijaya

Genetika ayah kita dan leluhurnya serta genetik ibu kita dan leluhurnya diaduk dan kemudian dicomot untuk menjadi genetika kita. Sehingga genetika diri kita adalah hasil kombinasi leluhur ayah dan leluhur ibu. Akan tetapi energi, semangat, daya juang itu kita peroleh dari ibu kita yang selama 9 bulan mengandung kita. Ibu kita juga sudah mengajari kita sejak kita masih dalam kandungan. Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna yang masih kita ingat dan kita bagikan kepada anak-anak , kerabat dan sahabat kita.

                Bapak Anand Krishna juga memberi nasehat, agar kita berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri. Banyak jiwa yang ingin lahir lewat istri kita untuk menyelesaikan hutang-piutang karma dengan kita. Kalau jiwa yang masuk ingin membalas kebaikan kemungkinan dia mempunyai potensi menjadi anak yang saleh. Apabila kita berhubungan di sebarang waktu, di sebarang tempat, tanpa doa, hanya nafsu yang membara, ada kemungkinan anak yang akan dilahirkan istri kita adalah musuh kita di masa lalu dan ingin membalas hutang piutang tidak baik dengan kita. Musuh yang akan membalas hutang-piutang karma buruk tetap lahir, akan tetapi tidak perlu menjadi putra kita. Kita banyak melihat putra yang membuat masalah bagi kedua orangtuanya.

Orangtua Hiranyaksha dan Hiranyakashyapu mempunyai bibit, bobot dan bebet pilihan, genetika yang luar biasa, akan tetapi mereka terhanyut dalam nafsu saat berhubungan suami istri……….

buku-bhagavatam-silsilah-anak-keturunan-brahma

Gambar Silsilah Awal Para Putra Brahma

 

Silakan melihat silsilah awal para putra Brahma. Brahmarishi Marici (putra Brahma) mempunyai putra Kasyapa. Sedangkan Daksha Prajapati mempunyai banyak putri. 13 putri dinikahkan dengan Kasyapa termasuk Diti. Demikianlah di awal mula pengembangbiakan para dewa dan manusia, mereka dinikahkan dengan kerabat mereka sendiri. Dikisahkan para saudari Diti sudah mempunyai anak, akan tetapi Diti belum juga.

 

Kelengahan Diti dan Kasyapa

Pada suatu senja Diti mendatangi Kasyapa dan merayunya untuk bercumbu. Kasyapa mengatakan bahwa waktunya tidak tepat, karena saat itu adalah waktu untuk memuja Rudra. Namun, Diti yang tidak bisa mengendalikan nafsunya terus merayu Kasyapa. Kasyapa mengikuti kemauan Diti dan setelah itu baru mandi dan melanjutkan puja kepada Rudra.

Genetika leluhur Kasyapa dan Diti adalah para dewa, sehingga genetika calon anak mereka pasti luar biasa. Akan tetapi pada waktu melakukan hubungan suami-istri, mereka hanya mengikuti nafsu, bahkan melanggar waktu suci untuk puja. Karakter pada waktu berhubungan suami-istri itu seperti karakter para asura, para raksasa. Oleh karena itu Diti mulai takut kalau anak mereka akan bersifat seperti asura.

Takut akan melahirkan anak raksasa, Diti menahan kandungannya selama seratus tahun. Para dewa khawatir akan bencana yang akan menimpa dunia, dengan kelahiran putra Diti, sehingga mereka pergi ke Brahma untuk menanyakan hal ini.

 

Kisah Dua Penjaga Istana Vaikuntha

Brahma menjelaskan: Pada suatu ketika, anak-anaknya (Sanaka, Sanatama, Sanananda dan Sanatkumara) pergi ke Vaikunta untuk menemui Vishnu. Vaikunta adalah istana tempat tinggal Vishnu bersama permaisurinya, Lakshmi. Istana tersebut hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang mempunyai bhakti yang luar biasa tinggi kepada Narayana.

Para rishi putra Brahma memasuki Istana Vaikunta sampai ke gerbang ke tujuh. Di sana dijaga oleh Dwarapala, dua penjaga, Jaya dan Vijaya. Ketika para rishi berusaha masuk, mereka dihalangi oleh kedua penjaga gerbang karena Vishnu sedang berdua dengan Lakshmi. Hal ini menyebabkan kemarahan para rishi yang sudah mempunyai janji dengan Vishnu. Resi Sanaka memberi kutukan bahwa kedua penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Vishnu, dewa yang selama ini menjadi pelindungnya.

Pada saat pertengkaran itu, Vishnu muncul di depan mereka. Bertobat atas kebodohan dan keangkuhan mereka, Jaya dan Vijaya memohon Vishnu untuk membebaskan mereka dari kutukan sang tamu. Vishnu mengatakan bahwa dia tidak bisa membatalkan kutukan, tapi bisa mengurangi intensitasnya. Dia memberi mereka dua pilihan: mereka bisa memilih opsi pertama untuk lahir di dunia sebanyak 7 (tujuh) kali sebagai bhakta, devoti Vishnu; atau opsi kedua untuk lahir di dunia sebanyak 3 (tiga) kali sebagai musuh bebuyutan Vishnu. Vishnu mengatakan kepada mereka bahwa setelah menjalani salah satu dari dua opsi tersebut, mereka akan bisa kembali ke Vaikuntha dan menduduki posisi semula sebagai Dwarapala.

Jaya dan Vijaya bahkan tidak bisa membayangkan berada jauh dari Vishnu selama tujuh kali kehidupan di dunia. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menjadi musuh bebuyutan Vishnu selama tiga kali kelahiran. Dengan cara itu, mereka pikir mereka juga akan mampu mencapai moksa di tangan Vishnu yang mereka cintai.

Kedua penjaga istana Vishnu tersebut akan lahir sebagai para putra Diti, demikian penjelasan Brahma kepada para dewa. Para dewa puas akan penjelasan Brahma dan kembali ke tempat kediaman mereka.

 

Kelahiran Haranyaksha dan Hiranyakashipu

Untuk berreinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan masih harus mengalami jatuh-bangun berulang kali biasanya jatuh bersama air hujan. Inilah proses kelahiran yang paling sering, paling umum.

“Mereka yang mati karena kecelakaan, di medan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka menjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu………

“Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia……….” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Seratus tahun penuh setelah pembuahan, Diti melahirkan anak kembar. Pada saat kelahirannya tampak seperti kiamat semesta akan terjadi. Bumi berguncang, langit kelihatan terbakar, bumi dihujani oleh meteor dan petir. Angin ribut berhembus menakutkan dan pohon-pohon bertumbangan. Gelombang di laut ganas dan hewan-hewan laut diserang rasa takut. Terjadi gerhana matahari dan bulan berulang-ulang. Binatang-binatang diserang kepanikan. Beberapa planet bercahaya sangat terang dan planet-planet yang lain meredup.

Dan kedua anak kembar Diti lahir diberi nama Hiranyaksha dan Hiranyakashipu yang merupakan titisan dari dua Penjaga Istana Vaikuntha, Jaya dan Vijaya…….

4 Pelajaran Awal Tilopa kepada Naropa, Kisah dalam #TantraYoga

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 27, 2016 by triwidodo

buku-tantra-yoga-festival-naropa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dan mulailah pengembaraan Naropa….

Selama lebih dari satu tahun, dia keliling India. Dari selatan ke utara, kemudian ke arah timur. Modalnya hanya satu — intuisi, ilham, karena tak seorang pun bisa memberi petunjuk tentang Tilopa, tak seorang pun pernah dengar nama itu. Naropa tidak putus asa. Dia mencari terus.

Banyak pengalaman yang diperolehnya dalam perjalanan. Ada beberapa yang sangat menarik:

Pertama, dia bertemu dengan seorang wanita tua berpenyakit kusta. Melihat Naropa, dia menegurnya: “Sepertinya kamu seorang Brahmana. Mau ke mana?”

“Sedang mencari seseorang bernama Tilopa.”  jawab Naropa.

“Ah, Tilopa!” — dari cara wanita itu menyaut dan menyebut nama Tilopa, Naropa pikir dia mengenalinya.

“Kamu kenal dia?” — tanya Naropa.

“Tidak, tidak. Siapa yang mau berkenalan dengan saya? Sudah tua, berpenyakit kusta lagi. Sudah dua hari aku mencari seseorang yang bisa menggantikan perban di kakiku. Tidak ada yang bersedia. Takut ketularan penyakitku.”

Naropa cepat-cepat menyalami dia dan melanjutkan perjalanannya. “Tidak,” – pikir dia, “Aku pun tidak akan mengganti perbanmu. Kalau ketular ….”

Baru berjalan sebentar, dari belakang ada yang memanggil nama dia: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa menoleh ke belakang, ”Jangan, jangan…..” Eh betul, wanita tua itu sudah lenyap. Berarti dia Tilopa. Menyamar sebagai wanita tua berpenyakit kusta.

Naropa menyesali ketidakpeduliannya terhadap penderitaan orang lain. Sang Mursyid, Sang Guru, Tilopa sudah mulai memberi pelajaran kepada Naropa. Peduli terhadap penderitaan orang lain — itulah pelajaran pertama yang diperolehnya.

buku-tantra-yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Selanjutnya, selama berbulan-bulan — Naropa akan mendekati setiap orang sakit yang dijumpainya dalam perjalanan. Dia akan membantu mereka, mendengarkan kisah mereka. Berupaya untuk meringankan penderitaan mereka. Tetapi sernua itu dia lakukan dengan harapan, “Siapa tahu, Tilopa ada di antara mercka.” Ternyata tidak ada. Murid Iain akan putus asa. Naropa tidak putus asa. Dia melanjurkan pengembaraannya.

Pada suatu hari, Naropa digonggongi oleh seekor anjing. Anjing biasa, anjing jalanan. Kemana pun Naropa pergi, dia akan membuntutinya. Menggonggonginya. Tidak melakukan apa-apa lagi. Cuma menggonggongi dan membuntuti Naropa. Eh, Naropa kesal juga. Dilempari batu. Kena kaki anjing dan keluar darah. Tetapi langsung diam. Naropa baru menoleh ke depan, ada yang menegurnya: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me.”

Suara sama, suara Tilopa. Ternyata anjing itu pun ….. Ya, seorang Mursyid bisa melakukan apa saja, bisa “menjadi” apa saja — demi kebaikan muridnya.

Naropa pun sadar bahwa dia tidak boleh membedakan hewan dari manusia. Kasih dia terhadap semua makhluk hidup harus sama dan sebanding. Lagipula, anjing itu kan hanya menggonggongi dia, hanya membuntuti dia. Tidak melukai dia, tidak melakukan apa-apa. Kenapa harus dilempari batu? Itulah pelajaran kedua yang diperolehnya.

Tidak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang penjual kayu. Naropa bertanya, “Apakah kamu pernah mendengar nama Tilopa?” Saat itu Naropa berada di Bengal, dan somehow dia yakin bahwa akan bertemu dengan Tilopa di negara bagian terscbut. Si penjual kayu malah bertanya kembali, “Untuk apa mencari Tilopa?”

“Aku ingin berguru…. Ingin belajar di bawah bimbingannya?” – jawab Nampa.

“Pelajaran itu beban. Persis seperti kayu yang kupikul. Aku masih bisa menjual kayu ini. Bisa memperoleh uang. Engkau bisa dapat apa? Kalau sudah belajar, mau diapakan pelajaran itu?”

Naropa sempat kesal. Terus berpikir kembali,

“Untuk apa berdebat dengan orang bodoh?” Maka dia menyalaminya dan hendak pergi.

Baru mau jalan. … orang itu lenyap. Terdengar kembali suara yang ia kenal: “Naropa, Naropa aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

“Wah, goblok benar aku.” – pikir Naropa. Setiap kali nggak ngenalin Sang Guru. Pelajaran ketiga bagi dia — jangan menganggap remeh siapa pun juga.

buku-tantra-yoga-di-leh-ladakh

Foto rombongan tahun 2008 di Vihara Hemis Leh dengan latar belakang Gambar Naropa

 

Naropa melanjutkan perjalanan dan pencariannya. Pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang penjaga tempat perabuan mayat. Dia sedang meremukkan tulang-tulang yang tidak terbakar. Biasanya abu dan sisa tulang itu akan dihanyutkan ke dalam sungai. Yang aneh, Naropa melihat ratusan tengkorak: “Begitu banyak orang yang meninggal pada hari yang sama?”

“Ya, ya — banyak sekali. Mau bantu?” — tanya si penjaga.

“Ogah ah, pikir Naropa.” Dan baru mau melanjutkan perjalanan, si penjaga lenyap. Naropa mendengar suara Tilopa: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keempat: Pekerjaan adalah pekerjaan. Jangan menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain.

Seorang penjaga tempat perabuan sedang bekerja demi sesuap nasi. Dia sedang mencari nafkah. Seorang Naropa sedang mencari pencerahan. Setiap orang sedang mencari. Dan selama pencarian kita belum berhenti, kita semua sama. Yang sedang mencari harta, takhta, dan wanita, kita anggap orang biasa. Manusia biasa. Yang sedang mencari pencerahan, kesadaran, Tuhan, kita anggap manusia Iuar biasa. Orang hebat. Padahal sami mawon. Semuanya masih lapar. Masih belum kenyang.

Tidak lama kemudian…….. berlanjut…….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Munculnya Brahma Sang Pencipta dengan Alat Canggih Avidya #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on December 25, 2016 by triwidodo

buku-bhagavatam-brahmaa

Banyak sekali versi Genesis, Kejadian atau Penciptaan yang kita temukan dalam tradisi India Kuno. Versi-versi itu bisa saling bertentangan. Jalur ceritanya bisa berbeda sama sekali, walau intinya tidak pernah berubah….. yaitu “keinginan” sebagai dasar segala kejadian.

Versi yang diberikan dalam Shrimad Bhagavatam indah sekali: Konon yang muncul pertama adalah Sang Pencipta. Istilah “muncul” yang digunakan dalam kitab itu sungguh menarik. Berarti sebelum munculnya Sang Pencipta, Keberadaan sudah ada. Oleh karena itu dalam tradisi India Kuno, penciptaan bukanlah sesuatu yang iuar biasa. Penciptaan hanyalah satu dari sekian banyak aspek Keberadaan. Tuhan atau Brahman berada jauh di atas aspek-aspek itu.

Sang Pencipta atau Brahmaa yang baru muncul (bukan Brahman atau Tuhan) bingung! Ya, Sang Pencipta pun sempat bingung: “Apa yang harus saya lakukan?”

buku-bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

Munculnya Sang Pencipta atau Brahmaa “kali ini” setelah kiamat “terakhir”. Bagi Orang India, “kiamat” bukanlah kejadian sekali. Kiamat sudah pernah terjadi dan akan terulangi lagi dan bukan sekali dua kali saja, tetapi berulang kali. Bahkan dalam tradisi India dikenal tiga macam kiamat atau pralaya—saat dunia benda terurai kembali dalam lima unsur alami, yaitu, api, air, angin, tanah dan ruang, dan waktu tak terdeteksi lagi. Di antara tiga macam kiarnat itu ada yang disebut kiamat mini… saat kita tidur misalnya; itulah saatnya terjadi kiamat mini. Karena saat itu kita kehilangan sense of time, waktu tak terasa lagi.

Kiamat kcdua adalah kiamat yang dirasakan oleh Sang Pencipta. Ketika ciptaannya terurai secara menyeluruh, terjadilah kiamat dunia. Kiamat inilah yang biasa dibicarakan dalam kitab-kitab agama. $aat itu, Sang Pencipta pun kehilangan jejak waktu. Scperti orang yang baru bangun tidur, ia mengalami amnesia sesaat. Ia lupa, “Apa yah, apa yah…?” Tapi sebentar saja, tak lama kemudian: “Oh ya!”

Kiamat ketiga adalah kiamat total, ketika bukan saja galaksi kita, tetapi seluruh alam semesta terurai. Tak ada lagi yang memisahkan langit dari bumi, gelap dari terang. Entah kapan terjadinya itu, walau manusia India percaya bahwa fenomena itu pun sudah terjadi berulang kali.

Kembali pada kiamat kedua, kiamat yang dialami oleh Sang Pencipta…

“Oh ya…” Tak lama kemudian, ada yang menyadarkan dirinya. Terdengarlah suara “Ta…” Suara itu terasa familiar, Ia pun berusaha untuk mengingat kembali maknanya. “Pa…” Terdengarlah suara kedua dan Sang Pencipta pun menggabungkan kedua suara itu….. “Tapa…… Ya, ya, ya, Tapa….”

Ia memahami maknanya, “Aku harus berupaya duduk diam untuk menemukan jatidiriku. Untuk memahami maksud keberadaanku.”

“Siapa aku?

Aku berasal dari mana?

Apa maksud keberadaanku?

Apa pula yang sedang kutuju?

Itulah pertanyaan-pertanyaan awal yang muncul dalam benak Sang Pencipta. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pula yang harus muncul dalam benak scorang calon meditator. Inilah pertanyaan-pertanyaan esensial yang menjadi “sebab” meditasi.

Dalam keheningan dirinya, Sang Pencipta atau Brahmaa menemukan alat canggih untuk melakukan penciptaan, yaitu avidyaa atau Ketidaktahuan. Ketidaktahuan dijadikannya sebagai katalisator untuk penciptaan. Namun demikian makhluk-makhluk pertama yang tercipta tidak membutuhkan waktu lama untuk melampaui ketidaktahuan diri. Dan, proses penciptaan pun mengalami kemandegan.

Brahmaa merenung lagi: “Avidyaa harus menciptakan ilusi berat, sehingga makhluk-makhluk yang tercipta terdorong untuk maju ke depan, tidak mundur ke belakang dan menyatu kembali dengan Sumber Segala Ciptaan.”

Maka Avidyaa pun bercabang menjadi: Pertama—tamisra atau ”amarah”. Amarah memboroskan energi manusia dan melumpuhkan semangatnya. Ia mematahkan sayapnya, sehingga manusia betah di dunia dan hanya bisa berkhayal tentang surga. Kepercayaan-kepercayaan manusia lahir dari keadaan yang tercipta karena tamisra.

Kedua—andastamira atau “ilusi, kepercayaan keliru bahwa kematian adalah titik akhir”. Ilusi yang satu ini menyebabkan manusia berlomba untuk meraih sukses. Keinginan untuk menjadi pemenang, menjadi nomer satu dan meraih penghargaan berasal dari ilusi yang satu ini.

Ketiga—tamas atau ”tidak mengenali diri”. Ketidaktahuan tentang jatidiri itulah tamas. Karena tidak tahu sebenarnya aku siapa, pada lapisan kesadaran terendah “apa yang kumiliki kuanggap diriku”. Kadang aku mengidentifikasikan diri dengan nama keluarga yang kumiliki, kadang dengan kcdudukan sosial, kadang dengan jabatan, kadang dengan profesi….. kadang dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan perasaan….. Padahal semua itu bukanlah aku. Semua itu hanya kejadian-kejadian pada diriku, pengalaman-pengalaman yang kualami. Aku siapa? Selama aku belum mengenal diri, secuil alam yang disebut dunia pun kuanggap diriku.

Keempat—moha atau “keterikatan dengan dunia benda”, atau dengan apa saja. Untuk mempertahankan “apa yang kumiliki”, atau apa yang dapat kumiliki, kepentingan orang lain dapat kuabaikan. Asal aku jaya, pusing amat kau mau jadi apa!

Kelima—maha moha atau keterikatan yang lebih besar lagi, keterikatan maha—yaitu, “keterikatan pada kenikmatan”. We all crave for enjoyment, padahal kenikmatan yang kita dambakan itu belum tentu membahagiakan. Kenikmatan dirasakan oleh pancaindra. Dan, kemampuan panca indera untuk menikmati sesuatu sungguh sangat terbatas. Hingga usia 30-an tahun, banyak di antara kita menikmati makan cokelat. Sekarang, makan manis sedikit saja kadar gula naik tidak keruan. Kemudian bila keinginan untuk makan cokelat masih ada, muncullah derita. Keinginan ada, kemampuan tak ada lagi. Nafsu gede, tenaga kurang.

Dalam ketidaktahuannya atau avidyaa, manusia menciptakan konsep-konsep tentang Tuhan, tentang tatacara keagamaan, bahkan tentang kenikmatan surga dan penderitaan neraka. Jangan lupa, bahwa avidyaa itulah alat Sang Pencipta demi berputarnya roda dunia. Dan, keinginan untuk mencipta adalah bahan bakar yang digunakannya untuk menjalankan mesin dunia.

Sekarang apa mau kita?

Apa mau anda?

Mau tetap berada di “sini”, manfaatkanlah avidyaa beserta kaki-tangannya, tamisra, andastamira, tamas, moha, dan maha-moha. Anda tidak perlu tahu apa dan siapa sesungguhnya Anda. Anda tidak perlu tahu banyak tentang roh dan hal-hal yang bersifat rohani. Cukup sudah bila Anda menjalankan ritual keagamaan, meraih sedikit pengetahuan dengan menggunakan otak Anda, mengharapkan kenikmatan di dunia ini dan di alam sana—cukup, cukup sudah!

Tapi, bila kita mau keluar dari lingkaran ini, kita harus melampaui avidyaa. Kita harus melampaui ciptaan, dan bahkan Sang Pencipta. Untuk itu gunakan pintu terdekat, pintu maha-moha, gerbang kenikmatan. Janganlah kita berhenti di gerbang kenikmatan. Kenikmatan dunia dan kenikmatan surga, dua-duanya mengikat jiwa kita. Dua-duanya menciptakan ilusi dan menjauhkan dirimu dari Diri-Mu.

Mereka yang sibuk menafsirkan agama dan keagamaan terjebak dalarn avidyaa. Mereka yang menggunakan agama sebagai wahana untuk mencapai Allah terbebaskan dari avidyaa.

Ada yang bertanya pada Rabiah, ”Kau tidak mencintai….?”

Rabiah menjawab, ”Hatiku cuma satu, dan yang satu itu telah kuberikan kepada Allah. Mau mencintai siapa? Dengan apa?”

Untuk mencapai Yang Satu itu, segala keinginan harus terlampaui. Keinginan untuk mencapai-Nya pun harus kita lampaui, dan saat itu juga tiba tiba…. Tanpa kita sadari, kita akan mencapai-Nya.

Keinginan berasal dari ketidaktahuan bahwa apa yang kira inginkan itu sesungguhnya tidak perlu kita inginkan. Kita tidak pernah berpisah dari apa yang kita inginkan, sehingga apa pula yang perlu kita inginkan? Keinginan justru menciptakan ilusi dualitas, krisis identitas. Yang satu terlihat dua.keinginan menciptakan penyakit double vision.

Kisah ini dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Para Pemakan Anak Gajah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on December 24, 2016 by triwidodo

buku-masnawi-3-anak-gajah

Konon seorang bijak di India melihat empat orang berdatangan dari jauh. Baju mereka compang-camping dan mereka tampak lapar sekali. Maka sang bijak menasihati mereka, “Dalam perjalanan mungkin kalian akan bertemu dengan seekor anak gajah yang masih muda. Dia terpisah dari induknya. Walaupun tidak bisa menahan rasa lapar, janganlah kalian terbawa nafsu dan membunuh anak gajah itu. Induknya pasti mengamuk dan mengejar kalian.”

 

Seperti biasa, Rumi membelok lagi:

Para suci adalah kekasih Allah. Jangan pikir mereka terpisah dari Allah. Di mana pun mereka berada, Allah melindungi mereka. Jangan meremehkan rnereka. Lihat, apa yang terjadi pada Fir‘aun. Tongkat seorang Musa bisa menaklukkan dia. Siapa yang menyebabkan hal itu terjadi?

 

Siapa lagi kalau bukan Tuhan, Allah?

Anak gajah dalam kisah ini ibarat seorang darvish, seorang pir seorang wali, seorang nabi. Si bijak dari India sudah memberikan peringatan, “Jangan mengganggu seorang darvish, seorang pir, seorang wali. Karena mereka tidak terpisah dari Allah.”

Dengarkan lanjutan kisah ini:

buku-masnawi-3-buku-spiritual

Tampaknya mereka tidak begitu memperdulikan nasihat si bijak dari India. Maka si bijak yang berhati tulus itu menegaskan kembali, “Dengarkan nasihatku, isilah perut kalian dengan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Jangan mengejar dan membunuh anak gajah itu. Dengarkan pesanku, ikutilah nasihatku. Sehingga kalian terhindar dari penyesalan di belakang hari.”

 

Jangan menahan rasa lapar. Penahanan rasa lapar membuat anda menjadi serakah. Apa yang terjadi ketika anda rnengikuti diet ketat untuk menurunkan berat badan, misalnya? Anda menahan rasa lapar. Makan sekali, atau bahkan makan nasi hanya dua-tiga hari sekali. Sepertinya, anda berhasil mengurangi makanan. Saya katakan, “sepertinya”. Karena “sesungguhnya” anda hanya mengurangi “frekuensi” makan. Dua-tiga hari sekali ketika anda makan nasi, porsi anda jauh melebihi porsi biasa.

Itulah sebabnya, puasa selalu dikaitkan dengan agama, dengan keagamaan, dengan religiusitas, dengan “kesadaran”. Dengan penuh kesadaran, berupayalah untuk “mengendalikan diri”. Tidak memaksa diri, tidak menahan diri. Tetapi mengendalikan diri. Dan “pengendalian diri” hanya terjadi bilamana anda melakukannya dengan penuh kesadaran.

Empat orang berpakaian compang-camping dalam kisah ini tidak tahu-menahu tentang pengendalian diri. Mereka hanya menahan lapar. Mereka “berpuasa”, tetapi puasa mereka tidak religius. Mereka tidak melakukannya dengan kesadaran. Itu sebabnya mereka tidak menghiraukan nasihat orang bijak. Sang pembawa pesan melewati mereka begitu saja. Mereka tidak mengenalinya.

 

Tidak lama kemudian, mereka memang melihat anak gajah itu. Maka tiga di antara mereka tidak bisa menahan diri lagi. Mereka menangkap anak gajah itu, membunuhnya dan memakan dagingnya. Hanya satu di antara mereka yang bisa mengendalikan diri, yang masih ingat pesan sang bijak. Dia tidak terlibat dalam penangkapan dan pembunuhan. Tidak pula menyentuh daging anak gajah itu.

Seusai makan, tiga orang itu tertidur. Hanya satu yang tidak bisa tidur, dia yang bisa mengendalikan dirinya. Tengah malam, datanglah gajah betina yang kehilangan anaknya. Sepertinya dia sudah mengetahui nasib anaknya. Maka dia mendekati orang yang masih terjaga, mencium bau mulutnya, dan melewati dia. Kemudian, satu per satu dia mencium bau mulut tiga orang yang tertidur lelap. Dia mengenali bau badan anaknya, mengamuk, dan tiga-tiganya dibunuh saat itu juga.

Bau keangkuhan, keserakahan, dan lain sebagainya, persis seperti bau bawang merah dan bawang putih. Bagaimana menghilangkannya? Apa gunanya berbohong bahwa engkau tidak makan bawang. Baru membuka mulut sedikit saja, bau bawangnya sudah tercium. Belum berbohong, sudah ketangkap.

Banyak sekali doa yang tidak diterima, karena bau tidak sedap yang berasal dari hati manusia. Sebaliknya, jika hatimu bersih, jiwamu tulus, maka doa yang diucapkan salah-salah pun akan diterima-Nya.

 

Melalui kisah ini Rumi juga ingin mengingatkan, bahwa tak seorang pun dapat memungkiri berbagai perbuatan yang telah dia lakukan selama hidupnya, perbuatan baik maupun buruk. Aroma mereka, anggota tubuh mereka akan menceritakan apa yang sebenarnya diperbuat, dan mulut mereka akan terkunci rapat tidak mampu menolak atau memungkiri aroma (penjelasan anggota) tubuh tadi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kemuliaan Kematian Maharaja Khatvanga, Kisah #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on December 21, 2016 by triwidodo

buku-bhagavatam-khatvanga

Kenyamanan sebagai budak atau kebebasan dari kelahiran ulang?

“Jiwa manusia yang hidup dalam sangkar dunia. Benda-benda duniawi yang memperbudak kita ibarat majikan yang murah hati. Hidup kita dalam sangkar dunia ini cukup nyaman. Barang-barang keperluan sudah tersedia. Malah ditanyai, ‘Mau apa lagi?’ Para budak yang menyampaikan keinginan mereka—‘Aku butuh ini. Aku perlu itu.’ Sangat tidak sadar. Mereka sudah terbiasa diperbudak.

“Kisah ini membutuhkan perenungan yang amat sangat mendalam. Sikap kita selama ini, tidak lebih baik daripada para budak. Kita berdoa untuk apa? Untuk memohon rejeki, pangkat, kesehatan, jodoh, memohon ini, memohon itu. Semuanya itu akan membuat hidup kita nyaman. Tetapi, hidup sebagai apa? Hidup sebagai budak. Hidup di mana? Hidup di dalam sangkar.

“Kita tidak pernah berdoa untuk memohon pembebasan dari sangkar dunia. Kita lupa bahwa hidup bebas di luar sana jauh berarti daripada hidup nyaman dalam sangkar. Pilihannya memang itu saja—hidup bebas atau hidup nyaman. Dan, para budak memilih hidup nyaman. Mereka yang diperbudak oleh panca indera, oleh hawa napsu, akan selalu memilih hidup nyaman. Hanya satu dua orang di antara kita yang menyadari arti kebebasan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Salah satu orang yang menyadari arti kebebasan itu adalah Raja Khatvanga seperti diungkapkan Rishi Shuka kepada Parikshit………

 

Rishi Shuka berkata kepada Parikshit

Pertanyaan  yang sungguh mulia, wahai Raja. Biasanya manusia yang terikat pada objek-objek di luar. Tubuhnya yang gampang rusak ini dianggap sebagai diri mereka. Mereka hanya mencari tahu apa yang akan membuat mereka lebih senang atau nikmat.

Mengingat Krishna atau Narayana pada saat kematian – adalah tujuan sejati kehidupan seorang – yang dapat dilakukan dengan melakoni yoga atau hidup yang benar. Apa gunanya hidup panjang bagi seseorang yang mengabaikan keselamatannya sendiri? Ketika kematian mendekat seseorang harus memutuskan semua keterikatan bahkan pada badannya. Dia harus menyepi di suatu tempat yang suci, dan duduk mengucapkan kata “Om”. Dia harus bermeditasi pada Tuhan dengan penuh cinta dan devosi sehingga dia tidak memikirkan yang lain lagi. Meditasi seperti itu menghancurkan ketidakmurniannya dan membanjirinya dengan kegairahan cinta ilahi atau bhakti. Dia akan mencapai penyatuan dengan Tuhan.

 

Raja Khatvanga hanya punya waktu 1 muhurta sebelum kematian menjemputnya

Pada suatu ketika terjadi peperangan antara para dewa melawan para asura. Para dewa minta pertolongan Maharaja Khatvanga agar membantu mereka melawan pasukan asura. Sang maharaja memimpin pasukan kerajaan bersama pasukan dewa yang akhirnya dapat mengalahkan pasukan asura.

Para dewa kemudian berkata pada sang raja, “Kami akan memberikan anugerah apa pun yang Raja inginkan.”

Sang Raja mengatakan, “Saya ingin selamat dari dunia ini, dan saya ingin melayani Narayana.”

Para dewa mengatakan, “Kami tidak mampu memberikan itu, Raja dapat meminta anugerah yang lain.”

Raja kemudian berkata, “Kalau demikian baiklah, kalian harus memberitahu saya ketika kematian saya akan datang.”

Para dewa menjawab, “Begitulah, kami akan memberitahu dalam waktu 1 muhurta (48 menit) sebelum kematian raja.”

Waktu berlalu demikian cepat, sampailah saatnya Khatvanga diberitahu bahwa 1 muhurta lagi dia maut akan menjemputnya.

Raja Khatvanga, bermeditasi pada Narayana dengan penuh cinta dan devosi sehingga dia tidak memikirkan yang lain lagi. Meditasi tersebut membakar ketidakmurniannya dan melimpahi dirinya dengan kegairahan cinta ilahi atau bhakti. Sang Raja mencapai penyatuan dengan Narayana.

Rishi Shuka berkata kepada Parikshit, seminggu sebelum kematian sudah cukup mempersiapkan diri, Raja Khatvanga hanya membutuhkan persiapan 1 muhurta (48 menit).

 

Bagaimana dengan kita yang tidak tahu kapan ajal menjemput kita?

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 9:32 disampaikan:

Saat malaikat maut datang untuk menjemput kita; saat Dewa Yama mengetuk pintu rumah kita — coba berusaha untuk menghindarinya untuk satu detik saja. Tidak bisa. Saat itu tidak ada alasan sibuk. Siapkah kita untuk itu? Jika tidak mau menderita saat itu, tidak mau beraduh-aduh, maka  perjalanan batin kita mesti dimulai saat ini juga.

Perjalanan batin tidak beda dari perjalanan hidup. Tidak ada dua jalan yang mesti ditempuh. Perjalanan batin adalah perjalanan hidup biasa sehari-hari, tapi dengan warna batiniah, di mana kemuliaan – bukan kesenangan sesaat – yang menjadi warna hidup.

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

 

Para Yogi, para praktisi Yoga mengetahui pertanda-pertanda kematian mereka

“PENGETAHUAN TENTANG KEMATIAN lewat pertanda-pertanda alam. Tentu pertanda yang paling jelas adalah yang Anda terima lewat badan Anda sendiri.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh membahas hal ini, perlu kita ingat bahwa Patanjali sedang berbicara dengan para Yogi, para praktisi Yoga. Ini mesti jelas dan selalu diingat.

Jadi, jika kita tidak melakoni Yoga dan hanya membaca buku ini, hasilnya adalah nol besar. Nihil. Kita tidak akan mampu membaca pertanda-pertanda alam, walau telah disampaikan berulang-ulang.

KITA PERNAH MEMBAHAS HAL INI DI BUKU LAIN. Proses kematian mirip sekali dengan proses kelahiran. Sebagaimana kelahiran membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, kematian pun sama. Ya, proses kematian pun terjadi selama sembilan bulan. Seorang Yogi bisa mengetahui hal ini. Ia bisa merasakan proses prana atau aliran kehidupan menarik diri dari setiap anggota badan secara bertahap, satu per satu.

Awalnya bagian kaki akan terasa rnelemah, melemah secara merata. Bukan lemah karena sakit, tapi lemah karena aliran kehidupan sudah mulai berpamitan.

Proses ini berjalan hingga +/- 9 bulan—walau seorang Yogi bisa juga memilih untuk mempercepatnya. Lagi-lagi, semua ini berlaku bagi para Yogi.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Apa yang Harus Dilakukan Tujuh Hari Menjelang Kematian? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on December 18, 2016 by triwidodo

buku-bhagavatam-parikshit-dan-shuka

“Tinggal tujuh hari….. Apa yang harus kulakukan dalam tujuh hari ini?”

Apa yang akan kita lakukan bila diberitahukan tujuh hari kemudian akan mati? Mungkin langsung nervous dan jatuh sakit, atau kena serangan jantung dan mati sebelum hari ketujuh.

Kesadaran Parikshit jauh di atas kita, “Apa yang dapat kulakukan dalam tujuh hari ini? Bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi Sang Kala, Dewa Pencabut Nyawa? Bagaimana meninggalkan dunia ini dengan tenang tanpa keterikatan, kekhawatiran, dan keraguan?

Para pendeta menyarankan upacara besar-besaran. Para cendekiawan menyarankan pendalaman kitab suci dan filsafat. Para menteri malah menyarankan agar berita itu dirahasiakan untuk menghindari pemberontakan atau serangan dari luar. Parikshit tidak terkesan, “Tidak, bukan persiapan itu yang kumaksud.” Persiapan apa lagi yang dimaksudnya, dia pun tidak tahu.

Ada yang menganjurkan latihan pernapasan. Ada yang menawarkan pembangkitan kundalini dan lain sebagainya.

Parikshit tetap tidak puas, “Jawablah dengan jujur, wahai pendeta dan guru yang kuhormati,” tanya Parikshit, “apakah kalian sudah merasa puas dengan ilmu-ilmu yang kalian kuasai? Apakah kalian sudah merasa dekat dengan yang Maha Kuasa? Apakah pengetahuan kalian telah mempersiapkan kalian untuk menghadapi maut dengan senyuman?”

Mereka jujur, “Tidak Baginda, tidak… Kami belum siap menghadapi maut dengan senyuman.”

Lalu untuk apa harus kudalami semuanya itu? Lagi pula kalian membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasai ilmu kalian, aku hanya memiliki tujuh hari. Itu pun akan berkurang menjadi enam bila beberapa saat lagi matahari terbenam.”

buku-bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

Parikshit mulai gelisah… tetapi dia sangat beruntung. Getaran kegelisahannya tertangkap oleh Shuka, putra Resi Vyaasa. Walau berusia belasan tahun, Shuka bukanlah manusia biasa. Kesadarannya jauh melebihi kesadaran sang ayah. Ia mendatangi Parikshit yang saat itu sudah meninggalkan istananya dan berada di tepi sungai Yamuna.

Sejak kelahirannya, Shuka tinggal di tengah hutan. Ia merasa tidak perlu berinteraksi dengan dunia luar. Oleh karena itu berbusana pun dianggapnya tidak penting. Dalam keadaan telanjang bulat remaja berusia 17-an tahun itu datang menghadap Parikshit, “Tujuh hari sisa hidupmu sudah lebih dari cukup untuk membebaskan kamu dari samsara, dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan.”

Mereka yang hadir bersama Raja Parikshit saat itu diperkirakan lebih dari 100,000 orang. Ada yang malah memperkirakan 500,000-an. Kebanyakan di antara mereka baru pertama kali melihat Putra Vyaasa. Sebelum itu mereka hanya mendengar namanya saja. Walau demikian, Shuka tidak membutuhkan perkenalan lagi. Wajahnya yang berkilau sudah cukup untuk memperkenalkan dirinya. Parikshit bertekuk lutut dan mencium kaki Sang Bhagavan. Ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Shuka mengulangi pernyataannya, “Raja, jangankan tujuh hari, sekejap pun cukup untuk membebaskan dirimu dari lingkaran kelahiran dan kematian… Bersoraklah dengan gembira, sebut nama Govinda! Dan saat itu pula kau terbebaskan dari samsara.”

Yang dimaksudkan Shuka tentunya bukan sekadar ulangan ala burung beo. Bersorak dengan gembira dan menyebut nama Govinda berarti menumbuh-kembangkan rasa cinta terhadap Ia Yang Maha Kuasa. Tidak takut, tidak pula menyembah-nyembah seperti budak, tetapi mencintai-Nya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…….. dan dimulailah Kisah-Kisah dalam Srimad Bhagavatam. Kisah-kisah yang disampaikan Shuka kepada Parikshit…………………