Kutukan pada Asvathama, Hidup Menderita Selama Masa Kaliyuga #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-asvathama-tertangkap

Allah berada di balik setiap kejadian. Maha Besar Allah, Maha Suci Tuhan, Dialah Sebab Awal segala kejadian.

“Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya. Sebelum Rumi, tidak seorang pun yang mampu melihat “kebenaran yang tersirat” di balik kisah Adam, Hawa dan Iblis. Jika Iblis tidak menggoda, jika Adam tidak tergoda, maka Roda Dunia, Chakra sang Kala tidak akan pernah berputar. Siapa yang bisa menyutradarai Sandiwara Kehidupan ini – kecuali Dia?

“Iblis dan Adam, dua-duanya mengetahui hal tersebut. Ibarat pemain sinetron, mereka sudah membaca skrip. Adam menerima perannya. Ia tidak mengeluh. Sebaliknya, Iblis tidak sepenuh hati menerima peran yang diberikan kepadanya. Ia mengeluh.

“Jika Anda termasuk orang yang sering mengeluh, yang selalu meragukan Kebijakan Allah, Anda bersifatkan Iblis. Tetapi, jika Anda termasuk orang yang menerima Kehendak Ilahi, tidak meragukan Kebijakan-Nya, Anda bersifatkan Adam.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Pandawa patuh terhadap Kebijakan Krishna, tidak ragu! Silakan ikuti kisah tertangkapnya Asvathama berikut:

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 

Setelah Rishi Narada pergi, Vyasa duduk di pertapaannya dan bermeditasi kepada Tuhan. Vyasa sadar bahwa kasih Krishna adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan kebutaan spiritual yang menjadi penyebab penderitaan manusia. Kalau dalam Mahabarata Vyasa menyusun kisah tentang kebaikan dan keburukan, maka kini Vyasa menulis Bhagavatam, kisah Kasih Ilahi yang melampaui kebaikan dan keburukan. Kisah Ilahi ini bisa dengan cepat menghilangkan dukacita, ketergila-gilaan dan ketakutan.

Krishna adalah Keberadaan Yang Tertinggi; karena itu para rishi seperti Shuka yang menegakkan kesadaran advaita, non-dualitas, tauhid sangat mencintai Krishna dan mendengarkan kisah Bhagavatam dari Vyasa. Vyasa menyampaikan kisah kepada Shuka dan para rishi lainnya.

Salah satu rishi mulai menceritakan bagaimana Rishi Shuka menyampaikan pengetahuan ini kepada Parikshit……….

 

 

Terbunuhnya semua putra Pandawa

Perang besar Mahabharata telah berakhir. Duryodhana terbaring menyambut kematian di medan perang. Ashvathama dengan pengecut dan keji membunuh putra-putra Pandawa ketika mereka tidur dan mempersembahkan kepala pemuda-pemuda itu kepada Duryodhana sebagai salam perpisahan. Arjuna yang murka mengejar Ashvathama, dengan maksud membunuhnya sebagai pembalasan dendam. Dalam keputusasaan yang amat sangat Ashvathama melepaskan panah Brahmastra. Kebingungan, Arjuna berdoa pada Krishna:  “Wahai Krishna, Engkau menghapuskan ketakutan dari bhakta-Mu. Hanya Engkau penyelamat bagi orang-orang yang dalam dunia penderitaan dan kematian ini. Engkau lahir di sini untuk memindahkan beban bumi dan menjadi objek meditasi bagi para bhakta-Mu. Tuhan, aku tidak tahu apa gerangan api yang mengerikan ini, yang membakarku dari segala arah.”

Krishna mengungkapkan sifat senjata Asvathama, dan didorong oleh Krishna, Arjuna melepaskan senjata tandingan.  Apabila kedua senjata tersebut bertemu akan musnahlah dunia. Karena kasihnya kepada makhluk hidup Krishna meminta Arjuna dan Asvathama untuk menarik kembali senjatanya. Arjuna dapat menarik senjatanya yang diarahkan ke angkasa. Sedangkan Asvathama tidak dapat mengendalikan sehingga hanya bisa mengubah arah dan diarahkan ke Uttara, istri mendiang Abhimanyu yang sedang hamil sisa satu-satunya anak keturunan Pandawa. Ikuti kisah selanjutnya, penyelamatan janin oleh Krishna dan kelahiran calon Maharaja Parikshit…………

Arjuna kemudian menangkap Ashvathama.

 

Alasan Asvathama berbuat curang

Ashvathama bukan tanpa dasar membunuh seluruh putra pandawa. Adalah ayahandanya, Rishi Drona yang belajar pada ayahnya dan banyak pula murid lainnya. Mereka seperti saudara dan salah seorang dari murid ayah Drona, Drupada sudah menjadi raja. Drona pada saat itu dilanda kemiskinan sehingga saat Asvathama kecil, untuk membelikan susu saja tidak bisa. Istri Drona menanak nasi dan cairannya yang putih (tajin, dalam bahasa Jawa) diberikan kepada Asvathama dan mengatakan bahwa itu susu. Ashvathama sangat berbahagia dan bercerita pada teman-temannya bahwa dia baru saja minum susu. Drona makan hati.

Dengan mengorbankan perasaan Drona menemui Drupada, akan tetapi penghinaan lah yang diterima. Diakui sebagai teman pun tidak, janji sewaktu sama-sama menuntut ilmu pun tidak dihiraukan Raja Drupada.

Drona belajar ilmu perang dan kanuragan kepada Parashurama, sehingga menjadi ahli dan akhirnya dapat menjadi Guru Istana Hastina mengajar para Pandawa dan Korawa. Rasa sakit hati kepada Drupada membuat Drona minta Gurudaksina (balas budi kepada Guru) agar Pandawa mengalahkan Drupada. Drupada takluk dan memberikan sebagian wilayahnya kepada Drona untuk dipimpin oleh Ashvathama.

Drupada yang sakit hati dengan dendam api yang membara melahirkan putri Srikandi, putra Drestayumna yang memiliki sifat bawaan ingin membunuh Drona, serta Putri Draupadi yang akhirnya menjadi istri Pandawa.

Dalam perang Bharatayuda, Drona berpihak pada Korawa sedangkan Drupada berpihak kepada Pandawa. Drupada gugur di tangan Drona. Drona sulit dikalahkan, dan Sang Sutradara Krishna membuat skenario untuk mengalahkan Drona. Drona sangat sedih kala para prajurit Pandawa berteriak Asvathama mati. Drona datang kepada Yudistira yang dikenal tidak mau berdusta. Yudistira paham skenario Krishna, bahwa yang telah dibunuh adalah gajah bernama Ashvathama. Tatkala Drona bertanya apakah Ashvathma mati, Yudistira mengiyakan dan kata gajah sangat pelan sehingga tak terdengar oleh Drona. Drona yang sakti pun terduduk lemas dan Drestayumna membunuh Drona. Keinginan, obsesi mendiang Drupada bahwa anaknya yang membunuh Drona kenyataan, walau dia sendiri terbunuh oleh Drona.

Jelas Ashvathama marah, dendam dan merasa Pandawa berlaku curang. Kalau musuh berbuat curang mengapa dia tidak melakukan kecurangan untuk membalasnya? Pada saat peperangan usai semua putra Pandawa tidur di satu tenda yang sama bersama Drestayumna, Ashvathama membunuh mereka semua. Biarlah Pandawa menang tetapi semua keturunan Pandawa akan musnah. Bahkan ketika Arjuna menarik kembali senjata Brahmastya, Asvathama mengubah arah panah mengarah kepada salah satu calon cucu Pandawa, putra mendiang Abhimanyu yang masih berada dalam kandungan Utari.

 

Skenario Sang Sutradara Krishna

Adalah Kunti ibu Pandawa yang meminta Arjuna untuk tidak membunuh Ashvathama, dan Krishna menyetujui. Ashvathama kemudian dipermalukan dan diusir dari Hastina. Dikisahkan Asvathama lahir dengan batu di dahi, di antara kedua alis matanya, yang membuatnya bebas dari penyakit dan tidak bisa mati. Batu tersebut dicabut oleh Krishna yang kemudian mengutuk Asvathama yang telah membunuh semua putra Pandawa dengan curang dan bahkan berencana membunuh janin yang dikandung istri Abhimayu.

“Kau akan selalu menderita “penyakit” dan selalu dikelilingi “bau busuk” selama hidupmu. Kau tidak akan mempunyai teman dan akan terus berkeliaran di atas bumi tanpa kematian sampai akhir Zaman Kaliyuga……..”

Bagi Ashvathama, jauh lebih sakit dipermalukan daripada dibunuh oleh Arjuna. Dengan dibunuh maka penderitaan selesai. Sekarang dia sepanjang hidup akan menderita dengan kemarahan membara, sakit hati yang tidak terobati. Ashvathama pergi dengan perasaan luka ditemani Rishi Kripa adik ibunya pergi ke Arvashtan.

Kembali kepada awal tulisan. Ada skenario dari Krishna, kita bisa menerima atau tidak? Pandawa menerima saran Krishna, untuk tidak membunuh Ashvathama dan mengusirnya ke luar dari India. Pandawa tidak tahu akhir skenario Krishna, tetapi mereka yang yakin pada Kebijaksanaan-Nya dan menerimanya.

Kalau kita melihat kisah dimulai dari Panglima Perang Drona ditipu para Pandawa dan kemudian menjadi patah semangat karena mendengar anak kesayangannya mati, kemudian dibunuh saat patah semangat oleh Drestayumna, maka wajar saja Ashvathama membunuh para putra Pandawa.

Kalau kita melihat kisah mulai dari Drupada yang negaranya dikalahkan Pandawa (para murid Drona yang diminta upah mengajar menaklukkan Drupada). Drupada dipaksa menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Drona. Kemudian Drupada dibunuh oleh Drona, maka tindakan Drestayumna membunuh Drona pun juga wajar saja.

Bersyukurlah kita yang mengetahui kisah sejak awal lewat Srimad Bhagavatam, sejak Ashvathama masih kecil sehingga bisa memperoleh pelajaran lebih jelas.

Penting bagi kita untuk memperoleh hikmah dari sebuah kisah. Kita perlu merenungkan Penjelasan Bhagavad Gita 7:14:

Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan “kesan ciptaan”. Ya, “kesan ciptaan” – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan “peran” yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika “peran” itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: