#Srimad Bhagavatam: Kelahiran Parikshit, Intervensi Krishna Menyelamatkan Hastina

buku-bhagavatam-parikshit-dalam-kandungan

“Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan……..”

“Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.” Dikutip dari Bhagavad Gita 9:10 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Senjata Asvathama menyerang janin dalam kandungan Uttara

Uttara adalah istri Abhimanyu, putra Arjuna yang gagah perkasa yang meninggal akibat dikeroyok pasukan Kaurawa. Ibu Abhimanyu adalah Bunda Subadra adalah adik Krishna. Sebagaimana para istri komandan Pandava, Uttara pun sangat yakin akan kebijaksanaan Krishna. Uttara mendengar cerita bagaimana Bunda Draupadi diselamatkan Krishna saat dipermalukan Kaurava di istana Hastina. Keyakinan Bunda Draupadi membuat kain sarinya yang ditarik Dursasana tidak ada habis-habisnya sehingga Dursasana kewalahan dan menyerah.

“Percayalah, yakinlah, saat Anda betul-betul membutuhkan pengarahan dan bimbingan seorang Kṛṣṇa, Anda pasti memperolehnya. Kṛṣṇa bisa berwujud apa dan siapa saja. Kadang seorang Pemandu Rohani, kadang seorang sahabat, bahkan kadang seorang anak kecil, seorang remaja; kadang buku yang sedang Anda baca – Kṛṣṇa bisa mewujud sebagai apa dan siapa saja untuk membimbing Anda.”

“Syaratnya: Asal Anda Percaya, Anda Yakin. Jangan terkecoh oleh jubah dan penampilan-Nya. Ia bisa berjubah beda, bisa berpenampilan lain. Sang Jiwa Agung bisa mewujud dalam bentuk apa saja, lewat siapa saja, untuk mengarahkan Anda yang sedang bingung!” Dikutip dari Bhagavad Gita 2:9 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Uttara berteriak sambil berlari menuju Krishna, mohon perlindungan saat dikejar senjata Asvathama. Keyakinan Uttara menyelamatkan dirinya dan janin yang dikandungnya.

Kunti, ibu para Pandawa, nenek buyut calon sang bayi terharu, isakan tangisnya berbarengan dengan gelombang rasa bhakti yang amat besar kepada Krishna: “Krishna, Engkaulah Keberadaan yang tertinggi, walau banyak orang yang tidak bisa mengenali-Mu. Sembah sujudku pada-Mu. Engkau melindungi kami dari segala mara bahaya, termasuk senjata yang dilepaskan oleh Asvathama.

“Semoga Engkau berkenan selalu memberi cobaan kepada para putraku. Cobaan-cobaan itulah yang membuat mereka berpaling kepada-Mu, dengan demikian terbebaskanlah mereka dari lingkaran kelahiran dan kematian.

“Mereka yang bangga akan keturunan, kekuatan, pengetahuan dan kekayaannya bahkan tidak mengingat nama-Mu. Engkau hanya terlihat oleh mereka yang tidak mementingkan apa pun bagi dirinya dan tidak terikat pada rasa kepemilikan.

“Krishna, Engkaulah waktu yang tak berawal dan berakhir. Siapa yang dapat mengukur kemuliaan-Mu walaupun kau mengambil wujud manusia? Engkau tidak memihak, walaupun pikiran manusia yang terbatas menghubungkan keberagaman dengan-Mu. Engkaulah jiwa alam semesta, kenyataan yang nampak sebagai alam semesta. Engkau tak dilahirkan, walaupun Engkau mengambil banyak wujud. Para cendekiawan memberikan berbagai alasan inkarnasi-Mu. Namun Engkau lahir ke dunia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat orang senang untuk mengingat dan mengisahkannya dan yang akan membawa mereka ke kaki padma-Mu dan menganugerahkan mereka kebebasan akhir dari kelahiran dan kematian.”

“Krishna, aku berlindung di kaki padma-Mu. Potonglah ikatan-ikatan yang membelengguku dan biarkan pikiranku hanya bersemayam pada-Mu. Ini adalah doaku dengan sepenuh hatiku, wahai Krishna.”

Krishna tersenyum dan berkata:  “Terjadilah.”

 

Kelahiran Parikshit

Setelah semua kejahatan ditumpas dan putra Uttara dilahirkan, Sri Krishna kembali ke Dwaraka, Pandawa merasa sangat sedih berpisah dengan Krishna. Para Pandawa ingin pergi bersama Krishna, manusia yang telah sadar diri manakah yang tidak bahagia mendampingi Avatar, Dia yang berkenan mewujud. Bagi para Pandawa apalah artinya istana dan segala kekayaan dan kekuasaan duniawi dibandingkan dengan Krishna.  Akan tetapi Krishna mengingatkan bahwa mereka harus mengelola Kerajaan Hastina dengan benar. Dan ada juga tugas yang tidak boleh diabaikan, bagaimana mendidik putra Uttara menjadi maharaja yang bijak. Bersama dengan seluruh rakyat Hastinapura, mereka mengantar Krishna hingga ke tepi kota.

……….

Dikisahkan saat sang janin sedang terbakar oleh senjata brahmastra Asvathama dalam rahim ibunya, janin Uttara melihat sesosok wujud kemilau sebesar ibu jari, berwajah tampan, kulit berwarna biru kehitaman, berbusana kuning dan dengan mahkota emas di kepala. Bayi yang belum lahir itu melihat sosok tersebut memusnahkan api yang membakarnya, dan kemudian sosok tersebut menghilang.

Sejak lahir dan bisa melihat, sang bayi selalu memeriksa wajah setiap orang yang dijumpainya. Dia memeriksa untuk mencari wajah yang telah menyelamatkannya di dalam kandungan. Itulah sebabnya dia diberi nama Parikshit, dia yang selalu pariksha, memeriksa wajah orang, mencari Krishna.

 

Ramalan Para Ahli Perbintangan Hastina

“Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih.mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat.

“Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun yang menguasai betul ilmu itu, hanyalah segelintir manusia.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Para ahli astrologi Hastina pada saat itu diundang Maharaja Yudistira untuk meramal Parikshit, sang bayi yang baru lahir yang akan menjadi Putra Mahkota Kerajaan Hastina.

Diramalkan bahwa anak yang baru lahir ini akan tumbuh menjadi raja yang besar dan mulia. Dia akan memerintah rakyatnya dengan adil seperti Iksvaku, menjalankan kebenaran seperti Rama, murah hati seperti Sibi, menjadi terkenal seperti Bharata, pemanah yang ulung seperti Arjuna, gagah berani seperti singa, kuat seperti bumi, sabar seperti orang tua, tempat berlindung seperti Himalaya, tidak berat sebelah seperti Brahma, murah hati seperti Shiva, melindungi semua seperti Vishnu, memiliki kebajikan utama seperti Krishna, baik hati seperti Yayati, tegas seperti Bali dan berbakti kepada Krishna seperti Prahlada. Dia akan menundukkan kejahatan. (Nama-nama yang disebut para Astrolog Hastina tersebut akan dikisahkan dalam kisah Srimad Bhagavatam). Karena kelahirannya dilindungi oleh Vishnu dia dikenal sebagai Vishnu-rata. ). Tidak diragukan lagi dia adalah jiwa yang besar, sangat diberkati, dan merupakan puncak dari kasih ilahi.

Juga telah diramalkan bahwa seiring berjalannya waktu, dia akan dikutuk oleh seorang brahmana bahwa dia akan mati karena dipatuk ular. Ia akan menerima kematian dengan tenang, meninggalkan kerajaannya dan semua ikatan keduniawian dan mendengarkan kisah-kisah tentang kemuliaan Ilahi yang diceritakan oleh Rishi Suka sampai kematian menjemputnya.

 

Catatan: bila terdapat kisah-kisah Srimad Bhagavatam dalam buku-buku Bapak Anand Krishna, maka kisah-kisah dari buku tersebut yang diupload. Bila belum ada, maka kami mengambil kisah dari terjemahan buku Srimad Bhagavatam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: