#SrimadBhagavatam: Lima Pintu Masuk Kali di Zaman Kali Yuga

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(Catatan ini merupakan tulisan ulang dari Catatan: Lima Pintu Masuk Kezaliman di Zaman Kali Yuga, Kisah Maharaja Parikshit. Dimuat kembali sebagai bagian dari kisah bersambung dalam kategori Srimad Bhagavatam)

Kisah ini dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Vyaasa, penulis sejarah India zaman itu (dalam hal ini zaman Parikshit cucu Arjuna sebagai Raja Kerajaan Hastina, penulis kutipan) merasa perlu menjelaskan peralihan umat manusia dari masa sebelumnya ke Masa Gelap lewat sebuah cerita:

Pada suatu hari Kegelapan mewujud dan menampakkan diri pada Raja Parikshit: “Raja, kau pun tahu sudah saatnya aku memasuki panggung dunia… Tapi, kebajikan, kebijaksanaan, dan kasihmu selalu menahan diriku. Aku tidak bisa berperan sesuai dengan peran yang telah ditetapkan bagiku.”

Parikshit merenung sebentar. Kehadiran Kali memang sudah menjadi bagian dari cetak biru keberadaan. Dia tidak ingin rnenghalanginya, tetapi…….

“Baik, Kali……. Silakan memasuki panggung dunia dan berperan sesuai dengan peran yang telah ditetapkan bagimu……. Tetapi dengan syarat,” kata Parikshit.

“Syarat apa, Raja? Katakan apa maumu, Raja tanya Kali.

 

Cover Buku Bhaja Govindam

buku-bhaja-govindam-500x500

“Silakan memasuki panggung dunia, tetapi lewat empat pintu saja. Jangan mengetuk pintu lain. Pintu Pertama adalah Pintu Judi…….”

Kali langsung saja mengiyakannya. Yang penting masuk dulu. Parikshit tidak sadar bahwa pengaruh Kali bisa mengubah apa saja menjacli perjudian. Lihat bagaimana bank-bank kita berlomba untuk memberi hadiah. Kita pun membuka rekening dengan harapan akan memperoleh hadiah, akan mempcroleh “lebih” daripada apa yang menjadi hak kita. Harapan seperti itu kalau bukan spekulasi apa lagi? Kemudian, spekulasi itu apa lagi kalau bukan perjudian?

Kali senang sekali. Dia bisa melihat jauh ke depan. Dia bisa menggunakan judi sebagai senjata ampuh untuk melumpuhkan kesadaran manusia. Pintu masuk satu itu saja sudah cukup.

Apalagi Sang Raja sudah menjanjikan tiga pintu lagi. “Baik Raja, kuikuti saja perintahmu. Bagaimana dengan tiga pintu yang lain?” –katanya.

Kedua adalah Pintu Mabuk. Masukilah hidup mereka yang selalu dalam keadaan mabuk.”

Maksud Sang Raja mabuk secara harfiah, mabuk minuman keras, kecanduan ganja dan sebagainya. Kali melihatnya dari sudut pandangan berbeda. Mabuk harta juga mabuk. Mabuk takhta juga mabuk. Mabuk wanita/pria juga mabuk. Definisi mabuk Kali jauh lebih luas daripada definisi Parikshit.

Bukan hanya mereka yang ”punya”, mereka yang “tidak punya” juga bisa mabuk. Orang kaya mabuk harta. Orang miskin mabuk kemiskinan. Untuk mencari perhatian, dia pun memamerkan kemiskinannya. Bahkan seorang spiritual pun bisa mabuk, mabuk spiritualitas. kemudian dia menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Perkara mabuk dan hilangnya kesadaran ini sungguh menarik. Saya pernah bertemu dengan “orang yang tidak punya” di kota Mumbai, India. Dia tinggal di daerah kumuh yang  terletak persis di belakang daerah elite Marine Drive. Ditanya tinggal di mana, jawabnya selalu, “Di Marine Drive.” Hebat!

Seorang warga asing yang sudah tinggal di Indonesia selama puluhan tahun dan tidak memiliki rencana untuk kembali ke negeri asalnya, saya tanya, “Kenapa tidak menjadi warga negara Indonesia saja?”

Dia pun menjawab dalam keadaan mabuk, “Saat ini saya adalah warga ‘negara kelas satu’. Untuk apa menjadi warga ‘negara kelas dua’?”

Negeri asalnya dianggap kelas satu, Indonenesia dianggapnya kelas dua. Padahal cari makan di sini, tinggal di sini, menghirup udara Indonesia. Bayangkan! Inilah pengaruh Kali………

…………

“Baik Raja……. apa pun yang kau katakan. Lalu dua pintu berikutnya?” Kali bertanya kembali.

Ketiga adalah Pintu Zinah.”

Parikshit begitu yakin bahwa dalam kerajaannya tak seorang pun warganya melakukan perzinahan. Warga India saat itu rupanya cukup alim dan ”sadar”! Yang tidak disadari oleh Parikshit adalah “pengaruh Kali” terhadap dirinya. Berdialog dengan Kali saja sudah cukup untuk mempengaruhi kesaclarannya. Ia sudah mulai membedakan warga-“nya” dari warga dunia “yang lain”. Kali boleh mempengaruhi warga dunia yang lain, selama tidak mempengaruhi warganya, “Kali boleh masuk lewat pintu-pintu lain selama tidak lewat empat pintu yang telah ‘ku’-tentukan.” Ini pun ego, tapi apa boleh buat? Kali memang sudah harus memainkan perannya cli atas panggung dunia.

Bagi Kali, “perzinahan” tidak sebatas ” penyelewengan yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya”. Bagi Kali, “zinah” berarti merampas hak orang”. Zinah berarti “memaksakan kehendak diri”. ”Mewujudkan keinginan dengan cara apa saja”—itu pun zinah. Kadang kita memaksa dengan cara kasar dan keras. Kadang dengan cara halus, lembut— dengan merayu dan merengek. Paksaan tetaplah paksaan. Menaklukkan hati orang, kemudian memperbudaknya, atau mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan diri—semua itu perzinahan, adultery.

“Dan yang keempat, Raja?”

Keempat adalah Pintu Pembunuhan.”

Selama Parikshit berkuasa tak seorang pun warganya pernah dihukum karena melukai atau menyerang warga lain, apalagi membunuh.

Bagi Kali, pintu keempat yang diperbolehkan Parikshit itu merupakan berkah tersendiri. “Pembunuhan terjadi di mana-mana,” pikirnya, “ada yang dibunuh, ada yang malah melakukan aksi bunuh diri. Ada yang membunuh orang lain, ada yang membunuh nuraninya sendiri.”

Betul dia…… Tidak mendengarkan suara hati merupakan aksi pembunuhan terhadap nurani.

Sebelum pamit untuk memasuki panggung dunia, sempat-sempatnya Kali melakukan kalkulasi dalam “hati”. Hitung-hitung warga dunia yang dapat dipengaruhinya lewat pintu itu tak lebih dari dua pertiga jumlah penduduk dunia dalam satu masa. Masih tersisa sepertiga, dan Kali tidak rela. “Raja, Raja……. Kasihanilah diriku. Keempat pintu tadi belum cukup. Beri aku satu pintu lagi.”

Parikshit berpikir kembali, “Apa ya, apa ya….? Pintu ini…. Ah tidak…. Pintu itu, ah tidak juga….”

Akhirnya, “Kali, hanya satu pintu lagi—pintu kelima, pintu terakhir ialah di mana terjadi penimbunan harra. Itulah Pintu Kelima yang dapat kau gunakan. Pintu Harta Berlebihan.

Dalan bahasa Vyaasa, pintu kelima ini disebut Pintu Emas. Bila seseorang sudah mulai menimbun emas batangan, berarti hartanya sudah betul-betul berlebihan. Taruh di bank, takut ditelusuri oleh instansi pemerintah. Beli properti bisa dilacak juga. Ya sudah, simpan emas batangan saja di pekarangan belakang rumah.

Bila uang anda mengalir, Kali tidakmampu mempengaruhi kesadaran anda. Kali hanya bisa mempengaruhi anda bila harta anda tidak mengalir. Berhenti, tertimbun di satu tempat. Tidak pula berarti anda harus menghamburkan uang. Tidak menghamburkan, tetapi juga tidak menahan-nahan. Bila harta anda mengalir, roda ekonomi pun akan berputar dengan baik.

Di Barat mereka menghamburkan uang. Roda perekonomian berputar begitu cepat, sehingga kecelakaan pun kadang tak terhindari. Di Timur kita menyimpan-nyimpan uang, dan roda perekonomian kita berputar lamban.

Di Barat jaminan sosial sudah cukup baik, orang tidak perlu memikirkan masa tua. Di Timur, umumnya jaminan sosial masih di bawah standar, tanpa tabungan mau makan apa di masa tua.

Di Barat, satu baju cukup dipakai 2-3 kali, kemudian dibuang. Di Timur, satu baju dipakai hingga 2-3 tahun. Sudah jelek pun, kita masih tidak rela kalau harus membuangnya, atau menghibahkannya kepada yang ticlak punya baju. Disimpan terus dalam lemari.

Para pengamat di Timur mencela budaya Barat yang dianggap konsumtif. Padahal karena budaya konsumtif itu pula, negara-negara berkembang dapat mengekspor hasil industri mereka.

Para pengamat di Barat menganggap Timur masih terbelakang dan kurang maju, padahal karena keterbelakangan itulah hasil industri mereka masih murah dan bisa diekspor untuk memenuhi kebutuhan Barat.

Lima ribu tahun setelah terjadinya dialog antara Kali dan Parikshit, saat-saat ini kita scdang memasuki kembali Periode Emas atau Sat Yuga, The Age of Truth—Masa Kebenaran.

Prediksi saya Barat akan lebih dahulu memasuki Masa Kebenaran, karena roda perekonomian mereka berputar terus. Dan, di mana uang, harta berputar, Kali tak mampu singgah lama.

Harta berlebihan yang kita timbun tidak hanya menyusahkan diri kita karena pengaruh Kali yang dapat menyeret kesadaran kita ke titik terendah, tetapi juga menyusahkan orang lain. Menyusahkan keluarga dan kerabat. Mereka tergantung pada kita karena timbunan harta itu pula. Kita boleh berperan sebagai Sinterklas, asal sadar bahwa ketergantungan mereka pada diri kita merampas kemandirian mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: