Pesan Burung Beo dari India #Masnawi

buku-masnawi-1-burung-beo

Burung Beo dalam kisah ini mewakili jiwa manusia—jiwa manusia yang hidup dalam sangkar dunia. Benda-benda duniawi yang memperbudak kita ibarat majikan yang murah hati. Hidup kita dalam sangkar dunia ini cukup nyaman. Barang-barang keperluan sudah tersedia. Malah ditanyai, “Mau apa lagi?”

Para budak yang menyampaikan keinginan mereka—“Aku butuh ini. Aku perlu itu.” Sangat tidak sadar. Mereka sudah terbiasa diperbudak.

Kisah ini membutuhlaan perenungan yang amat sangat mendalam. Sikap kita selama ini, tidak lebih baik daripada para budak dalam kisah ini. Kita berdoa untuk apa? Untuk memohon rejeki, pangkat, kesehatan, jodoh, memohon ini, memohon itu. Semuanya itu akan membuat hidup kita nyaman. Tetapi, hidup sebagai apa? Hidup sebagai budak. Hidup di mana? Hidup di dalam sangkar. Kita tidak pernah berdoa untuk memohon pembebasan dari sangkar dunia………….

 buku-masnawi-1-langit-biru

Cover Buku Masnawi Satu

Kisah ini tentang seorang pedagang yang bermurah hati. Sebelum berangkat ke India untuk urusan dagang, ia bertanya kepada para budaknya:

 

“Katakan, oleh-oleh apa yang kalian inginkan dari India?”

Satu-persatu, setiap budak menyampaikan keinginannya. Terakhir, giliran Burung Beo milik Sang Pedagang, “Tuanku, tolong sampaikan salam hormatku kepada para burung beo di India. Sekaligus mohon menceritakan keadaank di sini, bahwasanya aku harus menjalani suratan takdir dan hidup di dalam sangkar. Mungkin di antara mereka ada yang akan menyampaikan sesuatu untuk aku. Mungkin ada tuntunan, bimbingan atau nasihat.”

 

Burung Beo dalam kisah ini mewakili jiwa manusia—jiwa manusia yang hidup dalam sangkar dunia. Benda-benda duniawi yang memperbudak kita ibarat majikan yang murah hati. Hidup kita dalam sangkar dunia ini cukup nyaman. Barang-barang keperluan sudah tersedia. Malah ditanyai, “Mau apa lagi?”

Para budak yang menyampaikan keinginan mereka—“Aku butuh ini. Aku perlu itu.” Sangat tidak sadar. Mereka sudah terbiasa diperbudak.

Kisah ini membutuhlaan perenungan yang amat sangat mendalam. Sikap kita selama ini, tidak lebih baik daripada para budak dalam kisah ini. Kita berdoa untuk apa? Untuk memohon rejeki, pangkat, kesehatan, jodoh, memohon ini, memohon itu. Semuanya itu akan membuat hidup kita nyaman. Tetapi, hidup sebagai apa? Hidup sebagai budak. Hidup di mana? Hidup di dalam sangkar.

Kita tidak pernah berdoa untuk memohon pembebasan dari sangkar dunia. Kita lupa bahwa hidup bebas di luar sana jauh berarti daripada hidup nyaman dalam sangkar. Pilihannya memang itu saja—hidup bebas atau hidup nyaman. Dan, para budak memilih hidup nyaman. Mereka yang diperbudak oleh panca indera, oleh hawa napsu, akan selalu memilih hidup nyaman.

Hanya satu dua orang di antara kita yang menyadari arti kebebasan. Seperti Burung Beo dalam cerita ini, ia tidak akan minta sesuatu untuk menambah kenyamanan diri. Ia memohon petunjuk, bimbingan dan nasihat dari saudara-saudaranya sejenis yang tinggal di India.

Kenapa India? Kenapa bukan salah satu negeri di Timur Tengah? Rumi memiliki alasan yang kuat. Ia ingin menyampaikan  suatu pesan yang jelas sekali: bahwa kebijakan ada di mana-mana, bisa diperoleh dari mana saja. Tidak perlu menciptakan batas pemisah antara Arab dan India. Tidak perlu mendirikan dinding pemisah antara Bumi dan Langit. Tidak perlu membedakan antara Barat dan Timur.

Melanjutkan kisah ini, Rumi mengatakan:

 

Burung Beo dalam cerita ini sadar bahwa dirinya berada di dalam sangkar. Ia tidak mengeluh. Ia hanya menyampaikan keadaannya. Ia merintih dan rintihannya menembus tujuh lapisan langit.

Jika seseorang menyadari perbudakan dirinya, lalu sekali saja ia merintih, “Ya Allah!” Maka Allah akan menanggapinya seratus kali.

Kembali ke kisah kita…..

Seusai pamitan dengan para budaknya, Si Pedagang berangkat ke India. Pada suatu hari, dia melihat beberapa ekor burung beo sedang berterbangan bebas. Si Pedagang langsung turun dari kuda yang dia tunggangi dan menyampaikan pesan Burung Beo miliknya.

Mendengarkan pesan itu, salah satu di antara burung beo menggigil, jatuh dan mati. Pedagang menyesali perbuatannya. “Burung beo ini pasti kerabat dekat Burung Beo yang saya miliki. Karena itu, dia ikut merasakan penderitaannya,” pikir si pedagang. Tetapi apa boleh buat, dia tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Sementara burung beo yang mendengarkannya sudah jatuh mati.

Pulang dari India, dia membagikan oleh-oleh kepada setiap budak. Mereka pun senang, karena mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tiba giliran Burung Beo, dengan berat hati ia menyampaikan apa yang terjadi di India, “Rupanya yang mati itu kerabat dekatmu. Aku menyesali apa yang terjadi.”

Tiba-tiba, Burung Beo milik pedagang itu pun mulai menggigil, persis seperti burung beo di India, lalu jatuh dan mati. Sang Pedagang tambah sedih, “Apa yang telah kubuat? Aku telah menjadi sebab kematiannya. Dan semua terjadi karena mulutku. Karena kata-kata yang kuucapkan. Karena lidahku ini. Setajam ujung anak panah, kata-kataku telah menyebabkan dua kematian.”

Sambil berpikir demikian, pelan-pelan dia mengeluarkan burung itu dari sangkarnya. Begitu berada di luar sangkar, burung itu langsung melepaskan dirinya dari tangan Pedagang dan terbang jauh.

Si Pedagang hampir tidak mempercayai matanya, “Apa yang terjadi? Nasihat apa, isyarat apa yang kau peroleh dari burung di India, sehingga kau meniru dia dan membebaskan dirimu dari sangkar?”

“Nasihat dia jelas sekali. Aku terperangkap karena ulahku sendiri. Suaraku merdu, aku bisa bicara. Banyak orang ingin memiliki aku. Dan, pada suatu ketika aku tertangkap ialu dijual kepada Tuanku.”

“Dengan sangat jelas, aku menangkap bahasa isyarat kerabatku di India, “Kalau mau bebas, jangan banyak bicara. Berhenti memamerkan kebolehanmu. Dan kau akan terbebaskan…”

 

Matilah bagi dunia, dan kau akan terbebaskan. Selama ini kita terlalu “hidup bagi dunia. Selama ini kita “mati” bagi roh. Yang kita pikirkan dunia melulu. Yang kita urusi hanyalah dandanan luaran. Keindahan  jiwa hampir tidak terurusi.

Kalaupun kita rajin beribadah, sering kali  hanya untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kita taat pada agama. Ibadah semacam itu masih termasuk “dandan luaran”. Kalaupun kita beramal saleh, itu pun hanya untuk memamerkan keagamaan diri—masih saja “dandanan luaran”.

Pesan burung beo dari India itu sarat dengan makna. Kalau mau bebas, jangan sombong, jangan angkuh, jangan arogan, jangan pamer. Kebebasan itu apa? Bebas dari kesombongan, itulah kebebasan. Bebas  dari rasa angkuh dan arogansi, itulah kebebasan. Bebas dari keinginan untuk menonjolkan diri, itulah kebebasan.

 

Sang Pedagang memahami maksud Burung Beo, “Terima kasih…. Hari ini aku belajar sesuatu yang baru. Kau telah menunjukkan jalan kepadaku. Terima kasih sobatku. Pergilah dengan damai. Semoga Allah melindungimu…”

Dia berpikir dalam hati, “Inilah jalan lurus, jalan yang terang, jalan yang harus kutempuh. Jika seekor burung beo saja dapat menempuhnya, aku pun pasti bisa!”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: