Kutukan terhadap Maharaja Parikshit #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-parikshit-mengalungi-ular

Pada suatu hari ia sedang berburu di hutan dan terpisah dari pasukannya. Dalam keadaan capek clan haus, ia melihat seorang pertapa duduk santai di bawah pohon. Matanya tertutup rapat.

Parikshit menyapanya, “Terimalah sembah sujudku, Resi. Aku Parikshit.”

Sang pertapa rupanya dalam keaclaan trance. Ia tidak menclengar sapaan Parikshit, maka terusiklah ego Parikshit. “Siapa pun dia,” pikir sang Raja, “bagaimanapun dia adalah wargaku. Dia tidak membalas sapaanku, sapaan seorang Raja, Raja Parikshit. Masak iya dia tidak mendengar suaraku? Sungguh kebangetan!”

Tidak jauh dari tempat pertapa bermeditasi, Parikshit melihat seekor ular yang sudah mati. Dikalungilah sang petapa dengan ular yang sudah mati itu. Kemudian la langsung menunggangi kudanya dan meninggalkan tempat itu.

buku-bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

 

Rasa angkuh sungguh membutakan. Parikshit pun menjadi buta untuk sesaat. Dan “sesaat” pun sudah cukup untuk berbuat salah. Seperti seorang pengemudi mobil di jalan tol dengan kecepatan di atas 100 kilometer per jam… hilang kesadarannya selama berapa detik saja, terjadilah kecelakaan.

Karena kebutaannya, Parikshit tidak meIihat putra pertapa itu memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Melihat Parikshit meletakkan seekor ular di leher ayahnya, ia berteriak histeris. Parikshit tidak mendengar teriakannya. Ia sudah pergi.

Pikir si anak ular itu masih hidup, maka ia pun mengutuk Parikshit, “Wahai Raja yang sombong, tujuh hari kemudian kau pun akan tewas dipatuk ular.”

Setelah mengutuk Parikshit ia baru sadar bahwa ular di leher ayahnya sudah mati. Kendati demikian ia tidak menyesali kutukannya. Setelah sang pertapa “kembali” dari alam meditasi, ia malah menceritakan kejadian itu dengan penuh semangat, “…. dam saya mengutuknya, ayah. Biar dia tewas dipatuk ular dalam tujuh hari.

Sang ayah menyesali perbuatan anaknya, “Apa yang telah kau lakukan, Nak? Demikiankah pendidikan yang kuberikan padamu selama ini? Lalu apa bedanya kau sebagai anak seorang pertapa dan dia sebagai seorang satria, seorang raja?

“Amarah dan bahkan keangkuhannya dapat dipahami. Para satria membutuhkan tenaga yang lebih besar daripada kita. Oleh karena itu mereka diperbolehkan makan daging, makan bawang-bawangan, dan apa saja yang menggairahkan serta membangkitkan semangat. Kemudian bila negara dalam keadaan aman sentosa dan mereka berlebihan energi, memburu pun diperkenankan…….”

Demikian para satria zaman itu melakukan catharsis, mengeluarkan energi lebih yang tidak dibutuhkan. Zaman sekarang setiap orang berlebihan energi, kecuali of course mereka yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Energi lebih itu bila tidak disalurkan dengan baik untuk hal-hal yang bermanfaat dan sisanya dikeluarkan, akan menghantam kembali kemanusiaan kita. Kelebihan energi itu dapat memicu insting-insting hewani dalam diri kita untuk melakukan aksi kejahatan, kekerasan, terror, pemboman, dan sebagainya.

Pertapa dalarn kisah kita bukanlah orangtua tanpa kesadaran. Ia tidak mencari pembenaran. Ia tidak membenarkan kutukan anaknya, “Kau telah berbuat salah. Kau telah menggunakan seluruh kekuatanmu untuk mengutuk Parikshit, untik apa? Apa yang kau perolch? Malah kehilangan segala-galanya. Kehilangan kesadaran yang telah kau capai selama ini.

“Bila seorang satria marah, para pertapa wajib memaafkannya. Bila seorang pertapa marah, siapa yang harus memaafkannya? Kutukan bagaikan anak panah yang sudah kau bidikkan dengan segenap kekuatanmu. Kau pun tak mampu mengembalikannya lagi. Sadarlah Nak, sadari kesalahanmu……. Setelah kematianya pun nama Parikshit akan dikenang sepanjang masa, siapa yang akan mengenang namamu?

“Kau telah melanggar svadharma-mu. Dharma atau kewajiban seorang pertapa adalah memaafkan ulah mereka yang tidak sadar. Kau malah membalas ketidaksadaran dengan ketidaksadaran pula.”

Anak pertapa pun menyadari kesalahannya. Memang betul kata ayah dia, kutukannya tidak bisa ditarik kembali. “Tetapi, tetapi…,” pikir dia, “aku bisa menghadap Raja Parikshit. Aku bisa mengakui ketidaksadaran dan kesalahanku. Selanjutnya biarlah dia yang menentukan hukuman apa yang patut kujalani.”

Dengan air mata berlinang dan membasahi pipinya, ia rnencium kaki ayahnya dan mohon pamit untuk segera ke ibukota Hastinapura dan menghadap Raja Parikshit.

Sesampainya di istana Raja Parikshit pun ia menyesali perbuatannya. Dia bahkan ingin segera kembali ke hutan untuk minta maaf atas perbuatannya. Anak pertapa rnendahului niat Sang Raja. Ia bercerita tentang kutukannya, tentang teguran ayahnya dan mengaku bersalah untuksegera dijatuhi hukuman.

Giiliran Parikshit mencucurkan air rnata, “Kutukanmu adalah keberuntunganku, Putra Resi. Kau telah membebaskan aku dari hukuman di kemudian hari, dalam kehidupan berikut, yang bisa jadi lebih mengerikan. Aku telah menghina seorang Resi, seorang pertapa yang sedang bermeditasi. Kutukanmu sungguh sangat ringan dibanding dengan perbuatanku yang menjijikkan itu.”

Lebih-lebih lagi Putra Resi, aku pun berterima kasih karena kau menyempatkan diri untuk datang ke Hastinapur. Untuk menyampaikan berita tentang kematianku, sehingga aku masih sempat mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Apa yang terjadi bila aku mati mendadak tanpa persiapan, apalagi dengan beban dosa yang kupikul?”

Parikshit memeluk Putra Resi dan mencium dahinya, “Kau bagaikan Dewa, Utusan Keberadaan untuk menyampaikan berita yang tidak mungkin disampaikan oleh manusia.”

Kisah ini dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: