Pengusaha yang Bangkrut Karena Serakah, Kisah #Masnawi

buku-masnawi-2-kesadaran-restoran

Seorang pengusaha yang bangkrut dijatuhi hukuman penjara, karena tidak mampu melunasi hutang-hutangnya. Di dalam penjara pun, dia meresahkan para narapidana yang lain. Karena keserakahannya, dia mencuri makanan yang sudah dijatahkan untuk orang lain.

Rumi sedang ‘menyimpulkan’ sesuatu, yang membuat orang menjadi ‘bangkrut’ itu apa? Yang membuatnya menjadi ‘miskin’ itu apa? Dengarkan:

Seorang yang tidak ikut serta dalam Pesta Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi serakah. Lalu keserakahannya membuat dia menjadi bangkrut, miskin. Walaupun menguasai kerajaan dunia, seorang sultan yang serakah pun sesungguhnya sangat miskin.

Tidak ikut dalam Pesta-Nya berarti tidak menerima undangan-Nya. Bukan karena Anda tidak dikirimi undangan, tetapi karena Anda memilih untuk tidak menerimanya. Kalaupun menerima undangan-Nya, Anda tidak menghadiri Pesta-Nya.

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak memikirkan ‘soal dapur’ lagi. Untuk apa memikirkan ‘soal dapur’? Bukankah Dia telah mengundang Anda untuk makan di Rumah-Nya?

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak mangurusi ‘makanan;. Untuk apa mengurusi ‘makanan’? Bukankah Dia telah mengurus semuanya?

Sementara ini kita masih ber-‘kesadaran-restoran’. Masih membedakan antara ‘Mie Cina’ dan ‘Mie Jawa’. Mau ini, tidak mau itu. Mau itu, tidak mau ini. Dengan ‘kesadaran-restoran’ seperti itu, kita tidak bisa menghadiri Pesta-Nya. Di Pesta, kemauan Dia haruslah menjadi kemauan kita. Apa pun yang dia suguhkan kita terima.

Seseorang pernah menanggapi saya, ‘Kalau begitu, saya pilih ber-‘kesadaran-restoran’ saka. Saya bisa memilih. Di Pesta-Nya tidak ada pilihan.’

Demilaianlah adanya. Mereka yang masih ber-‘kesadaran-restoran’ akan menolak undangan-Nya. ‘Untuk apa?’, pikir mereka. ‘Entah di sana ada makanan kesukaanku atau tidak, lebih baik makan di restoran saja.’

Tidak ada yang bisa mendesak Anda untuk melampaui ‘kesadaran-restoran’ dan berpesta bersama Dia. Para nabi, para mesias,para avatar dan para buddha hanya bisa merayu Anda, ‘Restoran yang kau datangi itu tidak ada apa-apanya. Di Pesta Dia semuanya berkelimpahan. Daftar makanan di restoran yang kau datangi itu masih belum apa-apa. Di Pesta Dia lebih banyak macam makanan.’

Anda tidak percaya. Anda minta bukti, Coba, perlihatkan daftar makanan Pesta Dia. Aku mau periksa dulu, mana yang lebih lengkap.’

Anda betul-betul keterlaluan. Sudah diundang untuk menghadiri pesta, bukannya berterima kasih. Malah mau melihat daftar makanannya terlebih dahulu. Para rasul pun bingung, tetapi karena kasih mereka terhadap Anda, maka ‘turunlah’ Al-Quran, Alkitab, Zend-Avesta, Dhammapada, dan Veda.

buku-masnawi-2

Cover Buku Masnawi Dua

‘Ini lho, lihat sendiri daftarnya. Lebih lengkap bukan?’

Anda masih saja ragu-ragu, ‘Tetapi bagaimana mempercayai kalian?  ‘Restoran-Dunia’ ini sudah sering aku kunjungi. Aku tahu persis, apa saja yang mereka sajikan, lagipularasa makanan di sini sudah pas banget dengan selera lidahku.’

Mereka tidak putus asa dan masih saja merayu Anda, ‘Itu sebabnya, engkau harus sekali-kali mencoba yang lain. Sudah terlalu lama di dunia, jiwamu sudah karatan. Seleramu sudah rusak. Yakinilah kami, karena dulunya kami pun persis seperti kalian. Jiwa kami pun sudah karatan, selera kami pun sudah rusak. Kemudian, kami menerima undangan Dia dan mendatangi Pesta-Nya. Ternyata, ah, ah, ah ….. .’

Lebih dari itu, mereka pun tidak bisa menjelaskan. Di balik ‘Ah’ ada apa—sudah tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Kemudian, ada pemberani yang maju ke depan, ‘Rasul Allah, ajaklah aku lee Pesta-Nya. Aku meyakini engkau. Aku meyakini kata-katamu.’ Pemberani seperti inilah yang disebut seorang Muslim. Seseorang yang menerima ajakan Rasul Allah dan menghadiri Pesta Allah, seseorang yang menerima Kehendak Allah!

Mereka yang masih mempertahankan ‘kesadaran-restoran’ adalah kafir. Mereka tidak menerima ajakan para rasul, para nabi, para wali, para mesias, para avatar dan para buddha. Mereka tidak menghadiri Pesta Allah.

Pengusaha bangkrut dalam kisah ini menjadi miskin karena ‘kesadaran-restoran’-nya. Dia tidak menghadiri Pesta Allah. Dia tidak tahu bahwa di sana dia bisa makan sepuasnya, dan tidak perlu merampas jatah orang lain.

Melanjutkan kisah ini:

Karena sudah tidak tahan lagi dengan ulah pengusaha yang bangkrut itu, para narapidana melaporkan dia kepada Hakim Agung. Dan, Si Pengusaha pun dipanggil untuk memberi keterangan.

‘Aku hanya mengikuti pcrintah Allah. Ada ayat yang berbunyi, “Makanlah engkau!” Maka aku tidak pernah berhenti makan.” Demikian dalilnya.

Para narapidana lain mulai berteriak histeris, ‘Keadilan. Beri kami keadilan, Hakim. Dia hanya mencari pembenaran atas kelemahan dan atas keserakahannya.’

Sang Hakim pun menyadari bahwa keberadaan Si Pengusaha itu di dalam penjara akan mencelakakan para penghuni yang lain. Maka, dia dibebaskan, ‘Sudahlah, engkau tidak perlu mencari pembenaran. Tinggalkan penjara ini dan kembalilah ke rumahmu sendiri. Biarkan para narapidana lain hidup tcnang.’

Si Pengusaha mcnjawab, ‘Aku tidak punya rumah, aku harus ke mana lagi? Penjara inilah rumahku, jannat-ku, sorgaku. Jangan menyuruh aku untuk meninggalkan tempat ini. Sesungguhnya, bila aku memakan jatah mereka, itu bukan tanpa tujuan. Keinginanku hanya satu, harapanku hanya satu, yaitu dalam keadaan seperti itu, biarlah mereka mengingat Allah.’

Pengusaha dalam kisah ini sungguh licik. Untuk menutupi kesalahan, kelemahan, dan keserakahannya, dalil dia ‘terasa’ sangat spiritual. Tetapi, hakim dalam kisah ini sangat bijak. Dia tidak terkecoh, tidak tertipu. Dengarkan nasihat Rumi:

(Menghadapi orang seperri pengusaha itu) berdoalah agar Allah melindungi engkau. Agar Dia melindungi jiwamu dari lidahnya yang licik’

Sang Hakim tetap saja mengeluarkan dia dari penjara. Dan mengedarkan pengumuman tentang kelicikan pengusaha yang bangkrut  itu, supaya warga kota yang polos dan lugu tidak tertipu oleh dia. ‘Berhati-hatiIah, wahai warga kota. Jangan mempercayai mulutnya yang manis, kata-katanya yang muluk. Dia sangat licik. Dan, karena kelicikannya itu, sesungguhnya dia tidak lebih baik daripada seorang kafir. Seorang kafir memuja berhala. Orang ini menempatkan otak, pikiran dan kelicikannya di atas Tuhan. Dua-duanya sama.

‘Walaupun dia hafal seluruh isi kitab suci, apa gunanya? Seperti halnya orang yang memiliki pelana, padahal keledainya sudah hilang. Selama masih ada keledai, pelana pun berguna. Bila sudah tidak memiliki keledai, untuk apa menyimpan pelana?’

Jangan terbiasa memakan sesuatu yang masih mentah. Apa yang akan kau makan, hendaknya dimasak dulu.

Apa gunanya mencari pembenaran (dari kitabsuci)? Mencari pembenaran (untuk menutupi diri) membuat kamu menjadi munafik.

Saya dengar ada juga Lembaga-lembaga pendidikan agama yang mengharuskan para siswanya menghafal kitab suci. Sekian banyak bab, sekian banyak ayat, setiap semester. Tidak ada gunanya hafalan tanpa pemahaman yang mempengaruhi hidup sehari-hari. Tanpa pemahaman seperti itu hafalan hanya membuat anda seperti burung beo.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: