Kemuliaan Kematian Maharaja Khatvanga, Kisah #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-khatvanga

Kenyamanan sebagai budak atau kebebasan dari kelahiran ulang?

“Jiwa manusia yang hidup dalam sangkar dunia. Benda-benda duniawi yang memperbudak kita ibarat majikan yang murah hati. Hidup kita dalam sangkar dunia ini cukup nyaman. Barang-barang keperluan sudah tersedia. Malah ditanyai, ‘Mau apa lagi?’ Para budak yang menyampaikan keinginan mereka—‘Aku butuh ini. Aku perlu itu.’ Sangat tidak sadar. Mereka sudah terbiasa diperbudak.

“Kisah ini membutuhkan perenungan yang amat sangat mendalam. Sikap kita selama ini, tidak lebih baik daripada para budak. Kita berdoa untuk apa? Untuk memohon rejeki, pangkat, kesehatan, jodoh, memohon ini, memohon itu. Semuanya itu akan membuat hidup kita nyaman. Tetapi, hidup sebagai apa? Hidup sebagai budak. Hidup di mana? Hidup di dalam sangkar.

“Kita tidak pernah berdoa untuk memohon pembebasan dari sangkar dunia. Kita lupa bahwa hidup bebas di luar sana jauh berarti daripada hidup nyaman dalam sangkar. Pilihannya memang itu saja—hidup bebas atau hidup nyaman. Dan, para budak memilih hidup nyaman. Mereka yang diperbudak oleh panca indera, oleh hawa napsu, akan selalu memilih hidup nyaman. Hanya satu dua orang di antara kita yang menyadari arti kebebasan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Salah satu orang yang menyadari arti kebebasan itu adalah Raja Khatvanga seperti diungkapkan Rishi Shuka kepada Parikshit………

 

Rishi Shuka berkata kepada Parikshit

Pertanyaan  yang sungguh mulia, wahai Raja. Biasanya manusia yang terikat pada objek-objek di luar. Tubuhnya yang gampang rusak ini dianggap sebagai diri mereka. Mereka hanya mencari tahu apa yang akan membuat mereka lebih senang atau nikmat.

Mengingat Krishna atau Narayana pada saat kematian – adalah tujuan sejati kehidupan seorang – yang dapat dilakukan dengan melakoni yoga atau hidup yang benar. Apa gunanya hidup panjang bagi seseorang yang mengabaikan keselamatannya sendiri? Ketika kematian mendekat seseorang harus memutuskan semua keterikatan bahkan pada badannya. Dia harus menyepi di suatu tempat yang suci, dan duduk mengucapkan kata “Om”. Dia harus bermeditasi pada Tuhan dengan penuh cinta dan devosi sehingga dia tidak memikirkan yang lain lagi. Meditasi seperti itu menghancurkan ketidakmurniannya dan membanjirinya dengan kegairahan cinta ilahi atau bhakti. Dia akan mencapai penyatuan dengan Tuhan.

 

Raja Khatvanga hanya punya waktu 1 muhurta sebelum kematian menjemputnya

Pada suatu ketika terjadi peperangan antara para dewa melawan para asura. Para dewa minta pertolongan Maharaja Khatvanga agar membantu mereka melawan pasukan asura. Sang maharaja memimpin pasukan kerajaan bersama pasukan dewa yang akhirnya dapat mengalahkan pasukan asura.

Para dewa kemudian berkata pada sang raja, “Kami akan memberikan anugerah apa pun yang Raja inginkan.”

Sang Raja mengatakan, “Saya ingin selamat dari dunia ini, dan saya ingin melayani Narayana.”

Para dewa mengatakan, “Kami tidak mampu memberikan itu, Raja dapat meminta anugerah yang lain.”

Raja kemudian berkata, “Kalau demikian baiklah, kalian harus memberitahu saya ketika kematian saya akan datang.”

Para dewa menjawab, “Begitulah, kami akan memberitahu dalam waktu 1 muhurta (48 menit) sebelum kematian raja.”

Waktu berlalu demikian cepat, sampailah saatnya Khatvanga diberitahu bahwa 1 muhurta lagi dia maut akan menjemputnya.

Raja Khatvanga, bermeditasi pada Narayana dengan penuh cinta dan devosi sehingga dia tidak memikirkan yang lain lagi. Meditasi tersebut membakar ketidakmurniannya dan melimpahi dirinya dengan kegairahan cinta ilahi atau bhakti. Sang Raja mencapai penyatuan dengan Narayana.

Rishi Shuka berkata kepada Parikshit, seminggu sebelum kematian sudah cukup mempersiapkan diri, Raja Khatvanga hanya membutuhkan persiapan 1 muhurta (48 menit).

 

Bagaimana dengan kita yang tidak tahu kapan ajal menjemput kita?

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 9:32 disampaikan:

Saat malaikat maut datang untuk menjemput kita; saat Dewa Yama mengetuk pintu rumah kita — coba berusaha untuk menghindarinya untuk satu detik saja. Tidak bisa. Saat itu tidak ada alasan sibuk. Siapkah kita untuk itu? Jika tidak mau menderita saat itu, tidak mau beraduh-aduh, maka  perjalanan batin kita mesti dimulai saat ini juga.

Perjalanan batin tidak beda dari perjalanan hidup. Tidak ada dua jalan yang mesti ditempuh. Perjalanan batin adalah perjalanan hidup biasa sehari-hari, tapi dengan warna batiniah, di mana kemuliaan – bukan kesenangan sesaat – yang menjadi warna hidup.

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

 

Para Yogi, para praktisi Yoga mengetahui pertanda-pertanda kematian mereka

“PENGETAHUAN TENTANG KEMATIAN lewat pertanda-pertanda alam. Tentu pertanda yang paling jelas adalah yang Anda terima lewat badan Anda sendiri.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh membahas hal ini, perlu kita ingat bahwa Patanjali sedang berbicara dengan para Yogi, para praktisi Yoga. Ini mesti jelas dan selalu diingat.

Jadi, jika kita tidak melakoni Yoga dan hanya membaca buku ini, hasilnya adalah nol besar. Nihil. Kita tidak akan mampu membaca pertanda-pertanda alam, walau telah disampaikan berulang-ulang.

KITA PERNAH MEMBAHAS HAL INI DI BUKU LAIN. Proses kematian mirip sekali dengan proses kelahiran. Sebagaimana kelahiran membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, kematian pun sama. Ya, proses kematian pun terjadi selama sembilan bulan. Seorang Yogi bisa mengetahui hal ini. Ia bisa merasakan proses prana atau aliran kehidupan menarik diri dari setiap anggota badan secara bertahap, satu per satu.

Awalnya bagian kaki akan terasa rnelemah, melemah secara merata. Bukan lemah karena sakit, tapi lemah karena aliran kehidupan sudah mulai berpamitan.

Proses ini berjalan hingga +/- 9 bulan—walau seorang Yogi bisa juga memilih untuk mempercepatnya. Lagi-lagi, semua ini berlaku bagi para Yogi.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Advertisements

One Response to “Kemuliaan Kematian Maharaja Khatvanga, Kisah #SrimadBhagavatam”

  1. […] Dalam garis keturunan Asmaka, lahir raja bijak Khatvanga yang dapat mencapai Gusti Pangeran dalam waktu satu muhurta, 48 menit saja. Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/21/kemuliaan-kematian-maharaja-khatvanga-… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: