Kisah Para Pemakan Anak Gajah #Masnawi

buku-masnawi-3-anak-gajah

Konon seorang bijak di India melihat empat orang berdatangan dari jauh. Baju mereka compang-camping dan mereka tampak lapar sekali. Maka sang bijak menasihati mereka, “Dalam perjalanan mungkin kalian akan bertemu dengan seekor anak gajah yang masih muda. Dia terpisah dari induknya. Walaupun tidak bisa menahan rasa lapar, janganlah kalian terbawa nafsu dan membunuh anak gajah itu. Induknya pasti mengamuk dan mengejar kalian.”

 

Seperti biasa, Rumi membelok lagi:

Para suci adalah kekasih Allah. Jangan pikir mereka terpisah dari Allah. Di mana pun mereka berada, Allah melindungi mereka. Jangan meremehkan rnereka. Lihat, apa yang terjadi pada Fir‘aun. Tongkat seorang Musa bisa menaklukkan dia. Siapa yang menyebabkan hal itu terjadi?

 

Siapa lagi kalau bukan Tuhan, Allah?

Anak gajah dalam kisah ini ibarat seorang darvish, seorang pir seorang wali, seorang nabi. Si bijak dari India sudah memberikan peringatan, “Jangan mengganggu seorang darvish, seorang pir, seorang wali. Karena mereka tidak terpisah dari Allah.”

Dengarkan lanjutan kisah ini:

buku-masnawi-3-buku-spiritual

Tampaknya mereka tidak begitu memperdulikan nasihat si bijak dari India. Maka si bijak yang berhati tulus itu menegaskan kembali, “Dengarkan nasihatku, isilah perut kalian dengan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Jangan mengejar dan membunuh anak gajah itu. Dengarkan pesanku, ikutilah nasihatku. Sehingga kalian terhindar dari penyesalan di belakang hari.”

 

Jangan menahan rasa lapar. Penahanan rasa lapar membuat anda menjadi serakah. Apa yang terjadi ketika anda rnengikuti diet ketat untuk menurunkan berat badan, misalnya? Anda menahan rasa lapar. Makan sekali, atau bahkan makan nasi hanya dua-tiga hari sekali. Sepertinya, anda berhasil mengurangi makanan. Saya katakan, “sepertinya”. Karena “sesungguhnya” anda hanya mengurangi “frekuensi” makan. Dua-tiga hari sekali ketika anda makan nasi, porsi anda jauh melebihi porsi biasa.

Itulah sebabnya, puasa selalu dikaitkan dengan agama, dengan keagamaan, dengan religiusitas, dengan “kesadaran”. Dengan penuh kesadaran, berupayalah untuk “mengendalikan diri”. Tidak memaksa diri, tidak menahan diri. Tetapi mengendalikan diri. Dan “pengendalian diri” hanya terjadi bilamana anda melakukannya dengan penuh kesadaran.

Empat orang berpakaian compang-camping dalam kisah ini tidak tahu-menahu tentang pengendalian diri. Mereka hanya menahan lapar. Mereka “berpuasa”, tetapi puasa mereka tidak religius. Mereka tidak melakukannya dengan kesadaran. Itu sebabnya mereka tidak menghiraukan nasihat orang bijak. Sang pembawa pesan melewati mereka begitu saja. Mereka tidak mengenalinya.

 

Tidak lama kemudian, mereka memang melihat anak gajah itu. Maka tiga di antara mereka tidak bisa menahan diri lagi. Mereka menangkap anak gajah itu, membunuhnya dan memakan dagingnya. Hanya satu di antara mereka yang bisa mengendalikan diri, yang masih ingat pesan sang bijak. Dia tidak terlibat dalam penangkapan dan pembunuhan. Tidak pula menyentuh daging anak gajah itu.

Seusai makan, tiga orang itu tertidur. Hanya satu yang tidak bisa tidur, dia yang bisa mengendalikan dirinya. Tengah malam, datanglah gajah betina yang kehilangan anaknya. Sepertinya dia sudah mengetahui nasib anaknya. Maka dia mendekati orang yang masih terjaga, mencium bau mulutnya, dan melewati dia. Kemudian, satu per satu dia mencium bau mulut tiga orang yang tertidur lelap. Dia mengenali bau badan anaknya, mengamuk, dan tiga-tiganya dibunuh saat itu juga.

Bau keangkuhan, keserakahan, dan lain sebagainya, persis seperti bau bawang merah dan bawang putih. Bagaimana menghilangkannya? Apa gunanya berbohong bahwa engkau tidak makan bawang. Baru membuka mulut sedikit saja, bau bawangnya sudah tercium. Belum berbohong, sudah ketangkap.

Banyak sekali doa yang tidak diterima, karena bau tidak sedap yang berasal dari hati manusia. Sebaliknya, jika hatimu bersih, jiwamu tulus, maka doa yang diucapkan salah-salah pun akan diterima-Nya.

 

Melalui kisah ini Rumi juga ingin mengingatkan, bahwa tak seorang pun dapat memungkiri berbagai perbuatan yang telah dia lakukan selama hidupnya, perbuatan baik maupun buruk. Aroma mereka, anggota tubuh mereka akan menceritakan apa yang sebenarnya diperbuat, dan mulut mereka akan terkunci rapat tidak mampu menolak atau memungkiri aroma (penjelasan anggota) tubuh tadi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: