Munculnya Brahma Sang Pencipta dengan Alat Canggih Avidya #SrimadBhagavatam

buku-bhagavatam-brahmaa

Banyak sekali versi Genesis, Kejadian atau Penciptaan yang kita temukan dalam tradisi India Kuno. Versi-versi itu bisa saling bertentangan. Jalur ceritanya bisa berbeda sama sekali, walau intinya tidak pernah berubah….. yaitu “keinginan” sebagai dasar segala kejadian.

Versi yang diberikan dalam Shrimad Bhagavatam indah sekali: Konon yang muncul pertama adalah Sang Pencipta. Istilah “muncul” yang digunakan dalam kitab itu sungguh menarik. Berarti sebelum munculnya Sang Pencipta, Keberadaan sudah ada. Oleh karena itu dalam tradisi India Kuno, penciptaan bukanlah sesuatu yang iuar biasa. Penciptaan hanyalah satu dari sekian banyak aspek Keberadaan. Tuhan atau Brahman berada jauh di atas aspek-aspek itu.

Sang Pencipta atau Brahmaa yang baru muncul (bukan Brahman atau Tuhan) bingung! Ya, Sang Pencipta pun sempat bingung: “Apa yang harus saya lakukan?”

buku-bhaja-govindam-500x500

Cover Buku Bhaja Govindam

Munculnya Sang Pencipta atau Brahmaa “kali ini” setelah kiamat “terakhir”. Bagi Orang India, “kiamat” bukanlah kejadian sekali. Kiamat sudah pernah terjadi dan akan terulangi lagi dan bukan sekali dua kali saja, tetapi berulang kali. Bahkan dalam tradisi India dikenal tiga macam kiamat atau pralaya—saat dunia benda terurai kembali dalam lima unsur alami, yaitu, api, air, angin, tanah dan ruang, dan waktu tak terdeteksi lagi. Di antara tiga macam kiarnat itu ada yang disebut kiamat mini… saat kita tidur misalnya; itulah saatnya terjadi kiamat mini. Karena saat itu kita kehilangan sense of time, waktu tak terasa lagi.

Kiamat kcdua adalah kiamat yang dirasakan oleh Sang Pencipta. Ketika ciptaannya terurai secara menyeluruh, terjadilah kiamat dunia. Kiamat inilah yang biasa dibicarakan dalam kitab-kitab agama. $aat itu, Sang Pencipta pun kehilangan jejak waktu. Scperti orang yang baru bangun tidur, ia mengalami amnesia sesaat. Ia lupa, “Apa yah, apa yah…?” Tapi sebentar saja, tak lama kemudian: “Oh ya!”

Kiamat ketiga adalah kiamat total, ketika bukan saja galaksi kita, tetapi seluruh alam semesta terurai. Tak ada lagi yang memisahkan langit dari bumi, gelap dari terang. Entah kapan terjadinya itu, walau manusia India percaya bahwa fenomena itu pun sudah terjadi berulang kali.

Kembali pada kiamat kedua, kiamat yang dialami oleh Sang Pencipta…

“Oh ya…” Tak lama kemudian, ada yang menyadarkan dirinya. Terdengarlah suara “Ta…” Suara itu terasa familiar, Ia pun berusaha untuk mengingat kembali maknanya. “Pa…” Terdengarlah suara kedua dan Sang Pencipta pun menggabungkan kedua suara itu….. “Tapa…… Ya, ya, ya, Tapa….”

Ia memahami maknanya, “Aku harus berupaya duduk diam untuk menemukan jatidiriku. Untuk memahami maksud keberadaanku.”

“Siapa aku?

Aku berasal dari mana?

Apa maksud keberadaanku?

Apa pula yang sedang kutuju?

Itulah pertanyaan-pertanyaan awal yang muncul dalam benak Sang Pencipta. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pula yang harus muncul dalam benak scorang calon meditator. Inilah pertanyaan-pertanyaan esensial yang menjadi “sebab” meditasi.

Dalam keheningan dirinya, Sang Pencipta atau Brahmaa menemukan alat canggih untuk melakukan penciptaan, yaitu avidyaa atau Ketidaktahuan. Ketidaktahuan dijadikannya sebagai katalisator untuk penciptaan. Namun demikian makhluk-makhluk pertama yang tercipta tidak membutuhkan waktu lama untuk melampaui ketidaktahuan diri. Dan, proses penciptaan pun mengalami kemandegan.

Brahmaa merenung lagi: “Avidyaa harus menciptakan ilusi berat, sehingga makhluk-makhluk yang tercipta terdorong untuk maju ke depan, tidak mundur ke belakang dan menyatu kembali dengan Sumber Segala Ciptaan.”

Maka Avidyaa pun bercabang menjadi: Pertama—tamisra atau ”amarah”. Amarah memboroskan energi manusia dan melumpuhkan semangatnya. Ia mematahkan sayapnya, sehingga manusia betah di dunia dan hanya bisa berkhayal tentang surga. Kepercayaan-kepercayaan manusia lahir dari keadaan yang tercipta karena tamisra.

Kedua—andastamira atau “ilusi, kepercayaan keliru bahwa kematian adalah titik akhir”. Ilusi yang satu ini menyebabkan manusia berlomba untuk meraih sukses. Keinginan untuk menjadi pemenang, menjadi nomer satu dan meraih penghargaan berasal dari ilusi yang satu ini.

Ketiga—tamas atau ”tidak mengenali diri”. Ketidaktahuan tentang jatidiri itulah tamas. Karena tidak tahu sebenarnya aku siapa, pada lapisan kesadaran terendah “apa yang kumiliki kuanggap diriku”. Kadang aku mengidentifikasikan diri dengan nama keluarga yang kumiliki, kadang dengan kcdudukan sosial, kadang dengan jabatan, kadang dengan profesi….. kadang dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan perasaan….. Padahal semua itu bukanlah aku. Semua itu hanya kejadian-kejadian pada diriku, pengalaman-pengalaman yang kualami. Aku siapa? Selama aku belum mengenal diri, secuil alam yang disebut dunia pun kuanggap diriku.

Keempat—moha atau “keterikatan dengan dunia benda”, atau dengan apa saja. Untuk mempertahankan “apa yang kumiliki”, atau apa yang dapat kumiliki, kepentingan orang lain dapat kuabaikan. Asal aku jaya, pusing amat kau mau jadi apa!

Kelima—maha moha atau keterikatan yang lebih besar lagi, keterikatan maha—yaitu, “keterikatan pada kenikmatan”. We all crave for enjoyment, padahal kenikmatan yang kita dambakan itu belum tentu membahagiakan. Kenikmatan dirasakan oleh pancaindra. Dan, kemampuan panca indera untuk menikmati sesuatu sungguh sangat terbatas. Hingga usia 30-an tahun, banyak di antara kita menikmati makan cokelat. Sekarang, makan manis sedikit saja kadar gula naik tidak keruan. Kemudian bila keinginan untuk makan cokelat masih ada, muncullah derita. Keinginan ada, kemampuan tak ada lagi. Nafsu gede, tenaga kurang.

Dalam ketidaktahuannya atau avidyaa, manusia menciptakan konsep-konsep tentang Tuhan, tentang tatacara keagamaan, bahkan tentang kenikmatan surga dan penderitaan neraka. Jangan lupa, bahwa avidyaa itulah alat Sang Pencipta demi berputarnya roda dunia. Dan, keinginan untuk mencipta adalah bahan bakar yang digunakannya untuk menjalankan mesin dunia.

Sekarang apa mau kita?

Apa mau anda?

Mau tetap berada di “sini”, manfaatkanlah avidyaa beserta kaki-tangannya, tamisra, andastamira, tamas, moha, dan maha-moha. Anda tidak perlu tahu apa dan siapa sesungguhnya Anda. Anda tidak perlu tahu banyak tentang roh dan hal-hal yang bersifat rohani. Cukup sudah bila Anda menjalankan ritual keagamaan, meraih sedikit pengetahuan dengan menggunakan otak Anda, mengharapkan kenikmatan di dunia ini dan di alam sana—cukup, cukup sudah!

Tapi, bila kita mau keluar dari lingkaran ini, kita harus melampaui avidyaa. Kita harus melampaui ciptaan, dan bahkan Sang Pencipta. Untuk itu gunakan pintu terdekat, pintu maha-moha, gerbang kenikmatan. Janganlah kita berhenti di gerbang kenikmatan. Kenikmatan dunia dan kenikmatan surga, dua-duanya mengikat jiwa kita. Dua-duanya menciptakan ilusi dan menjauhkan dirimu dari Diri-Mu.

Mereka yang sibuk menafsirkan agama dan keagamaan terjebak dalarn avidyaa. Mereka yang menggunakan agama sebagai wahana untuk mencapai Allah terbebaskan dari avidyaa.

Ada yang bertanya pada Rabiah, ”Kau tidak mencintai….?”

Rabiah menjawab, ”Hatiku cuma satu, dan yang satu itu telah kuberikan kepada Allah. Mau mencintai siapa? Dengan apa?”

Untuk mencapai Yang Satu itu, segala keinginan harus terlampaui. Keinginan untuk mencapai-Nya pun harus kita lampaui, dan saat itu juga tiba tiba…. Tanpa kita sadari, kita akan mencapai-Nya.

Keinginan berasal dari ketidaktahuan bahwa apa yang kira inginkan itu sesungguhnya tidak perlu kita inginkan. Kita tidak pernah berpisah dari apa yang kita inginkan, sehingga apa pula yang perlu kita inginkan? Keinginan justru menciptakan ilusi dualitas, krisis identitas. Yang satu terlihat dua.keinginan menciptakan penyakit double vision.

Kisah ini dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: