4 Pelajaran Awal Tilopa kepada Naropa, Kisah dalam #TantraYoga

buku-tantra-yoga-festival-naropa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dan mulailah pengembaraan Naropa….

Selama lebih dari satu tahun, dia keliling India. Dari selatan ke utara, kemudian ke arah timur. Modalnya hanya satu — intuisi, ilham, karena tak seorang pun bisa memberi petunjuk tentang Tilopa, tak seorang pun pernah dengar nama itu. Naropa tidak putus asa. Dia mencari terus.

Banyak pengalaman yang diperolehnya dalam perjalanan. Ada beberapa yang sangat menarik:

Pertama, dia bertemu dengan seorang wanita tua berpenyakit kusta. Melihat Naropa, dia menegurnya: “Sepertinya kamu seorang Brahmana. Mau ke mana?”

“Sedang mencari seseorang bernama Tilopa.”  jawab Naropa.

“Ah, Tilopa!” — dari cara wanita itu menyaut dan menyebut nama Tilopa, Naropa pikir dia mengenalinya.

“Kamu kenal dia?” — tanya Naropa.

“Tidak, tidak. Siapa yang mau berkenalan dengan saya? Sudah tua, berpenyakit kusta lagi. Sudah dua hari aku mencari seseorang yang bisa menggantikan perban di kakiku. Tidak ada yang bersedia. Takut ketularan penyakitku.”

Naropa cepat-cepat menyalami dia dan melanjutkan perjalanannya. “Tidak,” – pikir dia, “Aku pun tidak akan mengganti perbanmu. Kalau ketular ….”

Baru berjalan sebentar, dari belakang ada yang memanggil nama dia: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa menoleh ke belakang, ”Jangan, jangan…..” Eh betul, wanita tua itu sudah lenyap. Berarti dia Tilopa. Menyamar sebagai wanita tua berpenyakit kusta.

Naropa menyesali ketidakpeduliannya terhadap penderitaan orang lain. Sang Mursyid, Sang Guru, Tilopa sudah mulai memberi pelajaran kepada Naropa. Peduli terhadap penderitaan orang lain — itulah pelajaran pertama yang diperolehnya.

buku-tantra-yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Selanjutnya, selama berbulan-bulan — Naropa akan mendekati setiap orang sakit yang dijumpainya dalam perjalanan. Dia akan membantu mereka, mendengarkan kisah mereka. Berupaya untuk meringankan penderitaan mereka. Tetapi sernua itu dia lakukan dengan harapan, “Siapa tahu, Tilopa ada di antara mercka.” Ternyata tidak ada. Murid Iain akan putus asa. Naropa tidak putus asa. Dia melanjurkan pengembaraannya.

Pada suatu hari, Naropa digonggongi oleh seekor anjing. Anjing biasa, anjing jalanan. Kemana pun Naropa pergi, dia akan membuntutinya. Menggonggonginya. Tidak melakukan apa-apa lagi. Cuma menggonggongi dan membuntuti Naropa. Eh, Naropa kesal juga. Dilempari batu. Kena kaki anjing dan keluar darah. Tetapi langsung diam. Naropa baru menoleh ke depan, ada yang menegurnya: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me.”

Suara sama, suara Tilopa. Ternyata anjing itu pun ….. Ya, seorang Mursyid bisa melakukan apa saja, bisa “menjadi” apa saja — demi kebaikan muridnya.

Naropa pun sadar bahwa dia tidak boleh membedakan hewan dari manusia. Kasih dia terhadap semua makhluk hidup harus sama dan sebanding. Lagipula, anjing itu kan hanya menggonggongi dia, hanya membuntuti dia. Tidak melukai dia, tidak melakukan apa-apa. Kenapa harus dilempari batu? Itulah pelajaran kedua yang diperolehnya.

Tidak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang penjual kayu. Naropa bertanya, “Apakah kamu pernah mendengar nama Tilopa?” Saat itu Naropa berada di Bengal, dan somehow dia yakin bahwa akan bertemu dengan Tilopa di negara bagian terscbut. Si penjual kayu malah bertanya kembali, “Untuk apa mencari Tilopa?”

“Aku ingin berguru…. Ingin belajar di bawah bimbingannya?” – jawab Nampa.

“Pelajaran itu beban. Persis seperti kayu yang kupikul. Aku masih bisa menjual kayu ini. Bisa memperoleh uang. Engkau bisa dapat apa? Kalau sudah belajar, mau diapakan pelajaran itu?”

Naropa sempat kesal. Terus berpikir kembali,

“Untuk apa berdebat dengan orang bodoh?” Maka dia menyalaminya dan hendak pergi.

Baru mau jalan. … orang itu lenyap. Terdengar kembali suara yang ia kenal: “Naropa, Naropa aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

“Wah, goblok benar aku.” – pikir Naropa. Setiap kali nggak ngenalin Sang Guru. Pelajaran ketiga bagi dia — jangan menganggap remeh siapa pun juga.

buku-tantra-yoga-di-leh-ladakh

Foto rombongan tahun 2008 di Vihara Hemis Leh dengan latar belakang Gambar Naropa

 

Naropa melanjutkan perjalanan dan pencariannya. Pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang penjaga tempat perabuan mayat. Dia sedang meremukkan tulang-tulang yang tidak terbakar. Biasanya abu dan sisa tulang itu akan dihanyutkan ke dalam sungai. Yang aneh, Naropa melihat ratusan tengkorak: “Begitu banyak orang yang meninggal pada hari yang sama?”

“Ya, ya — banyak sekali. Mau bantu?” — tanya si penjaga.

“Ogah ah, pikir Naropa.” Dan baru mau melanjutkan perjalanan, si penjaga lenyap. Naropa mendengar suara Tilopa: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keempat: Pekerjaan adalah pekerjaan. Jangan menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain.

Seorang penjaga tempat perabuan sedang bekerja demi sesuap nasi. Dia sedang mencari nafkah. Seorang Naropa sedang mencari pencerahan. Setiap orang sedang mencari. Dan selama pencarian kita belum berhenti, kita semua sama. Yang sedang mencari harta, takhta, dan wanita, kita anggap orang biasa. Manusia biasa. Yang sedang mencari pencerahan, kesadaran, Tuhan, kita anggap manusia Iuar biasa. Orang hebat. Padahal sami mawon. Semuanya masih lapar. Masih belum kenyang.

Tidak lama kemudian…….. berlanjut…….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: