4 Pelajaran Lanjutan Tilopa kepada Naropa dalam Kisah #TantraYoga

buku-tantra-yoga-festival-di-hemis-gompa

Festival Tahunan Naropa di Vihara Hemis Leh Himalaya

Dia melihat orang dengan kedua kaki dan tangannya terikat. Tergeletak di atas rumput. Sementara clua orang lagi sedang menyiksa dia. Sudah pasti, mereka juga yang mengikatnya. Naropa mendekati mereka, “Apa-apaan kalian?”

Bukan urusanmu.” – jawab salah satu di antara mereka.

Astaga, ternyata orang yang tergeletak itu dibuka perutnya. Darah di mana-mana. Ususnya sudah di luar perut dan sedang dicuci oleh kcdua orang yang mengikatnya.

“Aach…. Kalian bukan manusia…….”

Naropa menyumpahi mereka, dan melanjutkan perjalanannya.

Eh, ternyata dia tertipu lagi: “Naropa, Naropa – aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!”

Naropa bingung. Bingung apa maksud Tilopa. Pelajaran apa yang hendak dia berikan. Baru muncul pertanyaan, jawaban pun terdengar jelas: “Seorang siswa harus dicuci bersih dulu. Baru diberi pelajaran baru. Cukup bernyalikah engkau, Naropa?” .

ltulah pelajaran kelima. Pelajaran yang penting sekali. Di ashram kami tidak membuka perut Anda. Tetapi isi perut dikeluarkan juga. Lewat latihan-latihan cleansing, pembersihan — pikiran, emosi, memori, trauma semuanya dimuntahkan ke luar. Setelah itu, Anda baru memasuki pelajaran lanjutan. Tanpa menjalani proses pembersihan, pelajaran yang Anda peroleh tak ada gunanya. Cawan masih kotor. Untuk apa dituangi susu? Semurni apa pun, susu itu akan rusak.

 

Cover Buku Tantra Yoga

buku-tantra-yoga

Pengalaman-pengalaman tadi menguras energi Naropa. Dia sudah capek sekali. Karena itu, ketika dia bertemu dengan seorang raja dan diundang ke istana, dia menerima undangannya.

Setelah istirahat penuh selama beberapa hari, Naropa siap untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika mau pamit, dia ditahan oleh Sang Raja, “Brahmana, engkau berpendidikan tinggi. Dan rupanya belum berkeluarga. Nikahilah anakku.”

Naropa menolak, ”Saya ini seorang pengembara. Keluarga dan pekerjaan di Nalanda kutinggalkan untuk mengembara. Untuk mencari Guru Tilopa. Tidak, Baginda Raja, saya tidak bisa menerima tawaran Baginda.”

Sang Raja marah, ”Dasar Brahmana tidak tahu diri.” Dan memberi perintah agar Naropa dicambuki seratus kali.

Naropa pun tidak dapat menahan diri, ”Mau mencambuki aku? Cambuk itu dapat kuubah menjadi ular. Ayo, siapa yang berani?”

Tiba-tiba…….

Istana dan Raja dan para pengawal – semuanya lenyap…..

Ah, ah, ah — Naropa sudah tahu dia akan ditegur lagi. Betul, ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak rnengenaliku. You missed me.”

Pelajaran keenam – Pengendalian diri.

“Salahku juga,” — pikir Naropa, “Kalau mau cari kenyamanan istana, ya harus siap dicambuki juga.”

buku-tantra-yoga-foto-di-vihara-hemis-leh

Foto 2008 di Vihara Hemis Leh Himalaya tempat festival tahunan Naropa

Berikutnya, Naropa bertemu dengan seorang pemburu. Naropa menegur dia, “Untuk apa membunuh makhluk tak bersalah?”

“Aku ingin membersihkan hutanku dari hewan-hewan buas.” — jawab pemburu.

Naropa menggelengkan kepala, “Sombong banget kamu; hutanmu? Memang hutan ini milik kamu?”

Si pemburu tidak menjawab pertanyaan Naropa. Malah memberi nasihat: “Hutan harus dibersihkan dari hewan-hewan buas.”

Naropa tidak memahami maksudnya. Baru mau jalan, pemburu pun lenyap dan terdengar lagi suara Tilopa: “Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa baru sadar bahwa yang dimaksud adalah “hutan diri”, yang harus dibersihkan dari sifat-sifat hewani. Dari kebuasan dan keliaran. Itulah pelajaran ketujuh.

Di zaman sekarang ini, Guru seperti Tilopa sudah pasti tidak laku. Mana ada Naropa yang mau berguru sama dia? Tilopa sungguh beruntung. Lahir seribu tahun yang lalu. Masih bisa mendapatkan seorang Naropa!

Naropa seorang murid berkualitas prima. Mungkin Keberadaan sudah tidak lagi memproduksi kualitas-Naropa.

Dia tidak putus asa. Dia melanjutkan perjalanan serta pencariannya. Pada suatu sore dia melewati gubuk sepasang suami istri yang sudah tua, “Brahmana, masukilah gubuk kami. Sudah bertahun-tahun, tidak ada yang bertamu ke sini.”

Naropa menerima undangan mereka. Gubuk mereka kccil sekali. Satu kamar menjadi ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan sekaligus dapur.

Ketika Naropa melihat Wanita tua memasak, dia merasa jijik. Ikan dan kodok dan entah daging apa lagi yang sedang dia masak. Sebagai seorang Brahmana, dari kasta tinggi, Naropa tidak pernah makan daging. Bahkan menyentuh pun belum. Baru mau bicara……. Tuan Rumah mendahuluinya, ”Kami tahu, anda tidak akan makan. Biasanya para Brahmana tidak menyentuh makanan setelah matahari terbenam. Dan saat ini rnatahari sudah terbenam.”

“SialanI” — pikir Naropa. Lalu untuk apa mengundang? Padahal dia sudah lapar.

Sementara si tua membisiki isterinya, ”Orang ini pengikut ajaran rendahan. Tidak seperti kita. Dia tidak akan makan daging.”

Bisikan itu terdengar oleh Naropa.

“Ajaran rendahan? Aku menganut ajaran rendahan? Aku, Naropa……..? Dia pikir dirinya siapa, sudah hebat? Sudah tercerahkan?”

Darah Naropa sudah mulai mendidih. Baru mau meledak, gubuk itu lenyap. Lenyap pula suami, isteri dan makanan mereka.

Lagi-lagi, terdengar teguran Tilopa: ”Naropa, Naropa — aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku.

You missed me!

Pelajaran kedelapan: Jangan membedakan derajat. Ini rendah, itu tinggi. Semuanya ilusif. Saat ini ada, saat berikutnya tidak ada.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: